
"Aku duluan ya, Rin!"
"Kenapa buru-buru sekali?"
"Aku ingin ke toko ayam goreng, terlalu malas rasanya untuk memasak makan malam kali ini"
"Ah begitu. Baiklah, hati-hati di jalan!"
"Ne!"
Saera melesat pergi keluar dari kelas. Gadis itu berlari kecil sembari memeriksa jam di layar ponselnya.
Belum terlalu malam, pikirnya.
Masih banyak siswa yang berkeliaran di sekitar sekolah.
Jalanan ramai namun jauh dari tujuan atau jalan pintas sepi yang dekat dengan tujuan adalah pilihan untuk Lee Saera saat ini.
Ia berbelok ke kiri. Lebih memilih untuk efisien waktu dan tenaganya.
Saera pernah melewati jalan ini beberapa kali, tentu saja.
Gadis itu tidak perlu mengkhawatirkan apapun.
"Ya!"
Pekikan itu cukup membuat Saera terjingkat. Intensitas detak jantungnya mendadak naik, pandangannya ia edarkan kesekitar. Tidak ada siapa-siapa disini selain dirinya.
"Menjauhlah"
Suara darimana itu?
"Kumohon"
Saera mendekati sisi di sudut bangunan yang sepertinya menjadi sumber suara tersebut.
Ia mengambil ancang-ancang sambil mengintip apa yang sedang terjadi di balik bangunan tersebut.
Alarm tanda bahaya mencuat di kepalanya setelah melihat seorang siswi yang tengah dipojokkan oleh seorang pria.
Dengan gerakan pelan namun pengambilan langkah yang lebar, Saera terlihat seperti seekor hyena yang mengintai mangsanya. Tatapannya bertemu dengan tatapan si siswi yang terlihat ketakutan. Saera mengacungkan jari telunjuknya ke depan bibir, mengisyaratkan agar sang siswi tetap diam.
Saera melepas tas yang dipakainya, mengangkatnya tinggi kemudian . . .
BRUK.
"Argghhh"
Si pria tadi jatuh tersungkur akibat pukulan tas Saera yang mendarat di kepalanya.
Sedang siswi yang tadi sudah berlari menjauh setelah mendapatkan kode dari Saera agar segera pergi dari tempat itu.
Ia dengan tergesa mengambil tasnya yang digunakan untuk memukul kepala si pria tadi. Niat Saera ingin melarikan diri secepat mungkin sebelum pria itu bangkit, tapi tangannya sudah lebih dahulu ditarik sebelum ia sempat mengambil langkah.
"Mau kemana kau, ******** kecil?", Pria tadi bangkit berdiri kemudian menarik tangan Saera dan memojokkannya seperti siswi tadi.
Saera bungkam, ia hanya menatap horror ke wajah pria didepannya ini.
Penerangan lampu jalan yang minim membuat Saera sulit mengenali wajah pria kurang ajar di depannya.
Seringaian mengerikan tercetak diwajah pria itu, ia mengulurkan jarinya untuk mengelus helaian rambut Saera yang berantakan, "Apa kau tahu yang barusan kau lakukan itu sebuah kesalahan besar, nona cantik?"
Saera masih bungkam, ia terus memperhatikan gerak pria di hadapannya. Jemari itu terus turun dari ujung kepalanya menuju pundak dan berakhir pada name tag dibagian atas dadanya.
Pria itu terlihat menautkan alisnya sambil mengamati name tag Lee Saera dengan seksama.
'Lee Saera'
"Astaga!"
Pria itu tiba-tiba mengambil langkah mundur sambil menunjuk wajahnya.
Orang ini kenapa, pikir Saera.
"Kau orangnya?"
"Hah?", Saera menunjukkan raut super bingungnya.
"Jeon Jungkook, kau mengenalnya bukan?"
Nama itu lagi.
"Tidak"
"Bohong."
"Aku tidak-. . ."
"Apa?"
"Balikkan badanmu"
"Untuk apa?"
Saera memekik saat pria itu dengan kencang memegang pundaknya dan memaksanya membalikkan badan.
"Ternyata benar. Kau orangnya"
"Apa-apaan ini. Lepaskan aku!"
"Lepaskan dia, Taehyung"
Kedua orang itu sama-sama menoleh ke arah suara yang datang.
Taehyung melepaskan cengkramannya di pundak Saera, tersenyum meremehkan kemudian berkata, "Dasar bocah tengil, beraninya kau memanggil namaku begitu"
"Beraninya kau menyentuh gadisku begitu?"
Ingin sekali rasanya Saera memukul mulut sialan itu.
Gadisku katanya? Hah yang benar saja!
"Apa kau tahu, Jung? Gadismu ini baru saja bilang bahwa ia tidak mengenalmu. Bagaimana bisa ia menjadi gadismu?"
Belum cukup lama terkejut dengan apa yang dilontarkan oleh Taehyung, Saera kembali dikejutkan dengan aksi pria itu.
Taehyung merangkulnya.
Saera berusaha melepaskan diri, walaupun akhirnya tidak berhasil.
Sedang Jungkook di sana sudah mati-matian menahan tinjunya agar tidak melayang ke wajah tampan milik Taehyung.
"Hyung, jauhkan dirimu darinya"
"Tidak semudah itu. Dia baru saja melakukan sebuah kesalahan"
"Apa?"
"Menggangguku, mungkin? Kurasa dia harus kuberi pelajaran setelah ini"
"Bukannya aku juga pernah mengganggumu, hyung? Kau tidak membalas apapun padaku"
Rangkulan Taehyung mulai mengendur dan itu merupakan kesempatan bagi Saera untuk melepaskan diri.
"Baiklah, baiklah. Aku akan berbaik hati pada kalian kali ini. Lain kali, Jung. Kau bisa memberitahu gadismu ini agar tidak mengganggu urusan orang lain, menyusahkan saja."
Setelah kalimat penutup yang ia lontarkan, Taehyung beranjak pergi. Hanya tersisa Saera dan Jungkook yang saling membuang pandangan.
"Pulanglah. Lain kali kau harus berhati-hati", Jungkook memecah keheningan.
Gadis itu beranjak tanpa menjawab ucapan dari Jungkook
---
Sneakers yang digunakan Saera menghentak di jalanan dengan lumayan keras, moodnya mungkin agak sedikit berantakan karena kejadian tadi. Kalau bukan karena keharusan rasanya dia tidak akan mampir ke toko ayam dengan mood seperti ini. Makan saja sudah tak berselera.
Dan sekarang ia menemukan mobil terparkir di halaman rumahnya. Rupanya sang kakak sudah pulang.
Persetan kakaknya pulang atau tidak, tidak ada pengaruh sama sekali untuknya.
"Aku pulang", ucap Saera sambil melepas sneakersnya.
"Apa yang kau bawa itu?"
"Ayam"
"Oh."
Jimin mengamati tubuh Saera, "Kau sepertinya tambah gemuk"
Saera terdiam sejenak, "Benarkah?"
"Hmm. Terlihat seperti ibu yang sedang mengandung"
Oh. Ya Tuhan
Hancurlah mood Saera sekarang.
Ia menyerahkan kantong plastik di tangannya kepada Jimin, "Bisa taruh itu di dapur? Aku lelah, oppa bisa memakannya kalau mau"
Tanpa menunggu jawaban dari kakaknya, Saera sudah melenggang duluan pergi ke kamarnya
Why is this so annoying today?