Breakeven

Breakeven
Breakeven - Bab 26



Breakeven -  Bab 26


Nara


“Yah, Nara lihat Ichlal dulu,‖ ucapku ketika aku mendengar suara pintu belakang terbuka.


―Istrimu cuma ke kamar mandi, Nak. Nggak akan nyasar,‖ ujar Ayah.


Tapi perasaanku mengatakan akan terjadi hal buruk. Yang masuk baru saja itu bukan cuma Ibu, tapi juga Mentari. Jangan sampai Ichlal kelepasan.


Aku berjalan tanpa suara agar Ichlal tidak tahu kalau aku mengikutinya. Hingga kemudian aku memutuskan untuk bersembunyi di sekat dinding ketika Ichlal berdiam, bersandar di dinding, turut mendengarkan apa yang Ichlal dengarkan.


Demi Tuhan, aku tidak pernah menyangka akan mendengar ini. Orang yang selama ini selalu dekat denganku, berbicara tidak sewajarnya. Orang yang sudah dianggap seperti anak sendiri di dalam keluargaku, dengan mudah bermain peran. Aku paham kenapa selama ini Ichlal tidak pernah sudi bersikap ramah kepadanya.


Pada awalnya, aku merasa perlu mengarahkan Ichlal agar mau melunak dan mau mengenal Tari, salah satu dari bagian hidupku selama ini. Tapi sekarang, aku merasa aku adalah orang yang paling bodoh dengan membiarkan Ichlal menghadapi ini sendirian. Saat dia dijatuhkan begini, dia tidak pernah mengeluh atau mengadu kepadaku. Dia tetap berdiri seolah tidak ada hal yang menyakitkan baginya.


Aku tersekat, mengingat kilasan-kilasan lalu. Tentang kenapa Ibu seolah membuat batas garis keras untuk Ichlal. Ternyata Tari-lah yang selalu memupuk ketakutan Ibu mengenai sosok Ichlal. Aku menatap tubuh mungil yang masih bersikap santai dengan ponsel di genggamannya. Dia tidak seperti wanita lain yang langsung melabrak siapa pun yang mengganggunya. Dia anggun dengan sikapnya. Apa yang kuinginkan sekarang? Aku ingin memeluk dirinya, menyeretnya pulang ke rumah, dan tidak akan pernah kuizinkan ke rumah ini lagi. Tidak peduli orang-orang akan menganggap Ichlal sombong. Ichlal tidak pantas untuk mendengar kalimat menjijikkan tentang dirinya. Dia terlalu berharga untuk direndahkan seperti ini.


Aku menahan napas ketika wanitaku melangkah maju, membungkam mulut Tari. Wajahnya datar menatap Tari, juga Ibu yang makin hari makin mudah mempercayai apa yang Tari katakan sekalipun aku berusaha agar beliau mau mengenal Ichlal. Nyatanya, pada akhirnya, semua akan berujung pada perdebatan. Ibu yang kukuh pada pendapatnya mengenai sosok perempuan seperti Ichlal. Dan aku yang kukuh mempertahankan wanita setangguh Ichlal.


―Jadi, menurutmu aku munafik?! Kamu nggak tahu siapa aku! Berani-beraninya bilang kalau aku munafik! Kamu yang licik! Aku tahu kamu kembali cuma untuk mempermainkan Nara!‖


Aku mendengar teriakan emosi dari Tari. Dia membentak wanitaku. Sedang apa yang wanitaku lakukan? Dia masih bisa tertawa dengan santainya. Jika saja aku yang berada di posisinya, mungkin aku akan menarik lidah Tari agar dia tahu bagaimana sakitnya kata- kata yang dia ucapkan.


―Hapus nggak?! Jangan beraninya berbuat licik!‖ teriak Tari, mencoba merampas ponsel di tangan Ichlal. Sedang wanitaku masih dalam keadaan santai, membiarkan Tari menggapai-gapai ponsel di tangan Ichlal yang terangkat tinggi.


Ibuku masih terbengong, tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Aku bergegas menghampiri mereka. Tidak akan kubiarkan tangan Tari menyentuh Ichlal sedikit pun! Aku yang akan melindunginya. Aku berjanji tidak akan membawanya lagi ke sini kalau hanya hinaan seperti ini yang akan Ichlal dapatkan.


―Jangan pernah menyentuh Ichlal!‖ Aku menarik Ichlal hingga terpelanting jatuh di dadaku. Rahangku mengeras untuk sikap Tari yang memalukan.


