Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 28



Breakeven -  Bab 28


Demi sebuah alasan? Apa yang bisa kupercaya dari kalimat itu? Sedang aku merasa permainan bukan lagi milikku, tapi ayah mertua.


―Apa Ichlal-ku pernah mengusik hidupmu? Apa dia pernah mengambil sesuatu darimu? Kesalahan besar apa yang dia lakukan sampai kamu selalu menjatuhkannya?‖


Aku mendengar suara gemetar putus asanya. Dia dalam keadaan menahan diri dari gelegak emosi.


―Orang-orang seperti dia nggak pantas untuk bahagia,‖ ujar Mentari.


―Apa kamu merasa kamu lebih baik dari dia? Sepicik itu pemikiranmu? Apa kamu tahu? Apa kamu pernah memposisikan diri sebagai dia? Tuhan adil, Tari. Coba kalau kamu diposisikan kayak Ichlal, kamu pasti lupa diri. Sekarang aja kamu begitu.


"Dengan segala dunia yang dia miliki sebelum aku menikahinya, Ichlal punya karier yang membuat hidupnya berkelas. Dunianya nyaman. Teman-teman yang peduli. Juga ibunya yang selalu menyemangati.


"Tapi, dia mau meninggalkan segalanya buat hidup pas-pasan sama aku. Kamu pikir apa yang dia miliki? Apa yang dia pakai itu dari uang aku? Bukan. Dia sudah memiliki itu sebelum kami menikah. Dia bukan tipe perempuan yang kamu pikirkan. Kamu pikir dia mengadu tentang kamu? Sama sekali nggak. Aku bahkan nggak tahu. Dia menghadapi ini sendirian. Untuk seorang perempuan kayak dia, lebih memilih menghadapi masalah yang kamu buat, sendirian.


"Tari, bukan hal yang mudah ketika seseorang diharuskan masuk ke dalam sebuah keluarga yang sama sekali nggak dia tahu karakternya. Sedang dia datang seorang diri. Nanti kamu akan paham saat kamu menikah. Tapi, aku harap kamu nggak mendapatkan seperti yang Ichlal alami,‖ ucap Nara panjang lebar dengan suara bergetar.


―Tapi dia mempermainkan kamu. Kenapa kamu sulit untuk melihat?‖ Dia masih bersikukuh pada pandangannya.


Entah apa yang dia inginkan, yang mendasari pandangan buruknya terhadapku. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum membuka layar ponselku kala pesan dari Ayah kuterima.


Tinggalkan putraku, agar mereka melihat Nara dan kehampaannya. Karena kamu dan hanya kamu yang Nara butuhkan. Biarkan putraku kehilangan hidupnya. Itu yang mereka inginkan.


Pada akhirnya, aku mendapatkan alasan itu. Aku meringis. Sakit itu terasa kian nyata. Meninggalkannya bukan hal yang mudah. Kami baru saja membuat sumpah untuk selalu bersama dan saling menguatkan.


Aku mengusap kasar air mata di pipi. Lalu beranjak masuk. Menatap canggung keduanya. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari sisa kekuatan untuk berucap.


―Aku akan pergi. Apa itu yang kamu inginkan, Tari? Aku akan meninggalkannya jika itu bisa membuatmu berhenti merendahkan dirimu sendiri dengan menjelekkan orang lain,‖ ucapku dingin.


―Nggak, Ichlal. Satu-satunya orang yang harus pergi adalah dia!‖ seru Nara tidak terima bahkan sangat tidak terima dengan ucapanku.


―But she never stop to annoy us! Aku nggak mau hidup dengan orang yang di sekelilingnya suka ikut campur. Bahkan binatang jauh lebih tahu diri!‖ Aku berkata cukup kasar kali ini. Untuk segala masalah dengan satu sumber yang membuatku tidak mampu mengendalikan diriku sendiri. Napasku mulai memburu. Aku benar- benar ingin menjenggut perempuan itu dan mengeluarkan otak kecilnya dari cangkang kepalanya.


