
Hujan tiba-tiba turun malam ini, padahal tadi siang cuacanya lumayan cerah dan sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda akan turun hujan.
Memang, semesta kadang tidak bisa ditebak.
Namun yang menjadi masalah bagi Saera sekarang bukanlah hujan di luar melainkan bahan makanan yang habis di situasi seperti ini. Rupanya kesal dengan Jungkook membuat ia melupakan hal penting yang ada di rumah. Lihatlah, bahkan ia lupa makan. Menyedihkan sekali.
Saera mendekat ke jendela, mengintip di balik gorden untuk melihat intensitas hujan di luar sana.
Cukup lebat sepertinya.
Tapi akan sulit bagi gadis itu untuk tidur ketika lapar seperti ini, ia butuh makanan.
Tanpa pikir panjang Saera mengambil kunci mobilnya lalu pergi. Mau tidak mau, daripada ia harus jalan kaki di hujan lebat seperti ini.
Sebenarnya ini juga bukan mobil miliknya. Tapi Jimin memperbolehkan Saera untuk menggunakannya. Lagipula ia kan sudah mempunyai SIM.
Kini tujuan pertamanya adalah mencari tempat makan terdekat, baru setelah itu belanja ke supermarket.
Saera melihat ke arah spion saat mobilnya hendak memasuki jalan raya , di belakang sana ada sebuah mobil yang menarik perhatiannya. Terlihat seperti mobil milik tetangga barunya.
Ya, Saera bisa menyimpulkan bahwa mobil tersebut milik tetangganya karena sticker pada kaca depan mobil yang berada di belakangnya sama seperti sticker yang ada pada kaca mobil Lee Taeyong . Mengingat siang tadi Saera pergi ke rumah lelaki itu untuk memberikan paket yang dititipkan kepadanya karena Taeyong tidak ada di rumah saat kurir mengantarnya. Jadi ia tidak sengaja melihat mobil yang terparkir di depan rumah tetangganya itu.
Tiba-tiba terbesit sebuah pertanyaan di kepalanya.
Mau kemana dia?
Entahlah, Saera pikir itu bukan urusannya.
.
Akhirnya ia sampai di tujuan utamanya, yaitu rumah makan.
Saera memesan Miyeokguk. Ini memang bukan hari ulang tahunnya, tetapi tiba-tiba saja dirinya ingin makan sup rumput laut itu.
Dulu ibunya sering memakan Miyeokguk saat mengandung. Katanya sup ini bagus untuk wanita hamil.
Mengingat itu membuat Saera tersenyum geli.
Ia kembali menyuap makanannya sambil bernostalgia. Banyak hal yang terjadi selama hidupnya. Dimulai dari ibu kandungnya yang meninggal ketika melahirkan calon adiknya, Saera yang saat itu masih belum banyak mengerti lantas bertanya-tanya kemana perginya sang ibu dan adik.
Kemudian ayah Saera yang menikahi Nona Park, ibunya Jimin.
Kalau dipikir-pikir, hubungannya dengan Nona Park terbilang cukup baik. Tidak ada saling membenci di antara keduanya. Nona Park juga bersikap baik padanya, benar-benar baik. Hanya saja Jimin—sudahlah, mungkin memang sifat asli Park Jimin seperti itu. Saera memakluminya.
Sayangnya pernikahan mereka tidak berlangsung lama, Nona Park bernasib sama seperti ibu kandungnya.
Lalu setelah itu ayahnya memutuskan untuk tidak menikah lagi. Hingga takdir kembali membuat Saera kehilangan, ayahnya meninggal saat tahun pertama gadis itu bersekolah di SMA.
Dirinya memang sempat terpuruk. Namun dengan berjalannya waktu, Saera akhirnya terbiasa menanggung semuanya sendiri.
Ia akui, ayahnya membesarkan Park Jimin dengan hebat hingga lelaki itu mampu menggantikan ayahnya di perusahaan. Tapi sayang, Jimin tidak bisa menggantikan posisi ayah di hidupnya.
