Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 24



Breakeven - Bab 24


“Aku cuma punya satu pemikiran tentang permainanmu selanjutnya.‖


Aku menatap pria di hadapanku, cukup penasaran dengan apa yang ada di otak cerdas pria yang sering mendengarkan semua keluh kesahku itu. Padahal baru tadi pagi dia kembali dari Lombok setelah memperpanjang masa berliburnya selama dua hari. Kulitnya sedikit menghitam. Aku tahu dia sudah bertemu dengan apa yang menjadi kesukaannya. Surfing.


―Jadi apa?‖ tanyaku penasaran.


―Bermain dengan halus, Ichlal,‖ ujarnya seraya menyandarkan punggung pada sandaran kursi.


―Mean?‖ tanyaku mengernyit.


―Kamu dekati ayahnya Nara. Patahkan argumen Mentari dan ibunya Nara mengenai sosokmu. Karena yang ada di dalam pikiran mereka, yang menjadi ketakutan mereka adalah perempuan masa kini dengan gaya tinggi dan sosialita menjadi utamanya.


"Jadi mereka berpikir, kamu hanya menghabiskan uang Nara. Menjadikan Nara seperti ATM berjalan. Paham? Saat Nara jatuh nanti, kamu meninggalkannya. Kamu akan mencari yang lain yang bisa menghidupimu dan memenuhi gaya hidupmu. Mereka nggak kenal kamu dan nggak mau mengenal kamu. Itu masalahnya.‖


Aku terdiam. Pada dasarnya, ketakutan mereka hanya sebuah ilusi saja. Mereka menutup diri dariku, membuat batas atas alasan buruk mereka terhadapku. Aku memahami ini. Memang kita tidak bisa menyamaratakan mereka atau mengharuskan mereka untuk mengenal diriku yang sebenarnya. Sebagaimana cara berpikirku di luar penampilanku. Toh, selama ini aku tidak pernah menggunakan uang Nara untuk mencukupi kebutuhan fesyenku. Aku memiliki semuanya jauh sebelum kami menikah.


―Jujur, aku sangat jarang berkunjung ke rumah Nara. Nara melarangku, ah ... maksudnya Nara sering nggak mengizinkan aku ke sana sendirian. Tapi, aku tahu alasannya sekalipun dia nggak pernah bilang. Dia nggak mau aku ketemu Mentari. Rumahnya berdekatan. Mentari setiap hari di rumah orang tua Nara. Dia nggak mau—‖


―Ya, aku paham. Dia nggak mau kamu nanti tersakiti. Tapi, Lady, kamu nggak perlu setiap hari berkunjung ke sana. Percaya, pasti akan banyak celah buat kamu mendekati ayahnya Nara, seperti celah saat kamu mempecundangi Tari. Kamu selalu menemukan cara yang sama sekali nggak terduga, kan? Berharap aja begitu. Selalu ada celah kalau kamu mau melihat sesuatu hal dengan jeli. Aku sudah bilang, kan, wanita setangguh kamu nggak sepantasnya menerima kesesakan itu begitu saja.‖


Aku tersenyum lebar seperti mendapatkan sebuah pencerahan. Beberapa waktu lalu aku sempat berpikir mencari cara bagaimana agar Mentari tidak memiliki akses masuk dengan begitu mudahnya di hidup Nara. Membuat Mentari kehilangan arti di hadapan Nara adalah fokus pertamaku di awal permainan ini.


Namun, mendekati ayah Nara, apakah bisa semudah menjatuhkan Mentari? Yang kutahu, pria paruh baya dengan kumis seperti Pak Raden itu cukup kaku, bahkan Nara sendiri jarang berkomunikasi dengannya. Aku menghela napas panjang.


―Apa aku bisa meyakini ini?‖ tanyaku lebih kepada diri sendiri. Davis hanya terkekeh kemudian menyesap kopi miliknya.


Sedang aku sibuk memainkan gagang cangkir dengan ujung jari.


―Jangan nervous. Itu malah yang akan membuat permainanmu gagal, Ichlal. Santai aja. Ayolah. Atau kamu akan membiarkan Mentari memupuk subur anggapan buruk orang tua Nara tentang kamu?‖


Aku menggeleng cepat. Pria di hadapanku mengulum senyum sambil menggelengkan kepala.


