Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 22



Breakeven - Bab 22


Entah siapa yang mencoba mencari ribut denganku sepagi ini di akhir pekan. Gedoran pintu terdengar makin intens. Aku menggeram dalam hati di antara peningnya kepala karena terbangun secara tiba-tiba. Tanganku menggeser lengan Nara yang sejak semalam tak pernah berpindah melingkari perutku. Aku beranjak dengan sedikit sempoyongan, bahkan tidak memikirkan penampilan. Saat ini, aku hanya mengenakan hot pants dan kaos v-neck tanpa bra. Aku memang selalu tidur tanpa menggunakan bra.


Tanganku mencapai kenop pintu dan memutarnya. Aku sungguh bersiap menyemprot siapa pun yang bertamu di pagi buta, akhir pekan pula.


"Astaga?!" Aku menggeram begitu mendapati sosok di hadapanku seperti orang yang ingin menangis.


"Nara mana?" todongnya tanpa basa-basi, bahkan ketus.


"Tidur. Ada apa?!" tanyaku tak kalah ketus sambil melipat tangan di dada dan bersandar pada pintu.


"Aku mau masuk. Aku mau ketemu dia!"


Memang dia pikir ini rumahnya? Aku mendengus, tapi masih berusaha bersikap sewajarnya.


"Jadi gitu?" sahutku santai.


"Iya. Ada hal yang mau aku bicarakan sama dia." Dia mencoba merangsek masuk. Namun, aku tetap bergeming di tengah pintu. Sedikitpun tidak memberinya celah.


"Aku mau curhat sama dia. Biarkan aku masuk!" paksanya.


"In your dream! Memangnya kamu nggak punya teman lain buat curhat, sampai harus mengganggu rumah orang pagi-pagi buta begini? Memangnya masalahmu sepenting presiden, sampai harus menggedor-gedor pintu rumah orang tanpa tahu waktu? Dengar, masalahmu adalah urusanmu. Antara Nara dan kamu hanya sebatas teman. Jadi mulai sekarang, sebaiknya kamu harus belajar menghadapi masalahmu sendiri. Mau sampai kapan kamu bergantung sama orang lain?


"Nara bukan lagi pria lajang yang bisa kamu bagi masalahmu dengannya. Dia pria dewasa yang sudah beristri. Dan dia tentu saja punya masalahnya sendiri. Paham?!"


"Nggak bisa! Aku yang lebih dulu kenal Nara. Kamu siapa? Orang asing yang tiba-tiba datang dengan segala peraturannya! Kamu pikir, kamu punya hak untuk itu? Aku menyesal pernah membiarkan Nara menikah dengan orang nggak berperasaan sepertimu!" bantahnya sengit.


Aku tertawa mengejek. Aku seperti menemukan sarapan pagi. Betapa aku ingin melahap perempuan di hadapanku ini. Mencari masalah di pagi buta. Demi apa pun, aku sama sekali tidak percaya kalau dia pernah bersekolah.


"Oh?! Tentu saja. Aku mungkin baru. Tapi, aku mempunyai hak jauh lebih besar dari kamu yang cuma berstatus teman! Ini masih bagus aku menyemprotmu dengan kata-kata. Jangan sampai aku menarik kepalamu yang nggak berotak itu! Dengar, nggak akan ada Nara lagi buat kamu!"


Aku menjulurkan kepala, mendekat padanya, dan berbisik tajam. Tubuhnya menegang seketika. "Karena aku yang akan mengendalikan dia. Atas apa yang seharusnya dia utamakan dan dia lupakan. Mungkin, kamu akan berada di dalam daftar urutan pertama yang akan dia lupakan. Jadi, jangan banyak berharap. Jika kamu pikir aku seperti Thalita, maka kamu salah, Nona kecil. Dia mencintaiku. Akan kubuat dia meninggalkan segalanya, seperti aku yang sudah meninggalkan duniaku hanya untuknya. Sebaiknya kamu segera cari cowok, biar nggak terlalu sedih saat Nara nggak ingat pernah punya teman bernama Mentari. Gimana?"


"Nara! Kamu nggak bisa lakukan itu!" jeritnya yang berakhir dengan tangisan keras.


Aku hanya tersenyum miring menatapinya, kembali bersandar di pintu. Tidak lama, kudengar langkah tersaruk-saruk.