―Nara?!‖ seru Mentari terkejut.


―Pepatah bilang, teman adalah musuh yang belum menyerang. Dan kamu membuktikan itu! Nggak akan kuizinkan kamu menyentuh Ichlal sedikit pun. Ayo, sayang, kita pulang. Di rumah jauh lebih menenangkan daripada di sini!‖ Aku tidak bisa menahan gemuruh di dada.


―Nara, Nara ... kamu akan menyesal lebih memilih membela dia. Aku dan ibumu yang selama ini ada buat kamu! Aku nggak percaya kamu lebih memilih mempercayai dia!‖ seru Mentari histeris.


―Ya! Lebih baik aku mempercayai orang asing daripada orang lama tapi nggak taunya adalah musuh yang seharusnya aku tahu sejak awal!‖ tegasku bernada pedas.


―Nak!‖  Ibuku  berusaha  menenangkanku.  Aku  tahu  ibuku  akan melarangku mengasari Mentari, tapi memang dia sangat pantas mendapatkan ini. Untuk kelancangan yang selama ini dia ciptakan.


―Bu, orang yang seharusnya Ibu waspadai adalah orang terdekat Ibu. Sekalipun Ibu sudah kenal dia begitu dekat, tapi nggak ada yang bisa tahu apa yang ada di dalam hatinya!‖


―Abang, aku nggak apa-apa, kok.‖ Demi apa pun, itu makin membuatku merasa bersalah kepadanya. Nada dan suaranya masih bisa terdengar begitu santai. Seolah dia memang baik-baik saja. Tapi, di sini aku yang tidak terima. Kalau aku tidak punya malu, aku sudah membiarkan diriku menangisinya.


―Nggak. Kita pulang sekarang,‖ ujarku menatap dirinya. Tanganku merangkum wajahnya, memberikan usapan di sana dengan gemetar.


―Ada apa, kok, ribut-ribut?‖ Suara Ayah terdengar di antara langkah yang tergopoh-gopoh,  menatap kami penuh tanya.


―Bilang jujur sama Ayah! Aku nggak pernah punya teman yang sifatnya kayak kamu! Dan aku menyesal pernah kenal sama kamu! Kamu boleh nggak suka sama Ichlal, tapi bukan berarti kamu bisa menjelekkan dia cuma demi kepentinganmu, agar orang tuaku juga nggak suka sama istriku!‖ Tatapanku menusuk tertuju pada Mentari yang kini berubah pias saat Ayah datang.


Aku mengeratkan dekapanku pada tubuh mungil ini, lalu membawanya keluar dari rumah Ibu tanpa peduli seruan orang tuaku. Sekali lagi, aku menatap wanitaku dengan penuh kesesakan sebelum aku memakaikan helm untuknya. Ya Tuhan, dia malah tersenyum kepadaku.


―Nggak pamit sama Ayah?‖ tanyanya ketika aku menstarter motor.


―Naik, Sayang. Abang akan telepon Ayah nanti kalau Abang sudah tenang. Setelah kita di sampai rumah.‖


―Abang marah?‖ tanyanya, kemudian menggigit bibir.


―Nyesal juga. Abang menyesal pernah nggak dengerin kamu.


Kita nggak akan ke sini lagi.‖


Entah bagaimana perasaannya dulu, ketika aku tidak mempedulikannya, saat aku lebih mendengarkan Mentari. Apa rasanya sesakit ini? Atau malah lebih sakit? Aku saja yang hanya mendengar, ingin sekali membunuh perempuan yang pernah menjadi temanku itu. Ya, aku memutuskan untuk menutup mata darinya. Tidak peduli walaupun dulu dia pernah selalu ada untukku. Tapi sikap buruknya sudah terlalu menyakitkan kali ini.


―Emang kenapa?‖


―Biar kamu nggak jatuh,‖ sahutku asal.


Bukan itu maksudku. Aku ingin dia memelukku seerat yang dia mampu, sementara aku meresapi rasa sesak ini. Wanita setegar dia yang pernah kusia-siakan. Wanita dengan segala keterbatasannya yang tetap bertahan sekalipun dunia ingin meruntuhkannya.


***


Aku masih tidak melepaskan tatapan dari Ichlal. Bahkan ketika dia sudah selesai merapikan diri setelah mandi. Dia membalas tatapanku lengkap dengan kernyitan di dahi.


―Kenapa?‖


―Sini,‖ ucapku seraya menepuk sisi kosong di sampingku.


