Blood, Sweat, and Tears

Blood, Sweat, and Tears
Epilog



Cambion, anak hasil persilangan antara manusia dengan Incubus.


Sejak lahir mereka tidak memiliki detak jantung seperti manusia, tidak bernapas, juga cerdas. Sifatnya benar-benar menurun dari orang tua mereka yang merupakan seorang iblis. Dan kebanyakan cambion generasi ini adalah laki-laki.


Namun berbeda halnya dengan cambion yang satu ini.


Kembali pada 6 tahun yang lalu, ia menangis saat pertama kali dilahirkan. Jeon Saeron merupakan cambion perempuan, memiliki detak jantung dan bernapas layaknya manusia. Padahal belum waktunya bagi makhluk itu untuk menunjukkan sisi manusianya.


Bayangkan bagaimana Jeon Jungkook kebingungan saat menyadari anaknya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda seorang iblis.


"Huwaaaaa, Ayah . ."


Bahkan Saeron selalu menangis saat Taeil yang merupakan anak Taehyung itu menggodanya.


"Kenapa lagi, sayang?"


"Taeil menggigit jariku huwaaa"


Kelakuan anak itu memang seperti setan, persis ayahnya.


"Astaga. Terasa sakit, hm?" Jungkook mengusap jari-jari Saeron dengan lembut, gadis kecil itu mengangguk dengan berlinang air mata.


Lantas Jungkook menggendong tubuh mungil Saera dan membawanya menjauh dari Taeil.


"Ayah, Ayah!" Saeron menarik-narik baju yang dipakai Jungkook, jarinya menunjuk ke arah balkon, "Aku mau lihat ke situ!"


Lelaki itu menuruti keinginan anaknya, dan di sana Saeron melihat ke sekitar balkon dengan sangat antusias.


"Lihat, Ayah! Ada seseorang di sana!"


"Huh?" Pandangan Jungkook mengikuti telunjuk Saeron yang mengarah pada pekarangan kastil. Alisnya pun terangkat, "Bagaimana bisa-"


Jungkook menurunkan Saeron dari gendongannya, ia berjalan mendekat ke tepi balkon untuk melihat siapa yang ada di bawah sana.


Demi apapun, Jungkook pikir sepertinya ia cukup sehat untuk mengenali orang itu.


"Sial, kenapa dia bisa ada di sini"


Langkahnya terhenti saat menyadari bahwa Saeron masih di sini, Jungkook berbalik dan mengajak Saeron untuk kembali ke kamarnya dengan alasan ia akan mengantarkan orang itu pulang.


Dengan setengah berlari, Jungkook keluar dari kastilnya lalu menghampiri sosok wanita tersebut.


"Nona, apa yang sedang kau lakukan di sini?"


"Umm maaf sebelumnya, tapi aku tersesat di sini saat melakukan kegiatan kampus"


"Bagaimana bisa?"


"Entahlah-aku pikir sebelumnya aku tertidur"


"Begitu rupanya", Jungkook melihat wanita itu membawa ponselnya di tangan, "Benda itu-"


"Ponselku tidak bisa digunakan sama sekali, sebenarnya tempat apa ini? Apa kau tahu jalan pulang? Bisa kau tunjukkan padaku?"


"Tentu. Kau bisa ikut denganku"


"Benarkah?! Astaga. Terima kasih! Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika tidak bertemu denganmu"


Jungkook terdiam sejenak sambil memandang wanita itu.


Batinnya mengucap satu kalimat.


Mungkin akan lebih baik.



Setelah urusannya selesai, Jungkook kembali ke kastilnya. Baiklah, lebih tepatnya, ia kembali menghampiri Saeron.


"Ayah sudah mengantarkan dia pergi?"


"Sudah, sayang"


Jungkook melangkah dari ambang pintu menuju pada Saeron yang duduk di tepi ranjangnya, "Ada apa dengan wajah cantikmu, hm?"


Bibir Saeron yang daritadi menekuk menimbulkan pertanyaan bagi lelaki itu, apa yang salah? Apa karena ia pergi terlalu lama?


"Ayah"


"Ya?"


"Apa aku punya ibu?"


Kalimat itu membuat Jungkook membeku seketika.


Pertama-tama, para Incubus tidak pernah memberi tahu apa-apa soal ibu dari anak-anak mereka, sehingga para cambion pada dasarnya tidak tahu apa itu 'ibu'.


Namun kembali pada permasalahan awal, Saeron itu berbeda.


"Kau tahu apa itu ibu?"