"Ada apa? Berisik banget. Kamu kalau punya tamu, kasih tahu kalau jam segini bukan waktunya. Abang mau tidur lagi. Ingat, kasih tahu!" Dia berkata kesal dengan sisa kantuknya.


"Nara! Ini aku Tari!" serunya saat Nara berbalik kembali masuk dengan langkah sempoyongan.


"See? He's mine, Babe," ucapku disertai dengan seringaian. Aku melihat tatapan luruh juga kecewa darinya. Tapi, aku akan tetap pada rencanaku. Membuatnya paham tentang batasan yang sesungguhnya.


"Aku akan membawa Nara pulang. Kamu nggak akan bisa mengendalikan dia. Nara milik kami, sahabat kami, selamanya akan begitu. Aku nggak akan membiarkan kamu membuat Nara jadi orang lain." Tatapannya bukan lagi sengit, tapi juga penuh ancaman menjanjikan.


Aku terkekeh. Aku menjadikan diriku angkuh di matanya.


Seseorang yang berhasil membuatnya menarik urat karena emosi. "Nara dan kehidupan barunya, masa depannya adalah aku.


Teman atau sahabat bukanlah sesuatu hal penting dibanding istri dan anak-anaknya kelak. Kamu nggak memiliki hak itu, Tari. Sampai ke pengadilan pun hanya aku, istrinya, yang akan memenangkan Nara. Bukan kamu. Sepertinya, kamu bukan sahabat biasa. Kamu mencintainya, kan? Tapi, jangan bermimpi. Nanti sakit," ejekku.


Aku melemparkan sebuah senyuman lebar padanya sebelum menutup pintu. Aku membiarkan dia menjerit meneriakkan nama Nara berkali-kali. Kalau nanti lelah, dia pasti akan berhenti. Aku berjalan kembali ke kamar, tapi aku tidak mendapati Nara. Mungkin dia sedang bersiap akan menemui Mentari-nya. Biarkan saja.


"Kenapa rasanya begini?" keluhnya sambil melangkah masuk.


Aku mengernyit kemudian membalikkan badan. Aku melihatnya sedang mencecap entah apa di mulutnya. Ekspresi di wajah Nara menunjukkan bahwa apa yang dia rasakan tidak sesuai dengan ekspektasi. Dalam diam aku bernapas lega, bersyukur dia tidak bersiap menemui teman perempuannya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Kapan kamu bikin bubur ini? Nggak ada rasanya. Nggak enak." Dia bergidik mengekspresikan bagaimana makanan itu tidak bisa diterima lidahnya.


"Bubur? Siapa bikin bubur? Sejak kapan aku bisa bikin bubur sepagi ini?" tanyaku mengernyit.


"Abang ngapain pagi-pagi geratakan buka kulkas?" tanyaku menahan tawa.


"Nggak lucu, Sayang! Abang lapar," erangnya. "Kan, ada buah."


"Emang Abang burung, pagi-pagi makan buah?"


"Kalau lapar, ngomong makanya. Jangan asal ambil aja. Itu santan Abang kira bubur."


"Jadi itu santan?" Dia membulatkan mata. Aku hanya mengangguk kalem.


"Ya, sudah. Aku keluar dulu beli nasi uduk buat Abang." Aku mencari sweter kemudian mengambil dompet, bersiap untuk membelikan sarapan untuk Nara. Tidak biasanya dia lapar di pagi buta seperti ini. Ah, aku ingat. Mungkin ini efek dari semalam dia menggapai kenikmatannya berkali-kali.


"Mau ke mana?" tanyanya mengangkat kepala, menatapku ketika aku mencapai pintu kamar.


"Cari sarapan. Abang tidur lagi saja. Nanti kalau aku pulang, aku bangunin."


"Nggak usah. Nanti sarapan di kedai saja. Tapi, kalau mau bikinin teh hangat sama bakwan jagung kayak kemarin, Abang bersyukur banget, lho." Dia meringis lebar, melupakan rasa kantuknya.


Apa katanya? Aku mengatupkan mulut. Kemarin sore dia sudah menghabiskan sepiring bakwan jagung sendirian tanpa rela aku mencoleknya sedikit. Sekarang, dia menginginkannya lagi?


