
Breakeven - Bab 30
Ini sudah minggu ke-12 usia kehamilanku. Entah, aku tidak merasakan apa pun. Semuanya masih seperti biasanya, hanya sedikit mual, tapi tidak sampai membuatku teler. Kali ini Nara jauh lebih protektif dari yang sebelumnya. Dia sama sekali tidak mengizinkan aku menyentuh dapur tanpa ada dia yang mendampingiku. Bahkan beberapa pekerjaan rumah, dia yang melakukannya begitu pulang dari tempat kerja.
Ada banyak hal yang berubah sejak adanya dia. Nara selalu menyempatkan diri bangun pagi, menyeretku untuk menemaninya jalan-jalan pagi. Tapi aku tahu, bukan aku yang menemaninya, melainkan dia yang menemaniku. Mengajakku untuk sekadar olahraga pagi, menghirup udara segar sekaligus menikmati mentari pagi. Untuk kebugaranku.
Aku tidak menyukai susu hamil. Dan lihat, apa yang dia lakukan? Dia tidak memaksaku untuk meminumnya dengan alasan bayi di kandunganku. Tidak. Dia malah sibuk mencari alternatif lain. Mencari informasi dari internet mengenai asupan nutrisi pengganti susu untuk Ibu hamil. Tidak hanya itu, setelahnya dia akan belanja sepulang kerja. Aku akan menonton betapa sibuknya dia membuat makanan untukku. Terkadang dia juga akan ikut makan, bahkan dia yang lebih nafsu.
Nara mulai belajar menerapkan pola hidup sehat. Aku bersyukur untuk itu. Datangnya dia membawa dampak positif untuk kami. Terlebih suamiku. Nara jadi lebih peduli pada kesehatan.
“Sayang, jangan lupa minum air putih.”
“Sayang, buahnya jangan lupa dimakan atau bikin jus saja kalau bosan.”
Dan masih banyak lagi teriakan Nara ditelepon saat dia tidak bersamaku. Hanya satu hal yang sulit dia lakukan dari sekian banyak perubahan positifnya. Dia masih enggan menyambangi rumah orang tuanya. Dia juga belum mengabari tentang kehamilanku pada mereka. Padahal dengan mamaku, dia langsung menelepon saat itu juga, begitu aku mengabari tentang jabang bayi ini.
Ketika aku mengingatkan, jawabannya nanti saja. Atau kalau aku mengajak ke rumah orang tuanya, pasti jawabannya tidak meleset dari tebakanku. Nanti saja. Terkadang ditambah variasi, mungkin supaya aku tidak cerewet meminta berkunjung ke rumah Ayah. "Abang lagi sibuk atau Abang capek banget hari ini."
Namun, sebenarnya ada alasan paling mendasar yang dia sembunyikan dariku. Dia masih takut akan terjadi insiden seperti dulu lagi. Dia tidak ingin aku meredam perasaan atau meledakkan emosi yang hanya akan berdampak buruk pada kehamilan trimester pertama ini. Kandunganku masih rentan. Nara lebih mencemaskan itu.
―Abang.‖ Aku menghampirinya begitu dia memasuki rumah.
―Miss you,‖ bisiknya nyaris tak terdengar. Dia mengecup pipiku.
Aku melihat satu kantong plastik belanjaan di tangannya.
―Tadi ayah nelepon,‖ ujarku memberitahu.
―Apa?‖ Dia memberikan tatapan teduhnya kepadaku. Tangannya merangkum pundakku saat aku merapat kepadanya. ―Kamu mau main ke rumah Ayah sama Ibu?‖
Aku terdiam ragu. Melihat wajah lelahnya membuatku menggelengkan kepala dengan melebarkan senyum untuknya.
―Bilang saja pengin,‖ ledeknya seraya menahan senyum, sedang aku hanya mengerucutkan bibir.
―Baper. Iya nanti ke sana. Setelah magrib, ya? Jangan manyun, tambah jelek.‖
Aku melebarkan mata. Bukan pada candaannya terhadapku, tapi pada kesediaannya untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Mataku seketika memberikan tatapan penuh selidik dan yang kudapati hanya tawa kecil kemudian cengiran lebar khas Nara.
―Ini serius atau becanda?‖ tanyaku pelan, menatap dirinya penuh kewaspadaan.
―Serius, Sayang. Pakai baju yang rapian dikit karena malam ini ada acara ulang tahun pernikahan Ayah sama Ibu.‖
―Apa?‖ Aku memekik kecil. ―Kok, Abang nggak bilang dulu?‖
―Lah, ini Abang bilang,‖ kilahnya kemudian meletakkan kantong plastik di tangannya ke atas meja.
