
"Ah tugas sialan macam apa ini"
Sudah menjelang pagi. Di saat orang lain lebih memilih untuk membenamkan diri di lautan kapuk, gadis itu tetap saja berkutat dengan tumpukan buku di meja belajarnya. Padahal besok ia masih memiliki jadwal untuk sekolah. Persetan dengan kondisi wajahnya, sudah dipastikan nyaris seperti mayat hidup, dan jangan lupakan kantung bawah matanya yang semakin terlihat.
Kegiatan gadis itu terhenti saat layar ponselnya tiba-tiba menyala dan menampilkan panggilan dari seseorang. Ia tergerak untuk menjawab panggilan di pagi buta seperti ini.
"Halo?"
"Sae, kau sudah tidur?"
"Belum"
"Suaramu seperti orang bangun tidur saja"
"Omong-omong, tugas guru Kim sudah kau selesaikan?"
"Hanya tinggal beberapa"
"Kau sendiri bagaimana? Kalau sudah. . .bolehkan aku meminta jawabanmu, Rin? Hehehe"
"Yakkk, gadis ini. Carilah jawabanmu sendiri, kalau tidak sanggup baru akan kubantu"
Saera mencebik.
"Arra, temani aku saja kalau begitu. Ya?"
"Baiklah. Sana kerjakan. Fighting, Sae-ya!"
Saera tersenyum setelah menerima semangat dari sahabatnya, Haerin. Tidak banyak yang Saera butuhkan saat ini. Hanya butuh sedikit waktu lebih guna menyiapkan diri untuk kembali bersekolah pagi harinya di saat waktu beristirahatnya dipotong oleh tugas menyebalkan dari guru Kim seperti ini.
Lantas ia menurunkan ponsel dari telinganya, menaruh benda itu di meja lalu menyalakan loudspeaker agar tetap bisa mendengar suara Haerin diseberang sana sambil tetap mengerjakan tugasnya.
"Sae?"
"Hm?"
"Kau tahu berita yang ramai dibicarakan belakangan ini tidak?"
"Ani, mollayo. Memangnya berita seperti apa?"
"Kau tau incubus? Katanya belakangan ini incubus kembali berkeliaran dan banyak memakan korban. Mengerikan sekali bukan. Itulah kenapa aku jadi sulit bisa tidur malam ini"
"Incubus? Makhluk macam apa itu?"
"Sungguh, Sae? Apa kau benar-benar tidak tahu?"
"Yah sepertinya tugas guru Kim ini benar-benar membuatku tidak tahu apa-apa"
"Begini, jadi incubus itu merupakan makhluk mitos. Sebangsa vampire tapi mereka bukan vampire sih. Katanya mereka berwujud laki-laki dengan wajah yang saaangaatt tampan, astaga."
"Lalu, apa bahayanya?"
"Mereka memangsa gadis-gadis yang masih polos dan belum pernah disentuh siapapun"
Saera menghentikan kegiatan menulisnya, "Maksudmu—"
"Tidak, mereka tidak memakan gadis-gadis itu. Mereka memangsa dengan cara yang lebih sadis. Uwwww"
"Bagaimana caranya?"
"Mereka menghamili gadis-gadis itu. Lalu setelah janinnya lahir, ia akan membawa bayi itu lalu membunuh gadis itu untuk menghilangkan jejak. Ada yang bilang bahwa incubus memberikan jasad gadis tersebut untuk dimakan oleh bayinya"
"Astaga, mengerikan sekali."
"Oleh karena itu, aku peringatkan padamu. Jangan keluar malam terlebih jika kau tidak ditemani oleh seseorang. Sebut saja sendiri, okay?"
"Tapi, Rin. Apa berita itu benar adanya? Maksudku ini sudah abad ke 21, apa makhluk-makhluk seperti itu masih ada? Aku yakin mereka akan bingung hidup di abad sekarang, semua sudah serba modern"
"Kau ini, selalu saja. Terlepas dari benar atau tidaknya berita itu. Kau tidak boleh keluar malam sendiri, Sae. Sangat berbahaya bagi para gadis"
Saera tertawa, "Lalu apakah kau bukan seorang gadis, Haerin-ssi?
"Kenapa masih kau pertanyakan lagi? Bukankah kau tahu sendiri bagaimana aku kehilangan hartaku itu? Ah sialan" Umpatan kesal dari Haerin tidak berlangsung lama setelah terdengar suara kekehan darinya.
"Apapun yang terjadi, aku hanya berusaha melindungi sahabatku. Aku tidak mau dirinya bernasib sepertiku"
"Aigooo, manis sekali Haerin ini"
"Ya. Aku tidak bercanda tahu. Lihat saja, siapapun lelaki yang berani menyentuhmu secara berlebihan akan kupotong tangannya!"
"Ya, ya, ya. Lakukanlah sesukamu"
"Sekarang ayo tidur, Rin. Besok kita tidak boleh terlambat untuk mengumpulkan tugas guru Kim bukan?"
———
Suara gaduh dari rumah tetangga mengusik tidur nyenyak Saera. Bisa dibilang itu tidur nyenyak walaupun gadis itu baru memejamkan matanya sekitar 4 jam yang lalu.
"Eunggg. . ."
Dengan setengah mengantuk, ia melirik sekilas kearah jam yang berada di atas meja tepat di samping tempat tidurnya. Sambil melenguh pelan kemudian kembali memejamkan mata.
"10.15"
.
.
.
"APA?! 10.15?!!"
.
.
.
"OMO! KELAS GURU KIM DIMULAI 15 MENIT YANG LALU!!"
