Black Poison

Black Poison
09. Blind Date



Cinta bisa dimulai dari kejadian apa saja


Cinta bisa dimulai dari rasa apa saja


Cinta bisa dimulai dengan siapa saja


Namun, cinta tak bisa dimulai dari nafsu saja


***


"Lo lagi suka ya sama seseorang?"


Ditanya tiba-tiba seperti itu membuat Sultan menatap bingung pada Arka. "Maksud lo?"


"Iya, yang tadi ngejelasin ke lo kalau dia itu suka sama lo," balas Arka agak malas karena sifat tak peka Sultan sudah mendarah daging.


"Oh," paham Sultan baru sadar. "Nggak."


"Bohong." Arka langsung berdecak. "Lo nggak usah malu-malu gitu dah di depan temen sendiri. Ya, nggak?"


Gerald mengangguk setuju. "Iya!"


"Cot ah. Besok jadiin. Gue pulang dulu."


Sultan langsung pamit dari perkumpulan bersama Arka dan Gerald di ruangan khusus itu. Meninggalkan Arka dan Gerald yang berpandangan, kemudian mengangguk mantap.


"Eh, btw, si Alfin ke mana, ya?" tanya Arka heran. "Dari tadi perasaan nggak ada."


***


Pagi yang seharusnya menjadi awal bahagia, menjadi awal derita bagi Sultan hari ini.


"Sultaaaaaaaaaaaaan," sapa Siti riang ketika Sultan baru saja keluar dari kamarnya setelah mandi. Perempuan itu selalu cantik dengan pakaian dan pernak-pernik mewahnya, namun selalu aja terlihat biasa di mata Sultan.


Langkah Siti mendekatkan keduanya hingga hanya berjarak dua langkah. Siti tersenyum lebar. "Aku mau liburan ke Eropa. Kamu mau ikut?"


Kening Sultan mengerut tak setuju. "Buat apa gue buang-buang waktu di sama sama lo?"


Sakit. Hatinya tertusuk ribuan belati rasanya. Namun, Siti mencoba sabar, ia menipiskan bibirnya dan tersenyum lebar. "Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau. Aku paham dan nggak akan memaksa. Tapi, tetap aja aku harus pamit sama kamu."


Sultan tertawa hambar, memasukkan tangannya ke saku celana jins yang ia pakai dan menatap Siti dengan datar. "Pergi ya pergi aja. Nggak ada hubungannya sama gue."


"Sultan," peringat Siti dengan nada yang agak tinggi hingga suaranya itu menggema di ruang sepi yang luas ini. "Aku nggak suka kamu bilang begitu. Kita ini dijodohkan. Aku bukan orang asing dan kita memiliki hubungan. Aku dan kamu terhubung."


"Mimpi." Sultan berkata kejam sebelum akhirnya melangkah meninggalkan Siti di ruang tengah rumah khusus milik Sultan yang sepi itu.


Bahkan, pamit darinya tak diterima. Siti heran pada apa yang kurang dari dirinya sehingga Sultan menolaknya dan bersikap amat dingin nan kejam padanya seperti ini. Padahal Siti mungkin akan merasa sangat rindu karena ia akan berbeda jarak amat jauh dengan Sultan.


Dan sepertinya, semua rasa itu bertepuk sebelah tangan. Hanya dirasakan satu pihak, hanya diderita satu pihak dan hanya berdampak pada satu pihak.


Siti marah, kecewa dan sedih.


Siti hanya mampu mengepalkan tangannya untuk menahan diri supaya tak menahan Sultan yang hanya akan membuatnya tampak seperti perempuan miris yang mendambakan hati seorang lelaki. Siti harus menjadi wanita berwibawa yang sulit untuk didapatkan seperti berlian.


Baiklah, Siti hanya perlu liburan dan melupakan sakit, perih serta luka di hatinya untuk kembali hadir dalam keadaan yang berbeda.


***


Sultan memarkirkan mobilnya di sebuah tempat parkir taman bermain yang menjadi tujuannya bersama Alfin, Arka dan Gerald untuk bermain. Ia merongoh ponsel di saku celananya dan bersandar di mobil yang telah terparkir seraya memainkan ponselnya.


