Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 4



Breakeven - Bab 4


“Kamu duduk di sini dulu. Abang mau ngobrol dulu sama Bima soal kedai. Kamu mau minum apa?‖ tanyanya seraya menarik sebuah kursi dan menyuruhku duduk di sana dengan gerakan tangan menggiring bahuku.


Dia sama sekali tidak menyinggung masalah telepon tadi. Aku tersenyum masam. Apa aku boleh menilai dia, seseorang yang cukup pintar menutupi sesuatu hal?


―Nggak. Abang nggak lama, kan?‖ tanyaku, menengadah menatap Nara.


Dia terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia mengecup pelipisku. ―Nggak sampai besok pagi, kok. Kalau mau makan atau minum, pesan saja, oke? Abang tinggal dulu. Jangan ke mana-mana. Handphone Abang biar sama kamu aja.‖


Aku tersenyum dalam kediamanku. Entah, mendengar ponsel- nya dia tinggal bersamaku, seperti ada angin segar. Kecemburuanku hilang. Mentari tidak akan bisa membuat Nara bertekuk lutut padanya lalu mengabaikanku. Itu yang ada di dalam pikiranku sekarang.


Aku lebih memilih menikmati saat-saat menunggu dengan memainkan game koleksinya di ponsel. Sampai kemudian, aku merasa ini sudah hampir satu jam. Aku mengangkat kepala, memperhatikan tempat sekitar. Sepi. Entah apa yang mereka bicarakan hingga bisa selarut ini. Keningku mengerut. Sekali lagi, aku mengedarkan tatapan ke seluruh sudut kedai ini. Sampai mataku tertuju pada satu sosok pria di depan sebuah laptop dengan apron melekat di tubuhnya. Dia sendiri tanpa Nara.


Ke mana Nara? Aku terdiam selama beberapa saat, menyadari kesesakan dan ketakutan itu kembali datang. Aku beranjak dari dudukku, berniat menghampiri Bima untuk mencari kebenaran dari ketakutan ini.


―Bima?‖ sapaku dengan sedikit mengeja. Aku tidak akrab benar dengannya. Dia mendongak, sedikit terkejut.


―Ya?‖ sahutnya ragu. Tangannya dengan cepat menutup laptop.


―Nara, ke mana?‖ Aku bertanya dengan sangat hati-hati, tak berharap banyak mendapatkan kejujuran, karena aku merasa dia tidak akan bicara yang sebenarnya.


―Nara?‖ Dia terdiam sejenak, menatapku menyelidik. ―Oh ... dia sedang keluar. Tunggu saja, sebentar lagi dia kembali.‖


Bahkan Bima bicara dengan sedikit gugup. Terkesan seperti sedang mencari kata yang bisa membuatku percaya.


Keluar sebentar?


Aku tahu makna dari 'keluar sebentar'. Seketika, aku merasa apa yang kupikirkan tentang hal buruk padanya itu adalah sebuah kebenaran. Dia menjemput gadis itu tanpa sepengetahuanku. Dan kini, aku memahami makna tersirat dari kata-katanya, jangan ke mana- mana.


―Nggak lama, kok. Tenang saja,‖ ujar Bima lagi dengan senyum tipis, berusaha meyakinkanku setelah aku hanya berdiri termangu di hadapannya.


Aku memaksakan sebuah senyum tipis, menyembunyikan kesesakan dan kekecewaan. Tidak ada yang bisa memahami bagaimana perasaanku saat ini. Aku menunggu Nara yang sedang menjemput wanita lain. Sungguh sangat menyenangkan. Bagaimana bisa ada seorang suami yang memperlakukan istrinya seperti ini? Aku mengatupkan mulut, menarik napas agar aku tidak lepas kendali. Aku masih berusaha berpikir baik, bahwa Mentari bukanlah sebuah masalah besar.


―Oh, oke. Terima kasih, Bim,‖ sahutku pelan bercampur serak.


―Sip. Kamu mau nambah minum?‖


Aku menggeleng, kemudian kembali ke tempat dudukku dengan menyeret setiap langkah. Jujur saja, menahan emosi membuatku merasa ingin pingsan saja. Mungkin aku berlebihan. Jika saja bisa, aku lebih memilih kembali ke rumah saat ini. Tapi, aku tidak ingin Nara malu saat aku tahu apa yang sudah dia lakukan. Aku masih peduli dengan reputasinya, nama baiknya. Jangan sampai mereka mengenalku sebagai istri yang egois, cemburuan, dan entah apa lagi namanya.