"Nanti sore aja. Kebanyakan makan gorengan nanti kolesterol," tolakku.


"Maunya sekarang. Maunya dibikinin kamu. Abang bantuin, deh.


Ya, ya, ya. Abang lagi ngidam, nih."


"Sembarangan!" semburku seketika membuatnya tergelak lalu bangun menghampiriku. Tangannya merengkuh pundakku, menggiringku ke dapur. Sayup-sayup masih kudengar suara isakan. Aku yakin itu milik Mentari.


"Tari masih di depan. Nggak berminat samperin dia?" Aku melirik kepadanya.


"Nggak," sahutnya cuek. "Kenapa?"


"Lebih baik Abang nggak punya teman daripada kehilangan kamu. Sebentar lagi Bima datang, kok, buat jemput dia."


Aku hanya menyunggingkan senyuman, lebih memilih diam. Tanganku membuka lemari pendingin, mengeluarkan beberapa bahan yang kubutuhkan untuk membuat adonan bakwan jagung.


"Kamu saja bisa meninggalkan duniamu. Masa Abang nggak bisa. Abang serius. Abang nggak mau kamu pergi lagi," ujarnya dengan mimik serius.


Aku tahu, Bang. Terima kasih, gumamku dalam hati.


Aku baru akan mencuci jagung manis ketika aku mendengar suara yang sudah tidak asing, milik Bima. Bicaranya yang cablak membuatku menahan tawa ketika pria itu memarahi Mentari.


"Ngapain? Malu-maluin saja gelesotan di rumah orang. Pulang! Bikin repot aja! Kalau nggak ingat pernah kenal sama kamu, nggak sudi jemput orang nangis di rumah orang pagi-pagi buta!" gerutu Bima. Aku tahu dia kesal karena tidurnya terganggu oleh Nara yang menelepon untuk menyeret pulang Mentari.


"Bangun sendiri! Jangan manja! Udah bagus aku mau jemput kamu. Harusnya yang punya rumah guyur kamu pakai air biar sadar diri. Punya otak dipakai. Jangan kebanyakan drama! Sinetron mulu, sih, tontonannya!"


"Aku, kan, mau curhat sama Nara. Bukannya belain aku, malah marah-marahin aku. Kita, kan, sahabat!" Dia menjerit tidak terima.


"Idih! Nyesel sahabatan sama kamu! Nggak pernah peka! Nggak pernah sadar. Kebanyakan micin makanya begonya menahun! Nara sekarang udah punya bini, Tari. Di mana-mana kalau udah punya bini, teman itu cuma sekadar kenal. Nggak kayak yang kamu pengen. Yang kamu pengen namanya ngarep jadi selingkuhan. Udah untung bininya Nara nggak nyeret kamu ke rumah mertuanya. Kalau kejadian, paham, kan, gimana kalau ayah Nara marah?"


Lama aku tidak mendengar sahutannya, hingga kemudian aku hanya mendengar suara motor meninggalkan rumah ini. Aku menoleh pada Nara. Dia terlihat tidak mau ambil pusing, tapi kemudian dia mengerang kesal.


"Kenapa?" tanyaku.


"Abang main game kalah mulu! Nggak jago, nih, yang buat game-nya," keluhnya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel. "Abang yang nggak jago mainnya. Semua game yang Abang download nggak ada yang selamat dari makian Abang," cibirku mengingatkan.


Aku pikir dia memikirkan insiden di depan rumah, ternyata dia malah sibuk dengan game yang baru dia download setelah beberapa game sebelumnya dia hapus karena kesal tidak pernah bisa memenangkannya. Namun, aku bersyukur. Ini titik awal membuat Tari kehilangan arti di hidup Nara. Aku akan membuat Nara menjadi berpikir bahwa teman hanyalah teman. Bukan segalanya.


Awal permainan yang bagus. Dia datang dengan sendirinya tanpa aku perlu repot-repot untuk memancing, mencari cara agar Nara mulai menjauhinya. Keberuntungan tak terduga di pagi hari. Aku tersenyum puas sambil mengaduk adonan bakwan jagung dengan spatula. Bersiaplah untuk mendengar ucapan selamat tinggal dari Nara, Tari, gumamku dengan satu sudut bibir terangkat.