Empat Tamvan Sekawan (4)


Sultan : gue udah nyampe. Pada di mana kalian?


Arka : oh, lo udah nyampe?


Gerald : wait a moment, dude. Gue lagi makan bubur ayam dulu


Arka : iya, tunggu bentar ya, Tan. Ini gue macet, aduh


Sultan : telat setengah jam gue nggak temenan lagi sama lo lo pada


Alfin : wow, santai, bujank. Santei.


Sultan : kalian masih pada mana?


Arka : bentar lagi nyampe, Tan


Gerald : ih, aku agak sakit perut, nih. Tadi buburnya kebanyakan sambel. Kayaknya kudu ke toilet dulu ':(


Sultan : gobs


Arka : ada-ada aja lo, bule sableng


Sultan : pegel, jink. Cepetan


Alfin : bentar dong ah, dandan dulu


Sultan : cot


Arka : gue lima menit lagi, Tan


Sultan : buruan


"EKHM!" Seseorang berdeham dan membuat Sultan mendongakkan kepalanya dari layar ponsel karena melihat sepasang kaki di depannya. Ia menatap bingung pada sebingkai wajah yang ia kenali. Dia Surti. Perempuan itu mengenakan baju terusan selutut berwarna hijau lumut polos dengan jepit bunga berwarna putih di rambutnya. Ia memakai tas selempang putih dan flat shoes hitam yang kontras dengan warna kulitnya.


Surti tersenyum malu-malu, memperbaiki anak rambutnya ke telinga. "Hai, Sultan."


Sultan mengerutkan keningnya. "Ngapain lo?"


Surti mengerjap lucu, dengan wajah bingung yang seperti anak kecil kehilangan orang tua, ia menatap Sultan. "Kok kamu tanya begitu?"


Sultan berdecak, mendapat respon yang tak ia harapkan. "Lo mabok, ya?"


"Nggak," balas Surti cepat, segera menggeleng-gelengkan kepalanya hingga rambut yang masih juga diikat seperti ekor kuda itu bergoyang-goyang mengikuti sang kepala bergerak. "Aku nggak mabok. Emangnya aku bau alkohol, ya?"


Melihat Surti yang segera menciumi badannya, Sultan memutar bola mata dengan jengah. Ia menyalakan kembali ponselnya dan segera menghubungi Arka.


Ketika terhubung, ia segera menyuarakan kekesalannya. "Lo di mana?"


"Ha? Gue di mana? Di rumah, nih," jawab Arka santai di seberang sana. "Kenapa?"


"Lah? Lo mabok, ya?"


"Kok gue mabok?" Arka tertawa merasa geli. "SUPRISE!" suara Gerald menyambung ceria, membuat Sultan mengerutkan keningnya semakin bingung.


"Lah, kok ada lo sih?" tanya Sultan bingung. Kemudian, ia menatap Surti karena merasa diperhatikan. Wajahnya mengartikan tak suka, kemudian mengisyaratkan Surti untuk pergi dengan tangannya.


Surti cemberut, agak kecewa, namun pada akhirnya ia berjalan menjauh dan menunggu Sultan di pinggir sebuah pohon yang lumayan dekat.


"Jadi, kita bertiga merencanakan supaya lo langsung nembak cewek yang lo suka hari ini," jelas Gerald. "Gue tu bosen liat lo jadi jomblo terus sementara orang yang dijodohin sama lo nggak pernah lo gubris juga."


"Gue melihat mata lo beda waktu liat itu cewek dan gue yakin lo punya sesuatu yang belum pernah lo rasakan sebelumnya," sambung Arka dengan serius. "Gue tau lo tuh bebal, gue tau lo itu keras kepala, gue paham lo batu. Karenanya, gue, Alfin sama Gerald bantuin lo buat langsung sikat aja. Nggak perlu mikir-mikir dulu ataupun gengsi-gengsi tai kayak cowok jablay."


"Sumpeh lu, itu mulut aja pisau cincang. Tajem amat," komentar Alfin di seberang sana. Laki-laki itu sudah mendengar dugaan Arka dan Gerald tentang Sultan yang menyukai Surti. Alfin langsung setuju dan mendukung.


