
Metanoia
(n.) the journey of changing one's mind, heart, self, or way of life
—
Taehyung sudah menganggap Jungkook seperti adiknya sendiri. Itulah sebabnya kenapa selama ini ia selalu mencampuri urusannya.
Dan sepertinya Jungkook belum menyadari hal itu. Bahwasanya Taehyung menentang Jungkook berhubungan dengan manusia tidak lain ialah karena masa lalu mereka.
Ia dan Jungkook dilahirkan oleh dua manusia yang berbeda, namun satu ayah yang sama.
Dulu, saat Taehyung mulai beranjak dewasa, ayahnya kembali membuahi seorang manusia. Tak disangka ternyata ayahnya jatuh cinta dengan manusia itu. Agar dirinya bisa menjadi manusia, sang ayah akhirnya memutuskan untuk membunuh Jungkook saat lahir.
Rencana itu gagal karena Taehyung membunuh ayahnya tepat sebelum sang ayah membunuh Jungkook, lalu ia membawa anak itu pergi dan membesarkannya hingga sekarang.
Sebab bagi Incubus, menjadi manusia merupakan keputusan yang sangat bodoh. Taehyung hanya tidak ingin Jungkook bernasib seperti ayahnya. Itu saja.
"Lee Saera, bisa kita bicara sebentar?"
Dan hari ini Taehyung sengaja menemui Saera saat pulang sekolah.
"Tentu. Ada apa?"
"Aku pikir kita bisa mencari tempat yang lebih tertutup untuk obrolan pribadi ini"
Tentu tidak mungkin baginya untuk membicarakan hal ini di dalam kelas.
"Bagaimana kalau di dekat perpustakaan? Aku ingin mengembalikan buku ini terlebih dahulu", ujar Saera sambil mengangkat tumpukan buku yang sebelumnya ia pinjam di perpustakaan.
"Tidak masalah"
Mereka pergi ke tempat yang disarankan oleh Saera. Cukup sepi, terlebih ini sudah jam pulang.
Taehyung berdiri di sana menunggu gadis itu selesai mengembalikan bukunya. Sekitar 5 menit, akhirnya Saera keluar dari perpustakaan.
"Sudah?", ia bertanya pada Saera yang menghampirinya.
Saera mengangguk, "Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Aku mohon padamu, jangan terlalu dekat dengan Jungkook"
"Memangnya kenapa?"
"Alasannya—kau tidak perlu tahu. Yang jelas kau dan dia harus memiliki batasan"
"Maaf, tapi aku tidak bisa menjauhi seseorang tanpa alasan yang jelas"
"Ini demi kebaikannya", Taehyung melanjutkan, "Jangan biarkan Jungkook jatuh cinta padamu"
Kini mereka berdua sama-sama terdiam.
Meski Taehyung mengatakannya tanpa penekanan, Saera bisa merasakan adanya keseriusan pada ucapan lelaki itu.
Jika ini memang demi Jungkook, ia pikir akan sulit untuk menolaknya. Bukannya tidak mau, hanya saja Saera sebuah butuh alasan yang logis.
"Kau bisa melakukannya, bukan?", Taehyung bertanya penuh harap.
"Aku—"
"Apa yang kau lakukan di situ?"
Taehyung yang mengenali suara familiar itupun menoleh kebelakang dan menemukan Jungkook yang berjalan menghampiri mereka.
Ini bukanlah hal yang baik.
"Pulang", perintah Jungkook.
Tentu saja itu ditujukan untuk Saera. Namun gadis itu tidak langsung menurutinya, ia tahu bahwa Jungkook sedang dalam mood yang buruk dan dirinya tidak ingin membiarkan kedua makhluk ini saling membunuh satu sama lain jika ditinggalkan berdua.
"Apa yang kau lakukan?", Jungkook bertanya pada Taehyung dengan penuh penekanan.
Kim Taehyung mengabaikannya, ia justru menyuruh Saera untuk pergi dan meninggalkan Jungkook bersamanya.
"Aku ingin bicara dengannya, kau bisa pulang duluan. Tidak perlu khawatir, kami tidak akan berbuat onar"
Akhirnya Saera mengalah dan meninggalkan mereka berdua dengan berat hati.
"Apa lagi kali ini?" Jungkook kembali bertanya.
"Aku hanya memperingatkannya"
"Hyung, bukankah sudah aku bilang jangan ikut campur dalam urusanku? Berapa kali harus aku katakan itu agar kau mengerti?"
"Kau yang seharusnya mengerti, Jeon Jungkook. Ini demi kebaikanmu"
"Kebaikan kau bilang?" Jungkook menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Apa iblis seperti kita punya kebaikan?"
"Setidaknya ini yang terbaik untukmu, anakmu, dan juga Lee Saera"
"Tahu apa kau—"
"Jangan seperti ayah, Jeon"
Jungkook diam.
Gambaran masa lalu terlintas dipikirannya meski memang tidak tahu persis apa yang terjadi. Bagaimana ia hampir dibunuh oleh ayahnya sendiri dan bagaimana Taehyung membunuh ayahnya, Jungkook tidak pernah melihatnya secara langsung. Dari apa yang Taehyung ceritakan paling tidak membuat Jungkook bisa membayangkannya.
