
"Sialan, ucapanmu yang harusnya dijaga."
Sekalipun Saera tidak menoleh ke belakang, ia jelas paham sekali bahwa pemilik suara itu ialah Jeon Jungkook.
Jungkook memposisikan dirinya tepat di belakang Saera, dengan kedua tangan yang terselip di kedua sisi saku celana, terkesan santai, namun tatapan yang ia berikan pada keempat gadis di depannya membuat aura gelap seketika menyeruak.
"Jungkook, ini-. . .", Yeona berusaha mengelak namun Jungkook sudah memotong ucapannya.
"Masih ingin membuat pembelaan?"
Merasa keempat gadis itu tidak ada yang menjawab, Jungkook kembali bersuara.
"Ini peringatan, jangan mengusiknya atau kau akan berurusan denganku."
Salah satu tangan Jungkook beralih menarik Saera, merangkul tubuh itu agar lebih mendekat padanya hingga keempat pasang mata di depan mereka sontak menatap tak percaya. Saera nampaknya berusaha menjauhkan diri, namun Jungkook tetap saja menyulitkan usahanya.
Saera mendongak ke arah Jungkook dan memberinya tatapan tidak bersahabat. Sialnya, Jungkook malah membalas tatapannya dengan senyuman yang sangat manis, kelewat manis sampai rasanya Saera ingin mencabik cabik wajah tampan iblis itu.
Menyadari bahwa gadis-gadis tadi belum beranjak dari tempatnya, Jungkook melayangkan tatapan heran, "Kenapa masih disini?"
Pertanyaan Jungkook tadi sukses membuat mereka satu per satu beranjak, dengan kaki yang menghentak kesal tentunya. Saera lantas segera menjauhkan diri dan Jungkook yang masih setia dengan ketenangannya kembali mendekati gadis itu, "Apa kau sering diperlakukan begini oleh orang- orang seperti mereka?"
"Ya, karena dirimu."
"Maaf"
Deg.
Maaf?
Apa Jeon Jungkook baru saja melontarkan permintaan maaf?
"Jung, lihat aku."
Gadis itu menelusuri ke dalam netra lelaki dihadapannya, entah dirinya yang tidak bisa membaca makna tatapan seseorang atau memang lelaki ini mengucapkannya dengan tulus, Saera tidak tahu pasti. Yang jelas, ia tidak menemukan keraguan dalam netra lelaki itu.
Masih ingin memastikan, Saera bertanya, "Maaf untuk apa?"
"Karena menyulitkanmu"
"Aku sudah memberitahumu sejak awal, kenapa kau masih saja mendekatiku?"
"Setidaknya biarkan aku menjagamu"
"Aku bisa menjaga diriku sendiri"
"Tapi aku tidak yakin kau juga bisa menjaganya"
Paham kemana arah bicara Jungkook sekarang, Saera tersenyum kecut. Mungkin dirinya saja yang terlalu percaya diri, Jungkook tidak mungkin menjaganya. Ia hanya salah paham.
"Jadi kau meragukanku?"
"Tidak, Saera. Aku-. . .", Saera melenggang pergi sebelum lelaki itu menyelesaikan ucapannya. Jungkook memutar badannya, melihat betapa cepatnya gadis itu berlari menjauh lalu menghilang di ujung lorong tanpa berniat mengejarnya.
———
Saera kembali termenung dikamarnya.
Rupanya selama ini ia salah. Hanya karena ucapan-ucapan menenangkan dari lelaki itu ia sampai lupa bahwa yang dihadapinya sekarang adalah seorang iblis.
Benar begitu, bukan?
Ya, Saera pikir tidak sepenuhnya salah jika ia menyebut lelaki itu dengan sebutan iblis. Mereka tidak ada bedanya. Kejam, tidak berperasaan, pembual, licik.
Sialnya, kenapa takdir harus mempertemukan mereka berdua?
Kalau sudah begini rasanya Saera ingin sekali menuntut takdir karena sudah berlaku tidak adil padanya. Memangnya dosa apa yang sudah ia lakukan sampai takdir menjatuhinya hukuman seperti ini?
