Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 29



Breakeven -  Bab 29


Aku sudah berjanji untuk tidak meninggalkannya. Nara sudah bicara dengan Ayah tadi pagi di telepon. Ayah bilang, dia bangga padanya.


―Dia nggak akan pernah pergi dari Nara. Dia akan tetap di sini. Nggak peduli banyak orang yang nggak suka sama dia. Nggak peduli ada yang bilang Nara egois. Nara butuh dia lebih dari mereka, Yah. Wanita yang mau bersusah payah demi menyandang gelar istri yang baik itu Ichlal. Dia nggak bisa memasak, Nara bilang kita bisa beli. Tapi sedikit-sedikit, dia belajar sendiri diam-diam. Bahkan karena takut aku marahi, semuanya dia bereskan sebelum aku pulang, meski terkadang pasti ada barang yang terlewat yang membuatku tahu apa yang dia lakukan.


"Wanita yang selalu mencoba belajar dengan membaca artikel- artikel di internet tentang pernikahan secara diam-diam. Dia tidak tahu apa pun. Tapi, dia mau belajar dalam diamnya.‖


Aku meringis mendengar Nara dengan bangga menceritakan bagaimana payahnya aku. Ada rasa malu ketika menyadari bahwa selama ini dia begitu memperhatikan aku, bahkan sampai sedetail itu. Dia tidak pernah memprotes ketika apa yang kupelajari dan kuterapkan hasilnya tidak seperti yang seharusnya. Reaksinya mungkin hanya tertawa sambil berkata, ―Nggak apa-apa.‖


Itu Nara sekarang. Nara dengan teman dan keluarga barunya.


Bukan Nara pada saat dengan teman-temannya dulu.


Nara pernah mengecewakan aku karena sikapnya. Nara pernah menyakitiku dengan diamannya. Tapi, Nara mendewasakan diri dari kesalahan yang dia lakukan. Dia bukan pria yang sempurna, tapi dia lebih dewasa dari usianya. Bahkan terkadang, dia jauh lebih dewasa beberapa tahun dariku di segi pemikiran dan sikap.


Nara memang bukan seorang pria dengan segala kesempurnaannya. Nara bukan pria tampan berbadan atletis. Nara hanya seorang pria kurus meski sekarang lebih berisi sedikit, dengan wajah pas-pasan pula. Dia bukan pria berduit. Namun, inilah pria yang menjadi pilihanku. Dan selamanya akan tetap begitu.


Dia dengan keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Aku tidak akan menghapus jejak mereka ataupun melarang Nara untuk tetap berhubungan. Aku hanya ingin segalanya berjalan wajar. Aku sendiri bukan wanita sempurna. Aku masih belum bisa memasak, hanya beberapa yang mulai kubisa. Dan Nara masih sering cerewet, mengingatkanku agar tidak melakukan pekerjaan rumah sendirian. Dia selalu ingin mengerjakannya bersama-sama. Meski kadang ada perselisihan atau sekadar adu argumen, itu bukan hal yang perlu dianggap serius. Ayahnya bilang, wajar saja, namanya dua kepala, dua otak, dua pemikiran pasti ada saatnya bersinggungan sekalipun berusaha untuk sejalan.


Ibunya tidak banyak bicara, hanya sesekali menanyai kabarku. Tapi aku paham, ada kecanggungan untuk rasa bersalah di dalam dirinya. Ibunya masih menjaga jarak denganku, tapi tidak lagi menjatuhkanku atau berpikiran buruk tentangku. Ibunya hanya canggung untuk beramah tamah denganku saja.


Sedang perempuan itu, entah. Aku tidak mendengar lagi kabarnya. Setelah sore itu, ayah Nara tidak pernah mengizinkan istrinya jauh-jauh darinya. Pergerakannya selalu dipantau, bahkan terkesan jarang di rumah. Ayah selalu mengajak ibu ke rumah yang disewa untuk tempat usaha catering. Mereka akan pulang selepas petang.


Aku banyak mengabari Davis tentang ini. Ah, pria itu sedang melancong ke Kanada. Untuk pekerjaannya selama beberapa bulan ke depan, Nara tahu. Tapi dia tidak banyak bicara, hanya berucap, "Terima kasih karena masih mau bertahan bersama Abang. Sekalipun kamu tahu ada orang yang lebih menjanjikan dari Abang, kamu nggak berubah pikiran. Abang bukan cuma cinta kamu. Tapi sangat."