Baiklah, sudah cukup untuk menggali luka lama. Saera harus pergi sebelum malam semakin larut karena setelah ini ia harus ke supermarket.
Gadis itu bergegas pergi setelah suapan terakhir. Tenang, ia tidak lupa untuk membayar terlebih dahulu.
"Eoh? Apa yang kau lakukan di sini", Saera berjongkok untuk mengambil kucing tersebut.
"Untung aku melihatmu", bulunya oranye mencolok jadi Saera bisa melihat kucing itu sebelum terlanjur melindasnya. Ia lantas membawa kucing tersebut ke pinggir parkiran dan meletakkannya di sudut yang aman dari kendaraan sebelum kembali ke mobilnya.
Ketika ia masuk ke mobil dan ingin memasang sabuk pengaman, perasaan Saera mendadak aneh. Seperti ada orang lain di dalam mobilnya.
Dan benar saja, tiba-tiba kedua tangannya di tarik ke belakang. Bahkan belum sempat ia berteriak, mulutnya terlebih dahulu dibekap menggunakan kain.
Saera mencoba berontak dengan menggerakkan tubuh serta menggelengkan kepalanya, tapi cengkraman orang itu terlalu kuat. Tangannya justru semakin ditarik ke belakang.
"Berontak maka akan ku patahkan tanganmu"
Tunggu, Saera mengenal suara ini.
Ia mendongak, mencoba untuk melihat siapa orang kurang ajar yang berani menyelinap ke mobilnya. Tapi tidak terlalu jelas karena kepalanya ditahan, yang Saera lihat orang itu memakai masker dan topi hitam.
Takut. Takut sekali sampai rasanya Saera ingin menangis. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga napasnya ikut memburu, tangannya pun mulai terasa sakit.
"Kau tahu? Harusnya aku tidak perlu repot-repot begini untuk menghabisimu"
Apa katanya?
"Rupanya kau tidak memakan pemberianku pagi tadi"
Sialan, jadi ini Lee Taeyong?
Lelaki itu mengikutinya kesini?
"Tapi tidak apa-apa, aku jadi punya waktu untuk bermain-main dengan adik tiri Park Jimin. Terima kasih berkat kucing itu, ia memudahkanku untuk masuk"
Saera mulai kebingungan, otaknya mendadak tidak bisa menyerap apa yang dikatakan lelaki itu barusan.
Demi apapun ia tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya. Perlahan ototnya terasa melemah, matanya berat, dan kepalanya pusing. 5 detik kemudian akhirnya Saera benar-benar kehilangan kesadarannya.
Sementara Taeyong yang menyadari hal itu langsung melepas cengkramannya kemudian memindahkan tubuh Saera ke kursi belakang dan dirinya mengambil alih kursi kemudi. Lelaki itu menjalankan mobilnya pergi dari sini, menginjak gas dengan tergesa karena harus bergerak cepat sebelum Saera kembali sadar.
Sekitar 30 menit perjalanan, mereka sampai di kawasan jalan yang dikelilingi oleh hutan. Itu berarti Taeyong sudah membawanya jauh dari kota.
Beberapa kali muncul pergerakan kecil dari tubuh Saera sebelum akhirnya ia kembali sadar. Butuh sedikit waktu baginya untuk mengingat situasi yang sedang terjadi.
"Ya! Hentikan mobilnya, sialan!"
"Diam!!"
"Aku bilang hentikan!" Saera bergerak bar-bar mengacau Taeyong yang sedang mengemudi. Mulai dari menutup mata lelaki itu, menjambak rambutnya hingga berusaha merebut kemudi.
Tentu saja arah mobil mereka mulai tidak terkendali, beruntung tidak ada kendaraan lain di sini.
Taeyong bersikeras menjalankan mobilnya sambil terus menampik tangan Saera yang mengganggu. Lelaki itu berniat membanting stir ke kanan agar Saera terjatuh, tapi dengan sigap Saera merubah arah stirnya ke arah berlawanan.
Dan na'as, mobil mereka menabrak pohon yang ada di kiri jalan.
—