Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 21



Breakeven - Bab 21


“Sayang?!” Aku mendengar suara bernada khawatir serta langkah tergesa-gesa memasuki rumah.


Entah apa yang membuatnya khawatir. Aku keluar dari dapur dengan sepiring bakwan jagung panas di tangan dan mendapati Nara berhenti dari langkahnya, menatapku dengan segenap kelegaannya.


―Kenapa?‖ tanyaku, melewatinya menuju meja di ruang tengah. Dia mengekori langkahku. Aku membiarkannya. Tanganku kini meletakkan piring itu di meja.


―Abang takut,‖ ucapnya terengah-engah.


―Tunggu. Abang mau teh juga, nggak? Aku punya es teh manis.‖


―Mau,‖ jawabnya pelan, ―Tapi—‖


―Apa?‖


Dia menggeleng, lalu duduk di sofa. Tidak lama, aku kembali dengan segelas besar es teh manis. Tiga hari setelah aku memutuskan untuk memberikannya kesempatan kedua, Nara berbeda. Dia lebih sering menghubungiku saat di luar rumah. Tapi kali ini, ada yang lebih berbeda. Dia pulang lengkap dengan ketakutannya.


―Ada apa?‖ tanyaku seraya duduk di sampingnya.


―Abang pikir kamu pergi,‖ lirihnya, kemudian mengempaskan punggung ke sofa. Tapi tangannya singgah di pinggangku. Dia menghela napas.


Aku meletakkan gelasku di meja. Mataku beralih padanya, dan aku mendapati dia memicing. Ada hal yang membuatnya gelisah seperti ini. Aku menjulurkan tubuh, bersandar di satu sisi dadanya. Tanganku mengusap sisi dada yang lainnya. Aku merasakan satu tangannya bergerak merangkum tubuhku hingga aku berada di dalam dekapannya.


―Cerita saja,‖ ucapku.


―Jangan marah.‖ Dia membuka mata.


―Tergantung,‖ sahutku santai, lebih mengarah pada nada iseng.


―Sayang!‖


―Iya,‖ ucapku akhirnya.


Dia menegakkan tubuh tanpa merelakan punggungnya lepas dari sandaran sofa. Dan aku masih di dalam dekapannya.


―Mentari tadi telepon. Dia lihat mobil Davis keluar dari gang.


Abang pikir kamu pergi sama dia.‖


Aku tertawa. Sudah kuduga. Sekalipun aku telah memasang ultimatum, tapi tidak ada yang bisa menjamin gadis itu akan berhenti menyentuh kehidupan baru Nara.


―Jadi, Mentari beralih profesi sekarang?‖ tanyaku terkikik.


―Maksud kamu?‖ Dia mengerutkan kening.


―Iya. Jadi mata-mata,‖ jawabku kalem setelah berusaha keras meredam rasa geliku. Aku bangun dari dekapannya dan meraih es teh manis, meneguknya beberapa kali.


―Kamu bilang udah janji nggak akan marah,‖ ucapnya. Dia menyusupkan kedua tangan di pinggangku dan menempatkan dagunya di bahuku.


―Aku nggak marah. Cuma apa untungnya buat Mentari? Abang, aku, kan, tadi sudah message Abang kalau mau ketemu Davis. Abang bilang iya, hati-hati. Sekarang kenapa begitu?‖


Dia mengernyit, ―Masa? Kapan?‖


―Tadi siang, Abang.‖


Dia segera mengambil ponsel di saku celana. Jemarinya dengan cepat membuka aplikasi messenger. Dia berdecak kemudian menggelengkan kepala.


―Ada?‖ tanyaku.


―Ada. Tapi bukan Abang yang balas.‖


Aku membulatkan mulut. Mataku menatap dirinya seolah kaget.


―Oh ya? Kenapa bisa?‖ tanyaku dengan nada terkejut yang dibuat-buat. Karena sebenarnya aku tahu, bahasa ketikan itu bukan milik Nara.


Dia terdiam. Ada gugup yang berusaha dia sembunyikan. Sedang aku hanya mengulum senyum kemudian mencomot gorengan yang tadi kubuat sendiri.


―Bakwan jagung dari mana?‖ tanyanya, mencoba mencairkan keadaan.


―Aku yang bikin. Jangan dimakan, nanti keracunan!‖ sindirku.


Dia memberengut. Tapi tangannya mencomot satu gorengan lalu menggigitnya. Ini pertama kalinya aku membuat gorengan. Tapi kupikir tidak terlalu kacau. Warnanya belum berubah menjadi cokelat gelap atau gosong.


―Bohong. Kamu beli di luar, ya?‖ tuduhnya.


