Blood, Sweat, and Tears

Blood, Sweat, and Tears
Blue



"Halo? "


"Kau sudah sampai ke rumah?"


"Ya, baru saja"


Saera menghembuskan nafas lega, "Syukurlah, kalau begitu aku tutup dulu. Dahh"


"O-oh? Oke. Dahh"


Tut.


Jeon Jungkook memang tidak bisa ditebak. Ia akui itu.


Tapi tidak masalah, yang penting temannya baik-baik saja.


Saera kembali mengangkat ponselnya, kali ini gadis itu membuka salah satu sosial media yang ia punya. Dengan antusias menggeser layarnya yang menampilkan berbagai foto pemandangan alam yang diambil oleh para fotografer. Mulai dari pegunungan, hutan, danau, hingga pantai.


"Whoa, indah sekali"


Selama ini Saera belum pernah sekali pun mengunjungi tempat-tempat tersebut. Siklus hidupnya hanya berputar di rumah dan sekolah.


"Apa yang kau lihat?"


"Astaga! Bisa tidak jangan mengagetkanku?!"


Ya, Jungkook bisa muncul di mana saja kapan pun ia mau.


"Kau saja yang terlalu fokus dengan benda ini", Jungkook merebut ponsel yang dipegang Saera. Ikut melihat beberapa foto yang barusan gadis itu lihat, "Kau menyukai tempat seperti ini?"


Saera mengangguk sambil merampas kembali ponsel miliknya, "Ya. Cantik, bukan? Aku ingin pergi ke pantai jika ada waktu"


"Aku bisa membawamu ke sana sekarang"


"Jangan bercanda, aku belum menyiapkan apapun"


"Siapa bilang kau harus menyiapkan sesuatu?"


Gadis itu menatap Jungkook tidak yakin, "Bagaimana bisa?"


"Pejamkan matamu"


Bodohnya, Saera menuruti perkataan lelaki itu.


Ia merasa Jungkook menggenggam tangannya.


"Sudah. Buka matamu"


Padahal belum 5 detik gadis itu memejamkan mata di atas tempat tidur kamarnya, sekarang ia berada entah di mana.


"Ini di mana?"


Sepertinya tempat ini juga kamar, hanya saja bukan kamarnya ataupun kamar Jimin.


Dekorasi yang ada di sekitarnya membuat Saera berpikir bahwa ia sedang berada di sebuah—entahlah, kastil mungkin. Berbeda jauh dengan dekorasi kamarnya yang serba modern.


Belum puas mengagumi ruangan ini, Jungkook keluar dan menyuruh gadis itu untuk mengikutinya. Saera semakin terpukau saat kakinya menginjak lantai balkon bangunan itu.


"Ya Tuhan. Ini hutan sungguhan?"


Jungkook mengangguk sebagai jawaban.


Saera berjalan mendekati pembatas balkon. Pemandangan hutan cemara yang berkabut di bawah sana membuat gadis itu terus berdecak kagum.


Rasanya seperti berada dalam gambar yang biasanya ia lihat. Bahkan lebih indah karena sekarang dirinya melihat secara langsung, bukan melalui foto.


"Indah sekali"


Jungkook tersenyum kecil saat mendengarnya. Beruntung Taehyung sedang tidak ada sehingga ia bisa membawa gadis itu ke sini.


"Ada dua tempat lagi. Mau melihatnya?"


Tentu, Saera tidak mungkin menolak tawaran itu. Ia mengangguk antusias pada lelaki di sampingnya.


Lantas Jungkook menarik Saera agar beranjak dari tempatnya dan membawanya keluar. Saat berada tepat di depan bangunan itu, Saera terus mengedarkan pandangannya.


Ini benar-benar kastil, batinnya.


Gadis itu mengikuti Jungkook yang berjalan di depannya.


Menurutnya ini aneh, siapa yang membuat jalan seperti ini di dalam hutan. Saera yakin tidak ada satu pun manusia di sini, kecuali dirinya.


Jungkook? Entahlah, ia pikir Jeon Jungkook tidak bisa disebut sebagai manusia.


"Kemari", lelaki itu mengisyaratkan Saera agar mendekat. Gadis itu sedikit terkejut ketika Jungkook tiba-tiba memegang tangannya.


"Jangan kemana-mana atau kau tidak akan bisa pulang"


Tidak dapat dipungkiri bahwa ucapan Jungkook barusan sedikit menakutinya. Mau tidak mau, Saera membiarkan Jungkook membawanya entah kemana.


Ketika perjalanan sedikit lebih jauh, terlihat samar-samar sesuatu yang hijau di ujung sana. Lambat laun langkah mereka sampai ke pinggir hutan, disambut oleh hamparan bukit padang rumput yang sangat luas dengan danau yang berada di tengahnya.


Bibir gadis itu terbuka tanpa disadari, tempat ini benar-benar membuatnya terpukau.


Layaknya danau Alpine. Hanya saja tidak ada satu pun rumah penduduk maupun hewan di sini. Benar-benar sunyi.


Perlahan Jungkook melonggarkan genggaman tangannya, membiarkan gadis itu berjalan di depan dan dirinya memantau dari belakang. Melihat Saera yang tersenyum lebar sambil berlari kecil kesana kemari seperti anak kecil itu menjadi kesenangan tersendiri baginya.


"Apakah kita berada di Swiss, Jung?"


