
Breakeven - Bab 14
Aku menyeka satu jalur air mata di depan layar notebook. Entah sudah berapa deretan kalimat yang sudah kusimpan di sana hanya untuk meredakan segenap perasaan sakit itu.
Untuk rindu yang tak pernah berpeluk dan rasa yang tak pernah berpihak.
Disimpan 11/03
Aku menulisnya saat aku mencoba untuk membiarkan Nara masuk ke dalam kehidupanku di awal-awal pernikahan kami. Saat aku mencoba untuk menguatkan perasaan itu dan meyakini bahwa Nara adalah takdirku.
Untuk luka yang datangnya tidak pernah kubenci. Kubiarkan kau larut dalam kenangan.
Disimpan 25/04
Aku menulis ini ketika perempuan itu mulai sering muncul dalam kehidupan kami. Kadang membuat Nara lupa bahwa dia bukan lagi seorang pria lajang. Tapi, aku mencoba untuk memendamnya sendiri. Berharap ini hanya kekurangan dariku. Aku yang kurang memahami Nara dan dunianya.
Jika luka akan mendewasakan kita, apa aku juga harus melukaimu agar kamu bisa membedakan mana yang harus kau dahulukan? Namun, aku tidak bisa melakukan itu. Karena perasaan yang kupunya sudah melumpuhkanku.
Disimpan 02/05
Ini untuk kumpulan atas sesak yang kualami karena kebodohanku, kelemahanku. Aku yang masih berdiam, memberinya kebebasan untuk dunianya, karena kupikir Nara bukan sepenuhnya milikku. Dia harus memiliki kebebasan agar tidak ada yang merasa dia berubah setelah menikah. Maksudku, aku hanya tidak ingin terlalu mengekang Nara yang pada akhirnya akan lari dariku dan mencari perempuan lain yang bisa memahami dunianya.
Aku tahu dunia menentangmu denganku, tapi biarlah aku mempercayaimu. Kau yang menginginkan kita untuk bersama.
Disimpan 04/05
Aku mencoba untuk selalu memaafkannya. Mencoba memberi- nya kesempatan hingga aku tidak memiliki lagi ruang untukku sendiri.
Saat dia bersamamu, apa aku juga di hatimu? Aku di sini berdiam, mencoba berkata bahwa aku masih baik-baik saja.
Saat kamu menghabiskan waktu bersamanya, pernahkah kamu berpikir, saat kau pulang nanti kau tidak akan mendapatiku lagi?
Saat ini, apa aku begitu kurang memahamimu?
Disimpan 07/05
Saat dia mengabaikanku demi Mentari. Saat dia memilih menghabiskan waktu menemani Mentari, sedang aku di rumah begitu mencemaskannya karena tak kunjung kembali.
Jika hal kecil ini menimbulkan luka bagimu, lalu bagaimana dengan kamu dan dia? Sedang aku saat ini merasa diriku hanya orang asing di antara kalian.
Disimpan 8/05
Saat dia mendapatiku bersama pria lain malam itu. Kenakalan yang kulakukan untuk pertama kalinya, yang berujung pada tangisan permohonannya agar aku tidak menyakitinya.
Ada rasa yang tak bisa kumungkiri begitu saja saat aku membiarkanmu pergi. Masih di sini. Masih mencoba mengerti kamu.
Disimpan 11/05
Aku baru menulisnya beberapa menit lalu. Tapi sekarang aku sudah menulis lagi, untuk hal yang tidak bisa kuterima sampai detik ini.
Apa yang kau tahu tentang aku? You know what you don‘t know. You see what you don‘t see.
Saat semua menjadikanku sebagai orang asing, aku masih mencoba berdiri. Hal yang tak pernah seorang pun tahu. Aku menyembunyikan tangis di atas senyum.
Yang kutahu, aku memang bukan wanita sempurna. Aku tidak setangguh itu pula. Hanya, aku mencoba untuk tidak membiarkan
mereka melemahkanku begitu saja. Sampai batas nanti aku berdiri di atas kakiku sendiri. Melihat mereka tersaruk di hadapanku.
