
Seperti yang direncanakan sebelumnya, mereka pergi ke minimarket.
Jungkook membawakan keranjang selagi gadis itu mengambil barang keperluannya. Perhatiannya teralihkan pada sosok yang berdiri di luar minimarket.
Jungkook mengenalnya.
"Saera, bisa kau pegang ini?" Ucap lelaki itu sambil menyerahkan keranjang di tangannya.
Saera menerima keranjang itu, "Ada apa?"
"Aku tunggu di luar"
Tanpa persetujuan dari gadis itu, Jungkook melenggang keluar dan menghampiri sosok tadi.
Saera mengamati pergerakan Jungkook, rupanya ada Taehyung di luar sana.
Ya sudahlah, urusan mereka.
Gadis itu kembali pada keperluannya. Ia berhenti di depan lemari pendingin dengan posisi keranjang di depan badannya.
"Haruskah aku membeli minuman?"
Di barisan yang sama, tak jauh dari tempat Saera berdiri ada dua orang gadis tengah berjalan sambil bercanda ria.
Mereka saling dorong hingga. . .
Brukkk!
.
"Hyung, sebentar. Aku pergi dulu", Jungkook langsung memotong pembicaraan Taehyung dan melesat masuk ke minimarket karena merasa ada yang tidak beres.
Di tempat Saera berada, ia menemukan dua gadis tengah panik sambil meminta maaf.
"Eonni, maafkan kami ya, sungguh."
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kalian bisa pergi", Saera berucap demikian karena menyadari kehadiran Jungkook disana.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak apa-apa. Mereka tidak sengaja menabrak ku"
Tidak. Jungkook tidak merasa demikian.
"Jung. . ."
Saera menyadari bahwa Jungkook sedari tadi menatap ke arah dua gadis itu.
Panggilannya tidak mendapat respon apapun, ia lantas menarik lengan lelaki itu menuju ke kasir. Baginya membawa Jungkook menjauh dari sini adalah yang terbaik.
-
"Aku pergi dulu, ada urusan yang perlu diselesaikan"
Dengan sigap Saera menahan Jungkook, "Tunggu, kau mau kemana?"
"Sudah ku bilang ada urusan"
"Tidak. Kau tidak boleh pergi"
Jungkook mengernyit, "Kenapa?"
"Kau sudah janji padaku duluan"
"Janji apa?"
"Menemaniku hari ini"
"Ah, kalau begitu nanti aku akan kembali"
"Tidak boleh. Harus di sini"
Memang egois kelihatannya, tapi Saera takut jika Jungkook pergi untuk mencelakai orang lagi.
Akhirnya Jungkook menyerah dan menuruti keinginan Saera untuk tetap di sini, ya meskipun dengan setengah hati.
Persetan dengan urusan lelaki itu, setidaknya Saera bisa makan dengan tenang sekarang.
Jungkook duduk di kursinya, pandangannya terus tertuju pada Saera yang tengah kerepotan itu. Padahal gadis itu hanya menyiapkan mie untuk sarapan, tapi kenapa kelihatan serepot itu baginya.
Sedang yang terus-terusan ditatap berusaha menutupi salah tingkahnya.
Baiklah, saatnya Saera mengubah suasana.
"Tadi itu Taehyung ya?"
"Kau melihatnya?"
"Ya—tidak sengaja"
"Itu memang dia"
"Kenapa tiba-tiba menemuimu?"
Lelaki itu tampak mengingat kembali, "Entahlah. Dia mengatakan hal yang kurang penting"
Terbesit sebuah pertanyaan di kepala Saera saat ia melihat Jungkook mengaduk-aduk mienya.
Haruskah ia tanyakan?
"Jung"
"Hm?"
"Apa kau makan. . .—makanan manusia?"
Jungkook ingin terbahak saat itu juga, gadisnya memang terlalu polos untuk masalah seperti ini.
Alih-alih tertawa, Jungkook justru menyeringai pada Saera.
"Menurutmu? Jika aku hanya memakan jantung apa kau akan memberikannya padaku?"
Mendengarnya saja sudah membuat bulu kuduk Saera berdiri rasanya.
"Jangan menakutiku"
"Aku tidak menakutimu, aku hanya bertanya"
Saera menggeleng cepat, "Tidak"
"Kenapa?"
"Bagaimana bisa aku mendapatkan jantung? Itu tidak mungkin"
"Kau bisa memberikan jantung hewan padaku"
"Serius, Jung?"
Jungkook terbahak tak sanggup lagi menahan tawanya. Saera memang terlalu mudah percaya dengan sifat iblis Jungkook yang suka menipu.
Tentu saja Saera jadi kesal dan melayangkan protes, "Kenapa malah tertawa?"
"Pikirmu aku ini apa", lelaki itu menyudahi tertawanya dan menyuap mie yang sudah terlilit pada garpunya.
"Aku bisa melakukan apa yang bisa manusia lakukan", lanjutnya.
Perasaan Saera sedikit lega mengetahuinya.
"Benarkah?"
"Meragukan aku?"
Gadis itu tersenyum penuh arti, "Bagaimana dengan membuktikannya?"
.
"Sial"
"Oh yeah!"
Jungkook berusaha untuk tidak menyesal menerima tantangan dari Saera.
Lawannya hebat dalam permainan seperti ini.
"Ah, Jung. Kau bahkan tidak bisa mengalahkan ku, bagaimana bisa membuktikannya?", gadis itu penuh percaya diri.
Tentunya Jungkook bukan orang yang suka mengalah, "Kau hanya beruntung, coba lagi sekali"
"Baiklah, baiklah"
Saera memilih opsi Play Again pada PlayStationnya. Layarnya pun menampilkan dua mobil balap yang siap bersaing kembali, keduanya berpacu setelah tulisan 'Go!' muncul di layar.
Putaran pertama dan kedua, mobil yang dikendalikan Saera memimpin balapan. Jungkook tetap tenang, ini belum saatnya membalas dendam.
Pada putaran ketiga. . .
"Hah? Apa ini? Kenapa tanganku kebas?!"
Kena kau, batin Jungkook.
Perlahan mobil Saera mulai melambat hingga akhirnya mobil Jungkook bisa melesat ke garis finish pertama.
Ide licik ini, Saera mengetahuinya.
"Ya! Kau curang!"
"Aku menang"
"Curang, Jungkook"
"Memangnya aku melakukan kecurangan apa?"
"Kau yang membuat tanganku kebas, bukan?"
"Tidak. Tanganmu kebas karena terlalu bekerja keras pada putaran pertama"
"Aish"
-