―Harusnya jauh-jauh hari biar aku bisa siapin kado. Ah, Abang main dadakan,‖ sahutku.
Dia terkekeh. Tangannya mengusap puncak kepalaku, lalu meninggalkanku ke kamar. Apa yang dia lakukan?! Aku menggeram dalam hati. Sikapnya membuatku ingin menanamkan cubitan kesal bercampur gemas di tubuh kurusnya.
―Abang!‖
―Abang mau mandi! Kamu mau ikutan?‖ serunya, menyahuti panggilanku.
Aku mengatupkan mulut, melangkah ke kamar dan aku mendapati suara keran air. Dia benar-benar! Aku tidak tahu bagaimana cara menghilangkan kekonyolannya. Selesai mengambilkan pakaian untuknya, aku mengambil tablet miliknya, duduk bersila, bersandar di kepala ranjang. Bukan untuk memeriksa ponselnya, melainkan memainkan game.
―Kamu lagi ngapain?‖
Setelah beberapa saat lamanya, dia keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan ****** *****. Ini kebiasaan buruknya. Aku hanya melirik dirinya, kemudian kembali melanjutkan game itu.
―Abang nggak macem-macem, kok,‖ ujarnya.
―Aku lagi searching, cara menghentikan kekonyolan pasangan,‖ sahutku acuh.
Aku mendengar dia berdecih lalu melompat ke ranjang, turut bersandar di sampingku. ―Tuhan menciptakan manusia berpasang- pasangan. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik pula. Dan…,‖ dia memberikan jeda dengan senyuman lalu mendekatkan wajahnya di telingaku dan berbisik, ―wanita yang konyol untuk laki-laki yang konyol pula.‖
Seketika aku menoleh, mengatupkan mulutku. Apa reaksinya?
Dia tertawa terbahak-bahak.
―Kita itu sepasang. Kalau Abang konyol, terus kamu nggak, itu nggak cocok. Kayak Ayah sama Ibu. Ayah sama Ibu tuaan Ayah jauh, tapi malah Ibu yang kelihatan tua. Ayah suka becanda, sedangkan ibu kalem.‖
―Nggak usah bawa-bawa umur!‖ dengusku.
―Oops, Maaf. Abang suka lupa kalau kamu lebih tua dari Abang.‖
―Cari mati!‖ Aku memberinya tatapan tajam, memperingatkan, membuatnya langsung terbungkam. Dia mengangkat jari kelingkingnya. Baikan, please! Itu makna darinya seiring dengan tampang memohon suamiku.
Aku masih bergeming. Membiarkan dia mencolek-colek lenganku agar aku segera memaafkannya. Tapi itu tak lama, karena aku tidak sanggup menahan senyumku. Dia terus berusaha menggodaku dengan berbagai aksinya.
―Becanda,‖ ucapku akhirnya, tidak mampu menahan tawa. Aku mengalungkan tangan di lehernya.
***
Setelah tadi Nara ribut agar aku tidak memakai celana, memintaku untuk memakai dress simpel selutut, kini dia melarangku memakai heels. Dia sendiri sudah rapi mengenakan kemeja.
―Abang, ini acaranya di rumah, kan? Sekadar acara keluarga, kan?‖
―Iya. Di halaman samping rumah. Tapi, ini ulang tahun pernikahan. Perak, lho, Sayang. Akan ada banyak tamu undangan, teman-teman Ayah dan Ibu, belum lagi saudara. Nanti juga banyak langganan catering Ayah.‖
―Apa? Abang kenapa nggak bilang? Kan, kita bisa berangkat lebih awal.‖
―Terus, Abang tinggalin kamu? Abang sibuk sendiri? Tenang saja, sudah ada Bima. Dia yang Abang minta bantuin Ayah. Bima, kan, anak baru Ayah,‖ ucapnya diakhiri dengan senyum kemenangan. Ah, dia cukup serius dengan ucapannya. Mengeksploitasi seorang Bima atas nama persahabatan. Aku hanya mengembuskan napas. Setidaknya, Ayah ada teman ngobrol kalau Bima sering ke
rumah. Pengisi kekosongan Nara di rumah itu.
―Kita naik taksi saja, ya?‖ ujarnya sambil menungguku mengambil tas kecil.
―Kenapa?‖ tanyaku, melangkah menghampirinya. Dia menyambutku dan menyempatkan diri mengecup puncak kepalaku.
―Lebih aman naik taksi.‖
―Kemarin ke kedai naik motor nggak apa-apa,‖ sahutku mengernyit.
