
"Haerin-ah. Tugasmu belum selesai?"
"Sebentar lagi. Duluan saja, Rin."
"Baiklah, aku duluan ya! Jangan lupakan makan siangmu. "
Saera memberikan isyarat 'OK' dengan tangannya lalu kembali fokus pada tulisan di bukunya. Sebenarnya daritadi perutnya sudah meronta minta diisi, hanya saja keadaan sedang genting. Tugas ini harus diselesaikan sebelum istirahat berakhir.
Butuh sekitar 10 menit bagi Saera untuk menyelesaikan tugasnya.
Not bad, ia masih punya waktu 35 menit untuk istirahat.
Penjuru lorong kelas akan sepi saat istirahat seperti ini. Namun justru inilah yang disukai oleh Lee Saera, yaitu tidak melihat banyak orang.
Tapi sepertinya, kali ini ada yang lebih Saera benci daripada sekedar melihat banyak orang.
Empat senior yang kemarin sempat mengintimidasi berjalan ke arahnya. Hatinya berdesir, namun Saera berusaha mengabaikan kehadiran mereka. Toh, siapa tahu mereka hanya sekedar lewat.
"Hei, kau."
"Lee Saera? Bisa bantu ssaem?"
Anggap saja ini sebuah keberuntungan. Tepat ketika sosok di belakang memanggilnya, Guru Kim datang bagaikan penyelamat sehingga ia tidak perlu repot-repot menanggapi senior itu lagi.
"Apa yang bisa saya bantu, ssaem?"
"Tolong bawakan buku dari perpustakan untuk pelajaran ke kelasmu setelah ini."
"Baiklah.", Saera membungkuk sopan sebelum akhirnya berjalan menjauh.
Yeona bersama teman-temannya masih di sana, terus memandangi Saera yang kian menjauh sampai ada seorang siswi yang lewat di depan mereka.
"Hei, kau kemarilah."
———
Nyaris.
Dan beruntung, para senior itu tidak mengejar dirinya. Tidak masalah jika waktu istirahatnya harus terpotong kembali karena harus ke perpustakaan terlebih dahulu, yang penting kali ini dirinya selamat.
Bugh.
"Ah! Maafkan aku! Sungguh!"
Gadis yang bertabrakan dengan Saera terlihat panik karena minuman yang dipegangnya menumpahi seragam Saera. Ia terus meminta maaf sambil mengibas-ngibaskan tangannya pada bekas tumpahan di seragam Saera.
"Tidak apa-apa, ini hanya teh", ucap Saera sambil tersenyum dan melihat ke wajah gadis yang menabraknya, "Eoh? Kau? Gadis yang malam itu kulihat bersama orang jahat itu bukan?"
"Ne, terima kasih sudah menolongku sebelumnya. Maaf tadi aku melamun sampai tidak melihat jalan. Lain kali aku akan berhati-hati, maaf"
"Tidak masalah. Umm. . . aku akan ke kamar mandi dulu untuk membersihkan ini. Sampai jumpa!"
Saera melambaikan tangannya sebelum akhirnya melenggang pergi ke kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari perpustakaan. Untung saja ini hanya tumpahan teh, mungkin akan hilang dengan bilasan air.
Saat Saera tengah sibuk membasuh seragamnya, ada beberapa siswi masuk ke kamar mandi dan secara mengejutkan salah satu dari mereka langsung menjambak rambut Saera.
"Apa-apaan ini! Hei!"
Bugh.
"Aw!"
Tubuh Saera tersungkur ke lantai karena kakinya ditendang dengan kencang. Ia melihat siapa yang berani memperlakukannya seperti ini, ternyata itu Yeona dengan teman-temannya.
"Mana pahlawanmu yang kemarin? Apa hari ini dia akan menyelamatkanmu lagi?"
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Tendangan yang diberikan oleh teman-teman Yeona membuat tubuh Saera seakan mati rasa, ia ingin melawan tapi tak bisa. Bayangkan saja, 4 : 1 apakah mungkin bagi dirinya untuk mendapat celah untuk melakukan perlawanan?
Yang benar saja. Saera tidak pernah mengikuti bela diri jenis apapun.
Yeona yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kini mendekat ke arah tubuh Saera yang meringkuk kesakitan di lantai. Ia menaruh kakinya tepat di atas perut Saera kemudian berujar, "Ini peringatan untukmu."
Tidak.
Tidak.
Tidak.
Jangan perutnya.
Daritadi Saera sudah berusaha menlindungi perutnya agar tidak terkena tendangan dari Haejin, Jiyeon dan Daeun.
"Pastikan Jungkook tidak mengetahui hal ini. Jika tidak, aku tidak akan segan melakukan sesuatu lebih dari ini."
Bugh.
Tendangan pada perut gadis itu mengakhiri semuanya, Yeona dan teman-temannya beranjak pergi dari sana setelah apa yang mereka lakukan pada Saera dirasa sudah cukup.
Saera memegangi perutnya yang teramat sakit, perlahan pengelihatannya memburam dan sedetik kemudian kesadarannya hilang.