Blood, Sweat, and Tears

Blood, Sweat, and Tears
Closer



Semua ini di luar kehendak Saera.


Andai waktu itu Saera tidak bangun terlambat dan melupakan tugas dari Guru Kim, ia pasti tidak akan mendapat hukuman membersihkan sekolah sampai larut malam.


Dan tentunya Saera tidak bertemu dengan makhluk itu.


Andai


Andai


Andai


Andai


Andai saja.


Dibanding memikirkan masa lampau yang tidak mungkin lagi diulang, Saera lebih mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.


Kenyataan terasa kembali menamparnya.


Bukan mustahil, walau secara lambat laun orang-orang pasti akan mengetahui keadaannya.


Bagaimana nasib sekolahnya?


Bagaimana jika Jimin Oppa tau?


Bagaimana–. . .


–jika setelah itu Jungkook akan meninggalkannya?


Apa yang harus ia lakukan?


Saera terisak. Bohong jika ia bilang bahwa hal ini tidaklah mengganggunya.


"Ya Tuhan. Rasanya ingin mati saja"


"Kau tidak boleh mati."


Suara itu.


"Jungkook?"


"Kenapa menangis?"


"Kenapa kau bisa disini?"


Dari sudut ruangan, Jungkook berjalan menghampiri Saera kemudian menempatkan diri berbaring di samping gadis itu.


"Dia memberitahuku"


Saera tersentak ketika tangan lebar milik pria melingkar di perut miliknya.


Jungkook memeluknya.


"D-Dia?"


"Bayi itu, dia memberitahuku bahwa ibunya sedang bersedih. Aku jadi penasaran kenapa"


Alih-alih menjawab perkataan yang dilontarkan Jungkook, Saera hanya membalas pelukan pria itu.


"Ada masalah?", Jungkook bertanya lagi.


"Kau masalahnya."


"Aku?"


Saera menangguk, "Kau menyebalkan."


Jungkook terkekeh, "Jadi karena itu kau menangis?"


"Eumm. . ."


"Baiklah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Hanya saja, aku tidak tahu harus bagaimana"


"Jungkook"


"Hm?"


"Apa kau akan meninggalkanku?"


"Tidak"


"Bahkan saat bayi ini sudah lahir?"


"Tentu"


"Sungguh?"


"Ya"


Gadis itu menatap manik mata si pria dalam-dalam.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


Ucapan Jungkook membuat Saera mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat apakah ada kebohongan di dalam dirimu"


"Kau melihatnya?"


"Kurasa tidak"


Hening. 


"Jeon Jungkook"


"Ya?"


"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku"


Jungkook mengeratkan pelukannya, "Aku berjanji"


Saera menghela nafasnya. Bukan helaan nafas lega, melainkan helaan nafas yang berisi kecemasan. Padahal Jungkook sudah melontarkan penenang berupa sebuah janji. Tapi rasanya itu belum cukup untuk menenangkan pikirannya saat ini.


"Ada apa?", Jungkook rupanya menyadari bahwa Saera belum sepenuhnya tenang.


Gadis itu menggeleng pelan sambil memejamkan matanya, "Aku lelah, mau tidur"


Posisi tidur Saera berubah menjadi membelakangi Jungkook.


"Ada sesuatu yang masih mengganggumu?", Jungkook tetap bertanya walaupun pada dasarnya ia sudah tahu apa yang mengganggu gadis tersebut.


Saera tak kunjung menjawab, dan hal itu membuatnya gemas. Sebenarnya ia ingin Saera sendiri yang mengutarakannya, tapi sepertinya gadis itu berusaha menutupi masalahnya sendiri.


"Ini soal pertanyaanmu kemarin yang belum aku jawab bukan?"


"Bagaimana kau bisa tahu?"


"Tentu saja. ", Jungkook mengeratkan pelukannya kemudian melanjutkan, "Aku sudah menemukan solusinya. Tidak perlu takut, kau hanya perlu ikuti perkataanku. Mengerti?"


"Bagaimana—"


"Eumm. . ."


"Tidurlah. Kau bilang tadi lelah"


———


Kkkringgggg!!!


"Mwoya. . . siapa yang menaruh alarm ini dikamarku!", Saera mengucek mata dengan kesal sambil mendudukkan dirinya. Tangannya merampas benda bundar yang bergetar diatas nakas tempat tidurnya lalu mematikan bunyi yang sangat menjengkelkan itu.


