Blood, Sweat, and Tears

Blood, Sweat, and Tears
Nothing



Saera baru saja sampai di rumahnya. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengunci diri di kamar.


Ponselnya masih senantiasa dalam genggaman. Ia berpikir berulang kali, haruskah menghubungi Park Jimin sekarang?


Setelah pertimbangan yang kesekian kalinya, Saera menekan sebuah nomor di ponselnya dengan ragu.


"Halo, Oppa?"


"Ada apa? "


"Kau tidak bisa pulang? Aku takut sekarang"


"Tentu saja tidak bisa, aku sedang sibuk. Kau bisa minta temanmu saja"


"Begitu, ya?"


"Hmm. Aku tutup dulu kalau begitu"


Tut.


Sambungan teleponnya benar-benar diputus.


Lihatlah, padahal Jimin adalah orang terakhir yang ia harapkan berada di sisinya saat ini.


Saera hanya diam selama beberapa menit sebelum akhirnya mengacak-acak rambutnya sendiri diiringi dengan tangisan kencang.


Pikiran Saera kacau balau, sama halnya dengan perasaan gadis itu.


Semua kesedihan yang selama ini ia kubur dalam-dalam mendadak muncul ke permukaan dan memenuhi dirinya.


Kenapa Jimin tidak bisa lebih peduli sedikit saja?


Di saat seperti ini, lelaki itu bahkan tidak menanyakan apa yang terjadi padanya.


Sekarang Saera berpikir bahwa tidak ada yang benar-benar peduli padanya.


Jungkook?


Tidak.


Jeon Jungkook tidak bisa diharapkan.


Saera cukup tahu diri, kelak Jungkook mungkin akan meninggalkannya.


Lalu, siapa lagi yang ia miliki?


Rasanya sudah tidak ada lagi.


Gadis itu meremas kuat baju yang ia pakai saat dadanya terasa semakin sesak.


Saera butuh sesuatu—bukan sekedar menangis atau menjambak rambutnya sendiri— yang lebih menyakitkan.


Ada sesuatu di laci nakas yang ia pikir bisa sedikit membantu. Saera mengambilnya tanpa pikir panjang dan pergi ke kamar mandi, membawa benda itu bersamanya.


Kaca dan wastafel kini menjadi saksi apa yang gadis itu lakukan.


Ringisan gadis itu terdengar setiap kali benda itu menggores tangannya. Titik-titik merah perlahan muncul dari sana yang kemudian mulai berjatuhan dan mengotori wastafelnya.


Entah sudah goresan keberapa yang gadis itu torehkan.


Saera tidak menyangkal, rasanya memang perih. Terlebih saat benda itu menggores kulitnya.


Tapi inilah yang Saera inginkan.


Rasa sakitnya terbagi menjadi dua.


Saera kembali meringis, kali ini lebih kencang karena ada yang menarik tangannya dengan paksa.


"Apa yang kau lakukan?"


Itu Jungkook.


"Untuk apa melakukan ini?" Lelaki itu kembali bertanya.


Masih tidak ada jawaban.


"Aku menghabisi siapa saja yang berani menyakitimu. Sekarang—lihat, kau ingin aku menghabisimu juga?"


Di luar dugaan, Saera justru mengangguk.


"Kalau begitu silakan bunuh aku, Jung"


Kini Jungkook yang terdiam.


"Aku bilang bunuh aku!!!" Saera kembali menangis.


Jungkook paham, gadis itu sedang tidak baik-baik saja.


"Ada apa denganmu?"


"Aku ingin mati"


"Lee Saera"


"Jangan katakan apapun yang membuatku berharap kau akan tetap bersamaku, Jung"


Jungkook perlahan menyentuh goresan yang ada di tangan Saera, "Kau takut aku akan meninggalkanmu, begitu?"


Lukanya tiba-tiba menghilang seiring dengan usapan jari Jungkook.


"Jungkook. . ."


"Jangan melukai dirimu lagi"


Kalimat yang mulanya tersusun di kepala gadis itu sekarang menghilang entah kemana.


"Berjanjilah padaku", Jungkook kembali berucap.


Saera menggeleng tanpa suara.


Dengan gerakan cepat, Jungkook memutar tubuh Saera agar membelakangi wastafel kemudian mencium bibir gadis itu. Kedua tangannya yang mencengkram lengan Saera bergerak turun memeluk pinggang si gadis.