Aku juga sangat mencintainya. Ada rasa membuncah saat ini. Ketika aku melangkahkan kaki menuju ke kedai tanpa sepengetahuannya. Aku sibuk bertanya sejak tadi. Dia lagi di mana dan lagi di mana. Sampai dia bosan menjawabnya, bahwa dia sedang di kedai miliknya bersama teman-teman kantornya. Teman kantornya ingin melihat kedai, sekaligus mencoba.


Aku melangkah tanpa suara, mendekati pria yang sedang bicara dengan Bima di meja berbeda dengan teman-temannya. Memeluknya dari belakang setelah mengisyaratkan pada Bima untuk bungkam atas kedatanganku.


―Ichlal?! Sayang? Kamu—‖ pekiknya terkejut ketika aku menyapanya tepat di telinga. Aku terkekeh lalu menarik kursi di sampingnya.


―Kamu ke sini nggak bilang-bilang. Kamu naik apa?‖ tanya Nara mengusap kepalaku begitu aku sudah duduk di sampingnya.


―Aku, kan, tadi sudah nanya-nanya Abang lagi di mana. Itu, kan, kode,‖ sahutku meringis.


―Kamu mau makan?‖ tanyanya.


―Nggak. Bang, tadi di jalan aku nemu note lucu. Mau baca nggak?‖


―Note?‖


―Hm. Kayak kumpulan sticker meme. Tadi mampir ke toko buku.


Iseng. Mau baca, nggak?‖ tanyaku.


―Oh, ya? Mana sini Abang lihat.‖


Aku mengeluarkan sticker dari tas. Dia mengerutkan kening membaca tulisan di sana. Sedang aku mengulum senyum. Aku tahu dia akan berpikir keras untuk mencerna tulisan di sticker itu.


Eye Mag Own Abbey A Far there.


―Ini apa?‖ sekali lagi dia menatap tulisan itu lalu mengejanya,


―Eye Mag-own-ab-bey.. Abang nggak ngerti… A-far-there. Eye-mata, Mag-artinya apa?‖


―Jangan di-translate. Baca aja.‖


―Eye  mag  own  abbey  a  far  there?‖  Dia  mengerutkan  kening, mulai berpikir, ―Osh, ini nggak ada artinya. Kamu ngapain beli beginian?‖


―Masa? Coba baca ulang tanpa jeda,‖ pintaku, tidak rela jika dia menyerah begitu saja menebak permainan kecil ini.


Dia kembali membaca bahkan kali ini dia seperti merapal mantra.


Tapi sekali lagi dia menggelengkan kepalanya.


―Gagal paham!‖ ucapnya menyerah.


―How about this one?‖ tanyaku kemudian.


―Ada lagi? Astaga, kamu benar-benar kurang kerjaan, Sayang.‖ Dia berdecak di antara gelengan kepalanya.


May hunt east prague nut.


―Ini apa lagi?‖ tanyanya mengernyit setelah melihat tulisan pada


sticker itu.


―Baca aja, Abang,‖ ucapku menyembunyikan senyuman.


―May-hunt-east-prague-nut. May. Hunt. East. Prague. Nut.‖


―Tanpa spasi bacanya.‖ Aku membiarkan dia kembali mengeja tulisan tersebut. Dia bahkan menuruti apa perintahku.


―MayHuntEast… Prague. Nut. PragueNut. MayHuntEastPragueNut. MayHuntEast… Prague,‖ Dia menelengkan kepala, mulutnya bergerak-gerak tanpa suara, mengeja kalimat itu hingga  beberapa saat kemudian  dia  berteriak, ―No! I get it! I get it! My honey is pregnant! Oh?! Are you kidding me?!‖ Dia memekik histeris, menatapku tak percaya. Sedang aku hanya tertawa. ―Kamu serius?‖ tanyanya sekali lagi, masih dengan tatapan tidak percaya.


Dia mengambil sticker yang pertama, menatapnya cukup lama. Kali ini dengan tangan gemetar. Rupanya dia sudah  mendapatkan celah untuk memahami susunan kalimat itu.


Eye Mag Own Abbey a Far There. (I’m gonna be a father.)


―Im gonna be a father? Yeah, I’m gonna be a father!‖ Dia terus memekik di antara rasa bahagia juga tidak menyangka.