Gadis kecil itu menggeleng pelan.


Jungkook kembali bertanya, "Lalu?"


"Melihat orang yang tadi memunculkan kalimat ibu di otakku, Ayah"


Tidak ada jawaban lagi dari sang ayah.


"Ayah, apa itu ibu?"


"Ibu?" Jungkook mengulang ucapan anaknya, "Mereka adalah manusia"


"Apa mereka jahat?"


Lelaki itu menaikkan bahu, "Mungkin ada beberapa"


"Ayah tahu? Bagaimana dengan yang tadi? Apakah dia orang jahat?"


Pertanyaan Saeron yang dibumbui dengan antusiasme membuat Jungkook menahan gemas. Ia pun menjawab sambil terkekeh, "Tidak. Dia orang yang baik, sangat baik"


"Benarkah?? Aku mau bertemu dengannya, Ayah!"


"Huh?"


"Ayah bisa mempertemukanku dengan ibu?"


Demi setan dalam dirinya, hati Jungkook berdesir saat mendengar Saeron memanggil wanita tadi dengan panggilan ibu.


Sebab, orang itu adalah Lee Saera.


Jungkook bergegas menegakkan badannya kemudian mengelus puncak kepala Saeron sambil tersenyum, "Kalau begitu, Ayah harus berbicara dengan Paman Taehyung dulu, ya?"



"Apa kau bilang?"


"Hyung, kau juga lihat sendiri. Saeron sepertinya bukan cambion, dia anak manusia"


"Maksudmu, kau juga manusia? Begitu?"


"Jika aku dikutuk, mungkin jawabannya adalah iya"


"Lihat siapa yang tengah berhalusinasi menjadi manusia karena pernah dibutakan oleh cinta"


Jungkook mulai tersulut emosi, "Jaga ucapanmu"


"Dengar, Jeon Jungkook. Aku tahu kau adalah iblis yang keras kepala, tapi biar ku beri tahu kemungkinan besar yang akan terjadi jika kau menuruti keinginan anakmu. Saera tidak mengenal kalian berdua, dia tidak akan ingat bahwa ia sudah melahirkan seorang anak dari setan yang bernama Jeon Jungkook"


"Ck, yang benar saja"


"Mau menyangkalnya?"


Memang, apa yang dikatakan Taehyung itu ada benarnya.


"Aku rasa tidak, hyung"


"Baguslah"


Sudah cukup, Jungkook beranjak dari tempatnya dengan sedikit kesal.


Walaupun sudah meyakinkan diri berkali-kali, lelaki itu tetap mempertimbangkan apa yang ada pikirannya.


Haruskah ia menemui Lee Saera?


Apakah gadis itu benar-benar melupakannya?


Entahlah. Jungkook bahkan tidak tahu.


Ia memutuskan untuk berkeliling sebentar. Tempat pertama yang Jungkook datangi adalah padang rumput di mana danau tempat tinggal Hydra berada.


Sebenarnya Jungkook jarang kemari, hanya saja—tempat ini punya kenangan.


Mengingat bagaimana bahagianya Saera dahulu membuat lelaki itu ingin membawanya kembali.


Terkadang Jungkook berpikir, sungguh tidak adil karena hanya ia yang hidup dengan kenangan. Sementara Saera bisa menjalani harinya dengan tenang tanpa mengingat apapun yang berhubungan dengan Jeon Jungkook.


Tidak. Kali ini Jungkook tidak berbohong.


Ia merindukannya.


Jungkook bisa saja kembali ke dunia manusia dan menemui Saera. Tapi ia tidak mau melakukannya.


Kembali dari lamunannya, Jungkook berpindah ke tempat lain.


Ya, Pantai Siren.


Sampai di sana, ia dikejutkan oleh sosok wanita yang berdiri di tepi pantai.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Jungkook menghampirinya dan semakin terkejut saat mengetahui bahwa wanita itu adalah Saera.


"Oh? Kau lagi ", berbeda dengan ekspresinya kemarin yang kebingungan, kali ini Saera lebih tenang. Seperti—ia sudah mengenal tempat ini.


"Aku bertanya apa yang kau lakukan"


"Tidak ada. Aku hanya mampir, apa tidak boleh?"


"Pulanglah atau kau tidak akan bisa pulang"


"Aku memang tidak bisa pulang"


"Maksudmu?"


"Aku tersesat"


"Bukankah kemarin aku sudah menunjukkan arah jalan pulang untukmu?"


Saera hanya diam.


