Blood, Sweat, and Tears

Blood, Sweat, and Tears
Am I Wrong



Saera merutuki ucapannya.


Tidak seharusnya ia berucap sekejam itu pada Jungkook.


"Haahh, bagaimana caraku meminta maaf padanya? Ya Tuhan."


Kakinya terus bergerak melangkah ke segala penjuru kamar dengan perasaan gelisah sampai akhirnya berhenti tepat di depan cermin.


"Saeron-ah, bagaimana ini?"


Ya, orang-orang mungkin akan mengira bahwa Lee Saera gila karena berbicara sendiri di depan cermin.


"Apa aku harus minta maaf?"


"Yah, itu benar. Salah atau tidak, mungkin aku sudah menyakiti perasaannya"


"Bisa kau panggilkan dia untukku?"


Saera terkekeh menyadari tingkahnya yang aneh. Namun itu tidak berlangsung lama saat ia melihat ada sosok yang berdiri di ambang pintu kamarnya.


Padahal ucapannya tadi tidak serius, tapi Jeon Jungkook benar-benar datang.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Emmm. . .Itu–"


"Diam di situ. Jangan mendekat" Jungkook mencegah Saera yang tengah berjalan mendekatinya.


"Maafkan aku"


Hening.


"Aku pikir ucapanku kemarin itu berlebihan, maafkan aku"


"Kau tidak perlu meminta maaf, ucapanmu memang benar"


"Tidak mau memaafkanku, Jung?"


"Untuk apa minta maaf?"


"Karena aku salah".


"Bukankah sudah ku bilang? Ucapanmu benar"


"Tetap saja, aku merasa bersalah"


"Baiklah, kalau itu yang kau inginkan"


"Dimaafkan?"


"Hm. Pergilah tidur"


Saera menghampiri Jungkook kemudian memeluknya, "Hiks, maafkan aku"


"Sudahlah. Kenapa jadi cengeng begitu"


Ia tetap memeluk Jungkook, mengabaikan ucapan lelaki itu.


"Jung"


"Hm?"


"Aku pikir Saeron ingin tidur denganmu"


———


Ugh.


Apa saja yang ia lakukan kemarin sampai badannya terasa berat begini, batin Saera.


Tapi tunggu dulu, ini bukan seperti yang sering ia rasakan saat lelah.


"Sudah bangun?"


Saera membuka matanya.


Oh ya, dia melupakan lelaki itu.


"Jung, singkirkan kakimu dari badanku"


"Memangnya kenapa?"


"Berat, bodoh"


"Ck, begini saja sudah berat"


Saerah kembali memejamkan matanya, "Ini jam berapa?"


"Jam 7"


"APA?!" Gadis itu segera menyibak selimutnya dan mengambil posisi duduk kemudian melihat Jungkook di sebelahnya dengan tatapan panik, "Kenapa tidak membangunkanku?!"


"Kenapa?"


"Kita akan terlambat sekolah!"


Lelaki itu menahan tawanya, "Ini hari libur, bodoh"


"Apa?"


"Ini hari minggu"


Sial, Saera sampai lupa hal itu.


"Aku tidak menertawakanmu"


Saera mencebik, "Bohong"


"Pergilah mandi. Aku akan menemanimu hari ini"


"Benarkah?"


"Hm"


Rasanya Saera ingin meloncat kegirangan, tapi tidak mungkin. Harga dirinya jauh lebih penting.


"Okay, aku akan mandi."


Dengan gerakan kilat Saera segera beranjak ke kamar mandi.


Selagi menunggu gadis itu menyelesaikan urusannya, Jungkook pikir tidak ada salahnya mengadakan sedikit roomtour.


Ia mulai dari laci disamping tempat tidur.


Rak laci tersebut dibuka satu persatu dengan lancangnya. Dan yang Jungkook temukan hanyalah barang-barang yang tidak terlalu berguna.


Lantas Jungkook berpindah ke meja belajar gadis itu, didekatnya tertempel beberapa foto pada dinding. Ia mengamati foto-foto tersebut kemudian tersenyum, "Rupanya gadis ini suka menyimpan kenangan"


Jungkook duduk di kursi meja belajar tersebut, kembali mengamati beberapa sticky notes yang tertempel di meja.


Fighting! Lee Saera


Tidak apa-apa. Kau hanya kurang beruntung hari ini


Jangan lupa memasukkan tugas ke dalam tas setelah dikerjakan


Apa aku menyukainya?


Menyukai siapa?


Apa Saera sedang menyukai seseorang?


"Aku selesaii"


Jungkook melihat Saera yang keluar dari kamar mandi masih mengenakan baju tidurnya, "Bajumu?"


"Memangnya kenapa? Baju ini nyaman. Malas ku ganti"


"Baiklah kalau begitu, waktunya untukmu sarapan"


Saera melesat pergi ke dapur disusul oleh lelaki itu.


Raut wajah Saera seketika berubah saat melihat isi kulkasnya.


"Ada apa?" Tanya Jungkook.


"Hmm. . .Sepertinya persediaanku sudah habis. Ini baru jam 7 pagi dan supermarket belum memasuki jam operasionalnya"


"Kau bisa membeli makanan kecil di minimarket terdekat"


"Ah iya, kau benar"


"Mau kutemani?"


"Kau tidak keberatan jalan kaki kan?"


"Tidak"


"Baiklah, ayo kalau begitu temani aku"


Baru saja mereka sampai ke pintu depan rumah, Saera melihat ada mobil yang parkir di halaman rumahnya.


"Jung, sepertinya–. . ."


Loh? Jungkook menghilang?


Saera menoleh ke arah lelaki itu tadi berdiri, sosoknya lenyap tanpa suara.


Kreekkk


"Eoh? Jimin Oppa? Ada apa kemari?"


"Mengambil dokumen"


Begitu saja jawabannya.


Saera tetap diam di tempat menunggu sekitar 2 menit hingga akhirnya Jimin keluar dari ruangannya lalu kembali ke mobilnya.


"Dia Park Jimin?"


"Astaga!"


Dengan spontan Saera memukul Jungkook yang tiba-tiba muncul lagi entah darimana, "Mengagetkanku saja!"


"Kakakmu?"


"Bagaimana kau bisa tahu?"


"Kau memanggilnya oppa"


"Ya begitulah. . ."


Jungkook mengangguk pelan, "Mobilnya sudah pergi, ayo."


———