Ini aku dengan keputusanku, memilih diam dan pura-pura tidak tahu demi menghindari pertengkaran. Sampai pada saat nanti aku tidak bisa menahannya lagi. Namun aku berharap, ini tidak berlangsung lama. Sekali lagi, aku menganggap Mentari hanya sekadar angin lalu bagi kami.


***


Aku merasakan sentuhan lembut di kepala, disertai suara pelan untuk membangunkanku. Sementara otakku berputar mencari kesa- daran.


―Sayang. Hei, ayo, bangun. Kamu mau pulang nggak?‖


Aku mengerjapkan mata. Tangan Nara masih di kepalaku, memberikan sentuhan lembut di sana. Tapi kali ini terasa menyesakkan. Aku hanya bisa diam menatapnya.


Kamu sendiri yang membuat menjadi larut malam. Tapi, nadamu seolah karena salahku ketiduran, gumamku dalam hati seraya memakai sweter. Aku tidak berminat menyahutinya. Terlebih saat ini, rasa kecewa sedang menyelimutiku. Aku melangkah sedikit terhuyung, meninggalkan Nara begitu saja. Yang kuinginkan adalah segera sampai di rumah. Aku membutuhkan kasur dan bantal untuk menutupi kesedihan. Lebih baik aku menangis diam-diam untuk meluapkan segala emosi yang berkecamuk, daripada membiarkan mulutku bicara tanpa kendali.


Bahkan ini baru dimulai, Ichlal. Tapi, kisahmu sudah menyedihkan! ejek seseorang di dalam diriku. Sejenak aku berdiri termangu, menatap sebuah helm di tangan. Ada yang tahu? Apa aku berlebihan saat ini? Aku merasakan pedih itu makin kentara. Bahkan napasku mulai tersengal-sengal sekalipun aku berusaha menahannya dengan mengatur pernapasan. Tapi, sepertinya gagal.


Ini ... helm milikku, yang dia pinjamkan untuk teman wanitanya. Harum parfumnya masih melekat di sini. Apa yang bisa kupikirkan dengan baik, sedang aku bukanlah perempuan tangguh? Aku bukan wanita dengan segudang kesabaran atau pemurah hati, yang bisa memaklumi segala apa yang terjadi. Aku bukan perempuan sebaik itu.


―Kamu masih ngantuk, ya? Maafin, Abang, ya? Ayo, pakai helmnya biar kita cepat sampai rumah. Biar kamu bisa lanjutin tidur," ucapnya dengan rasa bersalah ketika aku hanya berdiri termangu. Ini tentang Mentari, jika saja dia peka atau mau berpikir. Bukan tentang rasa kantukku.


―Ya,‖ sahutku pendek. Aku segera naik ke atas boncengan dengan gejolak yang sulit untuk dibendung.


Mungkin kau boleh berpendapat, cemburuku tidak beralasan. Mereka hanya teman. Namun, boleh aku menyanggah? Teman mana yang merengek-rengek minta jemput seorang laki-laki beristri malam- malam? Mereka sahabat dari masa sekolah, kau mungkin mematahkan kalimatku dengan pernyataan itu. Tapi, apa sahabat tidak bisa memahami perbedaan status?


Aku kembali mengatur napas dari tangis yang ingin meledak saat ini, lebih memilih diam selama perjalanan. Dan sepertinya, Nara pun menginginkan hal yang sama. Atau, dia merasa telah berbuat salah sehingga diam begini? Kalau memang demikian, baguslah.


―Sayang, cuci kakimu dulu!‖ serunya saat aku melesat masuk ke kamar tanpa dirinya. Mengempaskan tubuh ke ranjang dengan sweater yang belum kulepas.


Aku bergerak mencari titik ternyaman, agar aku bisa meluruhkan kesesakan ini di balik bantal. Bisa kudengar langkah Nara yang makin mendekat. Kemudian sentuhan tangan di kepalaku.


―Kamu sakit?‖ tanyanya khawatir.


