Blood, Sweat, and Tears

Blood, Sweat, and Tears
Hold On



I warn you ;


this part is contain a little bit sensitive content, kalo lagi puasa bacanya nanti aja :)



Hari ini merupakan hari terakhir ujian sekolah dilaksanakan. Saera pikir dirinya sudah melakukan yang terbaik untuk ujian terakhirnya kali ini, setidaknya ia tidak perlu terlalu khawatir saat mengambil libur panjang nanti.


"Lee Saera!"


Panggilan itu membuat Saera menoleh dan menemukan Haerin yang tengah menghampirinya.


"Boleh aku menginap malam ini?"


"Bertengkar lagi?"


Haerin mengangguk sebagai jawaban.


Malang sekali temannya ini.


Keluarga Haerin memang jauh dari kata harmonis. Saera memaklumi kondisi temannya itu.


"Oppa mu sedang tidak di rumah kan?"


"Peluang dia ada di rumah itu 1 : 1000. Jadi ku rasa tidak"


.


Bersyukur karena ujian telah selesai, Saera dan Haerin tidak perlu susah-susah memikirkan tugas saat pulang sekolah. Cukup mandi, makan, dan bersantai sesuka hati mereka.


"Bagaimana kabarmu dengan Jungkook Sunbae?", Haerin membuka obrolan mereka dengan topik yang sepertinya agak sensitif untuk dibicarakan sekarang.


Omong-omong soal Jungkook, lelaki itu sudah tidak menampakkan batang hidungnya sejak beberapa hari belakangan. Mungkin karena Jungkook tidak ingin mengganggu proses belajar Saera selama ujian.


Ya kemungkinannya begitu.


"Baik-baik saja, sejauh ini"


"Apa dia berniat untuk menikahi mu?"


Oh, tidak.


"Umm—belum"


"Bagaimana bisa? Kau ingin bayi itu lahir di luar nikah?"


"Tidak! Bukan begitu. . ."


"Lalu?"


"Kami belum siap untuk memberitahukannya. Terlebih Jimin Oppa, dia akan murka jika mengetahui hal ini"


Hah, tiba-tiba Saera merasa panik.


"Kalau begitu kenapa tidak digugurkan saja?"


Saera lantas mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah.


Semoga Jungkook tidak ada di sini dan mendengar apa yang Haerin ucap barusan.


"Aku tidak mau"


"Baiklah, Lee Saera. Terserah padamu. Kau harus bilang padaku jika Jungkook Sunbae bersikap kurang ajar. Akan ku habisi dia"


Jungkook yang akan menghabisi mu duluan, Haerin-ah.


"Iya iya, aku serahkan padamu, Rin. Omong-omong mau ke kamarku tidak? Sepertinya kau butuh istirahat"


Entah kenapa perasaan Saera jadi tidak enak, seolah-olah orang yang mereka bicarakan itu ada di sini sedang mendengarkan.


Haerin berucap sembari mengusap matanya, "Kau benar. Aku butuh istirahat karena terlalu banyak belajar"


"Pergilah ke kamarku"


"Bagaimana denganmu?"


"Aku akan menyusul nanti"


"Kau tidak keberatan?"


"Tentu saja tidak. Kau ini seperti orang lain saja"


"Baiklah, aku duluan"


Saera menghembuskan napas kasar setelah bunyi pintu kamarnya tertutup. Nyaris saja.


Gadis itu segera mengecek semua ruangan di sekitar ruang tengahnya untuk memastikan bahwa tidak ada Jeon Jungkook di sana.


Beruntungnya, lelaki itu tidak ada di sini.


Akhirnya Saera bisa bernapas lega dan memutuskan untuk menyusul Haerin.


Baru saja menginjak tangga pertama menuju kamarnya, Saera menemukan Jungkook—sosok yang daritadi diwaspadai kehadirannya— tengah menghadang di depannya.


Kemunculannya terlalu tiba-tiba. Andai gadis itu tidak menahan diri, sudah pasti teriakannya keluar begitu saja.


"Kau mengagetkanku!" Saera berucap pelan namun penuh dengan penekanan.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa membiarkan orang lain mengambil tempatku?"


"Apanya yang tempatmu? Itu kamarku"


"Masa bodoh. Kenapa dia ada di sini?"


"Temanku tidak bisa pulang. Jadi aku membiarkannya menginap"


"Suruh dia pulang", Jungkook nampaknya tidak menyukai kehadiran Haerin di sini.


"Apa? Tidak bisa!"


Lelaki itu mendekatkan diri pada Saera, "Perlu aku yang mengusirnya?"


"Permisi, Tuan. Aku ingatkan padamu. Pertama, ini rumahku. Kedua, hak mengusir ada ditanganku. Ketiga, harusnya kau yang ku usir karena berani masuk tanpa izin"


Sepertinya Jungkook sama sekali tidak mengindahkan ucapan gadis itu.


"Baiklah, dia akan ku usir"


"Berani kau mengusik Haerin, maka aku akan—"


"Apa?"


Tatapan Jungkook berubah menjadi sangat tidak bersahabat, membuat Saera tak mampu melanjutkan ucapannya.


Gadis itu hampir mengancam dengan memanfaatkan bayinya. Ia lupa bahwa hal tersebut akan menjadi sumber dari kemurkaan Jungkook dan bisa berakibat fatal.


"Aku akan memarahimu"


Baiklah, kali ini Saera mengalah.


"Marah?"