Ketika gerakan Jungkook mulai melembut, Saera sedikit memundurkan kepalanya untuk mengambil napas. Tapi sepertinya Jungkook tidak ingin membiarkan gadis itu terlalu lama, ia kembali menyatukan bibir mereka pada detik berikutnya. Kali ini kepala Saera ditahan agar tidak bisa bergerak.


Saera menepuk pundak Jungkook berkali-kali untuk memberitahu bahwa ia ingin berhenti. Kepalanya pusing.


Jungkook baru melepaskan ciumannya beberapa saat kemudian. Mereka bertukar napas, jarak antara wajah keduanya masih begitu dekat.


"Sekarang mau berjanji padaku?"


Melihat Saera yang menganggukkan kepalanya, Jungkook tersenyum, "Gadis pintar"


Tangan kekarnya menangkat tubuh Saera dan mendudukkan gadis itu ke meja di sisi wastafel. Jungkook mengikis jarak di antara mereka, bibirnya menciumi leher Saera dan menggigiti area tersebut berkali-kali.


Saera tidak tahu kenapa, tapi apa yang dilakukan Jungkook membuatnya ingin mengeluarkan suara aneh sehingga gadis itu menutup bibirnya rapat-rapat. Keinginan itu semakin kuat ketika tangan Jungkook menelusup ke dalam bajunya.


"Jung. . ."


Jungkook tidak menggubris panggilan Saera. Ia malah bertindak lebih jauh dengan mengangkat baju yang dipakai gadis itu sampai ke atas dada. Tangan Saera spontan memegangi kepala Jungkook saat bibir lelaki itu berpindah ke area yang—menurutnya— belum pernah disentuh siapapun.


Rasanya persis seperti apa yang Jungkook lakukan pada lehernya.


"Akh—"


Baiklah, kali ini suara itu tidak bisa ditahan lagi.


Salahkan gigi Jungkook sialan yang menambah rasa perih di sana dengan sengaja menggesekkan kedua bagian giginya.


Tangan Jungkook semakin turun menyusuri lelukan pinggang Saera hingga berhenti pada celana yang dipakai gadis itu. Belum sempat Saera berucap, Jungkook sudah menanggalkan celana itu lebih dulu.


"Jungkook—mphh"


Terkutuklah Jeon Jungkook yang kembali membungkam mulutnya dengan ciuman.


Sudahlah, Lee Saera. Menyerah saja. Biarkan Jungkook melakukan hal ini sesuka hatinya.


Dan satu lenguhan keluar dari mulut Saera saat gerakan tangan Jungkook semakin tidak terkontrol.


Ketika pikirannya tengah porak poranda seperti sekarang, Saera masih bisa mendengar sayup-sayup sebuah suara yang ia tahu persis itu apa.


"Eunghh—Jungkook. Hentikan. Ada yang menelponku"


Jungkook akhirnya berhenti dan memberikan kecupan sebelum menjauhkan diri, "Jawab saja"


Saera membenarkan pakaiannya dan segera melesat keluar mengambil ponsel yang ia taruh di atas nakas.


Ternyata panggilan itu dari Park Jimin.


"Kenapa?"


"Aku baru mendengar kabarmu dari pegawaiku, kau baik-baik saja? "


"Darimana ia tahu?"


"Berita sudah memuatnya"


"Ah, sial"


"Sepertinya dia orang yang punya dendam denganku. Maaf karena kau ikut terseret ke dalam masalahku"


"Hmm, aku tidak ingin ini terjadi lagi"


"Aku akan mengusahakannya"


"Terima kasih, Oppa"


"Kau sudah dapat teman di rumah? "


"Eum, sudah"


"Bisa aku bicara dengannya? "


Oh tidak, mana mungkin Saera menyerahkan ponsel ini pada Jungkook.


"Temanku sudah tidur"


"Baiklah, kau juga tidur"


"Ya, sebentar lagi. Maaf soal mobilmu, Oppa"


"Tidak perlu mengkhawatirkan mobil itu. Jaga dirimu baik-baik"


"Baik"


"Aku tutup dulu"


Tut.


Hah.


Bebannya terasa sedikit lebih ringan.


"Sudah merasa lebih baik?"


Saera baru menyadari Jungkook ada di belakangnya. Gadis itu lantas mengangguk pelan, "Aku rasa"


"Mau melanjutkan yang tadi? Atau sebaiknya tidur saja?"


Oh God.


Gadis itu berharap ia amnesia untuk yang tadi.


. . .


All this time, I thought that I had everything. But now, I realize that


I have nothing if don't have you.