Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 3



Breakeven - Bab 3


“Pegangan, nanti kamu jatuh!‖ perintah Nara ketika aku duduk diam di belakang boncengan.


―Nggak. Tenang saja,‖ jawabku, mengelak dengan menumpu- kan kedua telapak tangan pada lutut. Aku mendengar dia berdecak.


―Ichlal,‖ panggilnya pelan dengan nada memperingatkan sambil mengurangi kecepatan laju motor.


―Ini sudah aman, Bang. Ini pegangan juga, kok.‖ Sejujurnya, aku masih merasa canggung untuk memeluk ataupun sekadar menyentuh bagian tubuhnya di tempat umum. Aku bukan tidak tahu kalau terkadang dia cukup geregetan dengan sikapku, sedang dia menginginkan apa yang sewajarnya sepasang kekasih atau suami istri lakukan.


―Bukan itu. Peluk Abang, sekarang!‖


Tangannya bergerak mengambil tanganku, lalu menariknya hingga aku merapat padanya. Dia membuat satu tanganku memeluk satu sisi badannya.


―Satunya lagi, mana?‖


Aku mengulurkan tangan untuk membuat simpul pelukan di perutnya. Tidak berhenti sampai di situ, satu tangan yang tadi dia gunakan untuk menarikku, kini menggenggam simpulan tanganku. Dia memberikan usapan di sana. Dan aku bisa melihat senyumnya dari spion. Sedang aku sendiri menahan sebuah perasaan entah apa namanya. Juga degup jantung yang makin cepat. Apa aku sudah jatuh cinta pada sosok pria ini?


―Kamu yakin, nggak mau request makan apa?‖ tanyanya setelah beberapa saat berlalu dalam diam.


Aku tidak tahu apa yang membuatku pada akhirnya menumpu- kan dagu di satu sisi bahunya. Membiarkan tubuhku bersandar di punggung Nara. Tapi kemudian, aku merasakan gerakan merapat darinya.


―Nggak. Aku ikut Abang saja,‖ jawabku, kali ini dengan yakin. Aku merasakan bibirku tersenyum ringan di bahunya. Ini kenyama- nan yang baru saja menggulungku, melupakan kecanggungan yang tadi tercipta.


―Tapi, nanti dimakan sampai habis tanpa protes ya?‖


―Iya.‖


―Benar? Yakin? Karena kalau cewek, sekarang bilang iya, pas sampai di tempat berubah lagi.‖


Aku mendengus. Tanganku bergerak mencubit kecil perutnya, membuat Nara tergelak di antara ringisan sakitnya.


―Aku nggak yang kayak gitu!‖


―Astaga! Abang nggak pernah bermimpi punya istri seganas kamu, Ichlal!‖ pekiknya tertahan.


Aku melebarkan mata, menarik satu tangan untuk menepuk keras punggungnya. Dia membuatku merasa menjengkelkan.


―Aduh! Ichlal, demi apa? Sebentar lagi akan ada stempel di perut Abang karena cubitan kamu. Juga di punggung,‖ omelnya, tapi kemudian dia terbahak sambil meringis ketika aku menambah satu cubitan lagi di lengannya.


―Orang, tuh, kalau sama suami dicium, disayang. Bukan dianiaya begini. Ya Allah, dosa apa aku?‖ gerutunya.


―Kalau Abang nggak nyebelin, nggak akan dapat cubitan!‖ elakku membela diri.


―Tuh, wanita selalu benar, kan?‖ Dia kembali meledekku dengan argumen mengenai paten perbedaan pria dan wanita.


Aku mendengus. Dia sering mengajakku ribut-ribut kecil dengan argumen-argumennya. Itu sangat menjengkelkan. Tapi aku tahu, ini bukan untuk debat yang serius. Dia hanya senang membuatku jengkel dengan perdebatan konyol kami. Dan biasanya berakhir dengan remasan gemas di puncak kepalaku.


―Ya, ya. Wanita selalu benar,‖ ucapku akhirnya, seiring dengan dia yang membelokkan motor, kemudian menepi di sebuah tempat makan pinggir jalan.


Kalau ada yang berpikir aku adalah bagian dari para wanita yang hanya mau makan di restoran, itu salah. Aku termasuk orang yang menghindari restoran-restoran yang kadang hanya digunakan sebagai ajang selfie oleh beberapa wanita penghuni media sosial.