"Iya. Jangan berani mengusiknya atau aku akan marah padamu. Kalau kau sampai menyakitinya, berarti kau juga menyakitiku"


"Kenapa?"


"Karena dia temanku"


"Hanya karena dia temanmu—maka aku harus mengampuninya, begitu?"


Saera mulai bingung kemana arah pembicaraan mereka saat ini, "Apa maksudmu, Jung?"


"Aku mendengar semuanya"


Ah, pasti soal ucapan Haerin tadi.


"Astaga, Jeon Jungkook. Dia berucap demikian karena tidak mengetahui yang sebenarnya, tolong dimaklumi"


"Kau bisa menyakiti orang lain bahkan diriku, Jung. Tapi tidak untuk Haerin"


"Kalau begitu—kau siap untuk membayarnya, bukan?"



Saera terbangun dengan sedikit denyutan di kepalanya. Terlebih saat gadis itu menyadari di mana ia sekarang.


Memang tidak asing lagi bagi Saera, tapi ini bukan kamarnya.


"Tidurmu nyenyak?"


Pemilik suara itu berada di sampingnya.


Sial, Saera tidak bisa mengingat apa yang membuat dirinya dan Jeon Jungkook berakhir tidur di kamar Park Jimin.


Melihat Saera yang kebingungan, Jungkook kembali berucap, "Tidak perlu khawatir soal temanmu. Dia masih di sini"


Ah benar! Haerin!


"Jung!" Saera tidak bisa bangkit dari posisinya sekarang karena Jungkook sialan itu menahan tubuhnya.


"Aku tidak mengizinkanmu kemana-mana"


"Tapi aku ingin memastikan keadaan Haerin"


"Sudah ku bilang dia masih di sini"


"Kau tidak mengusirnya, kan?"


"Tidak"


"Sungguh?"


"Hm", Jungkook mengeratkan pelukannya terhadap gadis itu.


Syukurlah, Jungkook tidak mengusir temannya.


Kini Saera hanya diam dipelukan Jungkook, membiarkan lelaki itu bertindak semaunya. Hingga pada saat tangan kekar itu menyentuh pahanya, Saera baru menyadari ada yang aneh dengan tubuhnya yang tengah dibalut selimut.


"Di mana celanaku?"


Jungkook tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Saera. Tangannya masih sibuk menyentuh sana sini dengan kurang ajarnya.


"Saera?"


Panggilan itu terdengar dari luar kamar.


Sepertinya Haerin baru saja bangun dari tidurnya.


"Lee Saera?"


"Hentikan, Jung. Haerin memanggilku"


Jungkook keberatan dan menepis tangan Saera yang berusaha menahan pergerakan tangannya, "Tidak perlu menghampirinya. Cukup jawab saja"


"Tapi—"


"Lee Saera?"


"Yaa??" Saera harus sedikit berteriak agar suaranya terdengar oleh Haerin.


"Kau di mana?"


"Di kamar Jimin Oppa"


"Boleh aku masuk?"


"Akh! Tidak! Jangan"


Terkutuk lah kau, Jeon Jungkook.


"Kau baik-baik saja?"


"Umm, ya. Hanya sedikit—ugh, flu. Kau akan ketularan jika masuk"


Lagi-lagi Saera gagal untuk menghentikan Jungkook. Kedua tangannya berakhir ditahan oleh salah satu tangan lelaki itu.


"Baiklah kalau begitu. Aku buatkan sarapan, ya?"


"Ya! Silakan"


"Di mana aku bisa mencari bahan-bahannya?"


"Mmm di kuklas"


"Okey, tunggu di sana. Nanti akan ku panggil lagi kalau sudah selesai"


"Baiklah"


Saera kembali fokus pada Jungkook yang masih berulah.


"Sudah cukup, Jung. . ."


Sepertinya memperingatkan Jungkook adalah hal yang paling sia-sia di dunia ini.


Lelaki itu sama sekali tidak berhenti. Hingga saat Saera menjerit lebih kencang, Jungkook baru menghentikan kegiatannya.


Ia memberikan kecupan singkat di kening gadis itu, "Aku akan kembali sore nanti. Pastikan temanmu sudah pulang saat itu"


.


Haerin melihat Saera berjalan menuju meja makan dengan keadaan rambut setengah basah sehabis mandi, "Oh, Saera? Sudah baikan?"


Apa tadi ia bilang? Flu? Yang benar saja.


"Ya. . .Lumayan. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"


"Terlalu nyenyak, sampai lupa bahwa aku masih di rumahmu"


Saera tertawa pelan menanggapinya.


"Ini untukmu", Haerin menaruh sepiring pancake di depan Saera.


"Wah, ternyata kau pintar membuat fluffy pancake"


"Benarkah? Aku rasa membuatnya mudah"


"Sulit bagiku untuk menjaganya agar tidak gosong"


Kemudian mereka beralih pada makanannya masing-masing.


Saera menghabiskan bagiannya duluan, "Kau berencana pulang hari ini, Rin?"


"Sepertinya begitu"


"Mau ku antar tidak?"


"Apa? Tidak perlu. Merepotkan mu saja"


"Aku tidak keberatan"


"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri, kok"


"Kalau begitu hati-hati, hubungi aku jika terjadi sesuatu"


"Ada apa ini? Kau berucap seolah-olah ada sesuatu yang akan menimpaku"


"Hah, entahlah. Tiba-tiba firasat ku buruk"


Tidak.


Kali ini Saera tidak akan percaya begitu saja pada Jeon Jungkook.