―Iya. Pasti akan ada cara. Fokus. Fokus. Fokus!‖ Aku merapal seperti sebuah mantra untuk diriku sendiri.


―Bagus. Aku akan selalu ada untuk support kamu. Seandainya kamu gagal nanti, seenggaknya kamu sudah punya dua poin yang akan kamu kantongi. Kamu akan melihat apa yang seharusnya kamu lihat.‖


―Apa?‖ tanyaku, menatapnya serius.


―Poin pertama, Nara sudah berada di dalam kendalimu. Poin kedua, perempuan itu sudah kehilangan arti penting bagi Nara. Saat kondisi terburuk nanti, saat keadaan mengharuskan kamu


meninggalkan Nara, kamu akan melihat semuanya seperti yang kamu inginkan.‖


Aku terdiam lagi, mencoba mencerna kata-kata Davis. Sesaat aku mendapatkan apa yang Davis maksudkan. Aku mengingat dengan jelas apa yang pernah kukatakan pada Nara saat aku memutuskan untuk membatalkan gugatan cerai kami.


Saat Mentari terlalu jauh menyentuh kehidupan kita. Saat ibumu bahkan ayahmu masih pada pandangannya, menganggapku seperti orang asing, monster yang siap menghancurkanmu kapan saja. Saat dunia yang pernah membesarkan tak pernah berhenti mencoba menjatuhkanku dan saat kamu sudah begitu terikat padaku, maka aku akan pergi. Membuat apa yang mereka angankan terhadapmu itu nyata. Impas, kan? Mereka membuat harga diriku jatuh, mereka memberikan kesesakan itu dan aku akan mengembalikan semua itu padamu juga mereka.


―Meski  nggak  bisa  dipungkiri,  meninggalkannya  adalah  hal paling menyakitkan, Ibu nggak pernah mengajarimu untuk mengemis kehormatan apalagi harga diri, Nak.‖ Ucapan Ibu di kala itu kembali muncul di otakku. Aku termenung untuk beberapa saat Sebelum ponselku berdering, mengembalikan kesadaranku.


―Nara?‖ tanya Davis, lebih mengarah pada tebakan.


―Iya. Ini jam istirahatnya.‖


―Angkat aja. Kamu tadi sudah bilang, kan, kalau mau ketemu aku di sini?‖


Aku mengangguk. Jemariku bergerak mengeser tombol hijau.


―Iya, Bang?‖ sapaku


―Kamu masih sama Davis?‖ tanyanya pelan.


―Iya. Kenapa?‖


―Abang nanya doang. Masih lama nggak sama dia? Kalau bisa jangan lama-lama.‖


―Sebentar lagi mau pulang. Sudah selesai juga obrolannya.


Kenapa?‖


―Nggak apa-apa. Ya, sudah. Nanti pulangnya Abang yang antar kamu. Kamu tunggu aja di sana.‖


―Apa? Aku pulang sendiri saja. Lagian, nunggu Abang mau sampai jam berapa?‖


―Lima menit lagi, kok.‖


Aku berdecak. Sudah hapal dengan gaya berguraunya.


―Lima menit lagi? Kebiasaan becanda mulu. Sudah, ya. Aku mau pulang, nih.‖


―Kamu nggak percayaan. Lima menit lagi kamu nengok ke arah pintu coba.‖


―Demi apa? Aku nggak pernah berpikir akan punya suami konyol seperti dia,‖ desisku pada Davis. Sedang pria di hadapanku tertawa.


―Tapi faktanya kamu mencintainya. Oke, pulanglah. Kabari aku kalau sudah sampai rumah,‖ ledeknya membuatku berdecih.


―Oke. Terima kasih.‖


Aku beranjak lalu menghampiri Nara. Dia menyambutku dalam rengkuhannya.


―Itu Davis?‖ tanyanya begitu keluar dari kafe.


―Iya, kenapa?‖ Aku menengadah, menatapnya, dan mendapati dia sedang melihat ke dalam kafe sana.


―Ganteng, ya?‖ tanyanya.


―Emang iya,‖ sahutku jujur.


―Ah, tapi cuma Abang yang bisa bikin kamu teriak berkali-kali sampai lemas,‖ ledeknya membuatku refleks mencubit pinggangnya.


―Emang iya. Ganteng itu nggak menjamin segalanya,‖ kilahnya dengan percaya diri.


