
"Telah ditemukan mayat seorang gadis-"
Kedua alis Saera bertaut mendengar berita tersebut. Matanya yang menyipit tertuju pada layar kaca didepannya.
"-terdapat bekas cekikan. Hanya tersisa kartu identitas korban berinisial KY-"
"Tidak mungkin." Saera mematikan TVnya.
Berita pagi itu membuatnya bergegas pergi ke sekolah.
Di sepanjang perjalanan ia terus berdoa. Berharap sosok di TV tadi bukanlah Kim Yeona.
Saat kakinya sudah menginjak area sekolah, ia semakin dirundung rasa cemas ketika melihat banyak siswa-siswi yang bergerombol di mading sekolah.
Saera menepuk pundak orang di depannya, "Permisi, bisa katakan padaku apa yang sedang terjadi?"
"Mayat Yeona ditemukan."
Jadi benar?
Gadis itu membeku di tempat, masih berusaha mengontrol nafas serta pikirannya. Hanya sejenak, karena sedetik kemudian tubuhnya didorong seseorang dari belakang.
Pelakunya adalah teman- teman Kim Yeona.
"Ya. Kau yang membunuhnya?" Ucap Daeun dengan tatapan nyalangnya.
"Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu?" Saera membalas tatapan Daeun.
"Mudah saja. Kau dendam dengannya, bukan?"
Saera mendengus tak percaya, "Perlakuan kalian bukanlah apa-apa bagiku. Jadi untuk apa membalas dendam?"
"Ck, dasar tidak tahu diri."
Mereka berjalan menjauhi Saera, tidak lupa menyenggol tubuh gadis itu dengan sengaja.
Masa bodoh, untuk sekarang Saera lebih memilih tidak perduli.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Seseorang yang sepertinya ia kenal baru saja keluar dari kerumunan.
Dan benar, itu Kim Taehyung.
Pemuda itu hendak menjauh tetapi Lee Saera lebih dahulu mencegatnya.
"Ada apa?"
"Dimana Jungkook?"
---
Sesuai instruksi Kim Taehyung, Saera menemui Jungkook.
Pemuda itu ada di ruang musik sedang memainkan piano.
"Bisa bicara sebentar?"
Brak!
Pintu di belakang Saera mendadak tertutup sendiri.
Jungkook menghentikan permainan pianonya namun masih bungkam, terlihat enggan menjawab.
"Jeon-"
"Langsung saja." Jawabnya memenggal kalimat Saera. Sementara Saera masih terlihat berpikir.
"Kau. Membunuh Yeona?"
Hening.
"Jawab dengan jujur. Ku mohon."
"Menurutmu?"
Saera menelan ludahnya. Ia mengambil satu tarikan nafas panjang sebelum kembalu berucap, "Kenapa kau lakukan itu?"
"Masih bertanya kenapa?"
"Jung. . ."
"Aku hanya ingin melindungi-"
"Dia sudah berlebihan."
"Kau yang keterlaluan! Aku memang hampir celaka karenanya, tapi bukan berarti kau berhak membunuhnya. Kau pikir siapa dirimu? Menggunakan kuasamu untuk menghilangkan nyawa seseorang- Kau monster, Jung. Pembunuh."
"Sudah selesai? Silahkan keluar."
"Kedatanganmu sudah banyak menyulitkanku. Ku mohon jangan tambah mempersulit hidupku."
Setelah berucap demikian, Saera beranjak pergi.
Jungkook masih pada tempatnya. Pemuda itu membalikkan telapak tangannya, tersenyum pada luka gores di telapak tangannya.
-Flashback On.
Jungkook membongkar seisi dapur Lee Saera untuk menemukan sebuah alat pemotong.
Dan ia menemukan sebuah pisau.
Tanpa pikir panjang, Jungkook mengambil benda itu. Menyayat telapak tangannya sendiri dengan sangat tenang, bahkan saat darahnya sudah bercucuran keluar tidak ada sedikitpun ringisan yang keluar dari bibirnya.
Ia kembali ke kamar dimana Lee Saera terbaring. Tubuh gadis itu sudah berwarna pucat pasi. Jungkook segera duduk di sampingnya, membuka mulut Saera dengan tangannya dan membiarkan darah di tangannya menetes ke mulut gadis itu.
Setelah tetesan ketiga, tubuh Saera mulai kembali normal. Tidak pucat pasi seperti sebelumnya.
Syukurlah. Jika Jeon Jungkook terlambat sedikit saja, mungkin Lee Saera sudah meregang nyawa.
-Flashback Off.
"Bodoh." Gumam Jungkook.
Ia menutup telapak tangannya yang terluka tadi dengan tangan kanannya. Dan saat Jungkook menyingkirkan tangan kanannya, luka itu menghilang tanpa bekas.
---
"Apa sebangsa kalian memang melakukan itu?"
"Tidak. Ku pikir Jungkook sudah melewati batasnya." Taehyung kemudian menepuk kursi di sampingnya, menyuruh Saera yang daritadi mondar-mandir untuk duduk. Mereka sekarang berada di taman belakang sekolah.
Saera terduduk lemas di samping Taehyung, "Bagaimana jika polisi mencarinya?"
"Tidak akan."
"Kenapa tidak?"
"Kau lupa? Kami bukan manusia."
"Lalu?"
"Polisi tidak akan bisa mendapatkan jejaknya."
"Benarkah? Ah syukurlah."
"Saera."
"Hm?"
"Bagaimana jika kau mempunyai anak, lalu kau menemukan anakmu itu dipukuli orang lain hingga sekarat. Apa yang akan kau lakukan?"
"Ku pikir aku ingin membunuhnya saja."
"Itu yang Jungkook lakukan."
Saera terkesiap.
"Apa?"
"Aku ingin bertanya satu hal padamu-Bagaimana jika anak itu lahir, lalu setelah itu Jungkook meninggalkanmu?"
Gadis itu menghela nafas sejenak, "Aku akan kembali pada kehidupanku yang normal."
"Kau yakin?"
Telihat berpikir sejenak, Saera kemudian mengangguk, "Tentu. Sekarang aku mau permisi, sepertinya aku terlambat masuk kelas. Terima kasih sebelumnya."
Taehyung memandangi punggung Saera yang menjauh sambil bergumam, "Apa gadis itu sudah mulai jatuh cinta padanya?"
---