
"Sudah hampir waktunya, apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
Jungkook bergeming, ia nampak enggan menjawab.
"Aku bicara padamu, Jeon Jungkook"
Satu helaan napas keluar dari mulut lelaki yang namanya baru saja disebutkan, "Aku sudah memutuskannya"
"Kali ini apa rencanamu?"
"Aku tidak merencanakan apapun. Aku akan melepaskannya"
"Bagus. Rupanya kau tidak menghapus martabatmu sebagai iblis"
"Itu saja, Hyung?"
"Apalagi? Lakukan tugasmu dengan benar"
Taehyung beranjak dari kursinya dan menghampiri Jungkook lalu menepuk pundak lelaki itu, "Sekalipun nenek moyang kita dulunya adalah seorang malaikat, iblis tetaplah iblis. Dan kita hidup dengan kutukan itu"
Penutup yang bagus, batin Jungkook.
Maniknya terus menatap punggung Taehyung yang menjauh sebelum akhirnya beralih pada salah satu pelayan di sekitarnya.
"Pelayan, berikan aku darah"
—
Terhitung ini merupakan hari ke-31 Saera mengurung diri di rumah.
Sudah 4 minggu ini Saera tidak melakukan kegiatannya seperti biasa, sekarang rutinitas sehari-hari gadis itu adalah berbaring di tempat tidur. Perasaan dominan yang ia alami belakangan ini berupa malas yang teramat sangat, nafsu makannya besar dan menjadi sensitif terhadap hal kecil.
Jungkook bilang itu memang akan terjadi jika usia kandungannya sudah memasuki tahap akhir.
Sebagai gantinya, lelaki itu yang menggantikan dirinya membeli barang keperluan rumah. Dan hari ini memang waktunya untuk Jungkook datang, namun hingga malam tiba Saera belum melihat sosoknya di sini.
Gadis itu berjalan keluar rumah, fokus pertamanya tertuju pada bulan yang sedang purnama.
Tiba-tiba teringat dengan pesan Jungkook, di mana saat bulan purnama muncul ia harus menyalakan beberapa lilin di sekitar tempat tidurnya. Saera pun kembali ke kamarnya lalu menyalakan banyak lilin merah dengan berbagai ukuran di sudut ruangan.
"Selesai", senyum mengembang di wajah Saera ketika melihat hasil kerjanya.
She's not gonna lie, lilin-lilin ini terlihat cantik di matanya.
Lantas Saera mendudukkan dirinya di ujung tempat tidur. Tepat saat pantatnya menyentuh permukaan ranjang, perut gadis itu tiba-tiba bereaksi. Awalnya hanya gelenyar aneh, lambat laun berubah menjadi rasa sakit.
Sangat sakit.
Tubuh Saera sampai meringkuk dan terjatuh di lantai. Sudah berulang kali batinnya menyebut nama yang harus ia panggil dalam situasi ini, tapi orang itu juga tak kunjung datang.
"J, Jeon—Arghh!"
Saera bisa merasakan ada bagian tubuhnya yang robek, lantai yang ia duduki sekarang penuh bersimbah darah.
"Jung . . ", Tangan Saera mencengkram erat apapun yang bisa digenggamnya.
"Sa, sakitt. Sakit sekali"
Ia memejamkan matanya kuat kuat, bahkan juga menggigit bibirnya sampai berdarah. Napasnya mulai tidak teratur entah karena shock atau kesakitan.
"Lee Saera?"
Akhirnya Jungkook datang dan menyaksikan apa yang terjadi padanya saat ini.
"Tolong aku . . ini sakit. sekali."
Sementara Jungkook tidak bergerak dari tempatnya, ia terus menyaksikan pemandangan mengerikan di depannya dengan wajah yang kelewat santai.
"Jung, ku mohon. Ini sakit sekali"
"Jungkoo—ARGH!" Robekannya terasa makin meluas, "Sakit"
Tidak banyak yang bisa Saera lakukan selain merintih dan menangis.
"Lee Saera"
Waktunya tidak cukup bagi Saera untuk menjawab panggilan dari Jungkook. Ia sangat kesakitan.
Lalu Jungkook kembali berucap, "Sebelumnya, kau memintaku untuk membunuhmu, bukan?"
Ya, Saera memang pernah mengatakan hal itu. Hanya saja, itu dulu. Saera menggeleng cepat, bermaksud memberitahu bahwa ucapannya itu sudah tidak berlaku lagi.
"Kenapa?" Jungkook mendekat ke arah Saera, "Kau mau menarik kata-katamu?"
"Aku tidak menyukai gadis plin plan"
Saera sekarat, tapi kenapa Jungkook . . .
"Kau percaya dengan semua ucapanku dulu, hm?"
Gadis itu menatap Jungkook tidak percaya. Bagaimana bisa?
"Maaf, aku pikir aku mengecewakanmu", lanjutnya.
Jungkook mengeluarkan satu kantong penuh darah kemudian meletakkannya di dekat Saera, "Setelah ini mungkin kau membenciku dan berkeinginan untuk balas dendam, tapi—aku persilakan"
Tangan Jungkook mengambil kantong darah tadi kemudian menunjukkan benda itu pada Saera, "Kau bisa meminum ini untuk balas dendam. Sebab jika kau meminum ini, aku akan mati. Tapi jika kau tidak meminumnya, maka kau yang akan mati"
Saera meraih tangan Jungkook dan meremasnya kuat sambil terus menangis. Namun Jungkook segera melepas diri kemudian menjauh sedikit dari tempatnya.
"Pilihan ada di tanganmu", sama sekali tidak ada rasa kasihan atau iba dari tatapan yang Jungkook berikan, "Aku pikir bisa berubah, tapi naluriku tetaplah iblis. Harusnya kau tidak mempercayaiku sejak awal. Sekarang kau percaya dengan iblis ini? Lucu sekali"
Entah Saera mendengarkannya atau tidak, yang jelas gadis itu hanya menjerit kesakitan daritadi.
"Ini urusanmu yang terakhir, aku pergi"
Jungkook benar-benar pergi dari sana.
Tersisa Saera yang menangis sambil meremas kantong darah yang diletakkan Jungkook tadi.
Semuanya terasa sakit.
Bukan hanya tubuhnya yang sakit, tapi hatinya juga.
Prangg!
Benda itu ia lemparkan pada cermin di depan, kacanya pecah dan kini kamarnya benar benar terlihat seperti ruang pembantaian. Darah di mana-mana.
Saera meremas ujung tempat tidurnya dengan kuat sampai kuku di tangan gadis itu rasanya akan patah.
Baiklah, kalau ini memang yang terakhir.
Mati pun tidak apa-apa baginya.
Karena ini yang terakhir.
Tapi paling tidak, tolong, Tuhan. Izinkan dirinya bisa melahirkan anak ini sebelum darahnya habis.
Tubuh Saera dengan spontan menjadi lemas dan otot di kelopak matanya seperti kehilangan fungsinya untuk membuka saat ia merasakan bayinya benar-benar keluar. Tidak ada pemandangan apapun lagi yang bisa gadis itu lihat, semuanya hitam. Ada bayangan wajah lelaki yang sudah menemaninya selama beberapa bulan ini, beserta suara sayup-sayup bayi menangis dan suara pintu kamarnya yang terbuka.
END.
what's next?
ofc, an epilogue.