"Hoaaamm. . .", Yaaa sepertinya Saera masih mengantuk. Meski pada akhirnya ia beranjak juga dari tempatnya untuk bersiap sekolah setelah menunggu beberapa menit untuk mengumpulkan nyawa.


Saera memandangi pantulan tubuhnya yang sudah berbalut seragam sekolah di depan cermin. Gadis itu tidak menampik apa yang orang katakan, bahkan ia mengakui ada yang tidak beres dengan badannya.


Tangan Saera bergerak menyentuh perutnya yang sudah mulai menampakkan bahwa ada sesuatu yang tinggal disana, "Kau tumbuh dengan sangat cepat hm"


Senyum kecil terpatri di wajah Saera setelah menyadari bahwa dia sedang berusaha berkomunikasi dengan si penghuni.


Helaan nafas kembali terdengar, "Seandainya aku bisa bolos, aku ingin bolos saja".


———


"Hyung, maaf ya"


"Masa bodoh, Kook"


"Serius, maafkan ya?"


"Hm"


"Hyung!"


"Baiklah baiklah"


Bukan Jeon Jungkook namanya jika dia tidak bisa mengambil hati seseorang. Seperti sekarang ini contohnya, mendapat maaf dari Taehyung bukanlah hal yang sulit baginya. Walaupun sebenarnya dia sudah mengacaukan hal yang penting bagi hyungnya itu.


"Kalian masih bertengkar?", Taehyung memulai topik yang berbeda.


"Tidak"


"Kau sudah menjelaskan rencanamu padanya?"


Jungkook menggeleng, "Secara rinci, belum"


"Lalu?"


"Aku mengatakan bahwa aku memiliki solusinya"


"Itu saja?"


"Ya"


"Bodoh. Apa dengan itu dia akan percaya padamu?"


"Kurasa begitu"


"Ah sudah, terserahlah", Taehyung memijit pelipisnya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikir si Jeon itu. Hatinya sedaritadi terus memaki betapa lambannya Jeon Jungkook. Tapi terserahlah, hanya itu kalimat yang bisa dilontarkan oleh Taehyung untuknya.


"Bagaimana dengan targetmu, hyung?"


"Belum dapat"


"Uuu, sayang sekali"


"Gara-gara kau dan gadismu itu, sialan."


"Mau kucarikan?"


"Tidak perlu"


"Yasudah, padahal itu bentuk permintaan maafku"


Tunggu dulu.


Sepertinya Taehyung mempunyai ide, "Bentuk permintaan maaf ya?"


"Kenapa? Kau mau?"


"Tidak, aku tidak berminat dengan opsi yang itu", Taehyung tersenyum, "Tapi aku punya opsi yang lain"


"Apa?"


"Temukan targetku kemarin dan serahkan padaku. Kau bisa?"


———


Seisi sekolah kali ini membuat Saera tidak nyaman.


Kemanapun dia berjalan, akan ada beberapa siswi yang menggunjingnya.


Apa yang terjadi dengan berat badannya?


Bukannya dulu dia kurus?


Ya, lihat. Bukankah itu aneh?


Kenapa dia terlihat seperti itu?


Agak berbeda.


"Haerin-ah. Apa aku terlihat sangat gendut?"


Haerin yang tengah menikmati makannya lantas menggeleng, "Aniya, kau hanya terlihat sedikit berisi. Mereka saja yang terlalu berlebihan"


"Benarkah?", tanyanya tidak yakin.


"Hmm"


Saera mencoba kembali fokus dengan makan siangnya. Tapi gunjigan yang tak kunjung berakhir itu membuatnya benar benar tidak tahan.


Mungkin akan lebih baik jika pergi dari sini, batinnya.


Baru saja berdiri, seseorang tiba-tiba duduk di depan gadis itu dan meletakkan nampan makan siang miliknya.


Evidently, that's Jeon Jungkook.


"Mau kemana?", Jungkook bertanya tanpa menatapnya. Saera masih mematung di tempatnya, belum bergerak satu cm pun.


"Duduk dan makan disini. Jangan kemana-mana", lanjut Jungkook.


Dengan ragu Saera kembali duduk ditempatnya. Tangannya disenggol berkali-kali oleh Haerin yang ingin meminta penjelasan kenapa bisa Jeon Jungkook duduk bersama mereka.


Si Jeon itu seolah tidak perduli dengan sekitar yang terus menatap mereka, ia tetap melanjutkan makannya sambil menatap gadis di depannya. 


Welcome to the new hell, Lee Saera.