Blood, Sweat, and Tears

Blood, Sweat, and Tears
Damned



Semuanya terjadi begitu cepat.


Rasanya baru detik yang lalu Saera berhasil merebut kemudinya. Dalam satu kedipan mata, tubuh gadis itu sudah berada di kolong jok mobil.


Apa ia sudah mati?


Tidak, kalau mati mana mungkin Saera merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia masih hidup.


Saera buru-buru bangkit dan mengabaikan rasa sakitnya. Situasi saat ini benar-benar mengerikan, kaca depan bagian kiri rusak parah. Gadis itu nyaris berteriak ketika melihat Taeyong yang tidak sadarkan diri di kursi pengemudi dengan wajah penuh darah. Airbag mobilnya memang bekerja, tapi lelaki itu melupakan sabuk pengamannya. Percuma saja.


Alarm tanda bahaya di kepala Saera masih terus berbunyi, gadis itu segera keluar dari mobilnya dan mencari tempat yang aman. Sedikit masuk ke hutan, tapi tidak terlalu jauh. Beruntungnya di sini tidak turun hujan dan cahaya bulan cukup menerangi sekitar.


Saera berhenti di samping semak belukar. Tungkainya lemas, badannya pun gemetar. Sementara hatinya terus meneriakkan satu nama, Jeon Jungkook.


"Apa yang terjadi?"


Tangis Saera pecah saat lelaki itu datang dan langsung memeluknya erat. Jungkook merasakan tubuh Saera bergetar hebat, membuat dirinya semakin kebingungan dengan apa yang terjadi.


"Hei, ada apa?"


Saera tak kunjung menjawabnya.


Jungkook menyadari di mana sekarang mereka berada, terlintas gambaran apa yang sudah terjadi.


Ada yang salah di sini.


Harusnya ia tahu lebih awal jika Saera dalam bahaya.


Lantas Jungkook melepas pelukannya, "Kau bawa ponselmu?"


Saera mengangguk pelan dengan kepala tertunduk, "Ada di mobil-aku tidak mau mengambilnya"


"Diam di sini, aku yang akan mengambilnya"


"Tidak", spontan Saera memegang tangan lelaki itu, "Aku ikut"


Jungkook akhirnya membiarkan Saera ikut dengannya. Mereka sampai pada mobil Saera yang terletak tidak jauh dari tempat tadi.


"Di mana kau meletakkannya?"


"Laci dashboard"


Tanpa ragu Jungkook masuk melalui sisi kanan mobil. Lelaki itu mengambil ponsel Saera yang ada di laci dekat kemudi dengan santai. Ia sama sekali tidak terkejut ketika melihat Taeyong, senyum sarkasnya justru mengembang.


"Beruntung kau sudah mati. Aku tidak perlu repot-repot untuk membunuhmu", kalimat itu menjadi penutup sebelum akhirnya Jungkook keluar dan menyerahkan ponsel di tangannya pada Saera.


"Panggil polisi"


"Apa?" Saera terkejut dengan ucapan Jungkook barusan.


Panggil polisi katanya?


"Kau tahu tempat ini di mana?"


Saera menggeleng.


"Panggil polisi, mereka akan datang dan membawamu pulang"


Jungkook akui, dirinya memang memiliki kemampuan berpindah-pindah tempat dengan sekali kedipan mata, tapi ia tidak bisa membawa raga Saera ikut bersamanya.


Dengan kata lain, tubuh itu akan tetap berada di sini saat Jungkook membawa rohnya pergi.


"Bagaimana jika aku ditangkap, Jung? Aku membunuhnya", gadis itu berucap dengan suara gemetar.


"Kau tidak membunuhnya, dia mati karena ulahnya sendiri"


Tapi lain bagi Saera, ia tetap berpikir bahwa ini adalah kesalahannya.


"Polisi akan bertanya apa yang terjadi-"


"Mereka tidak akan menghukum orang yang melakukan pembelaan"


Saera diam.


Matanya terus menatap Jungkook dengan ragu, haruskah menuruti perkataan lelaki itu?


Baiklah, sepertinya ia tidak punya pilihan lain.


Gadis itu menyalakan ponselnya dan mengetik sebuah nomor darurat di sana.


"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?"


Saera menggenggam tangan Jungkook dengan erat, "A-aku butuh bantuan"


"Siapa namamu, Nona? "


"Lee Saera"


"Ada kendala apa, Nona Lee? "


"Aku hampir diculik, sekarang aku tidak tahu ada di mana"


"Y-ya—mobil kami baru saja menabrak pohon, dia tidak sadarkan diri"


"Bisa beritahu kami di mana posisimu sekarang? "


"Aku tidak tahu pasti. Tapi di sekitar sini hanya ada pepohonan, mobilku ada di kiri jalan. Tidak ada kendaraan lain yang melintas"


"Baiklah, Nona Lee Saera. Tim kami akan sampai dalam 10 menit, silakan cari tempat yang aman sebelum tim kami sampai "


"Eumm. . .baiklah. Terima kasih"


Tut.


