
Breakeven - Bab 25
Memasuki pelataran rumah orang tua Nara membuatku berkali-kali membuang napas untuk menutupi rasa gugup di balik wajah datarku. Apa aku bisa memainkan peran dengan baik kali ini?
Nara menggenggam tanganku, begitu memasuki rumah itu. Tangannya terasa dingin seperti tak bersahabat. Aku masuk di kandang musuh. Itu yang tercatat di pikiranku saat ini. Anggap saja kandang musuh, karena ini rumah kedua Mentari. Perempuan yang sudah menciptakan keadaan panas ini.
―Ayah?!‖ panggil Nara sambil tetap melangkah.
―Ya! Ayah di belakang!‖ Terdengar sahutan dari jarak yang lumayan jauh.
Nara berdecak. ―Pasti Ayah lagi main sama burungnya.‖ Ayahnya Nara memang memiliki beberapa burung peliharaan.
Setiap sore beliau tidak pernah absen untuk sekadar merawat burung- burung yang terhitung lumayan memiliki harga itu.
―Ada apa, sih, Yah? Kenapa nyuruh Nara mampir?‖ tanya Nara begitu mendapati ayahnya.
―Ssh! Salam, Bang,‖ tegurku mengingatkan.
―Keceplosan. Maaf,‖ elaknya sambil meringis lebar kepadaku.
―Lho, sama menantu, toh? Apa kabarmu, Nak?‖ sapa Ayah Nara seraya mendekati kami.―Baik, Yah. Ayah sehat?‖ Aku memberikan senyum hormat.
―Sehat, Nak. Duh, tangan Ayah kotor. Abis megang-megang burung. Maaf ya, Nak,‖ Dia terkekeh saat aku meraih tangannya, menyalaminya.
―Yah, Nara yang nanya duluan, lho. Malah Ichlal yang disapa.
Ayah gimana, sih?‖ protesnya.
―Sama Ichlal, kan, jarang-jarang toh, Nak. Kamu itu mau bawa Ichlal, kok, nggak bilang-bilang dulu. Ayo, masuk.‖
―Emangnya harus bilang?‖ Nara menggandengku untuk mengikuti langkah ayahnya.
―Lho, iya harus. Nanti Ayah bisa siapin makanan kesukaan Ichlal.‖
Aku menangkap ada celah di sini. Sepertinya ayah Nara bisa menerimaku tanpa kekakuan lagi. Ada senyum di wajah tuanya sekalipun itu sedikit. Karena memang pada dasarnya, ayah Nara jarang bicara. Orang-orang di sekitar mengenalnya demikian.
―Emang ada apa sih, Yah, sampai Nara harus mampir? Nggak biasanya.‖ tanya Nara waspada.
―Duduk dulu. Kamu boleh dengar, kok, Nak.‖ Ayahnya menoleh kepadaku.
Aku mengangguk, tersenyum tipis, mengambil duduk di samping Nara. Ayahnya duduk di hadapan kami. Yang membuat Nara makin tegang adalah ketika ayahnya menghela napas panjang, tetapi tak kunjung bicara.
―Kamu sehat, kan? Sama istrimu nggak ada masalah lagi, kan?‖ tanya ayahnya yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala.
―Laki-laki jadi pemimpin, bukan berarti menjadikan istrinya seperti bawahan. Jaga perasaannya. Ayah nggak mau dengar kamu sama istrimu ada masalah lagi. Apalagi kalau sampai cerai. Janjimu itu, lho, yang dipegang.
"Selama ini istrimu, kan, nggak minta macam-macam, cuma perhatianmu, Nak. Karena kalau wanita yang seperti itu saja sampai memutuskan untuk pergi, jelas kebangetan kamu. Menikah itu bukan masalah ijab kabul, tapi bagaimana kamu membangun cinta. Pasang- surut dan kebosanan itu pasti ada, tapi diingat lagi, istrimu yang nggak pernah protes sekalipun kamu nyebelinnya minta ampun.
―Iya, Yah. Tapi, kan, pasti ada masalah dari luar, Yah,‖ bantah Nara.
