
Saera dulu pernah berharap kehadiran seseorang yang bisa menyambutnya saat bangun tidur.
Apa harapannya tersebut kali ini bisa dibilang terkabul? Mungkin iya.
Sebab ketika gadis itu membuka mata, ada seseorang yang mengisi ruang kosong di tempat tidurnya sekarang.
Orang itu adalah Jeon Jungkook.
Demi apapun rasanya Saera ingin tersenyum karena mata itu terus menatapnya tanpa henti.
"Berhenti menatapku seperti itu, Jung"
Jungkook hanya tersenyum geli, tahu bahwa gadis di depannya berusaha untuk tidak terlihat salah tingkah.
Melihat senyuman itu justru membuat Saera semakin kalang kabut dan memilih untuk menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
"Bangun. Ini sudah pagi. Pakai bajumu", ucap Jungkook seraya menyibak selimut yang digunakan Saera. Dengan gerakan kilat, Saera menarik benda itu kembali untuk menutupi tubuhnya.
"Ya! Jeon Jungkook!"
Jungkook terkekeh, "Masih belum bangun?"
Saera menggeleng kemudian menarik selimutnya sampai atas kepala, "20 menit lagi"
Betapa terkejutnya gadis itu saat selimutnya mendadak ditarik paksa lalu dibuang ke lantai setelah ia mengucapkan kalimat tersebut.
Oke, mungkin yang lebih mengejutkan adalah Jungkook yang tiba-tiba berada di atas tubuhnya.
Lelaki itu menyeringai, "Jika kau tetap di sini, itu artinya kau siap untuk penyerangan kedua"
"Apa maksudmu?"
"Lihatlah, kau bahkan belum mengenakan apapun. Apa ini disengaja?"
Saera menggeleng cepat, "Tidak. Tadi aku menutupinya dengan selimut tapi kau menyibaknya"
"Aku menyuruhmu untuk bangun dan memakai pakaianmu, sayang. Kau menolaknya, berarti—"
"Baiklah, baiklah, baiklah. Aku akan pakai bajuku. Sekarang menyingkirlah"
Kalian tahu, Jeon Jungkook tidak akan pergi dengan mudah.
.......
Sepertinya hari ini Saera tidak ingin banyak membuang tenaganya.
Ia terkena demam tepat sehabis mandi.
"Temani aku~"
Ya, Jungkook harus sabar menghadapi rengekan gadis itu tentunya.
Saera bergelung dengan selimut sambil menyenderkan tubuhnya di sofa. Padahal Jungkook sudah berulang kali menegurnya agar tidak memakai selimut tebal, tapi masa bodoh. Menurutnya lebih nyaman seperti ini.
"Saera, kau butuh istirahat", Jungkook mendaratkan bokongnya di samping gadis itu.
"Tidak mau"
Saera bersikukuh untuk menonton acara televisinya.
"Tubuhmu semakin panas"
"Ini hanya demam, Jung"
Baiklah, Jungkook kembali mengalah dan memilih untuk diam.
"Kau tidak bisa menyembuhkan demamku?"
"Kenapa? Lihat, kau bahkan bisa menghilangkan luka di tanganku dengan sekejap", gadis itu berucap dengan antusias sembari menyodorkan lengannya.
"Aku ini bukan dokter"
"Memangnya dokter yang menyembuhkan? Tidak. Dokter hanya mendiagnosis lalu memberikan obat"
Demi apapun, kenapa Saera jadi cerewet seperti ini?
"Lee Saera"
"Apa?"
"Kenapa kau melakukan itu?"
"Melakukan apa?"
"Menyayat tanganmu sendiri"
"Ah, itu. . ."
"Kenapa kau melakukannya?"
"Itu—", Saera menggantungkan kalimatnya. Haruskah ia memberitahu Jungkook soal ini?
Entahlah, bahkan gadis itu berpikir bahwa alasannya juga tidak masuk akal. Memang Jungkook akan menerimanya?
Singkat cerita, Saera takut Jungkook marah padanya.
"Katakan saja", Jungkook berucap kembali.
"Aku menyukainya"
"Apa?"
"Aku suka rasa sakit di sayatan itu"
"Sejak kapan?"
"Umm . . sudah lama"
Jungkook meraih lengan gadis itu kemudian mengusapnya perlahan, "Bisa berhenti melakukannya?"
"Aku tidak janji, tapi akan ku usahakan"
"I'm here, for you"
Saera bersumpah bahwa kalimat itu sangat amat ingin ia dengar.
Dan Jungkook mengucapkannya, sekarang.
"Jung . . "
"Hm?"
"Aku bisa percaya padamu, kan?"
Jujur sampai sekarang pun terkadang rasa ragu terhadap Jungkook muncul di hatinya. Sekalipun Saera telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa Jungkook memang layak dipercaya.
Tapi tidak menutup kemungkinan kalau lelaki itu akan menjadi orang yang paling menyakitinya nanti.
Ia tidak bisa menyangkal hal itu.
"Tentu, percaya padaku"
But—well, if loving him is a sin, then she don't mind being called a sinner.