―Sayang, kita sudah berjanji untuk selalu bersama. Kamu ingat itu. Abang sudah pernah bilang, teman bisa dicari, tapi kamu? Di mana Abang bisa cari istri kayak kamu?‖ Nada bicaranya tetap lembut tapi tidak bisa menutupi kelelahan juga frustrasinya.


Dia menghampiriku, merangkum wajahku, memaksa aku untuk menatap dirinya. Dia tidak bicara, hanya menatapiku. Selanjutnya dia mengecupi wajahku. Sedang dalam hati aku meronta agar dia tidak memaksaku untuk menatapnya, karena itu hanya akan menambah kesakitan bagiku ketika nanti aku memang harus meninggalkannya.


―Izinkan Abang untuk tetap menahanmu di sini. Abang nggak butuh teman lain lagi. Cukup kamu. Teman hidup, teman segalanya. Please, stay with me.‖ Dia mengiba padaku, ya, Tuhan.


Aku meloloskan diri ketika dia ingin memeluk. Menghampiri Mentari yang terlihat pias menatap kami. Kecemasan melandanya. Mungkin dia berharap aku akan pergi dari Nara. Tapi kalimat Nara yang jelas mampu dia dengar, menipiskan harapannya.


―Aku akan meninggalkannya. Jangan pernah mencariku saat kamu melihat dunia sahabatmu sekarat! Aku akan membawa hampir sebagian dari hidupnya. Perasaannya, hatinya, bahkan belahan jiwanya! Dan kamu akan melihat Nara bukan lagi sekadar terpuruk. Jauh lebih buruk dari saat masa lalunya lebih memilih meninggalkannya. Aku berjanji untuk itu!‖


Aku melihat wanita itu kini terbungkam, menatapku dengan bibir bergetar. Di matanya, aku melihat ada selaksa air mata yang menggenang. Dan sedetik kemudian dia terjatuh, tergugu di sofa. Dia menangis hebat, entah atas dasar apa. Kupikir, perempuan ini pernah mendapat penghargaan sebagai aktris drama terbaik.


―Kamu pernah mencintaiku, Nara, tapi aku nggak bisa balas cinta kamu. Aku berjanji akan menjagamu dari orang yang salah, tapi kamu menginginkan itu sekarang. Aku bisa apa?‖ Dia berucap terdengar seperti merintih, menatap Nara di antara air matanya.


―Kamu harus pulang dan berhenti mengurusi hidup kami. Kamu yang membuat aku hampir kehilangan Ichlal,‖ tegas Nara.


Perempuan itu menangkupkan tangan di wajah, seperti berusaha meredam tangis.


―Sebaik-baiknya wanita, jika dia sudah berani menyentuh hubungan seseorang, dia bukan lagi wanita baik. Dan seburuk- buruknya wanita, jika dia bertaruh mau melakukan apa pun untuk mempertahankan hubungannya, dia jauh lebih baik. Kamu, nggak bisa menuding dia baik atau buruk. Kamu sendiri belum tentu baik!‖ Tidak ada sahutan lagi ketika Nara menjatuhkannya lagi lewat kalimatnya. Sesaat kemudian, dia menatapku.


―Kehadiranmu sukses membuat segalanya berantakan. Aku cukup tahu. Kamu bukan hanya membuat Nara membenciku, tapi juga sudah merebut orang tuanya dariku!‖ Dia berkata dengan padangan menusuk padaku, seolah kehancurannya adalah karena kehadiranku di dalam keluarga Nara.


―Sebaiknya kamu cuci muka, biar sadar kalau kamu hanya mimpi. Nggak ada yang menginginkanmu di sini!‖ sahutku sengit.


Dia menatapku cukup lama sebelum beranjak pergi dengan langkah kasar. Kepergiannya menghadirkan perasaan yang tak mampu kusebut namanya. Aku hanya terduduk luruh di sofa. Membiarkan tangis itu lepas, meluapkan semua perasaanku saat ini.


Aku merasakan Nara bersimpuh di hadapanku. Tangannya meraih tanganku di pangkuan, mengecupnya berkali-kali. ―Jangan pergi, ya. Tolong,‖ pintanya menghadirkan sayatan di hatiku.