Tepat setelah pekikan itu ia keluarkan, Saera buru-buru bangun dari tempat tidurnya. Melupakan rasa kantuk yang hilang entah kemana dan digantikan dengan kepanikan yang melanda setengah jiwanya karena melewatkan kelas guru yang terkenal physco itu.
Sebut saja begitu, karena tugas dari beliau bisa membuat murid mati perlahan. Seriously.
Terlebih jika kau terlambat hadir di kelas atau melupakan tugas, maka kau akan merasakan kutukan sial sepanjang harimu.
Dan sepertinya, Lee Saera akan mendapatkan jackpot itu hari ini.
Well. Congrats for you, Lee Saera.
Butuh 15 menit untuk gadis itu mempersiapkan diri, tanpa sarapan tentunya. Memakai sepatu dengan tergesa sehingga melupakan kaus kakinya, segera menutup pintu rumah dan berlari menuju sekolahnya.
Tungkainya semakin terasa keram saat penampakan gedung sekolah sudah semakin dekat. Butuh jarak tempuh sekitar 800 meter bagi Saera untuk sampai kesekolahnya.
Saera mengecilkan langkahnya ketika sudah memasuki area sekolah. Masih setengah berlari, menaiki beberapa anak tangga dan sampai di depan kelasnya.
Tok, tok, tok
Masih dengan nafas memburu dan detak jantung yang belum kembali normal, gadis itu menunggu di depan pintu kelas yang sebentar lagi akan terbuka dan menampakkan sosok malaikat maut dengan membawa sabit panjangnya.
"Saera? Apakah kau tahu ini jam berapa?" Pertanyaan dari Guru Kim seolah membuat Saera meregang nyawanya saat itu juga.
Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian kembali menunduk dan memandang sepatunya.
"11.01 ssaem"
"Kau terlambat lebih dari 1 jam pelajaran."
"Y-ye, saya tahu, seonsaengnim"
"Tidak mau membuat alasan?"
"I-itu—"
"Mana tugasmu kemarin?"
Tunggu dulu,
.
.
.
Sebentar,
.
.
.
Wait . . .
.
.
.
What?!
Naas, buku tugas itu malah tidak ada di dalam tasnya meskipun ia sudah memeriksanya berkali-kali. Sudah dipastikan kalau buku itu tertinggal di rumah
Ah sialan sekali, batinnya.
"M-maaf ssaem, bukunya—"
"Tertinggal?"
Saera mengangguk pasrah.
Tidak ada perubahan ekspresi yang berarti pada Guru Kim saat ini. Beliau selalu menunjukkan wajah menekuk seperti ini. Selalu, setiap saat. Sampai ada kalanya beliau menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya secara perlahan kemudian berkata—
"SUDAH TERLAMBAT MASIH MELUPAKAN TUGAS JUGA?!!"
"LEE SAERA. KAU AKAN KU HUKUM SAMPAI JAM SEKOLAH SELESAI!"
Yah, begitulah.
———
Kutukan Guru Kim itu benar kan adanya?
Lihatlah, sekarang Saera benar-benar merasa sial sepanjang harinya.
Pertama, dirinya terlambat bangun dan melupakan sarapan sebelum kesekolah.
Kedua, harus berlari kesekolah karena bus sudah tidak berkeliaran lagi saat sudah menjelang siang seperti tadi.
Ketiga, kakinya lecet karena lupa memakai kaus kaki.
Keempat, melupakan begitu saja tugas yang ia buat susah payah kemarin malam hingga pagi.
Kelima, absen hadirnya hari ini akan kosong seharian akibat hukuman dari Guru Kim.
See?
Kutukan itu benar-benar nyata.
———
Pukul 10 malam.
Terlalu malam untuk berada di sekolah saat ini. Masa bodoh bagi pemuda yang sekarang berada di ruang musik.
Jeon Jungkook sudah biasa melakukannya.
Pemuda itu tetap setia dengan piano didepannya. Memainkan beberapa melodi lagu yang berbeda, dengan senandung kecil yang keluar dari mulutnya.
Setelah menyelesaikan melodi terakhirnya. Jungkook meregangkan jari-jarinya yang terasa sedikit pegal. Menghela nafas sebelum melirik ke arah jam yang terletak disudut ruangan.
"Aku rasa sudah cukup", gumamnya.
Ia berdiri dari kursinya dan beranjak dari ruangan itu.
Jungkook mendengar sedikit suara gaduh yang kedengarannya berada di gudang sekolah. Cukup menyita rasa penasarannya, tetapi pemuda itu lebih memilih opsi untuk tidak mengurusinya.
Tidak perlu waktu lama bagi pemuda itu untuk kembali ke kelas dan mengambil tas miliknya. Terima kasih berkat kaki panjangnya.
Suara gaduh kembali terdengar ketika ia melewati gudang tadi, kali ini lebih keras. Jungkook menghentikan langkahnya di depan ruangan tersebut. Apakah dia harus masuk dan mengecek apa yang sedang terjadi di dalam sana? Bisa saja ada penyusup yang masuk ke sekolah saat malam-malam begini.
Tapi kenapa harus gudang?
Sejenak Jungkook memikirkan kembali apa yang harus ia lakukan. Perlahan langkahnya tergerak untuk mendekati pintu gudang. Sedikit mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat dan ia menemukan seseorang di dalam sana.
Kenapa seorang penyusup memakai pakaian seragam sekolah yang sama?
Jungkook menyunggingkan senyuman
"Targetku ya rupanya"