Blood, Sweat, and Tears

Blood, Sweat, and Tears
Break The Limit



Hari ini, Saera tidak hadir ke sekolah.


Yeona sudah mendengar tentang kabar itu, dirinya sama sekali tidak merasa bersalah.


Hatinya justru merasa puas atas apa yang telah ia lakukan kemarin.


Bahkan kalau bisa, ia sangat ingin membuat Lee Saera mengundurkan diri dari sekolah ini.


Selagi menikmati euphorianya, Yeona menyadari ada seorang siswa yang masuk ke tempatnya sekarang, yaitu toilet wanita.


"Hei! Apa kau buta?! Inikan-. . .", Yeona menghentikan ucapannya setelah berbalik dan menyadari siapa siswa yang seenak jidat masuk ke toilet wanita, "Jungkook?"


"Malam ini kau ada jadwal?", Jungkook berucap dengan tenang seraya menyenderkan tubuhnya ke dinding.


Yeona lekas menggeleng, "Tidak ada. Kenapa?"


"Bisa atur jadwal denganku?"


"Benarkah? Tentu! Bagaimana kalau pukul 8?"


"Baiklah", Jungkook mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya, "Temui aku disini, tepat pukul 8."


-


"Yeona-ya, kenapa sumringah sekali? Biasanya jam-jam pulang begini wajahmu selalu kusut"


"Ah iya benar"


Yeona -masih dengan wajah sumringahnya- menatap temannya satu persatu sambil tersenyum, "Rahasia. Akan kuberitahu jika aku sudah melakukan sesuatu dengannya. Sudahlah, aku buru-buru, dah!"


Semuanya menatap Yeona yang menjauh dengan keheranan.


"Hah?"


"Ada apa dengannya?"


"Kurasa dia salah makan"


---


Berkas cahaya lampu menembus kelopak matanya yang menutup. Memaksanya untuk mengintip suasana sekitar,


Apa yang terjadi?


Sekujur tubuhnya terasa sangat sakit. Sekelebat kejadian buruk melintas di ingatan gadis itu, apakah itu benar-benar terjadi?


Tangannya secara otomatis meraba area perut, "Tidak. . ."


"Kau sudah bangun?"


Saera menoleh, ternyata Jungkook ada disini, berdiri disamping ranjangnya. Dirinya terlalu panik hingga terlambat menyadari kehadiran lelaki itu.


"Jung. . ."


"Kau baik-baik saja?"


"Bagaimana bisa aku disini? Bukannya terakhir kali aku-. . ."


"Seseorang memberitahuku kalau kau pingsan di kamar mandi"


"Siapa?"


Jungkook mengangkat bahunya enteng, "Tidak tahu namanya"


"Tidak. Memangnya apa?"


"Ani. Lupakan"


"Terlupakan"


Aneh sekali, batin Saera.


"Jung, bagaimana keadaan janin ini?"


"Dia marah padamu."


"Kenapa?"


"Karena kau tidak memberinya makan dari kemarin, sekarang makanlah"


Apa Jungkook benar-benar tidak tahu tentang ini?


---


Yeona berlari menuju tempat yang tertera di kertas pemberian Jungkook.


Ternyata lelaki itu sudah berada di sana dan kemungkinan sedang menunggu dirinya.


"Mian, aku sedikit terlambat, hehe."


Jungkook menatap lurus ke arahnya, tidak mengatakan apapun. Situasi ini membuat Yeona berpikir bahwa ada yang aneh, tapi ia berusaha menampik firasat buruk tersebut dengan bertanya, "Kenapa menyuruhku kesini? Kita mau kemana?"


Lelaki itu menyunggingkan senyumnya sambil mendekat beberapa langkah, "Kau tau betapa bodohnya manusia seperti dirimu itu?"


Alis Yeona bertaut tak mengerti, "Apa maksudmu?"


"Lupakan. Kau bertanya kemana kita akan pergi?", Jungkook memberi sedikit jeda pada kalimatnya, "Sebenarnya, aku tidak akan pergi kemana-mana. Hanya saja. . . sepertinya kau harus pergi-"


". . ."


"-menemui ajalmu."


Tepat di akhir kalimat, sosok Jungkook di depannya berubah wujud. Yeona membulatkan matanya, apa yang dilihat oleh netranya saat ini sangat tidak bisa dipercaya.


"Kau tidak tahu siapa aku?", suaranya terdengar sangat menusuk. Mulut gadis itu hanya mampu tergagap tanpa berucap.


"Bukankah sudah kuperingatkan dulu? Jangan menyentuh Saera.", Langkah Yeona mundur seiring dengan mendekatnya lelaki itu, "A-aku. . .ti-tidak bermaksud-"


"Apa kau tahu? Kau hampir membunuhnya"


"Aku hanya-. . ."


"Aku benar-benar akan membunuhmu"


Kim Yeona, kau benar-benar harus pergi.


Tapi kenapa tubuhnya tidak bisa bergerak sedikitpun? Sedang sosok yang berbalut dengan kegelapan dan amarah itu semakin mendekatinya. Tubuhnya tidak bergerak sejengkal pun bahkan saat telapak tangan kekar itu mulai merambat perlahan di area lehernya. Mengelus pelan sebelum mencekik leher gadis itu.


Tenaga lelaki itu bukan main, nafasnya langsung tercekat saat itu juga. Sebelum dirinya benar-benar kehilangan kesadaran, matanya sayup-sayup melihat bayangan orang tidak jauh berdiri di belakang Jungkook.


Yeona berusaha memberikan sinyal meminta tolong pada seseorang itu, tapi sepertinya Jungkook menyadari hal itu. Ia segera menyelesaikan urusannya dengan Yeona lalu mengampiri seseorang yang ada di sana.


Orang itu rupanya tidak asing lagi.


"Kau lihat bagaimana aku menghabisinya? Tidak mau hal itu terjadi padamu kan? Maka turuti perintahku."