―Kalau kamu fokus sama istrimu, hal-hal di luar sana sudah nggak penting lagi, Nak. Nanti kalau tiba kamu jatuh, cuma istrimu yang mau peduli tanpa memikirkan masalah lain. Kemarin, Ayah sudah pikirkan. Jangan sia-siakan istrimu. Teman bisa dicari, tapi kalau istrimu sudah pergi, bisa jadi akan membuat hidupmu pincang. Karena, seseorang yang pergi pasti akan membawa sebagian hatimu.‖ See? Aku kembali mendapatkan apa yang kuinginkan tanpa aku harus bersusah payah. Permainan masih dalam kendaliku. Ayahnya
memihakku. Thanks, Dav. Selalu support aku.
Ichlal Jemariku mengetik sebuah pesan dengan cepat tanpa mereka sadari.
―Iya, Yah.‖
―Bagus. Sebenarnya nggak ada hal penting. Orang Ayah cuma pengen ngobrol sama kamu. Sudah lama nggak ngobrol. Kebetulan kamu bawa putri Ayah, biar dia tahu apa yang kita obrolin.‖
Aku terbengong dalam diam. Ayahnya berkata dengan begitu santai tanpa ada nada humor sedikit pun. Tapi bagiku, ini lucu. Aku jadi tahu kekonyolan Nara berasal dari mana.
―Astaga, Ayah! Demi apa? Cuma pengen ngobrol doang sama Nara sampai harus bilang ada hal penting?‖ Nara menatap ayahnya tak percaya.
Sedang ayahnya tertawa tanpa suara.
―Kamu, kan, sudah punya keluarga dan jarang sekali pulang. Kadang Ayah merasa kangen, makanya kamu itu tiap Minggu main ke rumah. Bawa istrimu. Biar istrimu tahu kalau ayah mertuanya kesepian.‖
―Kode minta cucu!‖ Nara mencondongkan tubuh, berbisik kepadaku.
Aku tertawa kecil, menyembunyikan tawaku di punggung Nara.
―Ini bukan becanda, lho. Malah bisik-bisik, toh?‖
―Ayah mau apa, sih?‖ tanya Nara akhirnya.
―Ayah apaan, sih? Serius, dong, Yah. Masa Nara nikah cuma becandaan.‖
―Kamu nikah sudah tiga bulan lebih, lho. Masa istrimu belum ngasih kabar kamu, gitu?‖
Kali ini aku yang mengerutkan kening. Sejenak, kami berpandangan. Kulihat ayahnya berdecak sambil menggelengkan kepala.
―Kabar apa? Ichlal, kan, di rumah terus,‖ ucap Nara gemas.
―Tetangga belakang rumah, yang adik kelasmu itu, baru nikah dua bulan lalu, kemarin bikin acara empat bulanan. Kamu kapan?‖
―Itu hamil duluan, Yah. Kalau Ichlal sama Nara, kan, nikah duluan, jadi sabar. Kirain apaan. Ck, Ayah kebanyakan ngobrol sama Bima. Ngomong pakai kode mulu,‖ sahut Nara makin gemas.
―Jangan lama-lama. Yang giat biar cepat jadinya. Biar Ayah punya kesibukan. Masa Ayah ngajak ngobrol burung mulu setiap hari.‖
―Hadeeh, punya Ayah kata orang serem, serius mukanya, padahal aslinya begini,‖ gumam Nara membuatku mengulum senyum, berusaha menahan tawa.
―Abang, ke kamar mandi dulu, ya?‖ pamitku dengan berbisik kepadanya.
―Abang antar, nggak?‖
―Nggak usah!‖ sahutku lengkap dengan geraman. Nara hanya tertawa.
―Mau ke mana, Nak?‖ tanya Ayah sambil mengangkat wajah ketika aku beranjak bangun dari duduk.
―Kamar mandi, Yah.‖ Kali ini Nara yang menjawab.
―Di depan ada warung, lho, Nak. Kalau mau beli testpack.‖
―Ayah!‖ erang Nara yang kemudian disambut derai tawa ayahnya.
Aku baru menemui sosok ayah Nara yang sebenarnya. Dia tidak jauh beda dengan Nara. Tanpa sadar, aku masih tersenyum geli saat melintasi dapur menuju ke kamar mandi. Tapi, langkahku terhenti ketika sayup-sayup mendengar suara yang tidak asing lagi disertai langkah kaki.
―Wah, ada Nara, Bu. Tumben dia pulang kerja mampir ke rumah?‖
Apa yang ada dipikiranku saat ini selain memanfaatkan keadaan? Tanganku mengambil ponsel, mengabadikan itu dalam sebuah rekaman suara. Benakku mengatakan, pembicaraan ini bukan sebatas Nara yang mampir ke rumah. Ada hal lain yang akan ditambah hingga pembicaraan itu menjadi panjang.
