Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 13



Breakeven - Bab 13


Apa harus ada orang yang lain dulu, baru dia akan menyadari semuanya? Aku tidak pernah habis pikir, bagaimana seorang Nara sampai tidak bisa memprioritaskan satu hal dengan baik. Aku bukan menuntutnya untuk menjadikanku yang utama. Tidak. Aku cuma meminta Nara paham mana yang harus didahulukan. Di mana pun orang berpijak, keluarga pasti akan menjadi prioritas.


"Mentari nelpon Abang berkali-kali." Dia berkata seraya melirikku, saat kami sedang menghabiskan malam Kamis berdua dengan menonton TV. Itu juga acara TV kesukaannya. Movie Thriller. Aku tidak langsung menanggapinya. Hanya menghela napas singkat, tetap memfokuskan tatapanku pada layar TV. Baru tiga hari sejak kejadian malam itu, Mentari kembali gencar menghubungi Nara. Atau memang sebenarnya dari awal pun dia tidak pernah berhenti menghubungi, hanya Nara yang berusaha menutupinya? Aku tidak


tahu.


"Sayang." Dia kembali memanggil, disertai dengan remasan di lenganku.


"Mau ngapain dia? Kalau Abang mau pergi sama dia, pergi saja. Toh, aku nggak punya hak untuk melarang." Aku menyahutinya, sengaja menggunakan nada pedas. Aku berharap dia akan berpikir untuk tidak terlalu intens menghabiskan waktu bersama teman perempuannya, melebihi waktu bersamaku.


"Nggak jadi."


Aku menoleh kepadanya. Wajahnya tampak sedikit dipaksakan untuk terlihat biasa saja.


"Kenapa?" tanyaku cuek.


"Kamu marah. Kamu nggak ikhlas ngasih izinnya," sahutnya, menyimpan nada kesal.


"Oh. Ya, baguslah kalau Abang paham," cetusku santai tanpa mau peduli dengan nada kesalnya.


Aku kembali menatap layar TV, memilih untuk tidak peduli. Tapi, aku tidak buta. Nara gelisah, mungkin dia merasa tidak enak dengan Mentari dan juga kepadaku.


"Mentari, kan, hanya teman Abang. Dari kecil, lho, nggak ada apa-apa," ucapnya lagi memberi alasan yang sudah kuhafal.


"Tapi Abang pernah ada rasa sama dia," sahutku telak, membuatnya terdiam. Memang pada kenyataannya demikian, hanya saja dulu Mentari menolaknya.


Sekali lagi, ponselnya berdering. Demi apa pun itu perempuan! Aku menggeram dalam hati. Kalau saja menjenggut kepalanya tidak dikenakan pasal kekerasan, sudah aku lakukan dari dulu. Tapi di sini, aku wanita berkelas. Bukan perempuan barbar yang bisa santai saja melabrak orang. Aku perempuan yang memiliki cara sendiri untuk membalas semuanya.


"Pergi saja sana. Ponselmu berisik! Akan lebih baik kalau kamu menginap sekalian."


"Sayang!" Kurasa dia terkejut mendengar reaksi kesalku.


Aku tertawa kecil lalu memeluk dirinya. Memberikan kecupan- kecupan di pangkal lehernya. "Abang bisa pergi. Aku mau tidur. Pulangnya jangan malam-malam, rawan begal. Kalau ada apa-apa, segera telepon aku. Oke?" ucapku lembut.


"Sayang, Abang serius." Dia mengurai pelukanku, memegang kedua bahuku. Matanya menatapku, menuntut kesungguhan.


Aku masih memberinya senyum lebar, bahkan mataku mengerling jahil. Aku menggoda Nara dengan mencolek dagunya.


"Jadi ... Abang mau aku berubah pikiran?"


"Ah, jangan! Oke, makasih, Sayang. Abang janji nggak lama. Sebelum jam sebelas, Abang akan pulang. Tapi ...," dia mengerutkan keningnya, "kamu... nggak ke mana-mana, kan?"


Aku tertawa kemudian mengedikkan bahu. Aku beranjak darinya. "Kayaknya itu terserah aku deh, Bang," kelakarku santai berbuntut langkah lebar darinya. Dia mengejarku ke kamar.


"Ichlal, ini serius!"


Aku tahu. Dia takut aku pergi dengan pria itu dan jatuh cinta dengan padanya lalu meninggalkan Nara begitu saja.