"Apa perlu ku antar lagi?" Tawar Jungkook.


Tetap tidak ada jawaban.


Gemas setengah mati, Jungkook lantas menarik lengan wanita itu, "Ayo"


"Jungkook"


Apa?


Barusan Saera memanggil namanya?


"Kau tahu namaku?"


Saera mengangguk perlahan, "Kau melupakanku, ya?"


Sial.


Jungkook bingung harus menjawab apa.


"Tidak apa", Saera melanjutkan kalimatnya, "Kau tidak perlu mengingatnya"


"Jelaskan padaku bagaimana kau bisa datang ke tempat ini"


Senyum terukir tipis di bibir Saera sebelum akhirnya wanita itu mengangkat bahunya, "Entahlah"


Jungkook masih senantiasa memegang lengan Saera, ia menghadapkan tubuh Saera ke arahnya.


"Kau tertidur lagi?"


Saera menggeleng.


"Lalu?"


"Aku sudah mati"


"Apa?"


"Ya, aku sudah mati dan aku tersesat di sini"


Jungkook terdiam, namun tatapannya mengisyaratkan kebingungan dengan apa yang Saera katakan.


"Kau melupakanku, Jung?"


"Tidak"


Jawaban yang cukup mengejutkan.


"Aku tidak lupa"


"Lalu, siapa aku?"


"Saera", Jungkook menatap manik mata wanita itu, "Lee Saera"


"Bagaimana kau bisa mengingatku?" Giliran Jungkook yang bertanya.


"Aku tidak pernah lupa sejak awal"


"Apa yang sebenarnya terjadi", Jungkook bergumam.


"Memangnya kenapa?"


Bukannya menjawab, Jungkook kembali bertanya, "Apa kau mati setelah melahirkan?"


"Tidak. Aku masih hidup setelah itu"


"Lalu?"


"Aku hidup dengan normal dan berhasil masuk ke universitas. Namun ternyata hidupku tidak sepanjang itu"


"Kemarin saat aku mengantarmu pulang—"


"Saat itu aku tidak benar-benar pulang, aku hanya berpura-pura karena ku pikir kau tidak mengingatku lagi"


"Aku masih tidak percaya, kenapa kau masih bisa hidup bahkan bisa mengingat semuanya"


"Kenapa kau pergi dan membiarkanku sekarat waktu itu?"


"Tidak, Saera. Aku tidak pergi. Saat itu aku menunggu di balik pintu dan memikirkan apa yang akan aku lakukan"


"Aku membuang kantong darah yang kau berikan"


"Itu bukan darahku"


"Apa?"


"Karena kau membuangnya, aku memberikan darahku"


"Jadi—"


"Aku kembali masuk ketika kau sudah tidak sadarkan diri dan anakku sudah lahir. Saat itu aku mengubah keputusanku"


Kini Saera menemukan titik terang mengapa arwahnya tidak diterima untuk berpulang, ternyata darah seorang iblis mengalir di tubuhnya.


"Jung"


"Hm?"


"Kau tahu apa itu jodoh?"


"Apa?"


"Jika jodoh tidak bisa bersatu di dunia, maka mereka akan bersatu di kehidupan berikutnya"


"Aku tidak pernah bilang bahwa aku cinta padamu"


"Memang, tapi tatapan matamu mengatakan hal itu"


Jungkook tidak menjawab, namun ia tersenyum. Begitu juga dengan Saera.


"Kau tidak akan menyesalinya?"


Saera menggeleng, "Untuk apa menyesal? Semua ini bagian dari takdirku, termasuk dirimu"


Hening sejenak.


"Lee Saera"


"Ya?"


"Aku mencintaimu"


Senang sekali pada akhirnya Saera mendengar Jungkook mengatakan kalimat itu secara langsung.


"You have me, Jung"


Tangan Saera digenggam dengan erat oleh Jungkook, "Apa rencanamu sekarang?"


"Aku akan menghabiskan waktuku dengan Jeon Jungkook dan Jeon Saeron, aku merindukan kalian"


Jawaban Saera membuat Jungkook tersenyum, "Ingin bertemu dengannya?"


"Tentu"


"Saeron menanyakan dirimu, kau tahu"


"Benarkah? Apa kau membesarkannya dengan baik?"


"Tentu. Dia tumbuh menjadi anak yang baik dan cantik, persis seperti ibunya"



What if we rewrite the stars?


Say you were made to be mine


Nothing could keep us apart


You'd be the one I was meant to find


- Zac Efron & Zendaya


FIN.