―Abang ngapain ke sini? Bukannya istirahat di kantor, makan siang.‖ Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


―Jemput kamu. Takut kamu lupa kalau sudah punya suami gara- gara terpesona sama dia,‖ sahutnya santai tanpa memperlihatkan ekspresi cemburu. Aku tertawa, merasa bangga atas kecemburuan yang Nara tutupi lewat candaannya. Aku berjinjit untuk mengecup rahangnya.


―Aku nggak bakal lupa. Seganteng apa pun dia kalau nggak sekonyol Abang, nggak bakal bisa bikin aku lupa kalau aku punya suami,‖ ucapku tersenyum meyakinkan.


Dia balas tersenyum, menjatuhkan tatapannya padaku. Tatapan teduh yang membuatku makin memiliki rasa sayang itu. Hanya untuknya.


―Sayang kamu pakai banget,‖ ucapnya seraya meremas bahuku.


Aku menikmati dengan sangat ketika kami melangkah melewati deretan restoran di sebuah mal yang terbilang elit di daerah Jakarta ini. Saat dia meletakkan tangannya di bahuku.


―Kayaknya perlu dicoba ajakan teman kantor Abang,‖ celetuknya saat kami menaiki eskalator.


―Apaan?‖ tanyaku menengadah demi menatap dirinya.


―Nge-gym. Biar badannya bagus.‖


―Jangan!‖ Aku menolaknya dengan cepat.


―Kenapa?‖   tanyanya   berderai   tawa.   Aku   merapatkan   diri padanya dan merasakan tangannya bergerak turun ikut merapatkan pinggangku kepadanya.


―Nanti kalau keseleo malah jadi masalah. Sudah biarin aja. Abang kurus nggak apa-apa, kok. Orang tua Abang, kan, nggak ada yang gemuk.‖


―Nanti kamu lama-lama jatuh cinta sama Davis. Dia ganteng,‖ ujarnya memberengut.


Aku tergelak kemudian berbisik kepadanya.


―Makan yang banyak biar badan Abang berisi. Nggak perlu ke gym. Lari-lari saja tiap pagi kalau pas mau beli nasi uduk. Lama-lama badan Abang bagus.‖


―Ide bagus,‖ ucapnya dengan berbinar. "Tapi ditemenin sama kamu."


―Iya. Tapi, aku meragukan itu karena Abang semangatnya cuma di awal. Abis itu lebih berat tidurnya,‖ cibirku.


Dia mengatupkan mulut lalu meremas gemas pinggangku.


―Kalau ngomong jujur banget. Sensor sedikit, kek,‖ sahutnya.


Aku sudah cukup hapal semua tentang Nara. Dia adalah seorang pria yang amat malas olahraga. Susah makan, sekalinya makan itu kalau di rumah.


―Kamu nanti nunggu di kantin kantor Abang, ya?‖ ujarnya begitu sampai di tempat parkir motor.


Aku mengernyit. ―Ngapain? Aku pulang sendiri ajalah.‖


―Tungguin aja, ya? Nanti kita mau ke rumah. Ada yang mau Ayah omongin, tapi nggak tahu apaan.‖


Perasaanku mencelos seketika. Setelah tadi aku merencanakan sesuatu hal bersama Davis, sekarang kesempatan itu mendadak datang.


―Sama aku juga?‖ tanyaku. Ada gugup yang tiba-tiba melanda.


―Nggak. Kamu cuma nemenin Abang doang. Biar Abang punya alasan pulang cepat kalau kamu ikut sama Abang. Ibu suka nggak rela kalau Abang cuma sebentar di rumah.‖


Sama tidak relanya ketika Nara lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku. Aku tahu itu bahkan tanpa harus dikasih tahu.


―Ada Tari nggak di rumah?‖ tanyaku, sengaja ingin memancing reaksinya.


―Ada kali, tapi biarin ajalah. Jangan dipeduliin. Cuek saja. Kalau perlu jangan jauh-jauh dari Abang,‖ sahutnya acuh seraya mengedikkan bahu.


Aku meringis lebar kepadanya. Jadi, sekarang aku malah berharap ada perempuan itu saat kami ke sana nanti. Aku ingin tahu bagaimana reaksi keluarga Nara saat aku berhasil memancing emosinya. Maafkan aku yang sedikit berani kali ini. Aku tidak sabar menanti permainan seru yang akan kukendalikan nanti.