―Kalau beli, nggak mungkin masih panas, Bang.‖


―Abang nggak percaya kalau kamu bisa bikin ginian. Kamu belajar dari mana?‖


Aku menoleh, hal yang sama dilakukan olehnya. Dia tersenyum lebar dengan makanan masih di dalam mulutnya. Itu membuatku tertawa kecil. Kelakuan konyolnya yang tak pernah absen membuatku tertawa.


―Ini … enak,‖ ucapnya sedikit tersipu. Seharusnya, aku yang tersipu menjijikkan, bukan dia


―Makasih,‖ jawabku pelan.


―Tapi—‖


―Apa?!‖   Ekspresiku   menjadi   galak   seketika,   yang   malah membuatnya tertawa keras.


Dia lalu merengkuh bahuku. Mendekatkan wajahnya padaku lalu berbisik.


―Kamu cantik kalau marah. Cuma mau bilang, tangan kamu aman, kan?‖


Aku melebarkan mata ketika dia meraih tanganku, menelitinya di setiap sudut. Aku membiarkan Nara melakukan itu.


―Nggak ada yang luka, kan?‖ tanyaku dengan bangga.


―Nggak ada. Tapi, lain kali jangan masak sendirian.‖


―Kenapa?‖


Selalu itu yang menjadi alasannya. Aku tersenyum, memberikan kecupan singkat di pipinya.


―Abang bisa memberiku sesuatu yang cukup berharga.‖ Aku berucap di kulit pipinya.


―Apa?‖


―Jangan pernah menemui Mentari tanpa seizinku. Paham?‖ Aku menatapnya serius.


―Abang nggak sengaja ketemu dia tadi pas istirahat. Katanya, dia abis ketemu temannya di kantin kantor Abang.‖ Dia menyahuti dengan cukup cepat. Seolah memberikan klarifikasi bahwa dia tidak bersalah. Padahal, aku tidak bermaksud menyalahkan dirinya.


Aku mengernyit ketika dia memasang tampang waspada. Apa yang dia takutkan? Atau apa yang sebenarnya dia sembunyikan? Aku kini menatap dirinya penuh selidik.


―Mencoba menutupi sesuatu dariku?‖ tanyaku dengan tatapan penuh peringatan.


Dia menggeleng cepat. Tanganku meraih cepat ponselnya, membuatnya terkejut.


―Sayang!‖  Dia  ingin  mempertahankan  ponselnya,  tapi  kalah cepat denganku.


―Coba lihat. Ada apa di dalam sini? Aku berasumsi kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Atau kamu diam-diam menemuinya? Logikanya, untuk apa dia ketemuan sama temannya di kantin kantor kamu? Aku nggak sebodoh itu,‖ cerocosku tanpa melepaskan tatapan darinya.


Dia mengembuskan napas singkat. Tangannya mengusap wajah, kemudian terduduk bersandar dengan pasrah.


―Dia yang menemuiku saat jam makan siang, padahal aku sudah nggak respons pesannya. Kamu jangan marah,‖ Pada akhirnya dia mengaku.


―Sudah aku private. Dengar, Hp kamu bukan lagi zona bebasnya. Kamu tahu, Hp itu bersifat pribadi. Apa aku pernah membuka ponselmu diam-diam?‖


Aku mengembalikan ponselnya setelah selesai kuberi password.


Dia kembali menegakkan tubuhnya, menatapku serius.


―Kamu nggak marah, kan? Nggak akan gugat cerai, kan?


Serius!‖


Aku tertawa kecil. Tanganku melingkar di lehernya, menjadikan jarak wajah kami begitu dekat bahkan hampir bersentuhan. Aku tidak pernah seberani ini sebelumnya. Tapi aku sudah membulatkan tekad, untuk memperlihatkan bagaimana sisi Ichlal yang lain, yang kadang akan membuat orang merasa terintimidasi.


―Bukan nggak akan. Tapi, belum.‖ Aku berdesis di satu sisi pipinya kemudian beralih ke telinganya. ―Saat Abang benar-benar nggak bisa menutup pintu buat Mentari, saat Ibu masih menganggapku orang asing, saat Abang sudah terlalu nyaman dengan keadaan kita, saat aku mendapati semua fakta itu, maka surat gugatan cerat akan segera sampai di Pengadilan. Paham?‖


Aku bisa merasakan bagaimana tubuhnya menegang. Aku menjauhkan wajah darinya, menatapnya Nara dengan sebuah seringaian di bibir.


―Ini becanda, kan?‖ tanyanya pelan.


―Sweet revenge dari seorang Ichlal. Bagaimana? Biar kita impas.