Sakit hati, Bang! teriakku dalam hati. Tapi, aku hanya menggelengkan kepala tanpa berminat melihatnya. Dia mengembus- kan napas, menarik selimut untukku, kemudian beranjak pergi.


Tak lama setelah itu, dia menaiki ranjang. Aku merasakan tangannya menyelusup dari balik punggungku, menarik sedikit tubuhku hingga merapat kepadanya. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya dan kecupan-kecupan di bahuku.


―Maaf,‖ bisiknya.


Aku menegang dalam diam. Dia mengucap maaf untuk kesala- han yang tidak dia ungkapkan. Aku menggigit bibir dalamku ketika gejolak di dalam sana kembali datang.


―Kamu cukup tahu Abang,‖ bisiknya lagi.


Apa yang kutahu dari seorang pria sepertimu? Dengan segala hal yang kamu tutupi. Dan kamu memintaku untuk mengerti? Kamu tahu, saat ini aku merasa kamu sedang mengajakku bermain tebak- tebakan tanpa kode. Kamu membiarkan aku meraba. Ah, entah apa yang kamu maksudkan.


Aku menahan napas selama beberapa detik ketika dia bergerak mendekap penuh tubuhku. Lalu meninggalkan kecupan dalam di bahuku sebelum dia membenahi selimut.


Sampai saat ini, aku masih berharap Mentari hanya sekadar gangguan kecil untuk kami. Gangguan kecil di awal perjalanan yang kuharap tidak akan menimbulkan masalah berarti. Aku hanya berpikir, Mentari cuma butuh waktu untuk memahami bahwa sahabatnya bukan lagi laki-laki lajang yang dengan bebas bisa diapakan saja tanpa ada yang menatap cemburu. Karena sulit dipercaya bahwa ada persahabatan antar lawan jenis. Bisa dipastikan, salah satunya memiliki perasaan lebih.


Aku merasakan dengkuran halus di tengkukku setelah setengah jam lebih aku berada di posisi ini. Mataku enggan terpejam. Aku bergerak perlahan, menghadap padanya.


Melihat wajah lelah Nara yang begitu tenang dalam tidur, aku tersenyum getir. Jemariku bergerak menelusuri jalur alis tebalnya dengan sedikit gemetar.


Jangan buat semuanya begitu menyedihkan. Ketakutan-ketaku- tanku seakan benar-benar akan menjadi nyata. Kamu tahu, Bang, aku dengan ketakutanku, kegagalan pernikahan ibuku, membuatku mematri diri dalam karier. Jadi, Bang, tolong bantu aku keluar dari dunia yang pernah mendidikku menjadi keras seperti ini. Rasa percaya pada seorang laki-laki yang nyaris tidak aku miliki. Juga harapan mengenai keluarga bahagia seperti selayaknya para wanita, yang sama sekali tidak aku punya. Jangan biarkan pikiran buruk itu terus tertanam di dalamku. Jangan membuatku menyesal karena meninggalkan apa yang menjadi pertahananku dulu.


―Aku cinta Abang. Apa Abang bisa mengerti?‖ bisikku dengan napas tersengal-sengal. Dengan air mata yang gagal kutahan, entah sejak kapan. Aku membiarkan diriku tergugu di dalam dekapannya yang tidak seerat saat dia terjaga. Aku melarikan tanganku untuk membungkam mulut agar suara isakan itu tidak terdengar dan mengganggu tidurnya. Bahkan kini, aku menggigit bibir demi meredam suara tangis.


Kamu yang bilang, kamu yang menjanjikan bahwa kita akan menciptakan bahagia itu bersama-sama. Jika kamu membiarkan dia tetap berada di sekitarmu, bagaimana bisa aku mempercayaimu? Apa cara pikirku kali ini salah lagi di matamu? Aku tidak meminta banyak. Tidak. Cukup hargai perasaanku. Aku sama seperti mereka yang mudah remuk. Hanya saja, aku tidak bisa mengungkapkannya dengan jelas. Apa itu sulit untuk kamu pahami?


Aku bergerak melepaskan diri darinya. Aku merasa membutuh- kan tempat untuk menyudahi tangis ini dan menenangkan diri, agar dia tak pernah tahu bahwa aku pernah menangis untuknya.