
"Setelah ini, apa aku akan mati?"
Pertanyaan itu Saera lontarkan bukan tanpa dasar.
Haerin sudah pernah menceritakan sedikit tentang makhluk seperti Jungkook dan kemungkinan buruk yang akan terjadi padanya adalah mati.
Tapi itu menurut cerita Haerin, sekarang Saera ingin mengetahui jawaban sebenarnya dari makhluk itu sendiri.
"Tidak, kau akan tetap hidup"
"Benarkah?"
Jungkook mengangguk yakin.
Baiklah, pertanyaan gadis itu sudah terjawab.
"Giliran aku yang bertanya"
Saera mempersilakannya.
"Kau takut padaku?"
"Hmm pada awalnya aku memang takut pada ancamanmu karena ku pikir kau akan mencelakaiku, tapi tidak untuk sekarang"
"Kenapa?"
"Dibanding merasa terancam, aku malah merasa terlindungi"
Lelaki itu terdiam sejenak kemudian berucap, "Baiklah. Ayo tidur saja"
"Di sini?" Saera terbelalak melihat Jungkook yang sudah membaringkan tubuhnya di atas pasir.
"Tenang saja. Bajumu tidak akan kotor"
"O-oke"
Ia mencoba membaringkan tubuh perlahan namun kepalanya ditahan sebelum benar-benar menyentuh pasir. Jungkook mengulurkan tangan kirinya untuk dijadikan alas kepala gadis itu.
Akhirnya Saera berbaring dengan lengan Jungkook sebagai bantalnya. Ternyata posisi ini memberikan sensasi tersendiri baginya, bayangkan saja bagaimana jika kalian berbaring di hamparan pasir putih yang luas dengan langit malam yang bertabur bintang. Indah bukan?
"Aku belum pernah melihat langit seperti ini", gumam gadis itu.
"Kau suka bintang?" Jungkook bertanya setelah memperhatikan Saera yang terus menatap langit.
"Ya, mereka cantik"
"Aku tidak tertarik dengan bintang-bintang itu"
Saera menoleh, "Eoh? Kenapa?"
"Aku melihat yang lebih cantik di sini", Jungkook menatap gadis itu kemudian tersenyum.
Sial, pembual ini manis sekali.
Saera buru-buru memutus kontak mata mereka, ia takut jatuh lebih dalam lagi oleh tatapan itu.
"Ekhem, bagaimana kalau aku tidur? Apa aku akan terbangun di sini besok pagi?"
"Tentu tidak. Kau akan terbangun di kamarmu"
Raut wajah Saera terlihat sedikit kecewa, "Kalau begitu aku tidak mau tidur."
"Kau yakin?"
Gadis itu mengangguk yakin sembari melipat tangan, dengan sengaja melebarkan kedua matanya agar terlihat semakin menyakinkan.
"Tidurlah. Ini sudah malam", titah Jungkook.
"Tidak mau"
"Kenapa?"
"Ini adalah momen langka, aku tidak ingin melewatkannya begitu saja"
"Ingin ku ceritakan sebuah dongeng?"
"Tentu!" Saera menyetujui dengan antusiasnya.
"Ada satu orang laki-laki yang menghamili seorang wanita. Keduanya berpisah saat anak itu lahir dan lelaki itulah yang merawat anaknya. Ketika si anak mulai beranjak dewasa, lelaki itu kembali menghamili seorang wanita—"
"Wait, Jung. Kenapa sudah ada konflik di awal cerita? Kau tidak tahu caranya mendongeng dengan benar"
"Diam dan dengarkan"
"Maaf, kalau begitu lanjutkan"
Jungkook menghembuskan napas sebelum kembali melanjutkan dongengnya, "Berbeda dengan sebelumnya, kali ini lelaki itu benar-benar mendedikasikan hidupnya pada wanita itu. Ia sangat menyayanginya sampai lelaki itu sanggup menaruhkan nyawanya demi si wanita"
Sesaat Jungkook menghentikan dongengnya. Itu membuat Saera gemas lalu bertanya, "Apa yang terjadi dengan mereka?"