Biar bukan aku saja yang merasakan sesak itu?‖


―Kayaknya kamu kesurupan,‖ ujarnya pelan lalu beranjak pergi. Tapi, sesaat dia kembali lagi. ―Punya Abang, nih.‖ Tangannya mengambil gelas es teh manis milikku, kemudian berlalu dari hadapanku.


Aku tahu, Nara akan menjadi dirinya sendiri. Seseorang yang selalu belajar dari kesalahan. Soal Mentari, dia berkata jujur. Mentari yang mendatanginya. Tapi, dia lupa meninggalkan ponsel tanpa password. Mulai sekarang, tidak akan kuizinkan lagi wanita itu menyentuh kehidupan Nara. Akan kubuat dia mengerti bahwa teman memiliki batas yang seharusnya dia pahami.


―Sayang?‖


―Hm?‖ sahutku begitu mendengar teriakannya dari dalam kamar.


―Baju-baju pada ke mana?‖ Dia menyembulkan kepala dari celah pintu. Bisa kupastikan dia hanya mengenakan celana dalam.


―Aku masukin laundry. Besok sore bisa diambil,‖ sahutku, sedikit melirik padanya.


―Baju Abang nggak disisain?‖


―Ada, kan, di lemari paling atas?‖ ujarku tanpa beranjak sedikit


pun.


―Maunya diambilin,‖ ucapnya diiringi suara pintu tertutup.


Seseorang di dalam diriku menggeliat bangun dengan senyum kemenangan. Akan kubuat kamu bergantung kepadaku. Dimulai dengan hal kecil seperti ini. Hingga saat nanti aku mengakhiri permainanku, aku mendapati mereka menyesal karena sudah menjaga jarak bahkan memandangku asing, padahal aku adalah orang terpenting bagimu. Dan mereka akan memohon saat kamu dalam keadaan tidak terkendali. Aku yang akan mengendalikan ini seperti apa yang ibumu inginkan. Tapi, kupastikan kamu bukanlah bonekaku. Kamu tetap pada posisimu. Seorang pria yang kukagumi dan kucintai.


Aku segera beranjak masuk ke kamar, menuju lemari. Kulihat Nara telentang di ranjang dengan kaki menjuntai ke lantai. Tangannya sedang mengotak-atik ponselku. Aku tahu apa yang dia cari. Apa pun tentang Davis!


―Kamu tadi ngapain pergi sama dia?‖ tanyanya tanpa mengalihkan fokus dari ponsel di tangan.


Aku menahan senyum seraya mengambil satu setel pakaian untuk Nara. ―Cemburu?‖ tebakku.


―Nggak, cuma nanya. Kamu ngapain saja sama dia?‖


―Yakin?‖  godaku  sambil  menahan  senyum.  Jujur,  aku  suka bahkan sangat ketika melihat wajah kesal karena rasa cemburunya. Itu menggemaskan.


―Iya. Kamu, kan, sudah punya Abang. Ngapain Abang harus cemburu.‖


―Berarti, besok boleh pergi lagi sama dia, dong?‖ tanyaku sambil duduk di sampingnya.


―Kata siapa?! Nggak! Jangan sering-sering pergi sama dia! Sama Abang saja, kalau diajakin, sering bikin alasan nggak mau!‖ Seketika dia bangun dari tidurannya, memberikan reaksi tak terima.


Aku bahkan sampai terbengong, sebelum kemudian aku menyentuh dahinya. ―Nggak sakit,‖ gumamku.


―Emang nggak sakit. Kamunya aja yang nggak peka. Cowok, kan, gengsi buat bilang cemburu,‖ akunya sambil memberengut.


Aku terkikik, menyurukkan wajahku di ceruk lehernya. Tangannya segera menyambut tubuhku. ―Aku tadi cuma ketemu sama dia. Kan, sudah lama nggak ketemu. Besok dia mau ke Lombok buat beberapa minggu. Dia ke sini cuma pamitan saja. Lagian aku nggak ke mana-mana. Dia cuma mampir sebentar. Tari-mu saja yang kurang profesional jadi mata-matanya.‖


―Jangan sebut dia lagi!‖


―Kenapa? Mentari, kan, temanmu,‖ ledekku.


―Nggak. Karena dia yang akan buat kamu pergi lagi. Jadi, jangan sebut dia biar kamu tetap di sini sama Abang.‖


―Love you.‖


Aku tersenyum di ceruk lehernya ketika dia mengeratkan pelukan. Aku jadi berpikir, kalau saja tidak pernah ada Mentari, kalau saja keadaan tak mengenakkan ini tidak pernah terjadi, mungkin aku tidak akan pernah mengizinkan sisi gelapku mengambil alih permainan. Aku akan dengan segenap hati mencintai dan mendampinginya tanpa perlu ada ego yang turut campur tangan seperti saat ini.