
Pernah tidak kalian menemui atau paling tidak mendengar berita bahwa ada seseorang yang pola perilakunya mendadak berubah akibat makan makanan basi?
Haerin mungkin menemui kejadian seperti itu sekarang.
Ya—menurutnya— tingkah Saera menjadi agak aneh hari ini akibat makanan kadaluarsa yang dikatakan Saera tidak sengaja termakan tadi malam.
Jadi begini kronologisnya. Tadi pagi, Saera baru saja duduk di kursinya dan Haerin hampir menepuk perut gadis itu. Hanya hampir, belum sampai menepuk karena Saera dengan was-wasnya langsung menahan tangan Haerin. Merasa ada sesuatu yang aneh, Haerin menanyakan ada apa dengan respon gadis itu. Saera mengatakan bahwa perutnya tadi malam sakit karena tidak sengaja memakan kornet kadaluarsa.
Dan dari tadi pagi sampai sekarang Saera terlihat seperti orang yang tidak punya semangat hidup. Melamun dan berkutat dengan pikirannya sendiri.
Yang benar saja.
Kadar kadaluarsa berapa tahun sampai-sampai membuatnya begini?, batin Haerin.
"Sae, ada masalah?", teguran itu menyadarkan sang gadis dari lamunannya. Saera balas menatap Haerin kemudian menggeleng pelan.
"Ayo ke kantin, aku lapar"
"Kau saja yang kesana, Rin. Aku sedang tidak berselera"
"Oh ayolah, kau benar-benar dalam masalah? Tidak perlu disembunyikan begitu"
Haerin menanti jawaban sang lawan bicara yang kini malah bungkam.
"Ada apa denganmu, Sae?"
"Kurasa aku punya sedikit masalah."
"Masalah apa?"
"Tidak sekarang, Rin. Aku belum bisa menceritakannya padamu. Maaf sebelumnya. Nanti akan kuceritakan padamu, aku janji."
Haerin menghela nafas, "Baiklah. Ada beberapa masalah yang tidak bisa kita ceritakan begitu saja kepada orang lain, aku memakluminya. Apapun masalahmu sekarang, jangan terlalu lama berlarut di dalamnya. Tidak baik untuk kesehatanmu, mengerti?"
Saera mengangguk kemudian terkekeh pelan, "Arraseo"
"Kalau begitu, temani aku ke kantin ya?"
"Yasudah, ayo"
Saera bangkit dari kursinya, disusul oleh Haerin.
Sepanjang perjalanan Haerin terus berceloteh tentang pemuda-pemuda tampan yang ia temui tempo hari. Saera menanggapinya seperti biasa. Tertawa, menanyakan seberapa tampannya dia, lalu berujung menggelengkan kepala.
Temannya yang satu ini benar-benar mudah gila oleh ketampanan seseorang.
Hah, andai saja Haerin melihat bagaimana visualisasi seorang Jeon Jungkook.
Eh, kenapa aku tiba-tiba memikirkannya, batin Saera.
"Sae-ya, lihat! Omo, dia tampan sekali!", Haerin mendadak antusias ketika melihat sosok yang berjalan berlawanan arah dengan mereka.
Awalnya Saera tidak perduli, tapi karena dorongan dari Haerin yang terus menerus menyikut lengannya membuat Saera mau tak mau menujukan pandangannya ke arah yang sama dengan Haerin.
Sosok itu seperti tidak asing lagi baginya.
Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan apakah sosok itu benar-benar seperti yang ada dipikirannya.
Seiring langkah mereka yang semakin dekat, barulah Saera menyadari.
Itu benar-benar Jeon Jungkook.
Rasa jengkel terselip di hati Saera ketika Jungkook berpapasan dengannya tanpa menatap balik ataupun menyapa. Saera tidak habis pikir, rupanya seorang Jeon Jungkook sangat tidak bertanggung jawab.
Bagaimana tidak, tadi malam pemuda itu pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya lalu sekarang dengan tidak tahu mukanya si Jeon itu bertingkah seolah-olah mereka tidak mengenal sama sekali.
"Haerin-ah, berhenti memujinya seperti itu"
"Waeyo?"
"Kurasa jika kau mengenalnya, kau akan membencinya"
"Memangnya siapa dia?"
———
Tidak mengerti.
Jungkook sungguh tidak mengerti.
Kenapa kalimat yang diucapkan gadis itu tadi malam cukup membuatnya kebingungan.
Dan ia memperparah situasi dengan pergi sebelum menjawab apapun pada gadis itu.
Tak mau berlama-lama mengaduk pikirannya sendiri, Jungkook beranjak dari tempatnya untuk menemukan si pemberi solusi dari semua masalahnya, Kim Taehyung.
Namun bukannya Taehyung, justru Saera–orang yang harusnya ia hindari untuk sementara ini– yang pemuda itu jumpai.
Jujur saja, Jungkook sebenarnya bingung harus bersikap seperti apa di depan Saera.
Apakah ia harus menyapa gadis itu dan menanyakan kabarnya? Tidak, ia rasa itu bukan ide yang bagus. Terlebih sekarang Saera sedang bersama temannya.
Opsi terbaik baginya saat ini adalah berlalu seperti biasanya. Tanpa ada urusan apapun
Jungkook lega karena Saera tidak menegur ataupun menyapanya saat berpapasan sehingga ia bisa melanjutkan misinya yaitu menemukan Taehyung.
Setelah berkeliling hampir ke seluruh penjuru sekolah, akhirnya ia menemukan Taehyung di area belakang sekolah. Dan sepertinya kali ini Taehyung tidak sendiri, ada seorang gadis bersamanya.
"Hyung!"
Keduanya menoleh saat menyadari kehadiran Jungkook disana.
"Jungkook?", raut wajah Taehyung terlihat menahan sesuatu saat Jungkook mendekati mereka berdua.
"Hei kau", Jungkook memberi isyarat agar gadis itu pergi dari sini namun sepertinya si gadis belum mengerti maksudnya.
"Nona, bisa tinggalkan kami berdua? Aku ada urusan dengan Kim Taehyung", ucap Jungkook.
Akhirnya si gadis mengangguk lalu berlari pelan meninggalkan Jungkook dan Taehyung yang sedang menahan emosinya, mungkin.
"Jungkook."
"Hyung."
"Jeon Jungkook!"
"Apa?"
"Apa yang kau lakukan?"
"Memangnya apa yang ku lakukan?"
"Kau baru saja melepaskan targetku, sialan."
Jungkook ber 'o' ria dengan wajah santainya, "Maaf. Kau bisa menemukannya lagi nanti"
"Memangnya ada urusan apa mendatangiku di sekolah begini?"
"Aku bingung, hyung"
"Apa yang kau bingungkan?"
"Saera mencemaskan sekolahnya"
"Maksudmu?"
"Maksudku saat perutnya membesar nanti"
"Saat perutnya membesar, kau bisa menyuruhnya untuk mengambil libur, Kook"
"Kurasa sekolah tidak bisa menerima libur tanpa alasan selama itu, Hyung"
"Benar juga"