Breakeven

Breakeven
Epilog



Nohan Paradhipa Narendra. Nama yang Nara sematkan untuk putera pertama kami, cucu pertama dari keluarga Yogatama Narendra yang lahir enam bulan lalu. Dia panjang seperti ayahnya, sedang wajahnya sempat menjadi perdebatan di antara kami. Terutama Nara yang tidak terima ketika melihat anaknya tidak ada sesenti pun lekuk wajah yang mirip dengannya. Semuanya ada padaku. Tapi satu hal yang aku sangat harapkan sejak kehadiran Nohan, jangan sampai dia bernasib sama denganku. Bagaimanapun dia harus mendapatkan hal yang baik. Biarkan sakit itu hanya aku yang pernah mencecapnya.


Aku pernah menyesal karena rela meninggalkan duniaku hanya untuk menjadi istri seorang Naraspada Narendra yang hanya dipandang sebagai orang asing. Tapi saat ini, aku merasa sebagai wanita paling beruntung karena mendampingi seorang pria yang mau memperbaiki diri. Mau belajar untuk lebih baik lagi, meski awali dengan cara yang salah.


Yang aku lihat dari Nara saat ini adalah seorang suami, pria matang di usianya. Aku merasa beruntung memilikinya. Dia masih pada prinsipnya, tidak mengizinkan aku melakukan pekerjaan rumah sendirian. Apalagi sekarang ada Nohan, pria itu menjadi lebih cerewet dari sebelumnya.


"Nggak usah ngapa-ngapain. Perhatiin Nohan saja, jangan dikasih susu formula. Mending kamu searching, deh, tentang MPASI. Biar menunya nggak itu-itu saja. Kasihan nanti Nohan bosan."


Itu salah satu jawaban ketika aku bertanya, mau dimasakin apa? Atau mau kubantu apa? Dia juga melarang keras memakaikan pampers setiap hari. Dia hanya memperbolehkan itu saat kami akan bepergian. Katanya, jangan dibiasain pakai pampers nanti anaknya kebiasaan buang air di celana, jorok. Terkadang alasannya mendingan masuk akal, takut iritasi.


Dia yang paling antusias membaca artikel-artikel parenting. Setelahnya dia akan menjelaskan apa yang baru saja dia baca. Nara menciptakan semacam diskusi kecil menjelang tidur. Kami belajar bersama-sama menjadi orang tua yang layak untuk mendampingi Nohan. Kami yang sama-sama tidak tahu menahu soal mengurus anak, tapi memutuskan untuk mandiri, mengurus Nohan hanya dengan kami tanpa campur tangan orang tua.


Kali ini Nara sedang di kamar mandi sejak setengah jam yang lalu. Apa yang dia lakukan selain bermain air bersama Nohan. Pria kecil itu akan menjerit saat diangkat dari bak mandinya kalau belum puas. Aku sering mengomel sama Nara karena membiarkan Nohan berlama-lama di bak mandi. Tapi dengan santai dia bilang, "Nggak apa-apa. Abang dulu kecil juga kayak Nohan, Sayang."


Dia yang begitu antusias mendidik Nohan untuk hidup teratur dengan caranya. Mengenalkan rasa. Membangun interaksi sehingga


Nohan kami tumbuh begitu aktif. Celotehan yang tak pernah absen memenuhi rumah kami. Yang membuat Nara ingin segera pulang ke rumah. Yang membuat Nara jarang berkunjung ke kedai atau berkumpul dengan teman-temannya.


"Kamu belum ganti baju?" tanya Nara begitu keluar dari kamar mandi bersama Nohan di gendongannya. Pria kecil kami berbalut handuk sedang sibuk menggigiti mainannya. Tubuh mungilnya masih cukup basah, tapi dia tetap tenang di dalam gendongan ayahnya.


"Emang mau ke mana?" tanyaku menghampirinya, bersiap mengambil Nohan darinya.


"Lah, kamu lupa? Kan, tadi pagi Abang bilang, sore ini kita jalan-jalan sekaligus belanja bulanan. Ganti baju sana, biar Nohan Abang yang urus," ujarnya mengingatkan.


Aku mengerutkan kening. Sama sekali tidak mengingat kapan dia mengatakan itu.


"Lah? Ayah tadi telepon mau ke sini sama Ibu. Kangen Nohan katanya."


"Nanti saja kita yang mampir. Besok Abang masih libur. Kita menginap saja satu malam. Biar kangen Ayah sama Ibu hilang. Oke?" Aku mengangguk singkat. Mataku tidak lepas mengamatinya.


Betapa dia begitu terampil memakaikan pampers lalu baju untuk Nohan. Dia juga mengajak Nohan bicara, membuat pria kecil kami tidak berhenti berceloteh di antara tawanya. Ekspresinya luar biasa menggemaskan.


