
Breakeven - Bab 12
Nara
Apa yang kulihat saat ini sama sekali tidak pernah terba- yangkan olehku. Aku harus menahan napas ketika mendapati dia berjalan-jalan sendirian. Ichlal tidak pernah melakukan itu tanpa izin dulu kepadaku. Dia yang kukenal, wanita dengan segala gaya hidupnya, tapi dia rela meninggalkan segalanya untukku. Ichlal adalah wanita penurut, aku tahu.
Namun, apa yang kulihat sekarang? Seorang wanita dengan tampilan modis melangkah begitu saja seolah tidak menganggap aku ada. Aku bisa melihat betis mulus sampai setengah pahanya. Demi Tuhan, dia keluar tanpa aku, hanya dengan selembar kaos dan sweter rajut. Siapa pun yang melihat tidak akan menyangka dia adalah milik seseorang. Aku menatap kaki mungilnya yang dibalut boot rendah. Aku tidak tahu kalau dia masih menyimpan semua miliknya dulu dengan begitu rapi. Tidak, lebih tepatnya, aku tidak memperhatikan hal itu.
Aku merasa makin mendidih ketika seorang lelaki menghampi- rinya. Seseorang yang telah menjadi milikku seolah kembali pada masa-masa lajang. Bergaya dan bebas. Aku bahkan tidak bisa menelan ludah. Semuanya terasa sesak sekaligus panas. Melihat dia tersenyum pada pria itu, ada hal yang tidak bisa terima di dalam hatiku. Kenapa dia harus membagikan senyuman manis yang biasa diberikan untukku kepada pria lain? Terlebih, saat kemudian dia melambaikan tangan kepadaku.
―Dia? Ichlal-mu?‖
Suara Mentari bernada tak percaya sekaligus mencibir, membuatku tersadar. Aku tidak bisa berkata-kata, hanya menatap sahabatku luruh. Aku seperti tidak berharga malam ini. kupejamkan mata sejenak sembari mengepalkan tangan. Tentang apa yang terjadi saat ini, membuatku ingin lepas kendali. Bagaimana bisa Ichlal melakukan ini padaku?
―Dia kenapa? Apa dia memang begitu?‖
Tanganku mengepal makin keras. Demi mendengar kalimat merendahkan itu dari Mentari, juga anggukan kepala dari Bima. Apa yang Ichlal lakukan malam ini, membuat namanya jatuh di hadapan kedua sahabatku. Tapi, aku tidak memikirkan itu karena laki-laki yang bersamanya tadi telah berhasil membuatku mendidih.
―Nara!‖ panggil Mentari kala aku masih terdiam.
―Apa?! Apa kamu nggak lihat? Dia istriku. Aku akan menyeretnya pulang!‖ Aku membentak Mentari saat dia menahan kuat lenganku saat ingin beranjak mengejar mereka. Aku benar-benar ingin menyeretnya pulang. Aku tidak bisa melihat dia seperti gadis ABG, apalagi bersama pria lain. Seharusnya aku yang ada di sana, bukan bersama teman lelakinya yang sama sekali tidak aku tahu. Dan memang aku tidak pernah mau tahu siapa saja temannya, karena Ichlal paham dan punya batasan sendiri.
―Buat apa?! Biarkan dia malam ini. Kamu bisa membicarakan- nya nanti di rumah. Atau kamu telepon dia sekarang!‖ ujar Mentari, menahanku.
―Kamu nggak akan tahu rasanya, Tari!‖
Bagaimana bisa aku membiarkan dia bersenang-senang dengan lelaki lain? Dan kenapa dia tidak mengajakku saja? Kalau Ichlal bilang ingin keluar melepas penat—aku tahu dia bosan setiap hari di rumah—aku pasti akan meluangkan waktu untuknya. Kenapa harus memilih cara ini? Hal yang hanya akan menjatuhkan harga dirinya.
―Aku memang nggak tahu, aku cuma mau mengingatkan jangan sampai orang tuamu tahu. Mungkin malam ini dia hanya pergi sebentar, entah dengan besok. Letak kehormatan suami ada di tangan istri. Kalau istrimu saja kayak begitu, bukan hanya kamu yang menanggung malu, keluargamu juga,‖ ujar Mentari.
