
"Jimin oppa? Kapan kau pulang?"
"Tadi malam"
Tadi malam?
"Oppa."
"Hm?"
"Malam tadi. . .lihat ada seseorang di rumah tidak?"
"Kau membawa seseorang ke rumah?"
"Tidak, bukan begitu"
"Lalu?"
"Hanya saja. . .tadi malam aku merasa bahwa di sini ada seseorang"
"Tidak ada siapapun di rumah saat aku pulang"
"Ah, begitu" Saera mengangguk paham.
Hening.
Baik Saera maupun Jimin tidak ada yang kembali memulai percakapan. Fokus pada sarapan dan pikiran masing-masing.
Oh ya, kalian mungkin belum kenal siapa Park Jimin bukan?
Dia kakak dari Lee Saera
Kakak tiri lebih tepatnya.
Step-sibling. Keduanya tidak berbagi DNA, melainkan hanya sebatas garis pernikahan orang tua yang membuat Jimin dan Saera menjadi saudara.
Ibu Jimin menikah dengan Ayah Saera setelah mereka berdua dilahirkan. Ya begitulah singkat ceritanya.
———
Hari ini sepertinya Saera menjadi sedikit aneh,
Atau memang benar-benar aneh?
Seperti habis terjadi sesuatu padanya,
Atau memang telah terjadi sesuatu?
Itulah rentetan kalimat yang terbesit di kepala Haerin saat melihat sahabatnya yang sedari tadi terus menenggelamkan wajahnya pada meja.
"Sae, kau baik-baik saja?"
Saera mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Kau sakit?"
"Tidak"
"Bohong."
"Baiklah aku ketahuan", Saera menegakkan posisi duduknya, "Sekujur tubuhku rasanya sangat pegal sekali, ugh."
"Pasti gara-gara hukumanmu kemarin, ya?"
"Mungkin saja. Kepalaku juga agak pusing"
"Kau mau ke UKS?"
"Aku tidak suka tempat itu, Rin"
"Oh ayolah, lihat dirimu. Kau terlihat pucat dan tidak bersemangat. Aku tahu kau tidak berminat untuk menyimak pelajaran, tapi lihatlah kondisimu. Kurasa kau tidak mendengarkan apapun yang dijelaskan oleh Guru Lee tadi."
"Iya sih."
"Jadi UKS ya?"
"Aku tidak mau kesana sendiri"
"Ayo, ku antar kesana"
Berkat sedikit paksaan dari Haerin, akhirnya Saera mengalah juga. Sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Haerin, yaitu pergi ke UKS.
Well, berada disini sekarang bukanlah hal yang buruk bagi Saera karena kondisi UKS sedang sepi.
Yaah, setidaknya sampai beberapa siswi masuk dan menghampiri bilik kamar disampingnya,
"Oppa? Kau sakit?"
"Tidak."
"Kau baik-baik saja?"
"Tentu"
"Oppa, mau kubawakan makan? Atau minum?"
"Tidak perlu"
"Tapi lihat, aku sudah membawakan makanan untukmu oppa. Bagaimana?"
Si pemuda menghela nafas
"Untukku kan?"
"Ne"
"Kalau begitu serahkan makanan itu ke gadis di bilik sebelah."
"Mwo?"
Oke, mungkin saja yang dimaksud bukan dirimu, Saera. Bisa saja gadis lain yang berada di bilik sebelahnya. Bisa jadi kan?
"Serahkan saja ke gadis di bilik sebelah, ku bilang."
"Tapi ini untukmu."
"Karena itu untukku. Maka itu serahkan saja pada gadis di samping sini"
Yang benar saja,
Sebenarnya mereka membicarakan apa sih?
"Masa bodolah"
Sreekkkk
Tepat saat Saera ingin membaringkan tubuhnya, tirai pembatas antar bilik miliknya terbuka dan menampilkan beberapa siswi yang menenteng kotak makanan.
Mari kita lihat, raut wajah mereka sepertinya kurang bersahabat. Kesal, mungkin.
"Ada masalah?", Saera mencoba memulai pembicaraan.
Walaupun ia yakin pembicaraan ini tak akan menjadi pembicaraan manis antara kau dengan teman baru, mengucapkan 'senang berkenalan denganmu' atau paling tidak menanyakan nama satu sama lain lalu diakhiri dengan 'sampai jumpa'.
Tapi sepertinya tidak untuk sekarang, situasinya memang tidak begitu.
"Bukannya kau sudah dengar apa kata seseorang di samping bilikmu ini? Jangan sok tidak tahu."
"Heh, dengar ya. Kami terpaksa memberikan ini padamu karena Jungkook oppa yang menyuruhnya."
"Nih, ambil." Seseorang dari mereka menyerahkan kotak makanannya dengan setengah hati kemudian memberi isyarat satu sama lain agar beranjak dari tempat ini.
