Blood, Sweat, and Tears

Blood, Sweat, and Tears
Just



"Jung, bisa pergi dari sini?", di meja kini hanya tersisa Jungkook dan dirinya. Saera tidak tahu apakah ia harus berterimakasih atau tidak pada Haerin–yang pamit ke kelas duluan dan meninggalkannya di sini bersama si iblis.


"Memangnya kenapa?"


Ya Tuhan, dasar lelaki tidak peka.


"Kau tidak lihat? Mereka semua melihat kita!"


"Lalu? Apa masalahnya?"


"Aku tahu. Ini bukan masalah bagimu. Tapi bagiku, ini masalah, Jung. Mereka akan membicarakanku"


"Bukannya dari awal mereka sudah begitu?"


"Memang, dan akan terus berlanjut jika kau tetap di sini"


"Baiklah, aku akan pergi"


"Bagus"


Jungkook bersender pada kursinya, "Kalau kau sudah menghabiskan itu", katanya sembari menunjuk nampan makan siang Saera yang belum kosong.


Saera menggeleng dan berdalih pada Jungkook bahwa ia sudah tidak berselera untuk melanjutkan makan. Dan Jungkook pun berdalih bahwa ia tidak akan pergi jika gadis itu belum menyelesaikan makannya.


Paksaan dari lelaki itu membuatnya jengkel, lantas Saera berdiri sambil memegangi nampannya, "Kalau begitu biar aku saja yang pergi"


Saera melenggang pergi dengan cepat tanpa menggubris teguran Jungkook yang masih ditempatnya.


Beruntung, lelaki itu tidak mengejarnya.


Sebelum kembali ke kelas, gadis itu berbelok ke arah kamar mandi. Sekedar ingin membenarkan riasannya terlebih dahulu.


"Kau lihat apa yang terjadi dikantin tadi?"


Langkahnya terhenti di depan dinding pembatas kamar mandi saat mendengar seseorang di dalam sana berbicara demikian.


Menguping sedikit tidak dilarang kan.


"Jungkook sunbae makan siang dengan gadis itu!"


"Yang benar saja, bagaimana bisa"


"Kelihatannya gadis itu benar-benar tukang cari perhatian"


What the?


"Lihatlah caranya menghebohkan sekolah, aku pikir sekarang ia benar-benar senang dengan usahanya"


Saera membuang nafasnya perlahan, berdoa agar saat masuk ke dalam ia akan tahan untuk tidak menjambak rambut mereka satu persatu.


Setelah mempersiapkan diri, Saera masuk dan bergabung bersama siswi-siswi yang membicarakannya tadi didepan wastafel.


Para siswi itu nampak terkejut dengan kehadiran Saera, mereka saling berbisik satu sama lain sambil mengamati gerak-geriknya. Saera sendiri masih berusaha fokus dengan kegiatannya sendiri tanpa mengindahkan desas desus disampingnya.


Hanya tinggal menambahkan polesan lipstick dan Saera akan pergi dari sana, "Lain kali, kalau kalian ingin menyebarkan gosip tentang orang. Amati dulu. Perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan, itu lelucon. Dasar tong sampah"


Astaga.


Astaga.


Astaga.


Lee Saera, kau pasti sudah gila.


Debaran jantungnya masih menggila walaupun Saera sudah pergi menjauh dari mereka.


Ternyata ada kepuasan sendiri setelah menghina mereka, batin Saera.


Saera sampai di kelas sebelum jam pelajaran kembali dimulai, ia buru-buru duduk di kursinya sambil menghela nafas dengan kasar.


"Lee Saera, tolong jelaskan padaku kenapa–"


"Kau mau membahas masalah dikantin tadi bukan?", Haerin mengangguk setelahnya Saera kembali menghela nafas, "Aku juga tidak tahu kenapa dia begitu, Rin. Jangan tanya aku"


"Baiklah. Aku tidak akan minta penjelasan yang itu lagi, tapi aku ingin tahu apakah kalian terlibat suatu hubungan sebelumnya?"


"Maksudmu?"


"Maksudku, ya kalian mungkin memang saling kenal sebelumnya. Tapi tidak sedekat ini, maksudnya–kalian seperti sudah sering bertemu sebelumnya. Karena sepengetahuanku, Lee Saera ini tidak sering bertemu dengan lelaki. Bukan begitu, Nona Saera?"


"Memang begitu. Tapi–", Saera menggantungkan kalimatnya sambil menatap Haerin, "Ini rahasia. Aku tidak bisa memberitahunya padamu"


"Apa terjadi sesuatu diantara kalian?"


———


Tiga siswi terlihat mendekati Jungkook beberapa saat setelah Lee Saera beranjak dari sana. Salah satu dari mereka duduk di kursi yang tadinya diduduki Saera.


Jungkook menatap gadis di depannya dengan pandangan terganggu, "Ada urusan?"