―Aku antar kamu pulang.‖ Aku berganti menarik lengan sahabat perempuanku ini.
Aku rasa, aku perlu bicara dengannya. Kuharap Ichlal akan segera pulang begitu membaca pesan dariku. Demi apa, riasan di wajahnya malam ini malah menonjolkan sisi cantik alami yang tidak pernah kutemukan dari wanita mana pun. Itu yang membuatku makin geram. Apalagi pria itu menatapnya penuh binar. Aku sungguh ingin menghampiri dan berteriak di depan muka pria itu bahwa Ichlal— wanita yang ada di hadapannya—adalah milikku. Siapa pun, aku tidak bisa menahan gemuruh dan rasa panas di dadaku sekarang. Aku tidak akan bisa tenang sebelum Ichlal berada di rumah.
―Nara, kendalikan dirimu!‖ ucap Bima ketika aku mulai tidak bisa mengendalikan laju motor. Baru aku menyadari ada cengkeraman kuat di pinggangku. Aku melupakan Mentari yang duduk di boncengan, tapi sedikit pun aku tidak bisa mengurangi kecepatan laju motor. Aku hanya ingin segera sampai di rumah. Akan kubuat dia mengerti, bahwa ada aku di sini sebagai suaminya.
―Lebih baik kamu pikirkan ini. Jangan sampai nanti kamu diinjak-injak. Perempuan seperti Ichlal nggak akan pernah bisa kamu tebak. Dia bisa saja mengkhianatimu kapan saja atau bahkan mempermainkanmu. Aku hanya nggak pengin kamu jatuh, Nara. Kamu paham, kan? Jangan sampai membuat orang tuamu menyesal telah membiarkan kamu menikahi perempuan seperti Ichlal.‖
Ucapan Mentari membuatku memejamkan mata sejenak. Aku hanya masih tidak menyangka ini akan terjadi.
Sekelebat pikiran bermain di benakku. Ada apa denganmu, Ichlal? Cuma itu pertanyaan yang kini menggelayuti pikiranku. Selama ini, dia terlihat baik-baik saja. Selama ini, dia selalu bersikap manis bahkan selalu lembut kepadaku. Selama ini pula, dia tidak pernah keluar untuk bersenang-senang tanpa sepengetahuanku. Apa yang dia rencanakan? Apa dia ingin menghancurkan aku karena akhir-akhir ini aku sedikit mengabaikannya dan lebih mementingkan Mentari? Itu karena dia sedang dalam masalah, putus kontrak kerja juga putus dengan kekasihnya. Aku yang selama ini sebagai tempatnya berbagi dan bersandar. Mentari hanya ingin meringankan bebannya. Tidak lebih.
Aku melangkah gontai memasuki rumah, menatap sekeliling lalu tersenyum kecut. Aku berpikir, seandainya kelak dia akan meninggalkanku, juga tentang perdebatan dengan orang-orang yang menentang pernikahan kami, yang pada akhirnya membuatku mengambil keputusan memperjuangkan dirinya.
Seandainya kamu tahu, Sayang. Apa pun Abang lakukan demi impian Abang. Memiliki keluarga kecil bahagia bersama, sekalipun bukan hal mudah dengan kamu sebagai pilihan. Bilang sama Abang kalau kamu nggak akan pernah mengkhianati Abang. Kalau kamu akan tetap bersama Abang, menepis anggapan miring tentang kamu. Seandainya kamu tahu, Sayang. Apa yang Abang pendam tentang kamu dari mereka. Mereka, meragukanmu bisa mendampingi Abang.
Mereka kira kamu adalah wanita egois. Wanita bossy dengan segala apa yang pernah kamu miliki dulu. Tapi yang tidak pernah mereka tahu, kamu malah meragukan dirimu sendiri mengenai bagaimana ketidakberdayaanmu. Sayang, jawab ini dengan kepu- langanmu. Segera.
Lama aku hanya terdiam di antara rasa gelisah. Ichlal tidak kunjung pulang. Untuk sekian kali, aku mengembuskan napas kasar. Rasa tak sabar kembali menyulutku.
