
Kardus terakhir yang ia pegang berhasil disusun dengan rapi pada sisi ruangan.
Baiklah, hukumannya sudah selesai.
Saera merengangkan otot-ototnya yang terasa sangat pegal karena hukuman dari Guru Kim sungguh tidak manusiawi.
Mulai dari membereskan taman sekolah, aula, gudang perpustakaan, dan tentu saja gudang sekolah.
Lihatlah, bahkan gadis itu tidak tahu persis jam berapa sekarang.
"Mana ponselku"
Saera merogoh tasnya dan menemukan benda persegi panjang tersebut.
"Aigoo, sudah hampir jam 11 malam. Aku harus pulang"
Gadis itu beranjak dari tempatnya, kembali mengunci gudang yang besoknya pasti akan diperiksa oleh guru physco itu. Heol.
Sepanjang perjalanan pulang Saera merasa agak aneh. Entahlah, tapi ia yakin kalau sekarang rasanya seseorang tengah membuntutinya.
Ayolah Saera. Tinggal 200 meter lagi maka kau akan sampai kerumahmu.
Tanpa berpikir panjang lagi, Saera mempercepat langkah hingga akhirnya sampai ke tujuannya, rumah. Gadis itu segera membuka pagar dengan tergesa dan memasuki rumahnya.
Menyisakan seseorang yang sedari tadi tengah memperhatikan gerak gerik gadis itu dari balik lampu jalanan.
"Bagus. Secara tidak langsung, dia baru saja memberitahuku rumahnya. Gadis malang"
———
Ting Tong
"Siapa yang bertamu tengah malam seperti ini?"
Baru 15 menit Saera duduk di meja belajarnya. Sudah ada panggilan dari luar yang mengharuskannya membukakan pintu.
Apakah kakaknya datang semalam ini?
Anggap saja Saera itu bodoh, ya mungkin memang sedikit agak bodoh. Padahal gadis itu baru saja diintai seseorang saat perjalanan pulang dari sekolah. Dan sekarang ia malah membukakan pintu sembarangan di tengah malam seperti ini.
"Maaf tuan, Anda siapa?"
Ya Tuhan, bolehkah Saera pingsan saat ini juga?
Ia tidak mengenal pria bersurai merah menyala yang bertamu kerumahnya ini, tapi sungguh—
Damn, that visual is so perfect.
Yang ditanyai sedari tadi hanya tersenyum tipis dengan tatapan yang sulit diartikan. Saera mulai merasa ada yang tidak beres.
"Tuan? Anda salah alamat? Kalau begitu pintunya akan saya tutup, selamat—"
Tubuh Saera tiba-tiba ambruk ke lantai saat berniat kembali menutup pintu. Rasanya seperti lumpuh total, seluruh badannya sangat lemas.
"A—apa yang terjadi padaku?!"
"Butuh bantuan, nona?"
Suara dingin itu terdengar beriringan dengan langkah kaki yang mendekatinya. Kaki itu berhenti tepat di depan tubuh Saera yang meringkuk di lantai.
Pandangan Saera mulai buram karena air mata memenuhi pelupuk matanya. Ia takut setengah mati. Terlebih sekarang nafasnya terasa lebih berat dan hawa disekitarnya terasa lebih panas.
"Mau apa kau?"
Debuman keras terdengar akibat pintu yang ditutup secara kasar oleh orang tadi. Ia mengunci pintunya.
"Pergi dari sini", Titah Saera
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Gadis baik"
Saera merasakan tubuh lemasnya diangkat oleh orang tidak dikenal yang baru saja menyusup kedalam rumahnya. Terkutuklah tubuh lemasnya yang tidak bisa memberontak saat ini.
"Namaku Jeon Jungkook, panggil saja Jungkook. Ok?"
"Siapapun kau, tolong turunkan aku", Dengan segenap tenaga yang tersisa, Saera berbicara dengan nafas terhengal.
"Tentu, aku akan menurunkanmu—"
"Di ranjang."
Gadis itu menggeleng lemah saat Jungkook benar-benar membawanya ke atas ranjang. Membaringkan tubuh Saera yang lemah disusul dirinya yang duduk di atas perut sang gadis.
Saera memberanikan diri menatap pria kurang ajar yang berbuat begini padanya. Maniknya bertubrukan satu sama lain, Saera melihat ke dalam iris yang sedang menatapnya. Tatapannya gelap, tajam, dan kelewat dalam sampai siapa saja mungkin bisa tenggelam karenanya.
Tenaganya berangsur-angsur kembali, walaupun sedikit. Saera memanfaatkan hal itu untuk menggerakkan tangannya guna menyingkirkan Jungkook dari atas tubuhnya.
Bugh.
Tangan Saera terhempas kesamping dengan sendirinya. Kali ini rasanya tidak lagi lemas, tapi kaku. Seperti ada yang menahan pergerakannya. Tapi Jungkook bahkan tidak menggerakan tangannya sama sekali.
"K—kau?"
Jungkook tersenyum manis, "Ya, aku mengendalikanmu sayang"
"Apa-apaan ini! Menjauh dariku!!", Saera menggelengkan kepalanya dengan brutal sampai rasanya seseorang telah menahan pergerakan kepalanya, hanya menoleh kesamping kanan tanpa bisa digerakkan.
Jungkook mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Saera. Mengendusnya sambil berbisik
"Berisik. Mulutmu mau kubungkam juga hm?", Setelah ucapan itu meluncur satu kecupan berhasil mendarat manis di leher Saera. Membuat sang empu bergidik ngeri.
Jungkook menyeringai sambil kembali mendekatkan wajahnya ke wajah si gadis.
"Aku yakin, kau gadis baik bukan? Maka dari itu bolehkah aku minta tolong, gadis baik?"
". . ."
"Tolong jaga bayi yang akan ku titipkan padamu"
———
"Dengarkan aku, kau harus menjaga bayiku sampai dia lahir."
"Aku akan berada di sekitarmu untuk menjaga keamanannya"
"Panggil aku jika ada masalah"
"Jangan berani-berani menyakitinya, sedikitpun"
"Jika kau berani menyakitinya, maka aku tak segan untuk menyakitimu"
"Jika kau ingin dirimu selamat, maka pastikan keselamatan bayiku juga."
"Camkan itu baik-baik, nona Lee Saera."
ANDWAEEEE!
Ouch. . .
Sangat mengherankan bagi Saera ketika ia menggerakan persendiannya pagi hari ini, tiba- tiba rasanya sangat pegal dan sakit.
Apakah yang kemarin itu benar?
Bukankah rasanya ia hanya bermimpi?
"Tidak mungkin. . ."
Saera mengintip kedalam selimut yang membalut tubuhnya.
Pakaian,
Celana,
Atasan,
Bawahan,
Dalaman?
Oke, semuanya lengkap. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Hanya saja. . .
Auch!
"Ah, sakit sekali. ."
Tubuhnya semakin terasa sakit saja jika digerakan, terutama dibagian bawah.
"Tidak mungkin. . .
Kreeekkkk
"Kau sudah bangun?"