"Mian sunbae, aku teman gadis yang tadi duduk disini. Apa temanku dengan sunbae saling kenal?", penuturan gadis itu membuat Jungkook mendecih.


"Ya, seperti yang kau lihat. Aku mengenalnya, tapi tidak denganmu"


Sebelum gadis itu kembali berbicara, Jungkook sudah berdiri–berniat meninggalkan tempat itu.


"Ya, sunbae. Aku tahu namanya! Sella!"


Jungkook berjalan menjauh tanpa menoleh ke gadis yang meneriakinya di belakang.


Saat langkahnya sudah sampai diluar kantin, sesuatu menyita atensinya. Membuat langkahnya terpaksa berhenti lalu menoleh pada seseorang yang baru saja keluar dari ruang UKS.


Gadis itu kelihatannya tidak asing, batin Jungkook.


———


"Omo, sulit dipercaya", Haerin memeluk tubuh Saera yang bergetar karena menangis. Sewaktu di kelas Saera sudah berjanji bahwa ia akan menceritakan semuanya saat jam pulang di rooftop sekolah.


Dan sekarang Haerin sudah tahu semuanya.


Haerin berusaha menenangkan Saera yang masih menangis sesenggukan dengan menepuk-nepuk pundaknya, "Sudahlah, kau baik-baik saja"


"Jangan beritahu siapapun, Rin. Ini rahasia"


"Arra, sekarang berhentilah menangis. Nanti matamu bengkak"


Saera melepaskan diri dari pelukan Haerin sembari mengangguk dan menyeka bekas air matanya, "Pulanglah, Rin. Bukannya kau ada les hari ini?"


"O, maja. Tapi bagaimana denganmu?"


"Tidak apa. Aku ingin tinggal di sini sebentar, duluan saja"


"Benarkah?"


"Eum. . ."


Setelah merasa yakin, Haerin akhirnya pamit pulang terlebih dahulu. Saera melangkah ke ujung rooftop, mengamati pemandangan di sekitar sekolahnya untuk beberapa saat. Tidak lama, karena senja yang mulai menunjukkan diri memaksa Saera untuk segera pulang.


Tampaknya para penghuni sekolah sudah pulang kerumahnya masing-masing. Sejauh ini hanya Saera yang terlihat melewati lorong sekolah.


"Ya! Kau. Berhenti disitu"


Suara itu menghentikan langkah Saera tepat didepan gudang sekolah yang dulu pernah menjadi saksi atas hukuman Guru Kim padanya. Ia menoleh kebingungan mencari sumber suara, beberapa siswi dari dalam gudang tersebut. Rupanya suara itu berasal dari salah satu di antara mereka.


"Siapa kau?"


"Harusnya aku yang bertanya kau siapa"


Okay, Saera mulai bingung dengan mereka. Bukankah gadis ini yang menegurnya duluan?


Tanpa minat Saera menjawab, "Jangan membuat obrolan tidak berguna. Aku sibuk, permisi", Saat hendak berbalik pergi tangannya ditarik oleh salah satu dari mereka, "Kau sungguh tidak sopan dengan seniormu, ck. Dasar bocah"


Kim Yeona


Jung Haejin


Na Jiyeon


Kang Daeun


Dilihat dari warna nametag siswi-siswi itu memang benar, mereka semua senior. Kali ini Saera masih menanggapi mereka dengan sabar, "Ada urusan apa, Sunbaenim?"


"Kau si tukang cari perhatian itu ya?"


"Beraninya kau mendekati Jungkook?"


Jungkook lagi.


Saera masih diam menunggu giliran ke empat dari mereka menyelesaikan protesnya sambil menghitung berapa lama kesabarannya akan bertahan.


"Jadi kau mencari perhatian di sekolah agar bisa dekat dengan Jungkook?"


"Rendahan sekali."


Waktu habis.


"Haejin sunbae, aku tidak suka perhatian, untuk apa mencarinya?–"


"–Yeona sunbae, bukan aku yang mendekatinya, dia yang mendekatiku–"


"–Daeun sunbae, perhatian semua orang dan dekat dengan Jungkook sunbae? Aku bahkan tidak mengharapkan hal itu–"


"–Jieyon sunbae, apa kau baru saja menghina dirimu sendiri?"


Saera menjawab sembari menatap mereka satu persatu. Jiyeon menatap sengit, "Apa maksudmu?"


Ayolah Lee Saera, kau tidak boleh takut.


"Ah aku tau, salah satu dari kalian pasti menyukai Jungkook sunbae bukan? Oh, apa jangan-jangan kalian semua menyukainya? Ya Tuhan. Kalau begitu aku bahkan tidak yakin kalau pada akhirnya kalian tidak akan memakan satu sama lain"


"Ya! Lee Saera"


"Kenapa? Sudah sadar bahwa kalian itu rendahan?"


"Jaga ucapanmu, sialan!–"


"Sialan, ucapanmu yang harusnya dijaga."


Jungkook?