Entah berapa lama aku menunggu, hingga akhirnya dia pulang. Melihatnya sungguh membuatku ingin meluapkan rasa marah. Tapi, tubuh mungilnya membuatku terdiam. Sekeras mungkin aku berusaha meredam segalanya.
Perdebatan kecil untuk kali pertama. Lagi, aku tidak pernah peka. Ini tentang Mentari. Dia memukul sama rata antara teman lelakinya dengan Mentari. Sama-sama teman. Dia memberikan tatapan menantang. Tatapan khas perempuan yang selama ini tidak pernah kudapati dari wanita sepertinya. Aku bahkan tercengang.
Butuh waktu lama untuk tersadar dari reaksinya. Dia begitu berani, bahkan menyeringai nakal. Dia tipe perempuan bossy. Itu yang kulihat malam ini. Apa ini karena aku? Apa yang sudah kulakukan selama ini sampai wanitaku berubah dalam sekejap?
Aku menatap nanar dirinya yang melewatiku begitu saja setelah memukul telak kalimatku mengenai Mentari. Ada rasa tak terima ketika Ichlal mulai kembali pada dunianya yang dulu. Tidak. Dia bukan wanita nakal yang gampang kencan dengan para pria. Tapi dia memiliki sikap terbuka dan humble, yang membuatku sedikit khawatir. Dia mudah menerima orang baru bahkan orang asing sekalipun. Dia menyukai chatting terutama dengan pria luar. Aku tidak bisa membayangkan jika pada akhirnya dia meninggalkanku untuk pria asing atau pria lain yang lebih menjanjikan.
Tidak. Kepergiannya akan membuat duniaku berhenti. Dia akan pergi membawa seluruh hatiku. Aku menggelengkan kepala, menepis pikiran buruk itu. Mencoba kembali meyakinkan jika Ichlal tidak akan pernah pergi dariku. Dia satu-satunya wanita yang akan terus mendampingiku. Dia pernah berjanji untuk itu. Dia tidak akan mengecewakan aku.
Aku tergagap ketika sepasang lengan memelukku. Sesak itu kian terasa nyata. ―Jadi, begini rasanya cemburu?‖ lirihku seiring denyut sakit di hati.
Aku menarik kembali tubuhnya yang ingin melepaskan pelukan. Ganti aku yang memeluknya sangat erat, bercampur dengan semua perasaan yang bergumul saat ini. ―Jangan hancurkan Abang ‖
Entah, mulutku kini mengiba kepadanya. Yang kutahu, aku tidak ingin dia kembali pada dunianya. Biar dia di sini bersamaku sekalipun aku tidak mampu memberikan apa yang pernah dia miliki dulu. Entah apa yang dia bicarakan, yang kudengar hanya penghujung kalimatnya.
―. Abang, I love you, will always love you.‖
―Bilang, kalau kamu nggak akan pergi dari Abang,‖ pintaku, masih mendekapnya erat.
―Aku akan selalu di sini. Just trust me, Abang.‖ Suaranya lembut, menenangkan. Aku menemukan kembali Ichlal yang kukenal selama ini.
Aku mengurai pelukan kami. Tanganku meraup kedua pipinya, menelusuri wajah cantiknya tanpa melewatkan sedikit pun. Yang kulakukan kemudian hanya menumpukan dahiku di dahinya, membiarkan tubuhku bergetar, menangis tanpa isak juga air mata.
Biarkan aku sedikit cengeng malam ini. Nyatanya, aku rapuh. Aku bukan pria tangguh yang bisa berpura-pura kuat di hadapan wanitanya. Tanganku kembali membawa kepalanya di dadaku. Mendekapnya erat, menghirup rakus aroma tubuhnya seakan tak ada hari esok.
Aku merasakan tangannya mengusap lembut punggungku. Lalu bibirnya yang terus menggumam, meyakinkanku bahwa dia masih di sini bersamaku. Kau boleh menertawaiku karena seharusnya aku, sebagai pria, yang menenangkan wanita. Tapi, keadaan ini terbalik. Dia membiarkan aku mengecupi puncak kepalanya. Aku hanya ingin dia paham bahwa dia milikku dan aku tidak ingin dia pergi dariku, lewat kecupanku. Karena aku bukan pria yang dengan mudah mengungkapkan sesuatu, apalagi berkata romantis.