Disimpan 5 menit lalu
Aku menghela napas lebih panjang dari biasanya. Menyadari bahwa aku tidak begitu berharga bagi siapa pun, membuat kemarahan ini kembali menggelegak. Bahkan ibuku sendiri tidak pernah mengajariku hal ini.
Tiga bulan pernikahan tanpa perkembangan, bahkan bisa dibilang ini adalah sebuah kekacauan. Aku tentu tahu diri bahwa aku tidak memiliki apa pun yang bisa kubanggakan. Tapi setidaknya, aku memiliki prioritas. Bisa dibilang, aku bahkan sangat jarang menghubungi teman-temanku. Aku terlalu fokus pada Nara.
Hingga detik ini aku membiarkan diriku sama sekali tidak dihargai. Padahal dulu, aku memiliki dunia yang siapa pun akan iri melihatnya. Bukan tentang uang, tapi aku bisa memiliki segala apa yang kuinginkan. Gaya hidup berkelas, teman berbagi, teman bersenang-senang, bahkan dunia kerja yang membuatku lupa bahwa aku sedang dalam pekerjaan karena aku begitu mencintai duniaku.
Aku melipat kaki di sofa. Membiarkan layar notebook tetap menyala. Punggungku bersandar. Mataku melirik pada jam dinding. Sudah lewat dari jam sebelas malam. Dia tidak menepati janjinya. Lagi-lagi Mentari seperti pusat dunia Nara.
Bagaimana dulu aku bisa mempercayai bahwa laki-laki ini adalah takdirku?
Untuk ke sekian kali, aku menyerah menghubunginya. Aku lebih memilih menelepon Davis. Tidak peduli pandangan orang nanti, aku hanya ingin melawan keadaan ini. Saat semua orang makin berbuat seenaknya sendiri, aku perlu memberi mereka pukulan. Agar mereka tahu, aku bukan orang yang bisa diabaikan begitu saja.
―Hei. Malam, Ichlal.‖
―Malam. Kalau kamu nggak sibuk, aku boleh minta tolong?‖ tanyaku berbasa-basi.
―Ah, selalu ada waktu buatmu, Teman. Ada apa? Aku lagi duduk di kafe.‖
―Aku perlu ke sebuah kedai. Ini sudah cukup malam untukku keluar sendiri. Tapi, ada hal penting, kupikir hanya punya kamu untuk kumintai tolong.‖
―Masalah suamimu lagi?” tebaknya pelan, membuatku tidak mampu untuk menjawab. ―Oke. Aku akan jemput kamu. Mungkin setengah jam lagi aku akan sampai. Bagaimana?‖
―Oke. Aku akan kirim alamatku.‖
Hampir tengah malam Davis sampai di depan rumah. Dan Nara belum juga pulang, bahkan kabarnya pun tak kudapatkan. Aku mencemaskannya lebih dari apa pun, jauh di atas luka yang kualami.
―Kamu bisa melajukan mobilmu lebih cepat dari ini?‖ tanyaku tidak sabar.
―Bisa. Baiklah. Entah apa yang kamu pikirkan, tapi tenang. Kita akan segera sampai.‖
Beberapa kali aku membuang napas, berharap tidak ada apa-apa dengan Nara. Yang ada di pikiranku saat ini bukan Nara bersama Mentari lagi, melainkan bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?
Mobil yang kutumpangi akhirnya menepi di sebuah kedai. Masih buka, tapi sudah tidak ada pengunjung.
―Ini punya suamiku. Kuharap dia ada di sana,‖ gumamku pada Davis. Dia memberikan respons sebuah senyuman.
―Kamu terlalu mencintainya. Pergilah. Aku akan di sini melihatmu.‖
Aku bergegas turun memasuki kedai. Ada perasaan lega saat aku mendapatinya di dalam sana. Namun, tentu saja tidak sendiri. Ada Bima yang sedang berkutat dengan laptop di meja yang berbeda. Juga perempuan itu yang sedang mengobrol dengan Nara dan bersandar di pundaknya. Aku tidak melihat jarak lagi di antara mereka. Apa yang bisa kupikirkan tentangnya? Apa yang bisa kumengerti lagi jika keintiman ini mampu menjelaskan semuanya?