"Huh? Apa-apaan ini", Saera menghela nafasnya sambil terus memperhatikan kotak makanan yang barusan ditujukan kepadanya.
"Kenapa aku? apa hubungannya denganku?"
"Siapa tadi namanya? Jung apa? Jung—"
"Jungkook."
Bukan suara Saera.
". . . ."
Saera melangkahkan kakinya menuju ke arah bilik sebelah.
"Boleh kubuka tiraimu?"
"Tidak."
"Wae?"
"Aku sedang tidak pakai baju"
"Omo! Bagaimana bisa seseorang tidak memakai baju di area sekolah?!"
"Kau percaya padaku? Bodoh sekali."
"Mwo? Maksudmu?"
"Aku tidak serius. Buka saja"
Perlahan tapi pasti, Saera membuka tirai yang menutupi bilik milik Jungkook. Ia lalu mengulurkan kotak berisi makanan tadi kepada sang pemuda.
"Apa?"
"Ini untukmu kan? Tidak baik kalau aku yang memakannya"
Jungkook terlihat acuh tak acuh.
"Ambil saja. Aku sudah berkali-kali menyicipi masakan itu. Bosan"
"Jinjja?"
"Eumm.."
"Oh ya, omong-omong. Siapa namamu tadi? Jeon?"
"Jeon Jungkook"
"Ah. . .Jeon Jungkook. . ."
Jeon
Jung
Kook
Jeon
Jungkook
Jeon jungkook
Seperti pernah dengar.
"Permisi, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Jungkook mengangkat bahunya.
"Ah, mungkin hanya perasaanku saja."
———
Haerinnie
Sae, kau sudah baikan?
Saeyaa
Lumayan
Disini membosankan.
Bisa tidak aku kembali ke kelas saja?
Haerinnie
Bodoh.
Kau hanya akan mendapat hukuman jika mengikuti kelas tapi tidak fokus pada pelajaran
Tetap disitu
Saeyaa
Seriously
Aku sangat bosan T-T
Haerinnie
Tunggu sebentar
Aku akan kesana
Saeyaa
Arraseo
Haerin beranjak dari tempat duduknya. Bersyukurlah karena guru mereka kali ini sedang ada kesibukan dan berakibat tidak bisa mengajar dikelas.
Jangan tanya kemana destinasi Haerin kali ini, tentu saja UKS.
"Ya! Tolong perhatikan jalanmu"
Pekikkan itu terlontar tepat saat sebelah tubuh Haerin tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Tidak sampai terjatuh tapi lumayan keras. Sedang yang diteriaki tidak mengindahkan apapun dan berlalu tanpa menoleh apalagi meminta maaf.
"Dasar sinting", umpat Haerin
Lupakan soal orang yang menabraknya tadi, Haerin memilih melanjutkan langkahnya hingga sampai ke tujuan dan menemukan satu-satunya orang yang berada di UKS saat itu. Siapa lagi kalo bukan Lee Saera?
"Ada apa dengan ekspresimu, Rin?", Saera secara otomatis melontarkan pertanyaan tersebut setelah melihat raut Haerin.
"Tidak ada apa-apa kok"
"Tapi sepertinya kau terlihat. . .kesal?"
Haerin membuang nafas kasar, "Tadi ada yang menabrakku, sepertinya dia juga baru kembali dari UKS. Sebenarnya aku baik-baik saja sih, toh kurasa dia tidak sengaja. Hanya saja dia keterlaluan"
"Wae?"
"Dia bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, setidaknya minta maaf atau paling tidak memberitahuku kalau dia tidak sengaja. Tapi dia malah berlalu begitu saja bahkan saat kuteriaki dia tidak menoleh sedikit pun. Kurang ajar bukan? Siapa sih dia? Kelihatannya dia senior"
"Mungkin, orang yang kau sebut tadi itu Jeon Jungkook"
"Kau mengenalnya?"
Saera mendesah pelan sambil menggelengkan kepalanya, "Aku tidak yakin. Tapi kau bilang dia baru saja kembali dari UKS bukan? Kurasa itu dia"
"Masa bodo lah. Kau mau kembali ke kelas, Sae?"
"Bukannya kau bilang agar aku tetap disini?"
"Pak Choi hari ini sedang rapat. Jadi kelas kita kedapatan jam kosong sampai pulang"
"Jinjja? Kalo begitu baiklah. Ayo ke kelas!"
"Tunggu. Itu kotak makanan siapa? Ada yang memberikannya padamu?", Haerin menunjuk ke arah benda yang dipegang Saera.
"Jungkook yang memberikannya"
"Mwo? Kau serius?"
Saera mengangguk
"Bagaimana orang seperti dia—"
"Ah sudahlah. Untuk apa membicarakan dia. Lebih baik kita kembali ke kelas"