Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 23



Breakeven - Bab 23


Aku menatap datar punggung orang yang kini ada di hadapanku. Setelah pagi itu, beberapa hari lalu membuat aku ingin menyiramnya dengan seember air, kini dia merengek lagi di hadapan Nara. Mencoba menjatuhkanku lagi dengan argumen-argumennya. Menurutku perempuan ini sakit jiwa.


Kalau saja Nara tidak bersikeras agar aku datang ke kantornya untuk menjemput, lantaran malam ini kami akan mendatangi undangan pernikahan dari teman kerja Nara, aku tidak akan menemui hal ini. Sungguh, aku benar-benar ingin menggetok kepala Tari dengan heels yang menjadi tumpuan kakiku saat ini. Sedang Nara tidak bereaksi apa pun.


―Aku cuma peduli sama kamu sebagai sahabat. Nggak ada niat lain. Apa kamu lupa, bagaimana rasanya saat kamu terpuruk? Thalita pernah menghancurkan hampir seluruh hidupmu. Ingat, Nara.


"Aku nggak habis pikir, kenapa kamu menjatuhkan pilihan pada perempuan yang seperti Thalita lagi. Seleramu itu ... tolong! Kita nggak selevel sama mereka. Belajar dari kesalahan, Nara. Mungkin iya, sekarang kamu bahagia, tapi nanti saat kamu nggak punya apa-apa, apa dia masih mau bertahan bersamamu? Dia akan pergi sama pria yang lebih menjanjikan, Nara. Dan kamu nggak berarti apa pun. Gaya hidupnya, pemikirannya, jauh berbeda dengan keadaan kita. Pikirkan, please!‖ ucapnya, terlihat berusaha keras mempengaruhi pikiran suamiku.


―Belajar dari masa lalu. Dulu, aku nggak serius memperjuangkan Thalita. Aku terlambat buat meyakinkan dia. Tapi, sekarang aku nggak akan mengulanginya. Ichlal istriku, wanita yang akan selalu bersamaku. Wanita dewasa dengan segala kemandiriannya. Kamu nggak tahu hal-hal apa saja yang sudah dia lakukan untuk tetap berdiri di kelasnya. Dia meninggalkan dunianya untukku tanpa menurunkan harga dirinya. Aku bangga punya istri kayak Ichlal. Sekalipun dunia nggak pernah menyukainya.


"Hanya orang-orang kuat yang masih berdiri ketika dunia menyerangnya. Dia malah menggenggam tanganku. Apa ada wanita yang selevel denganku yang mau berkorban sepertinya? Meninggalkan kesenangan hanya demi hidup pas-pasan denganku. Apa ada?‖


―Jangan percaya janjinya. Wanita macam dia nggak semudah itu mau bertahan. Pasti ada hal yang dia rencanakan. Jangan biarkan dirimu terlalu jauh mengaguminya. Saat dia pergi, pasti kamu akan lebih hancur dari saat Thalita meninggalkanmu.‖


―Maka dari itu, akan kuusahakan agar dia tetap bersamaku. Apa pun caranya. Wanita selingkuh karena suami menyakitinya. Wanita pergi, karena suami lagi-lagi yang menyakitinya. Akan kuusahakan agar aku nggak melakukan kesalahan itu. Sekalipun itu nggak mungkin.‖


―Nara!‖  Nadanya  terdengar  geregetan  ketika  Nara  sulit  untuk memahami ucapannya.


―Sebaiknya kamu buka jasa cuci otak,‖ ucapku seraya melangkah menghampiri mereka dengan tas jinjing di tangan.


Aku melihat dia memberikan tatapan permusuhan. Aku hanya tertawa kecil menatap dirinya yang saat ini lagi-lagi memakai pakaian yang mungkin gaya wajib dia. Kaus dan celana jeans. Rambut panjang terurai. Sepasang kaki berbalut sepatu converse yang sudah lumayan butut. Dia benar-benar tampil apa adanya tanpa make up sekalipun.


―Aku nggak akan membiarkan sahabat terbaikku berubah karena wanita sepertimu.‖


―Temanmu belum makan? Ajak makan dulu sana, Bang. Aku tunggu di sini.‖ Aku bertanya pada Nara tanpa melepas tatapanku dari gadis itu.


―Abang yang lapar. Makannya di kondangan saja. Ayo, jalan. Konvoi sama teman-teman kerja yang lain. Mereka sudah nunggu di parkiran.‖ Dia meraih tanganku untuk melangkah bersamanya, melewati Mentari begitu saja, membuat perempuan itu terbengong tak percaya.