―Sudah lama dia nggak mampir ke rumah. Ibu senang dia sudah bisa akur sama istrinya. Melihat dia terpuruk membuat Ibu sedih, Tari.‖
―Akurnya paling sebentar, Bu. Ichlal mana bisa menghadapi Nara dan bersikap selayaknya istri? Dia sudah terbiasa hidup enak. Yang susah nanti Nara. Suami-suami takut istri istilahnya,‖ cibir Mentari.
―Kamu ini asal aja kalau ngomong.‖
―Lho, benar, Bu. Lihat saja nanti. Nara bakal makin kurus karena tekanan batin. Rumah tangga pas baru-barunya senang. Apa pun terlihat dia yang paling baik. Nanti, beberapa bulan lagi, Nara pasti ditendangnya, Bu. Lihat saja gayanya Ichlal. Mana mau dia ke pasar buat belanja bulanan. Mentok-mentok supermarket. Harganya mahal. Lebih parah lagi Nara yang disuruh belanja.
"Sekarang, Bu, Nara mulai berubah, nggak mau lihat Tari lagi. Lihat saja, nanti kalau susah, jangan datang ke Tari. Akan Tari suruh dateng ke Ichlal-nya yang dia bangga-banggain.‖
―Biar nanti Ibu bicara sama Nara. Punya istri jangan dimanja, nanti ngelunjak. Nggak mau menghormati suami kalau kayak gitu caranya. Sekali-kali harus diajari bagaimana hidup sederhana.‖
―Iya, benar, Bu. Perempuan macam Ichlal mana tahu urusan rumah tangga. Tahunya salon, jalan-jalan, shopping. Belum genap setahun Nara jadi suami, bakal kere langsung, Bu.‖
―Dosa apa dulu Ibu, Nak. Bisa-bisanya Nara susah dibilangin, cari istri itu yang selevel, yang sama-sama susah, biar merasakan sama-sama berjuang. Malah dapatnya yang kayak ratu. Tapi kalau sudah jodohnya, mau gimana lagi? Dia pilihan Nara sendiri, pasti dia juga sudah memiliki pertimbangan sendiri.‖
―Suruh ceraiin saja, Bu, daripada nanti Nara cuma dimainin doang. Perempuan macam dia itu licik, Bu. Ibu pernah berpikir nggak, waktu itu dia bersikeras pengen gugat cerai Nara. Eh, tiba-tiba dia batalin begitu aja? Sudah pasti dia merencanakan sesuatu, Bu. Jangan biarkan itu terjadi. Biar saja Nara bercerai, masih banyak perempuan yang jauh lebih baik dari dia.‖
―Maksud kamu, gimana?‖
―Dia pasti mau manfaatin Nara, makanya dia batalin gugat cerainya. Belum ketemu laki-laki yang berduit kali. Kan, lumayan buat nyambung hidup, Bu.‖
―Tapi aku nggak serendah itu, Tari. See? Aku punya ini. Akan aku tunjukkan pada Nara dan Ayah. Kamu akan makin kehilangan arti.
"Pada dasarnya, aku nggak suka bikin masalah kalau nggak ada yang cari masalah. Tapi, aku nggak tahu maksud dan tujuan kamu apa, membicarakan hal buruk tentang aku yang kamu sendiri nggak tahu pasti, pada Ibu. Bu, maaf, Ibu masih ingat, kan? Pagi itu saat aku kembali, saat Nara dan Ibu berdebat?‖
Aku menatap mereka satu per satu. Ada keterkejutan yang tidak bisa mereka sembunyikan, terlebih Mentari ketika melihat pada ponsel di genggamanku.
―Apa yang Nara bilang? Kalau aku berniat jahat, memanfaatkan orang, Nara nggak masuk dalam standarku. Dan kayaknya aku nggak perlu berkoar-koar mengklarifikasi kalau aku adalah orang baik-baik.
"Kutipan terkenal dari seorang Ali bin Abi Thalib, tidak perlu menjelaskan apa pun tentang dirimu. Karena yang menyukaimu tidak membutuhkan itu. Dan yang membencimu tidak akan mempercayai itu.‖
―Ibu nggak bermaksud untuk—‖
―Aku tahu, Bu. Aku bahkan tahu siapa yang munafik di sini,‖ ucapku santai dengan tatapan menusuk tak lepas dari perempuan di samping Ibu Nara.