Untuk sesaat, aku tertegun ketika dia meraih satu tanganku ke dalam genggamannya, menggandengku memasuki tempat makan yang menyajikan aneka seafood itu sebelum akhirnya aku bisa menganggap ini adalah hal yang harus kubiasakan. Dia membawaku pada tempat duduk paling sudut dan paling dalam. Aku meliriknya dan kudapati dia tengah serius melihat satu lembar daftar menu. Sekali lagi, Bukan ketampanan yang kudapatkan. Melainkan sesuatu yang tidak pernah kutemukan sebelumnya dari lelaki mana pun. Aku melihat kenyamanan di sana. Aku merasakan ini. Aku yang apa adanya, tanpa merasa takut dia akan merendahkanku.


―Hei, lihatnya biasa saja. Kayak yang baru ditinggal sepuluh tahun, deh!‖ tegurnya seraya menoleh kepadaku.


Aku hanya tertawa kecil, membiarkan tangan Nara yang kini berlari mengacak rambut di bagian belakang kepalaku. Dan aku juga menikmati sensasi merah jambu di wajah saat ini karena dia tanpa kuduga, mencium pipiku. Hei, demi apa, aku seperti gadis SMA yang baru saja ditembak pujaan hatinya.


Mataku menyelami matanya untuk beberapa saat. Membuatku merasa tersesat di sana saat dia menatap lembut padaku. Dia, laki-laki yang tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara verbal. Hanya mata dan gestur tubuh yang banyak bercerita. Tangannya tak pernah lupa memberikan sentuhan lembut kepadaku.


―Hei? Kamu, oke?‖ tanyanya sekali lagi.


―Aku?‖


Dia mengangguk, menatapiku lebih dalam lagi. Tapi, kali ini disertai dengan rasa khawatir. Aku menggeleng pelan, memberinya senyuman tipis.


―Aku nggak apa-apa. Cuma ….‖


―Cuma apa?‖ tanyanya mendesak.


―Iya, kamu kenapa? Jangan bikin Abang khawatir, Ichlal.‖


―Abang, I love you,‖ bisikku pelan tanpa melepas tatapan darinya. Aku tidak tahu, kenapa malam ini aku ingin mengucapkan kalimat itu. Tidak peduli jika nanti reaksinya hanya berupa tawa atau bahkan pura-pura tidak mendengar. Yang pasti, aku ingin jujur. Aku mulai mencintainya. Entah sejak kapan.


Dia terdiam selama beberapa saat. Sebelum tangannya yang masih menggenggam bagian belakang kepalaku, bergerak memberi- kan usapan lembut di sana. Aku tersenyum tipis ketika apa yang kupikirkan terjadi. Dia tidak menjawab. Sedikit kecewa, tapi sudahlah. Dia suamiku, milikku. Lagi pula, cinta tidak hanya sebatas kata.


―Abang pikir ada apa. Ternyata hanya itu.‖


Hanya itu? Aku meringis kecil, tidak menyahutinya. Aku me- nyesal memilih larut dengan rasa yang dia hadirkan. Dan kini, aku lebih memilih mengambil segelas teh tawar hangat di hadapanku lalu menyesapnya. Tapi kemudian aku hampir saja membanting gelas di tangan saat dia mengecup sudut bibirku sembari berbisik, ―Abang lebih dari itu.‖


Dengan cepat aku menoleh kepadanya disertai tatapan terkejut. Nara terkekeh, seolah tidak pernah terjadi sesuatu. Tangannya dengan santai mengambil makanan bagiannya. Saat ini aku hanya berharap, semoga pengantar makanan tadi tidak melihat apa yang sudah Nara lakukan terhadapku.


―Makan! Habis ini, kita harus mampir ke kedai. Jangan lama- lama karena Abang nggak mau pulang larut dengan kamu di boncengan. Nanti kamu masuk angin.‖


―Ck! Tapi aku nggak selemah itu, Abang.‖


―Abang tahu. Tapi, menjaga kesehatan jauh lebih penting.‖


―Iya, Om!‖


Matanya melebar seketika. Dia bahkan menghentikan kunyahan demi mendengar cibiranku.


―Tante!‖ balasnya tak terima.


Aku mengulum senyum. Kamu tahu, aku suka membuatmu kesal. Aku suka ekspresi jengkelmu. Aku tidak bermaksud apa-apa. Ini hanya salah satu caraku mencintaimu, saat semua nanti akan kujadikan sebuah kenangan manis.