―Nara!‖ jeritnya.


Sedikit pun Nara tidak menoleh. Dia tetap terus melangkah menuju lift untuk mencapai parkir motor di basement. Sedang aku menyempatkan diri untuk menoleh, memberinya senyuman kemenangan.


―The  game  is  mine,  Babe!‖  mulutku  berucap  kepadanya  tanpa suara. Aku melihat dia mengusap pipinya dengan kasar, membalas tatapanku dengan sengit.


Kamu tahu, Mentari, apa yang kamu alami saat ini adalah balasan atas apa yang pernah kamu lakukan terhadapku. Dulu, Nara selalu membelamu saat aku mengingatkan untuk menjaga jarak darimu, seolah perasaanku nggak penting. Aku yang harus mengerti Nara dengan dunia yang dia miliki.


Maka aku berjanji, saat aku kembali, aku akan membuat semuanya berbalik. Kamu hanya sekadar teman, bahkan orang asing bagi Nara yang nggak memiliki arti penting. Permainan ini baru dimulai. Tapi rupanya dengan cepat, aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku bukan bermaksud jahat, hanya ingin berbagi rasa agar kamu tahu diri, Tari. Seseorang bisa mempermainkanmu kapan saja. Orang yang kamu anggap nggak cukup baik padahal kamu nggak mengenal dia dengan baik, suatu saat akan menjadi apa yang kamu inginkan. Menjadi tidak baik hanya padamu.


―Kita pulang saja, yuk,‖ ucap Nara, berhasil membuyarkan lamunanku begitu sampai di basement.


―Kenapa?‖ tanyaku mengernyit.


―Dandanan kamu.‖


―Lah, kenapa?‖


Aku pikir tidak ada yang salah dengan make-up-ku kali ini. Aku hanya mengenakan celana panjang dan blus tanpa lengan. Jaket di tanganku untuk lapis luar saat perjalanan nanti.


―Dandananmu bikin Abang nggak rela mereka lihatin kamu.‖ Dia merengkuh erat bahuku, mendekapku lalu mengecup puncak kepalaku. Tanpa kami sadari, teman-teman kerjanya menonton kami sambil senyum.


―Kondangan dulu.‖


―Iya. Abang nggak lama di sana. Mungkin nanti pulang duluan.‖


―Lho, kenapa?‖


―Pengin cepet-cepet pulang. Lagi gencar program bikin anak, biar keluarga kita lengkap.‖


Aku melebarkan mata, menahan sensasi hawa panas di wajahku. Demi apa? Dia berkata begitu seolah itu adalah bahan becandaan yang bagus, sedang kulihat ekspresi di wajahnya biasa-biasa saja.


―Becanda mulu,‖ dengusku.


―Ini nggak becanda. Serius. Biar kamu nggak punya alasan untuk pergi. Dan biar Abang merasa punya pasukan baru buat mendukung Abang mempertahankan kamu. Satu-satunya wanita yang mendampingi Abang.‖


―Kayaknya Abang kesurupan. Harus dirukyah, nih.‖


―Nggak apa-apa, asal jangan perempuan lain saja. Sepatu aku ujungnya lancip, nih. Siap kapan saja buat aku gunain.‖


―Nggak apa-apa. Kamu galaknya sama yang lain saja. Jangan sama Abang.‖


Astaga. Sejak kapan dia seperti ini? Yang kudapati selanjutnya dia tertawa menatapku. Tangan yang tadi mendekap bahuku kini bergerak mengusap puncak kepala bagian belakangku.


―Kamu lucu. Mukamu itu kayak jijik banget kalau Abang lagi gombalin kamu,‖ ungkapnya jujur. Jadi itu yang membuatnya tertawa. Mau tak mau, aku juga ikut tertawa. Dia yang konyol, selalu punya akal untuk membuatku senang.


―Bang, kalau nanti Tari lapor sama Ibu, gimana?‖


―Biarin. Kamu kenapa mikirin orang? Orang belum tentu mikirin kita. Ayo, pakai jaketnya,‖ ucapnya.


Aku menikmati saat dia memakaikan helm untukku. Dari awal, yang kukenal adalah Nara yang seperti ini, bukan Nara mengabaikanku dan lebih memilih mendengarkan Mentari.