Rasanya Saera ingin menangis lagi.


"Maaf aku terlambat", ucapan Jungkook tersebut berhasil membuat air mata Saera kembali mengalir. Sejujurnya gadis itu kesal karena Jungkook tidak datang lebih awal, tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?


Saera hanya memeluk lelaki di depannya tanpa berucap apapun. Jungkook tahu bahwa Saera masih ketakutan, jadi ia membiarkan gadis itu menangis semaunya.


Hampir 10 menit berlalu, dan mereka belum bergerak dari tempatnya. Saera masih senantiasa memeluk Jungkook, namun sekarang tangisannya sudah mereda.


"Saera, aku harus pergi"


"Ke mana? Jangan pergi"


"Mereka datang"


Saera kemudian melepaskan pelukannya saat mendengar bunyi sirine khas mobil polisi mendekat. Ada 2 polisi yang datang, salah satunya langsung menghampiri Saera dan bertanya-tanya.


"Tolong ceritakan bagaimana kronologinya"


"Orang itu-tetangga baruku. Tadi aku memutuskan untuk membeli makanan di luar. Saat perjalanan menuju rumah makan, aku melihat mobil tetangga baruku berada di belakang mobilku. Aku mengetahuinya dari sticker yang tertempel pada kaca mobilnya, tapi aku tidak mengira bahwa ia sedang mengikutiku jadi aku tidak begitu memperhatikan kemana mobilnya pergi. Ketika aku selesai membeli makanan dan kembali masuk ke mobil, tiba-tiba dia sudah berada di dalam dan menahan kedua tanganku ke belakang lalu dia mengancam akan mematahkan tanganku jika aku berontak. Aku terlalu takut hingga tidak bisa berbuat apa-apa, dia juga menutupi separuh wajahku dengan kain. Beberapa menit setelah itu, aku merasa lemas dan pusing lalu tertidur. Saat terbangun aku tidak lagi berada di kursi pemudi melainkan di kursi penumpang. Aku panik dan menyuruhnya untuk menghentikan mobil, tapi ia tidak mengindahkan ucapanku jadi aku berusaha mengacaukan konsentrasinya. Ia ingin membanting setir ke kanan untuk membuatku terjatuh dan menjauh darinya, tapi aku sempat meraih kemudinya dan mengubah arahnya menjadi berlawanan lalu mobilku menabrak pohon itu"


"Apa ada kejanggalan sebelum kau masuk ke mobil?"


"Ku rasa ada. Seekor kucing tertidur di dekat ban mobilku"


"Kau apakan kucing itu?"


"Aku pindahkan ke pinggir parkiran"


"Apa kucing itu terbangun saat kau pindahkan?"


Saera menggeleng.


Salah satu rekan polisi di depannya mendekat ke mobil.


"Ia sudah mati", ucap rekannya setelah memeriksa kondisi Taeyong.


"Nona Lee Saera, apakah kau mengenal orang itu sebelumnya?"


"Tidak. Tapi dia sepertinya mengenal kakakku"


"Bisa hubungi kakakmu ke sini?"


"Tidak bisa, kakakku sedang dalam perjalanan bisnis"


Polisi itu mengangguk paham, "Baiklah, Nona. Kalau begitu kami akan mengantarmu pulang"



Jungkook jadi tidak karuan rasa.


"Hyung, kenapa diriku ini semakin aneh?"


Ya, jika kalian bertanya-tanya, Jungkook dan Taehyung sudah mengibarkan bendera perdamaiannya sejak beberapa jam yang lalu.


"Kau memang aneh, Kook"


"Aku serius, Hyung"


"Lalu, apa yang menurutmu aneh?"


"Saera dalam bahaya, tapi aku tidak bisa merasakan bahaya tersebut"


Inilah yang Taehyung takutkan dari dulu. Tapi Jeon Jungkook—lelaki itu terlalu keras kepala.


"Mungkin Asmodeus marah dan mengutukmu", Taehyung masih sedikit bercanda.


"Ck, siapa dia berani mengutukku. Ia bahkan dilahirkan oleh seorang Agrat"


"Hey, Asmodeus berhak mengatur kita"


"Aku tak sudi"


Hah, sudahlah. Menyerah saja Kim Taehyung.


"Terserah dirimu. Tapi sungguh aku katakan bahwa ini adalah peringatan untukmu, Jeon Jungkook"