Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 6



Breakeven - Bab 6


Cup!


Aku terlonjak kaget ketika sebuah pelukan bersama kecupan terjadi secara tiba-tiba dari belakang tanpa diketahui kehadirannya. Aku hampir saja melepaskan secangkir cokelat panas dari tangan.


―Abang!‖ pekikku seketika.


Dia tertawa tanpa melepaskan pelukanku. Sedang aku mem- biarkan sensasi semburat merah jambu berlangsung di wajahku. Ada getaran lain yang menyelusup di antara rasa terkejut itu. Bahkan makin terasa saat sekali lagi dia mengecup pipiku, kali ini lebih lama dan disertai geraman geregetan khas dirinya.


―Miss you,‖ ucapnya.


―Apa?‖ tanyaku memperjelas.


―Nggak. Itu buat Abang, ya?‖ tanyanya, mencari bahasan lain dengan menunjuk cokelat panas lewat tatapannya.


―Ini punyaku. Kalau Abang mau, nanti aku buatin.‖ Tanganku bergerak gesit menjauhkan cokelat panas itu dari jangkauan.


―Tapi, Abang maunya itu. Gimana?‖ Dia memainkan alis, menggodaku untuk memberikannya, membuatku berdecak kemudian mengerucutkan bibir.


Aku tidak tahu kenapa dengannya hari ini. Dia kembali tertawa, dia kembali jahil. Satu tangannya mengacak puncak kepalaku dengan gemas. Dia memutar tubuhku hingga menghadap padanya. Aku bisa melihat wajah menyebalkan itu.


―Sama juga. Nggak ada bedanya,‖ sahutku.


―Beda,‖ bantahnya kalem. ―Apalagi kalau secangkir berdua.


Kata orang, itu romantis, lho.‖


Romantis apanya? Aku melemparkan tatapan sebal kepada Nara, menyentak dari pelukannya. Dan itu membuat tawa Nara makin menjadi. Tapi aku tidak memungkiri, sikapnya ini membuat letupan- letupan di hatiku muncul secara mendadak.


―Ichlal, hei!‖ serunya di sela tawa ketika aku meninggalkannya ke ruang TV.


―Itu bukan romantis! Catat, Bang! Bukan romantis, tapi ngirit!‖ balasku dari ruang TV.


―Itu merangkap, Sayang.‖ Dia menyusulku lalu duduk mepet di sampingku. Tangannya nangkring di pundakku. Tak lama, tangan yang lain mengambil cangkir dariku, kemudian menyesapnya.


―Enak, ya, pulang-pulang dibuatin cokelat panas sama istri. Tiap hari, ya?‖ ucapnya seraya menatapku dengan berbinar.


Aku kehilangan napas selama beberapa detik. Mataku menga- mati Nara yang tengah menyesap cokelat panas itu. Apa yang kurasakan saat ini, seperti harapan yang selama ini kututup rapat-rapat. Bahkan sempat kulupakan bahwa aku akan hidup bahagia bersamanya.


―Oke, terima kasih, Sayang. Abang mau mandi dulu. Oh iya, Abang beli makanan kesukaan kamu, tapi nanti makannya. Tunggu Abang,‖ ucapnya setelah beberapa saat dia duduk.


Aku mengernyit. Makanan kesukaan? Memangnya dia tahu apa makanan kesukaanku? Aku terkikik dalam hati. Bisa-bisanya dia bicara tentang makanan kesukaanku, sedang semua makanan pasti aku suka. Aku hanya bergumam menanggapinya sebelum dia melesat ke kamar.


Ada rasa penasaran tentang makanan apa yang telah dia beli untuk makan malam kami. Aku beranjak dari duduk menuju ke meja makan sambil membawa cangkir kosong yang isinya sudah Nara habiskan barusan. Aku melirik pada satu bungkus makanan yang kutaksir sepertinya berisi dua kotak, tergeletak di atas meja. Aku tidak langsung mendekatinya, lebih memilih meletakkan cangkir kotor di kitchen sink, baru mendekati makanan itu. Mataku menyelisik isi bungkusan tersebut di antara tanganku yang sedang bekerja membongkarnya. Tapi kemudian aku terdiam, mendesah. Kepalaku tergeleng pelan.


