
bacanya pelan-pelan :)
—
Jeon Jungkook ternyata tidak main-main dengan ucapannya.
Katakanlah hari ini mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama. Seharian ini Saera menyuruh lelaki itu membantunya melakukan beberapa pekerjaan rumah yang biasa ia lakukan sendiri demi membuktikan sejauh mana keahlian Jungkook dalam bidang manusia.
Setelah semuanya selesai, Saera tidak meragukannya lagi. Lelaki itu memang terampil.
Kegiatan terakhir yang ingin Saera lakukan sekarang adalah pergi ke kamar dan merebahkan tubuhnya pada benda persegi panjang yang memiliki gaya gravitasi itu.
Saat punggung gadis itu sudah menyentuh permukaan ranjang, Jungkook berjalan menghampiri dan ikut bergabung di sebelahnya.
"Kau lelah?" Tanya Saera
"Sedikit"
"Hehe terima kasih sudah membantu ku seharian ini"
Jungkook tersenyum kecil kemudian memeluk tubuh Saera, "Apa aku diizinkan begini?"
"Sebenarnya, tidak. Tapi aku pikir Saeron menyukainya"
"Kau bisa merasakannya?"
Saera mengangguk, "Sekarang aku merasa seperti punya dua hati"
"Benarkah?"
Tangan Jungkook mulai menyelinap masuk ke dalam piyama Saera. Gadis itu bergerak tidak nyaman karena ulahnya, "Jung. . ."
"Kenapa? Aku juga ingin merasakannya", Jungkook meletakkan tangannya di atas perut sang gadis.
"Itu—geli."
Bukannya berhenti, Jungkook malah mengelusi perut Saera dengan gerakan sangat halus yang membuat gadis itu menahan nafasnya.
Tidak ada seorangpun selain Jungkook yang menyentuhnya seperti itu, tentu saja hal ini aneh bagi Saera. Tapi tidak berlangsung lama, rasa aneh itu perlahan berubah menjadi rasa nyaman. Entah sihir apa yang Jungkook miliki hingga membuat Saera dengan mudahnya menerima perlakuan lelaki itu.
Lee Saera sepertinya sudah jatuh pada pengaruh seorang Jeon Jungkook.
Tidak peduli betapa benci dirinya dulu pada Jungkook, yang Saera tahu sekarang adalah bahwa ia merasa dicintai. Perasaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan, Jungkook memberikan semua itu.
"Tidurlah", ucap Jungkook. Sebab dari tadi ia memperhatikan Saera yang berusaha menutup matanya.
Perlahan Saera mulai memasuki dunia mimpinya.
Jungkook tetap terjaga selama belasan menit untuk memastikan bahwa Saera sudah benar-benar terlelap. Setelah dirasa tidak ada pergerakan lagi, ia perlahan menyingkir dari tempatnya dan menyelimuti gadis itu sebelum pergi meninggalkannya.
.
Malam ini, Jungkook pikir tidak masalah jika ia sedikit bermain-main.
Lihatlah apa yang sekarang lelaki itu perbuat di kamar salah satu gadis yang ia temui di minimarket tadi pagi.
Jungkook bersimpuh di samping tempat tidur gadis itu, "Apa kau tahu kesalahan yang kau lakukan?"
Nampaknya gadis itu sangat ketakutan. Tentu saja, siapa yang tidak takut saat tiba-tiba ada orang tidak dikenal yang menyelinap ke kamar? Sekalipun itu pria tampan.
Tapi sayang, ia tidak dapat berkutik. Berteriak saja tidak bisa, padahal batinnya menjerit berdoa agar siapapun datang menolongnya saat ini juga. Sedang Jungkook tersenyum puas melihat raut ketakutan dari wajah gadis itu.
"Setelah ini kau dan temanmu itu harus lebih berhati-hati. Beruntung karena kalian masih kekanakan, jika tidak—aku akan berbuat lebih dari sekedar menakutimu"
Setelah berucap demikian, Jungkook bangkit dari posisinya. Berniat untuk menyudahi permainannya untuk malam ini.
Kali ini lelaki itu memutuskan untuk kembali ke tempatnya.
"Dari mana saja kau?" Ia langsung disambut oleh pertanyaan dari Taehyung.
"Bukan urusanmu, Hyung"
"Hei, aku sedang bicara denganmu", Taehyung agak kesal karena Jungkook terlihat mengabaikannya.
"Apa?"
"Aku bilang, aku sedang bicara denganmu"
"Kalau begitu silakan bicara"
"Kenapa kau tiba-tiba meninggalkanku tadi pagi?"
"Ada urusan"
"Pasti terjadi sesuatu, bukan?"
"Kenapa tiba-tiba membicarakan hal ini?"
"Jangan balas bertanya"
"Memang, dan itu urusan ku"
Taehyung mendengus pelan, "Biar ku tebak, kau mencelakai orang lagi?"
Jungkook menggeleng dengan enteng, "Tidak"
"Lalu? Aku yakin kau baru saja berurusan dengan manusia lain"
"Aku tidak mencelakai siapapun. Hanya memberi sedikit pelajaran"
"Jeon Jungkook, bisakah kau berhenti bertindak bodoh?"
"Apa maksudmu?"
"Tindakan yang kau lakukan itu bisa saja berakibat buruk dan mereka akan mengetahui keberadaan kita"
"Tidak akan. Lagipula aku sudah membungkamnya"
"Kau percaya pada manusia?"
Jungkook diam, untuk pertanyaan yang satu itu—ia tidak bisa menjawabnya.
"Lihat kau bahkan tidak bisa menjawabnya. Bagaimana aku bisa yakin hal itu tidak akan terjadi?" Taehyung melanjutkan kalimatnya.
Dan itu membuat Jungkook mulai geram, "Sudah ku bilang ini urusan ku. Jangan ikut campur"
"Lalu kau akan membiarkan Saera dan anakmu celaka akibat ulah mu?"
"Tentu saja tidak. Aku yang akan menjaganya"
"Ck, apa kau benar-benar jatuh cinta pada manusia itu? Bagaimana bisa? Sungguh, ini sulit dipercaya"
Jungkook menarik nafas sejenak, "Mungkin memang begitu. Tapi setidaknya, Saera menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri, dia jauh lebih baik daripada Jooyoung yang sekarang aku yakini sedang meraung-raung menangisi anak itu dan mungkin berusaha membunuhnya"
Sudut bibir Jungkook sedikit terangkat, tangannya bergerak menepuk pundak Taehyung yang terdiam.
"Kau punya masalah sendiri. Itu urusanmu, Hyung"
—