"Becanda. Aku nggak ke mana-mana, kok. Serius."


"Oke. Abang jalan sekarang." Dia mengecup singkat bibirku seraya menyambar jaket. Sedang aku hanya menatap luruh keper- giannya. Tersenyum kecut. Nyatanya, Mentari berpengaruh besar bagi Nara. Kejadian kemarin hanya untuk sementara. Mentari dan Bima tetaplah yang pertama.


Aku hanya mencoba membiarkanmu. Berharap nanti kamu akan menyadarinya.


Aku menghela napas, menyeret langkah untuk menutup pintu kamar. Apa yang bisa kulakukan selain bermalas-malasan di ranjang dan menonton video demo memasak dari ponsel? Aku ingin belajar untuk menyempurnakan posisiku sebagai istri. Tapi baru mulai, sebuah panggilan menghentikan apa yang kutonton. Aku seperti tercekik ketika melihat caller ID itu. Ibu Mertua. Entah ada apa sampai Ibu menelepon, padahal dia jarang menghubungiku.


"Selamat malam, Bu," sapaku sedikit gugup.


"Selamat malam, Nak. Lagi apa? Bagaimana kabarmu?" "Baik, Bu. Ibu bagaimana?" tanyaku sopan.


"Syukurlah. Ibu baik, Nak. Nak, Ibu boleh tanya sesuatu?" Aku terdiam. Pertanyaan ini menimbulkan perasaan tidak enak secara tiba- tiba. "Nak?" panggil ibu ketika aku masih saja terdiam.


"Iya. Tentu saja boleh, Ibu." Apa yang akan ibu tanyakan padaku? Apa ini mengenai calon anak kami? Atau yang lain? Tapi tentang apa?


"Kemarin tanpa sengaja Ibu mendengar sebuah pembicaraan. Mentari main ke rumah cukup lama dan mengobrol dengan sepupu Nara. Dia tidak sendiri. Bima juga ada. Mereka membicarakan kamu. Yang Ibu dengar, kamu keluar dengan pria yang bukan suamimu. Apa itu benar? Kamu pergi tanpa sepengetahuan Nara?"


"Tunggu, Nak. Ibu sudah merestuimu untuk hidup dengan putraku. Tapi, Nak, jagalah, jangan sampai ada omongan miring mengenai kamu ataupun Nara, apalagi kalau sampai ke telinga Bapak. Bapak pasti akan memarahimu. Tidak akan mempercayaimu lagi."


Aku memejamkan mata. Jadi, begini cara kerja perempuan itu untuk membuat perselisihan di antara kami? Memangnya apa tujuannya? Yang kutahu, sejak awal perempuan itu memang tidak menyukai kehadiranku. Entah atas dasar apa.


"Aku hanya tidak sengaja ketemu teman, Bu. Namanya Davis. Kami mengobrol sebentar, tidak ada niat lain. Kami bertemu dengan Nara dan Mentari di sana," jelasku dengan tenang.


"Begitu? Baiklah, Nak. Tapi, lain kali jangan. Nak, jangan berikan celah orang lain untuk meruntuhkan rumah tangga kalian."


"Bagaimana dengan Mentari?" tanyaku sedikit ragu.


Terdengar helaan napas panjang dari ibu lalu tawa kecil. Aku merasa seperti sedang melakukan hal konyol. "Nak, apa yang kamu takutkan? Mereka sudah berteman sejak kecil. Tidak akan ada hal buruk bagi kalian dengan atau tanpa Mentari. Mereka sudah saling mengenal baik buruknya. Mentari sudah seperti anak perempuan Ibu, Nak. Ada baiknya kamu harus mendekati Mentari agar tidak ada yang perlu kamu takutkan."


Bahkan secara tidak langsung, Ibu mengatakan bahwa aku di sini adalah orang asing. Aku tidak perlu mengenal Mentari. Yang kubutuhkan, ada seseorang untuk menegur wanita itu agar tahu batas. Tidak setiap saat harus menempel pada Nara seperti dia adalah bayangan suamiku. Kenapa sampai saat ini tidak ada yang bisa memahami maksudku?


"Ah, ke mana Nara? Ibu bisa bicara?"


"Nara pergi, Bu. Mentari tadi nelepon dia," jawabku singkat, menahan sesak.