―Nasi bebek?‖ gumamku pelan, ―Abang!‖


Seketika aku mengatupkan mulut. Aku tidak tahu, setan jahil mana yang sedang merasuki Nara hari ini. Apa katanya? Makanan kesukaanku? Oh, lihatlah dua porsi nasi bebek ini. Aku berdecak, dalam hati menggeram. Siapa pun, ketahuilah, nasi bebek adalah makanan kesukaannya,  bukan kesukaanku. Astaga!


―Apa?‖


Aku menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Nara setengah basah dan setengah telanjang, hanya dengan lilitan handuk di pinggang. Mendadak tenggorokanku kering. Entah sebegini jeleknya saja, aku tidak bisa menghentikan perasaan ini untuknya. Ada rasa menggebu-gebu saat bersamanya.


―Kayaknya aku belum lupa kalau ini adalah makanan kesukaan Abang, bukan aku.‖


Dia nyengir lebar seraya mendekat padaku. Tangannya mengusap tengkuk. Sedang aku memberikan tatapan tajam.


―Kata kamu, apa aja. Ya sudah, Abang beli itu. Wanita, mah, begitu. Katanya apa saja, tapi pas sudahnya salah.‖


―Remember, Bang. Woman is always right!‖ balasku.


―Tapi, kamu kan istri Abang. Apa yang Abang suka, kamu juga harus suka. Lagian, makanan apa yang nggak kamu lahap?‖ dengusnya seraya melangkah pergi.


―Rumus dari mana?‖ tanyaku kesal.


―Abang baru bikin. Sudahlah, Abang mau pakai baju dulu!‖ serunya.


Aku tidak menyahuti lagi. Lebih memilih mengambil piring kosong dan menyiapkan dua gelas air putih dingin. Setelahnya, aku memindahkan makanan itu ke dalam piring kosong. Tapi saat aku mengambil piring kedua, Nara merebutnya dariku. Sesaat aku terkejut sekaligus sedikit kecewa, seolah dia tidak mengizinkan aku melakukan hal kecil untuknya. Aku menatapnya, tapi dia tidak memberikan respons apa-apa. Nara mengembalikan piring kosong itu ke rak, kemudian menyatukan dua porsi makanan dalam satu wadah.


―Makan sepiring berdua, biar kayak orang-orang.‖


Aku melebarkan mata. Tuhan, apa yang terjadi dengannya hari ini? Ini adalah hal konyol yang kata orang romantis, yang pertama kali dia lakukan sejak status pernikahan kami dapatkan beberapa pekan lalu. Kulihat dia mengerutkan kening.


―Kenapa? Ayolah, Abang lapar ini. Tadi nggak sempat makan siang. Sore mau pulang diajak teman mampir makan. Tapi, Abang ingat kamu. Abang pengin makan bareng kamu.‖


―Iya,‖ sahutku cepat lalu mengambil duduk di depannya.


Tidak ada yang istimewa, tapi aku merasa ini paling spesial. Aku seperti mendapat hadiah hari ini. Dalam hati, aku tersenyum. Tuhan, bisakah aku memiliki ini selamanya?


―Makan, Sayang. Bukan melamun,‖ tegurnya.


―Abang.‖


―Hem?‖ sahutnya dengan mulut penuh makanan.


―Abang, tumben?‖


―Abang tadi ketemu teman. Istrinya hamil lagi, padahal anaknya masih kecil. Anaknya lucu. Abang jadi pengin cepat-cepat punya anak.‖ Dia memotong kalimatku dengan ceritanya. Demi apa? Bahkan aku sendiri belum pernah memikirkan bagaimana jika kami memiliki anak. Yang menjadi fokusku sekarang adalah berusaha menjadi istri yang pantas untuknya dan tidak membuat Nara malu.


―Bang,‖


―Serius. Anaknya lucu.‖ Dia tidak memedulikan panggilan bernada peringatan dariku.


―Abang, kan, punya keponakan masih kecil juga,‖ sahutku akhirnya.


―Tapi, Abang maunya punya anak dari kamu. Ah, kamu nggak peka.‖


Aku melebarkan mata. Dia mengataiku nggak peka. Di mananya? Aku memutar bola mata, menahan geli dengan apa pun tentang Nara hari ini. Dia dengan keromantisan mendadak. Dia dan kode yang tidak mampu kupahami. Tapi, biarlah. Aku kembali mengunyah makanan, seolah tidak terjadi pembicaraan yang berarti. Dia pun tidak menyinggung lagi. Dia mengganti topik bercerita apa saja yang dia lakukan hari ini. Termasuk kekonyolan-kekonyolannya. Dan aku tidak pernah bermimpi memiliki suami seperti Nara, orang yang tidak punya malu.