***


Aku menemukan ponsel Nara untuk sekian kalinya bergetar. Dia meninggalkan ponselnya ketika ingin mengambil makanan untuk kami di perjamuan pesta pernikahan ini. Yang menghubungi adalah ibunya. Aku tersenyum kecil.


Perempuan itu, seperti yang kuduga, pasti akan melapor langsung pada ibu Nara. Tapi, terima kasih, Mentari. Kamu sudah membukakan jalan bagiku untuk melanjutkan permainan ini.


―Siapa?‖  tanya  Nara  sambil  duduk  di  sampingku  dengan  dua porsi makanan.


―Ibumu. Nih,‖ jawabku seraya memberikan ponselnya.


―Paling juga bahas Tari. Biarkan saja. Abang nggak mau dengar hal-hal buruk yang cuma akan buat kamu pergi dari Abang. Kita punya dunia sendiri sekarang. Kamu dan Abang. Kalau ada hal buruk, memangnya mereka mau peduli? Dunia kita, cuma kita yang bisa menjamin bertahan atau enggak. Oke? Sini ponselnya, Abang silent aja.‖


―Tapi dia Ibu, Bang. Nanti kalau marah, gimana?‖


―Itu urusan nanti. Biar Abang yang bicara kalau Ibu datang marah-marah.‖


Dia mulai menyuap makanannya, sedang aku mengamatinya dalam diam. Lihatlah, sesuatu yang seharusnya milikku pasti akan kembali dalam genggamanku. Tinggal sedikit lagi untuk membuat mereka mengerti bahwa aku memiliki sisi lain yang tidak bisa mereka anggap remeh begitu saja. Ada harga yang harus dibayar untuk setiap sesak yang mereka berikan, pun tanpa mereka sadari.


Aku baru akan menyuap ketika ponselku sendiri yang bergetar.


Kupikir ibu Nara yang menelepon, ternyata bukan.


Ayah!


―Ayah telepon,‖ bisikku padanya.


―Bilang aja lagi kondangan,‖ sahutnya di antara kunyahan.


―Sama Davis, ya?‖ ledekku dengan kerlingan jahil.


Dia memberikan pelototan. ―Sama Abang! Sembarangan kalau ngomong,‖ omelnya membuatku terkikik.


―Iya. Sama Abang.‖ Aku terkekeh sebelum menjawab panggilan masuk dari Ayah Nara.


―Ada Nara, Nak?‖ tanya ayahnya tanpa basa-basi.


―Ada. Kenapa, Yah?‖


Terdengar  helaan  napas  panjang.  ―Nggak.  Nara  bersamamu? Ayah ikut senang kamu mau kembali untuk Nara. Nak, tadi Tari ketemu kalian di kantor Nara?‖


―Ya. Dia menemui Nara di kantor tadi.‖


―Maafkan  Tari.  Anak  kecil  itu  sudah  mengganggu  kehidupan kalian. Tapi, maksudnya baik. Dia hanya nggak mau Nara terpuruk lagi. Ya, sudah, Ayah cuma bertanya. Memastikan kalau dia benar ke sana bertemu kalian. Nak, jangan biarkan pikiran buruk Tari menjadi nyata, ya? Ayah mempercayaimu untuk mendampingi Nara, putra Ayah yang kadang masih seperti bocah.‖


―Ya. Terima kasih, Ayah,‖ ucapku lirih. Kata-katanya seakan menyindirku dari sekian banyak pola permainan yang sudah kususun. Aku tersenyum getir. Apa aku jahat kali ini? Tidak banyak yang kuinginkan dari sebuah permainan yang sedang kukendalikan. Aku hanya ingin mereka menutup mulut, berhenti menganggapku hanya sekadar orang asing yang siap menghancurkan Nara kapan saja.


Aku hanya ingin mereka membuka pikiran bahwa mantan wanita karier sepertiku tidak terlalu buruk untuk dijadikan istri. Bahwa tidak semua perempuan dari golongan kami yang mungkin terbiasa hidup berkecukupan dengan segalanya—tidak bisa mengambil peran sebagai ibu rumah tangga yang baik. Bahwa kami bukan tipe perempuan yang hanya menghabiskan uang para suami.


Aku di sini dengan segala pandanganku, hanya ingin mereka mengerti bagaimana kami yang buta mengenai rumah tangga tapi mau bersusah payah mengambil peran itu, membenahi diri dan belajar dari nol. Bukan pandangan meremehkan atau bahkan sikap penolakan atas kedatanganku di belakangku.