"Oh. Baiklah. Nanti Ibu akan telepon dia. Nak, jangan berpikir yang tidak-tidak. Mereka biasa menghabiskan waktu bersama, apalagi saat Mentari punya masalah. Baiklah, jaga dirimu, Nak. Jaga kesehatanmu."


Apa ini hal yang biasa? Bahkan, di saat Nara sudah berkeluarga? Boleh aku bertanya, hubungan macam apa ini? Saat aku harus menjaga akses dari dunia luar, Nara malah bebas dengan dunianya. Apa ini yang disebut pernikahan? Kalau saja aku tahu begini wujud dari pernikahan yang sesungguhnya, lebih baik aku tidak menikah. Hidup dengan keluarga yang hanya dipandang sebagai orang asing.


Beberapa kali napasku tersedak oleh rasa sesak. Aku bahkan melempar ponselku begitu saja. Kemudian aku meringkuk, menik- mati sesak ini sendirian.


Jika saja kamu tahu apa yang kurasakan, Bang. Jika saja ini sebuah perjalanan biasa, aku lebih memilih putar balik ke tempat yang sudah menghidupiku, menjadikan aku wanita dengan segalanya. Aku bukan tidak tahu kalau orang-orang yang berada di sekeliling Nara tidak menyukaiku. Mereka meragukanku. Atau lebih tepatnya, menutup akses untuk melihatku secara dekat. Tapi, satu hal yang tidak pernah kubayangkan adalah ketika mereka mencari celah


untuk membuatku pergi.


Aku menggigil dalam diam. Gemuruh di dadaku makin nyata terasa. Kali ini tentang kemarahan, meski berulang kali aku mencoba meredam. Tapi, tidak mungkin untuk kubiarkan begitu saja.


Suara panggilan telepon membuatku terbangun. Ada nama Davis di sana.


"Ya?" jawabku tanpa basa-basi. "Lagi apa?"


"Mau tidur. Ada apa?" tanyaku singkat. "Nggak. Ya sudah, selamat istirahat."


"Davis?" panggilku menahan dia yang ingin segera mengakhiri sambungan teleponnya.


"Ya, ada apa?"


Aku terdiam, menggigit bibir dalamku. Ada sedikit ragu untuk mengajukan sebuah pertanyaan.


"Hei, kenapa?"


"Aku mau bertanya. Ini menurut pendapatmu. Ingat, hanya bertanya," ujarku mengingatkan.


"Ya, Kamu mau tanya apa?"


"Kalau ... ini kalau, ya. Misal kamu menikah, istrimu memiliki teman-teman, tapi lebih memprioritaskan teman daripada kamu sendiri, bahkan satu dari mereka mencari celah burukmu, menurutmu bagaimana?"


Aku mendengar dia menghela napas setelah beberapa saat hanya terdiam.


"Aku marah. Marah adalah reaksi wajar dari seseorang atas sebuah hal  yang mengecewakan. Tapi, aku akan membuat istriku mengerti. Aku suaminya dan aku keluarganya. Sedang teman tidak ada dalam lingkaran keluarga. Kalau temannya mencari celah burukku, akan kubuktikan kalau aku nggak seburuk yang dia bilang."


Aku mengernyit. Sebuah jawaban yang cerdas. Dan sepertinya sejalan denganku. "Caranya?"


"Memberikan segenap pengorbananku untuk istriku. Memberi- kan yang terbaik agar dia tidak memiliki celah untuk bergantung pada temannya."


Aku terdiam. Apa yang dikatakan Davis bisa diterima nalarku. Tapi memberikan segalanya untuk Nara, yang tidak menutup kemungkinan hanya untuk dia hancurkan, bukan hal yang mudah. Aku memiliki keraguan dan ketakutan itu. Terlebih Mentari yang memiliki daya pengaruh cukup kuat, bahkan aku sebagai istri, tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Oh, aku melupakan satu hal. Terang saja aku tidak berpengaruh, bukankah aku orang asing?


"Kamu kenapa nanya begitu? Kamu sudah berkeluarga?" "Ya," sahutku lirih. Terdengar helaan napas panjang darinya.


"Oke. Kurasa kita masih bisa berteman, kan? Dengar, teman, apa pun masalahmu, kamu percaya sama aku. Kamu nggak pantas untuk disakiti. Kamu wanita baik, meskipun aku tahu kamu nggak sesempurna itu. Kapan pun kamu butuh, aku ada di sini, siap mendengar ceritamu dan mendukungmu. Jangan takut untuk sendiri."


"Terimakasih, Davis."