―Bukan kamu. Cake-nya. Kita nanti ambil cake dulu di toko perempatan depan. Abang sudah pesan kemarin.‖
Kali ini aku tidak bisa menahan tanganku untuk segera mencubit pinggangnya. Oke, hari ini dia benar-benar menyebalkan.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengambil cake dan konyolnya dia tidak mengizinkan aku melihatnya. Katanya, "Spesial buat Ayah, nggak boleh lihat."
Aku melemparkan tatapan kesalku pada Nara, tapi dia seakan tidak peduli. Benar-benar! Padahal aku hanya ingin melihat bentuk cake yang dia pesan.
―Cari mati! Awas aja kalau di rumah nanti,‖ dengusku padanya.
Dia mengangkat alis sebelah lalu tersenyum miring. Oh, dia mencoba meremehkanku. ―Masa? Kamu nggak akan bisa melakukan itu. Kamu, tuh, nggak bisa lama-lama marah.‖
―Aku pulang, nih!‖ ancamku.
―Sudah sampai. Kita pulang ke rumah orang tua Abang.‖
―Pulang ke rumah sana. Bukan di sini!‖
―Tapi, kunci ada sama Abang,‖ ujarnya memanasiku.
Aku menggeram dalam hati. Sedikit terpaksa ketika dia menggenggam tanganku, menarikku pelan agar ikut melangkah bersamanya. Aku melihat acara sudah dimulai beberapa saat lalu. Ketika aku sampai, aku melihat banyak orang memang berkumpul di sini. Tapi bukan untuk merayakan ulang tahun pernikahan, melainkan arisan keluarga.
―Katanya ulang tahun pernikahan?‖ bisikku ketika kami hampir sampai di hadapan mereka. Sedang cake tadi sudah berada di tangan Bima untuk dihiasi dengan lilin.
―Memang iya. Sebentar lagi Bima datang.‖ Dia tersenyum seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Entah apa yang dia rencanakan. Selesai bersalaman, kami duduk satu meja dengan Ayah dan Ibu. Bima datang dengan cake itu. Serentak semua berkumpul mengelilingi Ayah dan Ibu.
―Apa ini?‖ tanya Ayah, cukup terkejut sekaligus terharu. Terdapat tulisan di sana.
Selamat Ulang Tahun Pernikahan, Kakek dan Nenek.
―Hampir saja lupa kalau ini hari ulang tahun pernikahan kami. Terima kasih, Nak,‖ ujar Ibu, untuk pertama kalinya menatap kami dengan haru sejak beliau memilih diam.
Kulihat Ayah lebih bahagia dari ini. Cake-nya masih saja terus ditatapi. ―Kamu, lho, kayak ayah sama ibumu pejabat saja dikasih beginian. Tapi, terima kasih ya, Nak. Yang terpenting itu kalian masih ingat, masih punya Ayah juga Ibu. Kangen, lho, Nak. Sering-sering main ke sini.‖
―Iya, Yah. Nanti kita sering main ke sini.‖
―Ada tulisan-tulisan segala. Kamu ini belajar dari mana bikin acara beginian? Selamat-ulang-tahun … pernikahan. Kakek. Dan. Nenek. Lho, kok kakek dan nenek? Kamu pikir orang tuamu sudah manula apa? Masih segar gini, kok,‖ ucap Ayah sedikit melirik sewot,
―Tapi, tunggu ‖
Kening pria paruh baya itu mengerut. Seperti sedang berpikir.
―Selamat ulang tahun pernikahan, Kakek dan Nenek.‖ Seketika Ayah menatap kami. ―Kakek dan nenek, maksudnya apa ini?‖
―Memang sudah tua. Makanya kakek dan nenek,‖ cibir Nara membuatku menyenggol kakinya.
―Sembarangan! Tapi, ada yang aneh, lho. Tahun kemarin tulisannya nggak begini, malah nggak ada tulisannya.‖
―Mantumu hamil, Yah! Ya, Tuhan! Iya, Nak? Kamu hamil, Nak?‖ seru Ibu membuat Ayah terbengong.
Oh, aku paham sekarang kenapa Nara tadi tidak mengizinkan aku mengintip cake yang dipesannya.
―Apa, iya? Nggak becanda, kan? Akan ada cucu di keluarga Narendra? Ini beneran, kan, Bu?‖ Ayah menatap Ibu dengan rasa terkejut juga membuncah.
―Ayah sama Ibu akan jadi kakek nenek. Ichlal hamil.‖
―Tak pikir ini mimpi, lho.‖
Aku melihat sepasang mata basah menatap kami. Karenanya, seketika aku merasa euforia yang sedang berlangsung itu lenyap. Dan ini hanya aku yang menyadari.