―Aku lelah. Aku lelah untuk semuanya,‖ lirihku terisak.


―Abang tahu. Tapi Abang mohon, izinkan Abang untuk mempertahankan kamu di hidup Abang. Kalau dulu kamu yang mati- matian mempertahankan pernikahan ini, sekarang giliran Abang. Jangan melakukan apa pun. Tetap di sini.‖


―Aku pernah bilang, kan?‖ Aku mengangkat wajah, mendapati tatapan matanya tertuju padaku.


―Abang ingat, tapi Abang memohon untuk kali ini. Jangan pergi dari hidup Abang. Abang akan berusaha menjaga kamu agar dia nggak bisa menyentuh kamu lagi. Jangan pergi, ya?‖ ulangnya lagi.


Aku merasa tersesat saat dia memohon kepadaku. Saat ayahnya memintaku untuk meninggalkannya, membiarkan Nara terpuruk agar mereka melihat betapa Nara hanya membutuhkanku. Aku mencintai pria ini. Aku tidak tega saat dia memohon kepadaku seperti sekarang. Dia merendahkan diri di hadapan istrinya. Dia menangis tanpa ragu di hadapan istrinya. Ada rasa ingin aku menyerah dan meninggalkan segalanya, tapi ada juga rasa tak rela melihat dia kehilangan semangat hidupnya.


Yang makin membuat sesak itu kian menekan, saat aku mengingat sebuah lirik lagu. Dalam dan penuh luka, hingga akhirnya aku merosot dari sofa, meleburkan diriku dalam pelukannya.


What am I suppose to do when the best part of me was always


you?


And what am I supposed to say when I'm all choked up and you're okay


I'm falling to pieces I'm falling to pieces


They say bad things happen for a reaso But no wise words gonna stop the bleedin


'Cause she's moved on while I'm still grieving


And when a heart breaks, no, it don't break even, even, no


Breakeven-The Script


Aku pernah berkata, "Saat perempuan itu terlalu jauh menyentuh kehidupanmu, saat semua tidak pernah berhenti menjatuhkanku, saat kamu sudah nyaman dengan keadaan ini, maka aku akan pergi. Membawa hampir seluruh bagian hidupmu. Aku akan melihat kamu terpuruk seperti apa yang mereka inginkan. Bukankah satu kesesakan itu mahal harganya? Maka, mereka pun harus membayar setiap kesesakan yang mereka berikan untukku.


―Apa kalau aku nggak pernah punya rencana untuk pergi, kamu masih akan memintaku untuk tetap bersamamu? Apa kamu masih akan membelaku?‖ tanyaku dengan jarak wajah yang sangat dekat.


―Kamu yang bilang, aku adalah priamu, yang selalu belajar dari kesalahannya. Abang butuh kamu percaya sama Abang.‖


Tanganku bergerak merangkum wajahnya, sedang mataku menelusuri setiap sudut wajahnya. Ada jalur air mata yang masih basah di sana. Sepasang lengannya melingkar penuh, membuat sebuah simpul di punggungku.


―When I say, I love you?‖ tanyaku berbisik.


―Then I say, I love you more.‖


Aku menjatuhkan dahiku, bertumpu di dahinya. Membiarkan air mataku jatuh di wajahnya.


Ayah, maaf, untuk aku yang nggak bisa meninggalkannya. Aku yang masih bersikeras bertahan bersamanya. Seseorang mengatakan kepadaku untuk jangan pernah menyerah sekalipun nyawaku tinggal sesenti. Aku melakukan ini agar mereka tahu, untuk menjatuhkan seorang Ichlal nggak semudah yang mereka pikirkan. Butuh kejelian.


Aku pernah disakiti. Aku pernah direndahkan. Dan ketika mereka memberikan itu untuk menjatuhkanku, mereka salah. Aku nggak akan semudah itu menyerah. Kecuali jika yang menjadikanku alasan untuk bertahanlah mengisyaratkan aku untuk pergi, maka aku akan pergi tanpa ada yang perlu bersusah payah menjatuhkanku. Hanya itu.