Tidak, tidak. Saera yakin sekali bahwa ia adalah gadis yang baik. Bahkan sampai saat ini, walaupun sangat membenci Jungkook, tapi ia sama sekali tidak membenci janinnya. Sedikit pun, tidak ada niatan bagi Saera untuk menyakiti janin itu.
"Apa aku benar-benar tidak bisa menjagamu?", ia kembali teringat pada ucapan lelaki itu. Perasaan kesal dan khawatir menyelimuti dirinya. Kesal karena ia tahu bahwa Jungkook tidak percaya padanya, khawatir jika memang benar ia tidak bisa menjaga janinnya.
"Maafkan Eomma jika sering membuatmu tidak nyaman disana"
Eomma?
Saera tertegun oleh ucapannya sendiri. Menyebut dirinya sebagai seorang ibu, rasanya aneh, tapi ia harap dengan begitu hubungannya dengan si janin akan lebih dekat.
"Aku sudah menyebut diriku sebagai Eomma saja. Bagaimana menurutmu?", perasaan Saera berubah ketika ia merasa ada pergerakan di dalam tubuhnya.
"Eh? Kau bergerak?"
"Wah kau akan memanggilku Eomma, lalu Eomma harus memanggilmu apa hm?"
Saera memikirkan nama apa yang akan ia berikan pada janin itu, "Bagaimana dengan Saeron?"
"Kau menyukainya?", gadis itu mengulum senyumnya saat merasakan sebuah interaksi dari perutnya.
"Aku jadi penasaran saat kau lahir nanti apa kau akan tumbuh cantik sepertiku? Atau malah sepertinya?"
Ting Tong.
"Eoh? Ada yang datang?"
Bunyi bel rumah membuat Saera beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu. Ia pikir yang datang adalah Park Jimin. Tapi kalau dipikir-pikir Jimin tidak akan membunyikan bel rumah jika datang. Siapa ya?
Klekk.
"Haerin?", Saera kebingungan melihat sosok sahabatnya yang bertamu malam hari ke rumahnya. Batinnya menanyakan ada gerangan apa Haerin kesini.
"Annyeong", Haerin mengangkat tangannya seiring dengan senyumnya yang mengembang, "Maaf mengganggumu malam-malam begini, tapi bolehkan aku bertamu?"
Saera mengangguk canggung namun tetap tersenyum, "Boleh, masuk saja, Rin"
Posisi badannya bergeser untuk memberi jalan pada Haerin, membiarkan gadis itu masuk terlebih dahulu sebelum kembali menutup pintu.
Haerin menjatuhkan pantatnya pada sofa di ruang tamu sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling lalu kembali fokus pada Saera yang ikut duduk di sampingnya, "Kakakmu tidak dirumah?"
Saera menggeleng kemudian menjawab, "Dia akan pulang jika dia ingin, begitulah dirinya"
"Ah, i see", ucap Haerin sambil mengangguk kecil.
"Omong-omong, tumben sekali kau kesini. Ada hal apa?", Saera tidak dapat membendung rasa penasarannya lagi.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit mengkhawatirkanmu"
Oh ya, perlu kalian tahu. Haerin memang mengetahui semuanya, kecuali soal Jungkook adalah seorang incubus. Saera tidak ingin memberi tahu hal tersebut.
"Aku baik-baik saja, Rin. Tidak usah khawatir"
"Jungkook sunbae tidak kesini?"
"Emm. . .itu-"
"Saera, Jungkook sunbae akan bertanggung jawab kan?"
"Y-ya, tentu. Hanya saja dia tidak bisa sering kesini"
"Apa kau pernah diajak kerumahnya?"
"Belum"
"Tapi dia pernah kesini?"
"Ya, beberapa kali"
"Apa yang ia lakukan?"
"Hanya memeriksa keadaanku, lalu pergi"
"Syukurlah. Setidaknya dia masih bertanggung jawab"
Sejujurnya, Saera agak merasa bersalah karena menyembunyikan sedikit fakta yang ada. Tapi apa boleh buat, Haerin tidak boleh mengetahui bahwa Jungkook adalah seorang incubus. Karena sahabatnya mengerti tentang si makhluk, maka sudah bisa ditebak Haerin akan sangat panik jika mengetahui faktanya.
Jungkook adalah sunbae yang menghamilinya, itu saja yang perlu diketahui Haerin.