Perasaanku saat ini seperti disengat lebah. Aku menghampiri mereka, merebut ponsel dari tangan Nara yang sedang dilihat oleh keduanya. Aku mengizinkan mereka tetap berteman, tapi tidak bila sedekat ini. Bersandar tanpa jarak seperti sepasang kekasih yang baru merayakan hari jadian.
―Jadi begini caramu berteman? Entah apa yang ada di otak kalian. Terlebih kamu, Nara! Nongkrong di sini tanpa ingat waktu. Ini bahkan lewat dari tengah malam! Apa kamu pernah berpikir, aku di rumah menunggumu, mencemaskanmu? Sedang kamu sama sekali nggak jawab teleponku?
Dan teman macam apa yang nggak bisa saling mengingatkan? Apalagi kamu, Mentari. Kamu perempuan! Teman macam apa yang masih menahan temanmu hingga lewat tengah malam? Apa kamu pernah berpikir, istrinya di rumah setengah mati mencemaskannya? Teman macam apa—‖
―Ichlal! Jaga bicaramu!‖
Aku terbungkam, sama sekali tidak percaya Nara akan mengatakan ini. Aku yang sudah di luar kendali batasku, menatapnya menantang. ―Kamu membentakku atas nama teman perempuanmu?! Demi Tuhan, ini sangat lucu! Suami macam apa yang tidak bisa membedakan mana istri dan mana teman. Mana yang harus menjadi prioritas! Teman macam apa yang nggak sadar diri akan status temannya yang sudah bukan lajang lagi?
Aku meninggalkan duniaku untuk menjadi istrimu, bukan untuk diperlakukan seolah aku adalah orang asing. Selama ini, aku mencoba menutup mata dan berharap kamu akan menyadarinya. Berharap kamu akan mengerti dengan posisimu.
Aku tahu orang-orang di sekelilingmu tidak pernah menyukaiku, entah atas dasar apa! Bahkan bagi keluargamu sendiri, aku adalah orang asing. Aku peringatkan, jika memang ini tidak bisa kau tinggalkan, aku akan melepaskan! Tidak peduli dengan omongan miring tentang apa yang harus kutanggung. Aku datang karena kamu yang memintaku menjadi istrimu. Sudah selayaknya aku mendapatkan penghargaan itu, bukan kehidupan yang seperti ini! Aku tidak tahu pernikahan macam apa yang sedang kita jalani!‖ Aku berseru lantang, meluapkan segenap emosi yang selama ini sengaja kuredam.
Tidak ada satu pun yang berucap. Suasana menjadi hening. Bahkan sekilas, kulihat Bima menutup laptopnya, memandangku terkejut.
―Kamu nggak perlu pulang malam ini! Tapi besok, saat kamu pulang, kupastikan gugatan cerai ada di dalam tas kerjamu!
Jika kamu pikir aku akan tetap bertahan, kamu salah, Nara. Aku perempuan biasa yang tidak bisa membiarkan seseorang terus tidak menghargaiku!‖
Aku menatap tajam kepadanya sebelum melangkah pergi.
―Ichlal! Ini—‖
―D’you think it is prank? In your dream!‖ desisku tajam.
―Kita bisa bicarakan ini di rumah,‖ ucapnya saat aku melangkah pergi. Itu membuatku berhenti sejenak dan menimpalinya tanpa menoleh.
―Kamu sudah memutuskan untuk memprioritaskan teman masa kecilmu! Sekarang aku juga memutuskan untuk memprioritaskan perasaanku, harga diriku. Saat seseorang tidak lagi menghargaiku, saat itu aku sadar apa yang harus kulakukan!‖
Aku bergegas pergi dengan rasa gemetar yang tidak kupeduli- kan. Aku ingin mengakhiri ini. Secepatnya. Tidak peduli kewajiban apa yang sudah kulakukan untuk Nara sebagai istri. Aku tidak bisa membiarkan diriku tik dihargai sama sekali. Bahkan oleh mertuaku sendiri, sekalipun tidak mengatakannya secara gamblang. Dan sepertinya, aku harus kembali pada duniaku. Saat pekerjaan menjadi kebanggaan tersendiri. Saat pekerjaan menjadi tempat bersembunyi dari segala macam cibiran mengenai status lajangku.