"Ya Tuhan, Sayang, ganti baju sana. Apa mau Abang yang gantiin baju kayak Nohan? Tapi jangan menyesal kalau nanti Nohan punya adik saat dia baru merangkak."


Lima belas menit kemudian aku sudah rapi bersamaan dengan ayah dan anak itu selesai berdandan. Aku segera mengambil Nohan dari gendongan Nara. Sementara Nara mengunci pintu rumah.


Kehadiran Nohan membuat Nara lebih memfokuskan dirinya pada keluarga kecil kami. Dia bahkan sangat jarang bertemu teman- temannya terutama teman perempuannya. Aku tidak pernah mendengar kabar Mentari lagi sejak malam reuni itu.


Aku teringat saat dulu baru menikah, Nara begitu antusias bercerita, ingin tahu sensasi bagaimana seorang ayah. Dia ingin segera mengambil peran itu, bahkan setiap kali bertemu anak kecil, matanya selalu menatap anak itu penuh damba. Sekarang apa yang dia inginkan berada di genggamannya. Dia benar-benar menerjunkan dirinya untuk peran ayah di keluarga kecil kami.


"Saat besar nanti, Abang akan ajari dia biar dapat pendamping seperti kamu. Terima kasih sudah melahirkan Nohan. Pasukan baru untuk jaga kamu. Nanti kita tambah lagi, ya?"


Aku melotot padanya. Seenaknya saja bicara. Dia memang berbakat menghancurkan sendiri sisi romantis yang dia ciptakan. Sedang dia hanya terkekeh, kemudian mengecup kilat bibirku sebelum Nohan tahu. Karena dia pernah menciumku di hadapan Nohan dan itu membuat Nohan mengerut menatap Nara sebelum akhirnya dia menangis keras.


Pria kecil itu sangat tidak rela ketika Nara merebutku darinya. Dan itu akan menjadi senjata Nara untuk menggoda Nohan ketika sifat isengnya muncul. Dia suka mendengar jeritan marah Nohan. Wajahnya akan merah padam, alisnya bertaut dan bibir mengembik sebelum akhirnya menangis keras.


Ah, Nohan kami yang menggemaskan. Dalam hati aku sangat bersyukur. Tuhan begitu baik mengantarku pada kebahagiaan ini. Hal yang sama sekali tidak pernah terpikir olehku dulu saat aku masih menikmati masa lajang. Iya, aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menikah, membangun rumah tangga dengan seseorang lalu memiliki anak. Tidak pernah. Itu berada di tempat paling bawah dalam daftar prioritasku.


Aku pernah berpikir berumahtangga hanya akan mengurungku dalam keadaan yang mengenaskan. Aku melihat riwayat ibuku juga beberapa kisah pahit. Aku sendiri bahkan pernah berniat ingin mengakhiri. Beruntung ada seorang teman yang selalu melarangku untuk menyerah.


Pada akhirnya aku dan Nara mengerti bahwa pernikahan bukan sekedar mengucap janji sehidup semati. Tapi, bagaimana dua orang setia pada janji yang diucapkan. Memahami satu sama lain sekalipun tidak bisa dengan sempurna.


Ini bukan tentang usia. Tapi, tentang mental. Kesiapan untuk jatuh bangun dan menjadi dewasa dari kesalahan. Ini juga bukan tentang kemapanan, melainkan tentang kenyamanan. Bagaimana kita bisa saling berbagi tanpa ada hal yang memberatkan, tanpa menyinggung ketidaksempurnaan pasangan. Nara mengajarkan semuanya ini padaku.


"Katanya, Ibu kangen sama kamu, tapi Ibu malu buat bilang," ucap Nara tiba-tiba membuatku menoleh padanya seketika.


Aku menghela napas. Ibu mertuaku itu hanya bisa membuatku tersenyum, memaklumi. Sampai saat ini, wanita itu tidak banyak bicara terhadapku. Menatapku pun, bukan tidak sudi, tapi ada malu juga rasa bersalah karena pernah lebih memilih mendengarkan Mentari.


"Nanti aku bicara sama Ibu," ucapku akhirnya. "Sayang."


Aku menatap Nara. Pria itu menyunggingkan senyumnya. "Cuma mau bilang, makasih udah sabar menghadapi ibu. Makasih udah mau bertahan hingga detik ini. Mendampingi aku juga Nohan."


Aku hanya bisa tersenyum dengan mata berembun. Lalu merapatkan diri padanya. Sesak karena haru kini melingkupi hatiku. Sedang di dalam hati aku tidak berhenti menyebut nama Tuhan untuk bersyukur atas segala yang kualami beberapa waktu belakangan.