Blood, Sweat, and Tears

Blood, Sweat, and Tears
Issue



"Ia sudah absen selama 4 hari tanpa kabar sama sekali. Di rumah juga tidak ada. Aku sudah coba menghubunginya, tapi tidak bisa. Tidakkah menurutmu itu mencurigakan?" Daeun membuka obrolan


"Benar sekali, kenapa tiba-tiba feelingku tidak enak?"


"Girls, bagaimana jika kita buat pengumuman?"


"Ide bagus. Tapi kita butuh izin untuk itu,"


"Tenang saja. Itu bisa diatur, ayo."


Seperti yang mereka rencanakan tadi, Daeun beserta Haejin dan Jiyeon segera menuju ke ruang pengumuman.


"Daeun? Haejin? Jiyeon? Ada apa kemari?" Bapak petugas di ruangan tersebut lantas menanyakan kedatangan mereka.


"Eum kami kemari bermaksud untuk mengumumkan soal Kim Yeona, Pak."


"Ada apa dengan Yeona?"


"Dia menghilang,"


---


“Pengumuman. Bagi siapapun yang mengetahui kabar Kim Yeona harap memberitahu pihak sekolah. Yeona dikabarkan telah menghilang selama 4 hari.”


Langkahnya terhenti.


Perasaan Lee Saera mendadak tidak enak, ia merasa ada yang janggal setelah mendengar pengumuman tersebut.


Lantas gadis itu segera memutuskan datang ke ruang pengumuman, rencananya ia ingin bertanya sedikit mengenai hal itu.


Namun belum sampai dirinya ke tujuan, seseorang tiba-tiba menariknya –berlawanan arah dengan tujuannya.


"Ya! Jungkook! Ada apa ini?!"


Jungkook bergeming, tetap menyeret Saera yang berusaha melepaskan diri.


"Jeon Jungkook!"


"Ikut aku."


"Tidak. Tidak mau. Aku ada urusan. Lepaskan aku,"


Sepertinya Jungkook tidak perduli.


"Jeon Jungkook!!!"


"Tidak bisakah kau diam?!"


Bentakan itu membuat Saera terkejut dan spontan membuatnya bungkam. Mereka berdua mendadak jadi perhatian orang-orang sekitar. Pelupuk mata gadis itu menghangat, rasanya ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.


"Ada apa denganmu, Jung?" suaranya melemah. Saera menatap jengkel ke arah lelaki itu.


Lagi-lagi Jungkook hanya diam.


Genggaman tangan lelaki itu melemah, Saera buru-buru menarik tangannya dan berbalik pergi tanpa sempat mengucap apapun lagi karena pikirannya mendadak kacau.


Dengan langkah setengah berlari, akhirnya ia sampai di ruang pengumuman dan kebetulan sekali Daeun bersama temannya baru saja keluar dari ruang pengumuman.


Saera segera menghampiri mereka. "Boleh aku bertanya sesuatu?"


Ketiga dari mereka saling bertukar pandang. "Soal apa?"


"Yeona."


"Well, dia menghilang sejak 4 hari yang lalu dan tidak bisa dihubungi sama sekali."


"Kapan terakhir kalian bersamanya?"


"Waktu itu, saat pulang sekolah."


"Apa terlihat sesuatu yang mencurigakan darinya?"


"Kurasa tidak. Hanya saja dia sangat senang waktu itu. Tapi– kenapa kau perduli? Apa ini ada hubungannya denganmu?" Tatapan Daeun berubah menjadi curiga.


"Tidak, bukan begitu. Aku hanya merasa ada yang aneh."


---


Karena ingin mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya, Saera memutuskan pergi ke atap sekolah dan duduk di sana sampai jam pelajaran sejarah selesai.


"Lee Saera?"


Panggilan itu membuat Saera menoleh, ada seorang gadis yang tidak asing menghampirinya kemudian ikut duduk bersama.


"Kau?"


"Oh? Perkenalkan, aku Park Joo Young."


"Park Joo Young? Yang kemarin minumannya tumpah di bajuku?"


Jooyoung tertawa renyah tapi tidak berselang lama setelah ia menghembuskan nafas berat. "Aku sangat menyesal dengan kejadian itu,"


"Tidak. Tidak. Lagipula itu tidak di sengaja–"


"Tidak, Saera. Aku sengaja."


"Apa?"


"Aku sengaja menumpahkan minuman itu ke bajumu."


"Kenapa?"


"Yeona menyuruhku–," Jooyoung belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Kepalanya menunduk, kembali mengambil nafas beratnya. "–aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan padamu. Andai saja saat itu aku tidak bertindak bodoh, maka semua ini tidak akan terjadi. Maafkan aku,"


Isakan Jooyoung keluar perlahan. Saera merengkuhnya sembari mengusap punggung gadis itu perlahan.


"Tidak apa-apa, semuanya sudah terjadi. Baru saja ada berita kalau Yeona menghilang, mari berdoa semoga dia baik-baik saja."


Isakan itu berubah menjadi tangisan. Ingin sekali Jooyoung mengatakan bahwa sebenarnya Yeona tidak menghilang, ia tewas.


Tapi tidak mungkin, ia tidak bisa mengatakan hal itu.


"Sudahlah, jangan menangis. Nanti riasanmu hilang," Saera berusaha menenangkan.


"Aku merasa bersalah,"


"Tidak apa. Semua orang pernah membuat kesalahan kemudian menyesal. Aku tidak menyalahkanmu."


"Park Joo Young?"


Coba tebak, siapa yang memanggil nama itu?


Dia Kim Taehyung.


Saera melemparkan pandangannya ke pemuda itu dan Jooyoung secara bergantian.


Bukankah dia temannya Jeon Jungkook? Batin Saera.


Sementara Park Jooyoung, gadis itu segera mengusap air matanya dan mengucap pamit terlebih dahulu.


Meninggalkan Taehyung dan Saera disini.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Taehyung membuka pembicaraan.


Gadis itu menjawab malas. "Menurutmu?"


"Apa Jooyoung mengatakan sesuatu padamu?"


"Tidak terlalu penting."


"Dimana Jungkook?"


"Tidak tahu."


"Biar kutebak, masalah lagi?"


Saera menaikkan bahunya lalu bergegas meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal.


---