Yang dia lakukan selanjutnya adalah memeluk erat diriku dengan mulut tak berhenti mengucap ‗I’m gonna be a father’. Dia mengecupi wajahku dengan tawa kaku karena rasa bahagia yang meluap-luap.


―Nara sehat?‖ celetuk Bima saat melewati kami.


―Sehat! My honey is pregnant. I’m gonna be a father, if you want to know.‖


―Apa?!‖ pekik Bima.


―Aku akan jadi seorang ayah, Bodoh! Ichlal hamil!‖


―Ichlal hamil?!‖ pekiknya lagi. Nara mengangguk mantap.


―Telepon Ayah! Sekarang! Pasti ayah senang,‖ seru pria tambun itu antusias.


―Nanti aja!‖ erang Nara membuatku terkikik geli, "Aku akan buat kejutan. Gantian."


Tangannya beralih memegang kedua lenganku. Matanya menatapku serius. ―Kamu serius? Kamu nggak becanda? Ini bukan prank, kan?‖ Entah sudah berapa kali dia menanyaiku dan entah sudah berapa kali pula aku menjawabnya dengan anggukan kepala.


Kali ini aku menggeleng di antara senyum geliku, ―Serius. Your honey is pregnant. Enam minggu.‖


―Enam minggu?‖ pekiknya makin tidak percaya.


Aku mengangguk mantap. Aku melihat matanya mulai berkaca- kaca.  ―I’m  gonna  be  a  father?‖  gumamnya  bertanya  kepadaku  dan aku  kembali  mengangguk.  ―I’m  gonna  be  a  father.  Kamu  tahu,  Ini kejutan paling manis. Abang nggak pernah berpikir akan dapat kejutan. Rasanya … kamu mau tahu rasanya? Bahagianya berlipat- lipat!‖


Aku tertawa kaku. Kali ini malah aku yang ingin menangis mendengar pengakuan dan matanya yang sudah berkaca-kaca. Dia sudah lama ingin mendapatkan berita ini, tapi dia selalu diam. Tidak pernah bertanya, kapan aku hamil? Kapan kita punya anak? Hanya aku tahu dia sering melihat gambar anak-anak kecil di internet. Lalu terkadang dia akan menjadikannya wallpaper di ponselnya.


―Beberapa bulan lagi wallpaper Abang akan ganti, foto anak Abang sendiri. Makasih, Sayang,‖ bisiknya bergetar. Dan aku tidak tahu kenapa, Nara mudah sekali terharu. Sekonyol-konyolnya dia, hatinya mudah tersentuh melebihi seorang pria dengan jiwa romantis.


Bibirku seakan tidak bisa berhenti tersenyum. Melihat dia begitu antusias. Mendengarkan segala rencana yang tersusun di otaknya untuk calon bayi kami nanti. Tidak, dia juga mulai cerewet agar aku lebih berhati-hati karena aku bukan lagi seorang diri.


Bagaimana bisa pada akhirnya aku menjatuhkan pilihanku pada pria ini? Di saat yang lain masih memikirkan karier atau bersenang- senang dengan wanita, tapi dia lebih memilih membangun sebuah komitmen terhadapku. Pola pikirnya melebihi pola pikir pria dewasa yang usianya sudah matang, tapi lebih memilih hidup sendiri. Meski kadang sisi kekanakannya muncul, aku bisa memahami. Bagaimanapun sisi sewajarnya usianya tidak bisa dipungkiri atau dihilangkan begitu saja.


―Oh iya, kamu kalau ngidam jangan yang aneh-aneh, ya? Tapi boleh, nggak apa-apa. Cuma mintanya jangan tengah malam atau pagi buta.‖


―Lah, kenapa?‖ tanyaku mengernyit.


―Bahaya. Rawan begal. Yang lagi ngehits rawan gangster.‖


Aku terbungkam, menahan tawa. Pikirannya sudah berlari jauh.


Dia benar-benar konyol.


―Delivery, kan, bisa, Bang,‖ sahutku kalem.


―Iya. Bisa, ya? Ck. Nggak kepikiran kalau ada Bima,‖ celetuknya tanpa beban.


Aku melebarkan mata. Apa katanya? Dia meringis seakan ada serentetan rencana jahat yang tersusun untuk Bima di otaknya.


―Teman akan selalu ada saat temannya membutuhkan,‖ kilahnya.