Blood, Sweat, and Tears

Blood, Sweat, and Tears
Wasn't Dreaming?



"Sudah dapat target, Kook?", pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Taehyung.


"Tentu."


"Wah wah. Ternyata kau mendahului seniormu ya, tidak kusangka"


Jungkook mendecih, "Kau saja yang terlalu lamban, hyung"


"Entahlah, kenapa gadis-gadis polos sangat jarang kutemui. Yang ada hanya para wanita-wanita penggoda, kau tahu"


"Yeah, aku tahu"


"Kalau aku boleh tahu, gadis mana yang jadi targetmu?"


"Siswi sekolah itu juga"


"Benarkah? Kenapa aku belum pernah melihatnya?"


"Dia hoobae, hyung."


"Pantas saja"


Jungkook bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan meunuju ujung balkon melihat pemandangan hutan di sekitar.


Pemuda itu mengingat sesuatu yang membuatnya sontak berbalik dan kembali bergabung bersama Taehyung.


"Hyung."


"Hm?"


"Ada yang aneh dengan targetku"


"Apanya?"


"Kurasa dia tidak mengenaliku"


"Itu karena penampilanmu berbeda"


"Tidak. Bahkan dia melupakan namaku. Padahal aku sudah memberitahunya malam itu"


"Ck, mungkin kau kurang mengesankan, Kook"


"Serius, hyung. Apa mungkin dia juga melupakan bayi yang ada di dalam dirinya?"


———


Sudah satu minggu semenjak Saera didatangi oleh mimpi aneh itu—ya menurut Saera hanya mimpi. Tubuhnya terasa lebih cepat pegal dan perutnya kelihatan errr. . . sedikit buncit mungkin.


Ah mungkin ini gara-gara Haerin yang sering mengajak dirinya membeli makanan. Seperti sekarang, pulang sekolah mereka mampir ke restoran sup daging.


Baiklah, mungkin nanti Saera butuh diet dan sedikit olahraga.


"Sae, makanmu cepat sekali"


Haerin baru memakan seperempat bagiannya, Saera sudah menghabiskan setengahnya.


"Apa aku terlalu rakus? hehe"


"Ya. Lihat pipimu itu", tangan Haerin terulur untuk mencubit dan menarik-narik pipi Saera yang duduk di sampingnya.


"Aw. Cubitanmu sakit, Rin!"


Haerin hanya tertawa kemudian tangannya beralih ke perut sahabatnya


"Aigoo, lihat, bahkan perutmu sekarang menimbun banyak lemak", ucapnya sambil menepuk-nepuk perut Saera.


Saera mempoutkan bibirnya, "Kau benar, setelah ini mungkin aku harus segera diet"


"Maja. Berdietlah, kau tidak mau kelihatan seperti ibu hamil kan, Sae"


Deg.


Entah kenapa, kalimat yang diucapkan Haerin tadi terasa aneh bagi Saera.


Kenapa ia tiba-tiba merasa takut soal mimpinya yang lalu?


Bagaimana jika itu bukan mimpi?


Bagaimana jika ia benar-benar hamil?


Saera menggeleng pelan, berusaha menampik pikiran-pikiran negatif yang melewatinya.


"Haerin-ah"


"Ya?"


"Makhluk yang pernah kau ceritakan padaku itu. . .benar-benar ada atau tidak sih?"


"Makhluk apa?"


"Itu, makhluk yang kau bilang mengincar gadis-gadis"


"Ah incubus?", Saera mengangguk


Haerin terlihat berfikir sebentar lalu kembali pada makanannya, "Molla, aku tidak tahu mitos itu benar atau tidak"


"Apalagi yang kau tahu soal mereka?"


"Katanya mereka berkeliaran disekitar manusia, berpura-pura menjadi manusia lebih tepatnya. Ada yang bilang mereka itu punya kekuatan telekinesis, ada juga yang bilang kalau mereka bisa teleportasi."


"Begitu ya"


"Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa. Hanya penasaran"


Haerin menaruh sumpitnya, "Baiklah, aku selesai. Jib-e gaja!" (ayo pulang)


"Kajja!"