Aku seperti tidak bisa menghentikan perasaanku yang mem- buncah saat ini. Bahkan ketika makan, aku tak bisa berhenti tersenyum. Sesekali, aku melirik Nara yang tengah sibuk melahap makanan.


―Lapar banget, Bang?‖


Dia hanya mengangguk sambil mengunyah. Aku menatapnya dalam diam. Ah ... andai saja aku bisa memasak, pasti hal ini tidak akan terjadi.


―Abang kalau masih lapar, punya aku masih banyak,‖ ujarku pelan.


Dia menghentikan kunyahan, menatapku dengan mata menyipit, kemudian kembali melanjutkan makan.


―Itu punya kamu, habiskan. Kamu janji tadi mau habisin, kan. Kalau Abang masih lapar, tinggal nambah lagi. Ayolah. Kalau nggak dihabisin, Abang tinggal.‖


Aku memutar bola mata sebelum akhirnya makan kembali. Namun aku tidak tahu kenapa, mata ini enggan beranjak dari Nara. Sampai pada suapan terakhir, aku tersedak begitu melihat sebuah pesan yang baru saja dia buka di ponselnya.


Bisa jemput aku nggak, nanti malam? Aku lembur, takut naik angkutan umum sendirian. Please, I beg you.


Dari Mentari. Aku merasakan kesesakan itu ketika melihat namanya di sana. Bukan hanya karena tersedak, tapi juga rasa lain yang masih terasa asing.


―Abang tungguin. Makannya pelan-pelan saja. Abang telepon Bima dulu, ya? Mau kasih tahu kalau kita mau mampir ke kedai.‖ Dia beranjak tanpa menunggu jawabanku.


Aku meringis tipis. Bukan sahabatnya yang dia percaya untuk membantu mengelola kedai yang akan dia hubungi, aku tahu. Melainkan, wanita itu. Mentari.


―Abang—‖


―Cuma sebentar, Sayang. Kamu lanjutin makannya.‖


Aku kembali diam. Menatap punggung Nara yang menjauh menuju motornya. Dia lebih memilih menelepon di parkiran hanya karena tidak ingin aku menguping. Kenapa? Aku bahkan baru saja merasakan sesuatu yang kunamai bahagia, meski dalam versiku sendiri. Sekarang malah berganti dengan kesesakan. Bahkan, tidak sampai dalam kurun waktu satu jam.


Sambil mengunyah pelan, kuamati Nara di sana. Beberapa kali aku mencoba menghalau kesesakan dengan tarikan napas panjang. Namun, ini sulit. Aku gagal. Udang asam manis yang tersisa beberapa ekor di meja sudah tidak menarik lagi. Aku kehilangan selera makan hanya dalam sekejap.


Dari gerak-geriknya, aku tahu dia sedang mencoba menjelaskan sesuatu. Ah, aku harap ini hanya bentuk ketakutanku saja, ujarku dalam hati. Aku mencoba menepis semua keraguan ketika Nara kembali menghampiriku.


―Udangnya masih utuh. Kamu makan apa puasa mutih?‖ tanyanya begitu melihat porsi udang di hadapanku hanya berkurang beberapa ekor.


―Makan. Ini lagi mau aku habisin, kok,‖ sahutku pelan. ―Sudah neleponnya?‖


―He-em. Cuma kasih tahu kalau kita mau mampir doang. Kenapa harus nelepon lama?‖ sahutnya seraya meletakkan ponsel di meja.


Tak berapa lama, nama Mentari kembali muncul di layar ponselnya. Kali ini bukan pesan, melainkan sebuah panggilan. Aku memilih untuk memfokuskan tatapanku pada makanan, berpura-pura tidak tahu. Bahkan ketika dia dengan cepat meraih kembali benda itu, lalu beranjak meninggalkanku hanya dengan lambaian tangan. Isyarat meminta izin untuk menerima panggilan. Dan aku hanya mengangguk, menahan rasa seperti tercekik yang kian menyiksa. Aku mengerjapkan mata beberapa kali demi mendapat-kan kembali kendali atas diriku.


Aku tidak meminta banyak, Abang. Cukup hargai perasaanku, tolong. Karena wanita mana pun pasti akan meradang ketika melihat wanita seperti Mentari—yang kamu bilang hanya teman—terus menghubungi.[]