"Keduanya tewas setelah anak mereka lahir. Kemudian anak itu dibawa oleh anak dari wanita yang terdahulu dan dibesarkan olehnya. Selesai"
"Mengenaskan"
"Belum tertidur?" Jungkook pikir Saera sudah mulai memejamkan matanya.
"Dongengmu tidak membuatku mengantuk, Jung"
Jungkook meletakkan telapak tangan kanannya di atas dahi Saera.
"Apa yang kau lakukan?" Gadis itu pun melayangkan protes sebab tangan Jungkook menghalangi pengelihatannya.
"Diam saja"
Tangan lelaki itu perlahan turun menutupi area mata Saera dan ketika Jungkook menarik tangannya dari sana, Saera sudah terlelap.
Jungkook memandangi wajah gadis di sampingnya sambil berucap pelan.
"Maaf, Saera. Kau tidak bisa berlama-lama di sini"
—
Saera membuka matanya perlahan, ada suara kicauan burung di luar sana. Rupanya ini sudah pagi.
"Ah mimpiku indah sekali"
Ting. Tong.
Tunggu, apakah itu bunyi bel?
Ting. Tong.
Ia bergegas bangun dan turun dari kamar setelah bunyi bel itu terdengar untuk kedua kalinya.
Persetan dengan dirinya yang belum mandi.
Ceklek.
Pintunya di buka dan menampilkan seorang laki-laki—mungkin lebih tua dari Saera— yang tidak dikenal.
"Maaf mengganggumu pagi-pagi, Nona. Aku baru saja pindah hari ini", ucap lelaki itu sambil menyerahkan sebuah kotak makanan.
Oh, tetangga baru ternyata.
Saera menerima kotak makanan itu dengan senang hati, "Terima kasih. Rumahmu dimana? Kotak makanannya akan ku kembalikan"
"Tidak perlu, simpan saja untukmu"
"Benarkah? Terima kasih banyak. Jika kau punya kesulitan di sini jangan sungkan untuk meminta bantuanku"
Lelaki itu tertawa, "Terima kasih kembali, Nona. Kalau boleh tahu, siapa namamu?"
"Aku Lee Saera. Namamu?"
"Lee Taeyong. Senang berkenalan denganmu"
"Senang berkenalan denganmu juga, Taeyong-ssi"
"Baiklah, aku permisi dulu. Semoga harimu menyenangkan"
"Ya, kau juga. Sampai jumpa"
Saera menutup pintunya setelah Taeyong beranjak dari sana. Gadis itu membawa kotak makanannya ke dapur.
Ternyata isinya adalah kue beras, salah satu kesukaannya.
"Jangan dimakan"
Teguran itu, Jungkook yang mengucapkannya.
"Ini punyaku, Jung"
"Aku bilang jangan dimakan"
"Kenapa? Apa karena ini dari tetanggaku yang tampan itu lalu aku tidak boleh memakannya, begitu?"
Jungkook mendesis, "Bodoh sekali. Kemarikan kotak makanannya"
"Tidak mau", Saera memeluk benda itu, "Dia memberikannya padaku"
"Kau bisa membelinya kalau kau mau, Saera"
"Sana kau saja yang beli"
"Kemarikan"
"Jungkook!" Lelaki itu berhasil merebut kotak makanannya. Bisa Saera lihat bagaimana Jungkook membuang semua isi beserta kotak makanan itu ke tempat sampah di depannya.
"Kau tidak tahu apa yang dia masukkan ke dalamnya, bisa saja berbahaya"
"Tapi tidak sopan membuang pemberian orang begitu saja, Jung"
"Lagipula dia tidak memintamu untuk mengembalikannya, bukan?"
Saera mengerucutkan bibirnya, "Kau menyebalkan"
"Kau ceroboh", Jungkook membalas.
"Aish. Pergi sana! Aku tidak mau melihat mu hari ini"
—