―Sayang,‖ panggilnya.


―Hem?‖


―Tadi pagi, perasaan di keranjang kotor masih banyak baju.


Abang belum sempat bawa ke laundry.‖


―Iya. Ada di jemuran. Belum kering banget.


―Di jemuran?‖ tanyanya terkejut.


Aku mengangguk ringan kemudian beranjak dari duduk, menuju ke kitchen sink dengan membawa piring kotor. Tidak ada sahutan lagi darinya, sampai aku selesai mencuci beberapa perangkat makanan dan mengeringkan tanganku. Saat kembali ke meja makan, keningku berkerut mendapati Nara masih terdiam, seperti sedang berpikir.


―Tunggu, apa saja yang kamu lakukan seharian tadi?‖ tanyanya waspada.


―Nggak ada. Cuma beres-beres rumah sama nyuci baju.


Kenapa?‖


―Kamu?‖ Dia menatapku terkejut dan kesal secara tiba-tiba.


Aku terdiam. Ada kekecewaan yang mendadak menyekapku. Padahal aku tahu, sejak awal, aku sudah mengira apa yang kulakukan akan salah di matanya.


―Maaf,‖  lirihku.  ―Aku  tahu,  apa yang  kulakukan  jauh  dari  kata bersih. Aku nggak bisa apa-apa. Tapi, aku mau belajar. Please.‖ Aku menatap, meminta pengertian darinya.


Kulihat dia mengembuskan napas, singkat, lalu beranjak dari meja makan tanpa berucap lagi. Aku menatap punggungnya. Hatiku mencelus. Aku sudah tahu akan begini sesaknya, tapi sekali lagi aku gagal mendirikan benteng untuk hatiku. Yang bisa kulakukan saat ini hanya diam, berusaha menekan sesak agar tidak makin parah.


Apa sulitnya membiarkanku belajar menjadi istri yang, menurut orang-orang, baik?


Aku menarik napas dalam-dalam kala sesak itu ingin berubah menjadi tangis. Menggigit bibir dalamku sesaat seraya memejamkan mata, mengharap kekuatan yang tersisa.


Dan aku makin ingin menangis ketika kurasakan sepasang tangan memelukku dari belakang. Dagunya bersandar di satu sisi bahuku.


―Abang nggak minta apa-apa. Nggak minta kamu bisa ini itu. Cukup kamu mau hidup sama Abang yang serba pas-pasan saja. Abang nggak mau bikin kamu tambah susah dengan mengerjakan semuanya. Kamu istri Abang, bukan pembantu.‖


―Tapi aku nggak mau manja-manja, sementara Abang kerja.‖


―Cukup buatin Abang cokelat panas kayak tadi tiap hari. Oke?‖ Dia berbicara sangat lembut, tapi berefek menyakitkan bagiku.


―Oke. Tapi ....‖ Aku mengerjap, menahan air mata yang ingin menetes dari tadi.


―Please,  Sayang.  Nggak  ada  tapi  lagi.  Jangan  membuat  Abang merasa memperlakukan kamu kayak pembantu.‖


Aku melirik wajahnya dengan nanar. Hingga tanpa kusadari ada air mata sialan mengalir begitu saja, sebelum akhirnya berubah menjadi isakan. Dia membuatku melambung sekaligus tak berdaya.


―Karena, Abang sayang sama kamu,‖ bisiknya, kemudian memberikan kecupan di sana.


Aku tidak memiliki satu kata pun untuk sekadar menyahutinya. Hanya tanganku yang bergerak menggenggam kuat simpulan tangannya di dadaku. Dalam hati aku mendesah, aku dan dia dengan pemikiran yang berbeda.


―Tapi kapan-kapan boleh ya, Bang?‖ pintaku serak.


―Ngapain, sih? Iya, iya, kapan-kapan, ya?‖


―Abang ‖


―Apa? Nonton, yuk! Tadi Abang download movie baru di kantor.‖


Ah, dia. Aku tertawa lirih, masih dengan sisa tangis. Aku membiarkan jemarinya membersihkan wajahku dari air mata. Dia mengurai pelukannya, lalu menarikku untuk berdiri. Di sini, aku menyukai Nara dan caranya meluluhkanku.