Jungkook terkekeh lalu menggeleng pelan, "Ini bukan duniamu"


"Benarkah? Wah. . .rasanya aku ingin tinggal di sini. . ."


Tiba-tiba Jungkook tersadar bahwa mereka sudah berjalan ke arah danau, "Saera! Jangan mendekat ke danau"


Saera menghentikan langkahnya lalu menatap Jungkook dengan penasaran, "Eoh? Wae? "


"Hydra?"


"Naga yang tinggal di danau"


"Makhluk seperti itu ada di sini?"


"Sudah ku bilang ini bukan duniamu", Jungkook kembali memegang tangan Saera, "Kita lihat tempat selanjutnya"


Ia tidak ingin mengancam keselamatan Saera dengan berlama-lama di sini. Hydra terlalu berbahaya untuk manusia.


Lelaki itu kembali membawanya masuk ke dalam hutan, kali ini mengambil jalan yang berbeda dari yang sebelumnya.


Langit di atas mereka perlahan berubah semakin redup, membuat Saera sedikit takut. Namun semua itu sirna saat dirinya telah keluar dari hutan.


Gadis itu spontan menutup mulut sambil mengedipkan matanya berkali-kali, memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat.


Di depan sana, matahari yang sudah menyembunyikan separuh bagiannya pada garis cakrawala tengah memancarkan sinar jingga yang indah ditambah ombak lembut yang menyapu tepi pasir putih dengan suara khasnya membuat Saera sejenak lupa daratan.


"Boleh aku mendekat ke tepi?"


Lain seperti tadi, Jungkook memperbolehkannya.


Saera langsung menghambur ke pinggir pantai. Ia bisa merasakan pasir lembut itu menggelitik kakinya yang tidak menggunakan alas apapun, bahkan baju yang ia kenakan saat ini hanya kaos biasa dengan celana pendek.


Puas bermain-main dengan sapuan air, Saera mendudukkan dirinya dengan nyaman di atas pasir kemudian disusul oleh Jungkook.


"Oh? Apa itu lumba-lumba?" Pertanyaan itu terlontar ketika Saera melihat seperti ada ikan yang melompat di tengah laut.


"Itu Siren"


Saera kembali kebingungan dengan nama-nama aneh yang Jungkook sebutkan.


Hydra.


Siren.


Sebenarnya mereka semua apa?


"Apakah itu putri duyung?"


"Hampir. Tapi bukan setengah ikan seperti putri duyung"


"Lalu?"


"Mereka setengah burung"


"Apa makhluk itu juga berbahaya?"


"Tidak. Siren hanya mengincar pelaut"


"Kau, Hydra, dan Siren—apakah sama?"


"Seperti yang kau tahu, kastil adalah tempatku sedangkan danau untuk Hydra dan lautan untuk Siren. Kami berbeda"


Gadis itu mengangguk paham.


Tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran di kepalanya.


Pemandangan indah seperti ini sayang sekali jika tidak diabadikan, bukan?


Saera merogoh saku yang ada di celananya. Sayangnya ia tidak menemukan benda yang harusnya terbawa.


"Mencari apa?"


"Ponselku"


"Kau tidak bisa menggunakan benda itu di sini"


Benar, gadis itu baru ingat bahwa ini bukanlah dunianya.


"Sayang sekali. Momen ini hanya bisa tersimpan dalam ingatanku"


Setelah itu tidak ada lagi yang bicara. Hanya terdengar suara deburan ombak di antara mereka. Sedang matahari semakin kehilangan cahayanya, langit di ujung sana pun sudah berubah gelap.


"Ini pertama kalinya bagiku, aku merasa sangat senang—"


Jungkook senantiasa mendengar apa yang diucapkan gadis itu.


"—senang sekali. Terima kasih sudah mengajakku ke tempat ini"


Kemudian Saera tersenyum, "Kau lihat matahari di depan sana? Itu mengingatkanku padamu"


Gadis itu melihat ke arah Jungkook dan pada saat itu pandangan mereka bertemu. Memang Jungkook tidak mengucapkan apapun, tapi Saera tahu bahwa lelaki itu sedang bertanya-tanya apa yang sedang ia bicarakan.


Saera mengalihkan pandangannya kemudian melanjutkan, "Matahari itu terlihat indah saat terbit dan terbenam. Walaupun hadir dalam kurun waktu yang singkat, mereka selalu kembali esok harinya."


"Berbeda dengan waktu terbit, matahari terbenam justru membawa kegelapan. Tapi tidak semua kegelapan berarti buruk. Malam adalah waktu di mana orang-orang bisa mengistirahatkan diri dari dunia yang melelahkan, juga waktu untuk menenangkan diri. Aku pikir tidak ada yang salah dengan itu"


Saera kembali menatap lelaki di sampingnya, "Kau telah membawakan malam untukku, Jung"


"Selama ini aku tidak tahu hidup untuk apa. Tapi kedatanganmu membuatku berpikir bahwa aku hidup untuk kehidupan yang lain", gadis itu tertawa sekian detik setelah ucapannya, "Kau pasti tidak mengerti apa yang ku bicarakan"


"Aku mengerti"


Jawaban Jungkook membuatnya tertegun.


"Jung, aku ingin menanyakan satu hal padamu"


"Apa?"


"Setelah ini, apa aku akan mati?"