———


Park Jimin itu seperti setan.


Pagi tadi masih ada di rumah dan sekarang Saera pulang dia sudah tidak ada di rumah. Selalu seperti itu


Kadang minggu-minggu berikutnya kembali lagi, kadang 1 bulan, 2 bulan, tidak bisa dipastikan.


Datang tak diundang, pulang tak diantar.


Begitulah Park Jimin.


Untungnya Saera sudah terbiasa dengan hal tersebut.


"Hah aku bosan. . ."


Daritadi yang gadis itu lakukan hanya mengganti saluran TV. Di tengah kegiatannya, Saera meraba perutnya. Ia merasa ada yang tidak beres pada perutnya sekarang.


"Kenapa perutku tiba-tiba sakit"


Bagian perutnya lama kelamaan terasa semakin sakit. Saera meringkuk disofa, terus-terusan mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Arghh, sakitt"


"Apa yang terjadi?"


"Perutku. . ."


"Kau ingin melukainya?"


"Melukai apa?"


"Bayiku. Kau melupakannya?"


Jungkook—yang muncul entah darimana, menghampiri Saera dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut gadis itu.


"Dia marah karena kau menepuknya"


"Bukan aku. T–tadi Haerin tidak sengaja menepuknya"


"Apa masih sakit?"


Saera membenarkan posisi duduknya lalu menggeleng pelan.


"Ini bukan mimpi?"


"Bukan"


"J–jadi. . ."


"Bukannya sudah ku bilang untuk menjaganya baik-baik? Kau melanggar janjimu?"


"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau dia benar-benar ada"


"Lee Saera."


"Ne?"


"Aku minta padamu, tolong jaga dia baik-baik. Jangan sakiti dia karena dia tidak bersalah"


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu, kau kesal karena mengandungnya bukan?"


"Tidak! Sama sekali tidak. Aku hanya tidak tahu kalau ini benar-benar terjadi. Maaf, aku janji akan menjaganya baik-baik"


"Benarkah?"


Saera mengangguk, "Tentu."


"Baguslah. Jangan sampai hal ini terulang lagi, dia tidak suka orang lain menyentuhnya"


"Apa yang terjadi jika dia marah?"


"Dia akan menghisap darahmu"


"Omo. . ."


"Yah, untungnya aku cepat datang", Jungkook mendudukkan dirinya disamping Saera.


Tunggu sebentar,


Saera jadi ingat sesuatu


Pria ini. . .


Kenapa mirip dengan Jungkook sunbae?


Jungkook merasa ada yang aneh dari cara Saera memandangnya.


"Ada apa?"


"Siapa namamu?"


"Kau lupa? Sungguh? Padahal kita sering bertemu disekolah"


"Jangan bilang kau—. . .", gadis itu menutup mulut dengan tangannya kemudian melanjutkan, "Kau Jungkook? Sunbae yang sering membantuku itu?"


Asal kalian tahu, Saera sering menjadi sasaran para pembully setelah kejadian di UKS beberapa hari yang lalu dimana Jungkook memberikan kotak makanan yang diberikan oleh siswi-siswi itu padanya.


Anehnya, Jungkook selalu datang dan menolong di waktu yang sangat tepat sebelum para pembully itu bertindak lebih jauh lagi padanya.


"Itu memang aku"


"T–tapi, kenapa penampilanmu berbeda?"


"Ini wujud asliku."


"Jungkook sunbae rambutnya berwarna hitam, tapi kenapa sekarang rambutmu berwarna merah?"


"Aku mengubahnya ketika disekolah, tidak ada siswa sekolahan yang mewarnai rambutnya seperti rambutku"


"Ah jadi itu caramu beradaptasi?"


Jungkook mengendikkan bahu, "Bisa jadi."


"Kenapa belakangan ini kau sering muncul di dekatku?"


"Itu karena aku ingin melindungimu"


"Melindungiku?"


"—Maksudku. . . melindungi bayi yang ada di dalam dirimu."


Saera mengangguk paham


Gadis itu jadi teringat satu hal lagi


"Jung"


"Hm"


"Bagaimana jika temanku mengetahuinya?"