Dia menuruti ucapanku, merangkak naik ke ranjang, dan duduk di sampingku. Tanganku segera memeluk dirinya, memberi dia kecupan berkali-kali di puncak kepala. Sesak itu masih terasa nyata. Dia sendiri tidak menunjukkan emosi sedikit pun.


―Aku nggak bisa menuntut mereka untuk menyukaiku, karena itu pilihan mereka,‖ ucapnya lirih, seolah semua ini tidak menyakitkan baginya. Dia paham apa yang membuatku memeluknya seerat ini.


―Kenapa kamu diam saja saat Tari merendahkanmu? Kenapa kamu nggak marahin dia?‖ Aku merasa suaraku tidak sebaik tadi. Mungkin terdengar parau.


Tapi wanita di dalam pelukanku hanya tertawa lirih. Lalu mengerutkan tubuhnya, merapat kepadaku. Kalau saja dia tahu saat ini hatiku mencelos. Tanganku tak henti memberikan usapan di lengan polosnya.


―Kenapa nggak kamu jambak aja? Atau tendang sekalian?


Kenapa kamu memilih diam?‖


―Kalau suatu saat aku pergi, seperti yang Tari bilang, gimana?‖ Dia bertanya di dalam dadaku.


―Kamu nggak akan melakukan itu. Kamu nggak akan pergi dari Abang. Kamu kenal Abang lebih dari mereka yang lebih dulu kenal Abang. Abang juga tahu kamu. Kamu yang akan membungkan mereka dengan caramu tanpa meninggalkan Abang.‖


Maaf. Maaf pernah sempat nggak percaya sama kamu, pernah menganggap kamu hanya cari perhatian karena nggak suka sama Mentari. Maaf pernah membiarkanmu menghadapi ini sendirian. Maaf pernah nggak peduli apa pun tentang kamu.


Setelah ini, apa pun tentang kamu adalah segalanya untuk Abang, sekalipun mereka mengecap Abang anak durhaka, nggak apa- apa. Hatimu dan perasaanmu jauh lebih penting. Karena apa yang Abang lakukan sekarang, rasanya nggak sebanding dengan apa yang sudah kamu korbankan untuk tetap mendampingi Abang.


Aku membiarkan air mata lolos begitu saja, tidak peduli meski dicap sebagai laki-laki cengeng. Aku membiarkan tangis itu pecah dalam diam.


―Mungkin Tari benar, aku hanya mempermainkan Abang,‖ celotehnya membuatku meringis perih. Dia kembali merendahkan dirinya.


―Jangan bahas dia. Nanti kamu malah benar-benar pergi dari Abang. Lebih baik tidur.‖


―Maaf.‖    Dia    mengangkat    wajahnya,    menatapku    sendu.


―Abang yang seharusnya minta maaf untuk keluargaku yang belum sepenuhnya bisa menerima kamu. Jangan pernah lelah untuk berdiri di samping Abang sekalipun kamu tahu, keadaan Abang yang begini.‖


Dia tertawa, tapi aku melihat ada selaksa air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia bangun dari pelukanku. Kupikir dia akan pergi. Tapi, tidak. Dia menjatuhkan seluruh tubuhnya di atas tubuhku. Tangannya mengalung di leherku. Dia tidak bicara, hanya menenggelamkan wajah di ceruk leherku. Tubuhnya sesekali bergetar. Aku tahu dia menangis.


―Abang nyakitin kamu lagi?‖ tanyaku menepuk-nepuk punggungnya. Itu menghadirkan kembali sesak yang belum sepenuhnya pergi.


Dia menggeleng tanpa mengangkat kepalanya sembari mengeratkan pelukan. Bahasa tubuh yang bisa kupahami maknanya. Perasaan yang begitu dalam untukku.


―Kenapa Abang membela aku tadi?‖ tanyanya kemudian.


―Abang dengar semuanya. Abang ngikutin kamu. Pasti rasanya sakit, kan?‖


―Sudah biasa. Yang nggak biasa, Abang nangis buat aku,‖ kekehnya. Di saat seperti ini dia masih becanda?


―Abang sakit dengarnya. Maaf pernah nggak peduliin kamu.‖


―Nggak perlu. Aku tahu Abang. Laki-laki yang selalu belajar dari kesalahan. Aku mencintai Abang. Selalu.‖


Sekali lagi aku mengecup kepalanya. Membiarkan perasaan ini campur aduk di antara janji, tidak akan pernah membiarkannya lagi. Tidak akan pernah!