Tidak, tentu saja ia tidak akan membunuh anaknya.
"Aku tidak akan seperti dia, Hyung. Apa itu sudah cukup untuk membuatmu tenang?"
"Belum"
"Jangan terlalu dekat dengannya dan berakhir seperti ayah"
"Sekalipun berakhir jatuh cinta pada Saera, aku tidak akan mengakhirinya dengan membunuh anak itu seperti yang ayah lakukan padaku"
"Jangan bodoh! Kita punya aturan", Taehyung mulai tersulut emosi. Rupanya Jeon yang satu ini sangat keras kepala.
"Kalau begitu aku akan membuat aturan ku sendiri"
"Bagaimana caramu melakukannya?"
Jungkook menaikkan bahunya, "Kita lihat saja nanti. Aku pamit dulu"
Tanpa basa-basi lagi, Jungkook melangkahkan kakinya untuk pergi. Sampai pada persimpangan lorong, tidak jauh dari tempatnya tadi, ia memergoki Lee Saera yang ternyata masih berada di sini.
"Kau barusan menguping?"
Gadis itu menggeleng cepat merespon tuduhan Jungkook, "Tidak!"
"Lalu, kenapa masih di sini?"
"Tadi kau kelihatan kesal. Aku takut kau akan meluapkan emosimu. Jadi aku di sini untuk berjaga-jaga", cicitnya.
"Baiklah kalau begitu, ayo pulang. Aku akan mengantarmu"
—
Ralat. Jungkook tidak sekedar mengantar Saera pulang ke rumahnya, melainkan kembali menginap. Berseteru dengan Taehyung membuatnya semakin malas pulang. Jadi ia memutuskan untuk kembali menemani Saera di rumahnya.
Dan sekarang mereka sedang menunggu jam makan malam. Saera asik menonton kartun Pororo di televisinya, sedangkan Jungkook yang tidak tertarik pada tayangan itu hanya duduk di sebelahnya sambil terus memandangi si gadis.
Saera bahkan tidak menyadari bahwa dari tadi Jungkook sedang memperhatikannya.
Hal itu lantas membuat Jungkook gemas, ia berusaha mengalihkan perhatian Saera agar terlepas dari Pororo dengan merebahkan dirinya ke paha Saera kemudian memeluk perut gadis itu.
"Apa yang kau lakukan, Jung"
Baiklah, rencana Jeon Jungkook kali ini berhasil.
"Kenapa aku jadi senang memelukmu, ya?"
"Mau ku bawakan guling? Atau boneka? Kau bisa memeluknya. Jangan ganggu aku begini"
"Mengganggu apanya, aku bahkan tidak menutupi layarnya"
"Tapi kau mengacaukan fokusku"
"Fokus menonton saja. Aku akan tidur di sini"
"Tidak mau, kau berat"
"Baiklah, aku tidak akan tidur"
Saera kembali pada kartun Pororonya, ia malas jika harus berdebat dengan Jungkook saat ini.
Sejenak Jungkook berhenti mengganggu Saera. Lelaki itu kembali teringat bahwa Taehyung mengatakan sesuatu pada gadis itu.
"Apa saja yang kau dengar dari Taehyung?", Jungkook penasaran sejauh mana Saera mengetahuinya.
"Tidak banyak. Ia hanya menyuruhku menjauhimu", jawab Saera dengan terus terang.
"Lalu?"
"Lalu ku bilang padanya bahwa aku tidak bisa menjauhimu tanpa alasan"
"Dia tidak mengatakan alasannya padamu?"
Gadis itu menggeleng dengan matanya yang masih terfokus pada televisi, "Memangnya apa alasannya?"
Haruskah Jungkook memberitahunya?
"Entahlah. Aku juga tidak mengerti", Jungkook pikir belum saatnya memberitahu Saera tentang ini.
"Aneh sekali", gerutu Saera.
"Omong-omong, mulai kapan kau akan mengambil libur?"
"Mungkin setelah ujian akhir", Saera mulai menyadari ada yang aneh dengan lelaki itu. Tidak biasanya Jungkook jadi banyak bicara begini.
"Hei, Jung. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
"Memangnya aku kenapa?"
"Kau bertingkah umm— sedikit aneh"
Jungkook tak lekas menjawabnya, ia juga baru menyadari ada yang aneh pada dirinya saat ini.
"Jangan lakukan hal yang dikatakan Taehyung"
Intinya, Jungkook tidak ingin Saera menjauh.
"Aku tidak akan menjauhimu"
"Meskipun ada alasan dibalik itu?" Jungkook menatap wajah itu lekat-lekat. Mendambakan sebuah jawaban yang ia harap akan diucapkan.
Pandangan mereka bertemu. Iris mata Jungkook membuat Saera teringat ada satu bagian yang telah ia lupakan.
Ini demi kebaikannya.
"Andai aku tahu alasannya, mungkin akan ku pertimbangkan lagi"
—