"Ah, pokoknya lo seneng-seneng aja sama itu cewek hari ini. Kalau nggak ngerasain apa-apa, lo boleh tinggalin aja dah," simpul Arka sambil menghela napas lelah. "Maaf kita-kita boongin lo, tapi ini pure karena kita mau makan bantuin lo sebagai empat tamvan sekawan. Good luck, bro!"


"Eh, Arka," kata Sultan setelah hanya terdiam mendengar penjelasan yang menurutnya masih tak masuk akal itu. "Lo abis minum apa, sih?"


"Eh, Sultan," balas Arka sama sarkasnya. "Lo kalau jadi cowok yang gentle, dong. Masa sama satu cewek aja kalah. Setidaknya, satu kali, lo harus rasain rasanya jatuh cinta yang sesungguhnya."


"Tujuan gue ke sini buat naik wahana dan ngetawain kalian semua yang bahkan nggak kuat naikkin bianglala," balas Sultan kelas. "Kok jadi gini, sih?"


"Ya, itu beda cerita," tukas Gerald tiba-tiba. "Kita bisa begitu Minggu depan. Sekarang lo jalani aja kalau misalnya lo laki-laki gentle. Kalau mau pulang, silahkan dan kita-kita bakal ngejek lo kalau seandainya lo beneran suka sama itu cewek."


"Good, luck!" seru Alfin ikut-ikutan.


"Udah, ya. Buang-buang waktu, kita mau main PS," pamit Arka sebelum akhirnya menutup telepon secara sepihak, tanpa memberi kesempatan pada Sultan untuk memakinya habis-habisan.


Ketika ditelepon lagi, ponsel Arka sudah tak aktif. Sultan berdecak, kemudian menelepon Alfin dan Gerald hanya untuk mendapati suara operator yang memberitahu bahwa ponsel mereka sama seperti Arka.


Sepertinya tiga temannya itu sudah bosan hidup. Sultan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, kemudian menyentuh pintu mobilnya saat melihat Surti yang masih menunggu di bawah pohon sana. Perempuan itu sesekali mengusap tungkai bawahnya, mungkin pegal karena sedari tadi hanya menunggu.


Baiklah, hari ini akan segera berakhir. Begitupula dengan urusan yang membuatnya agak pusing ini.


"Ayo," ajak Sultan langsung, ketika dirinya telah berada di hadapan Surti dengan wajah datar khasnya.


Surti mengangguk kecil, kemudian mengikuti langkah Sultan dengan jantung yang entah kapan akan meledak saking cepatnya ia berdegup sedari tadi.


Sultan dan Surti telah masuk ke dalam taman bermain yang amat ramai karena hari ini Minggu, semua orang ada untuk mengisi waktu luangnya dengan menghibur diri. Namun, Sultan dan Surti tak memiliki percakapan apapun yang membuat keduanya menikmati taman bermain ini.


Surti bingung dan gugup karena bisa berdiri dan berjalan bersama Sultan selayaknya sepasang kekasih. Mulutnya seolah terkunci dan setiap kali ia melangkah, Surti merasa jantungnya akan pecah.


"Lo mau naik apa?" tanya Sultan datar, biasa saja, seolah sudah sering seperti ini.


"A-apa aja boleh," jawab Surti agak gemetar. Ia tak pernah ke taman bermain dan tak tahu wahana apa yang seru.


Sultan berdeham. "Kalau gitu kita naik bianglala dulu. Untuk pemanasan."


Surti langsung mengangguk. "Ah, iya, boleh."


"Ayo," ajak Sultan tanpa menunggu Surti untuk melangkah mengikutinya. Mereka mengantri dan kemudian masuk dalam satu ruangan kecil yang perlahan bergerak ke atas.


Surti tampak terkejut dan merasakan sesuatu yang baru saat menaikinya. Ia sangat bahagia, apalagi saat ini ia duduk berhadapan dengan Sultan. Panorama taman bermain yang di liat dari atas dengan banyaknya pengunjung membuat Surti melihatnya dengan kagum.


Tanpa disadari Surti, Sultan menatapnya sedari tadi. Pada tubuh mungil yang terbalik baju sederhana itu, Sultan terpesona. Pada wajah polos tanpa riasan itu, Sultan kagum. Sultan telah menyerah. Sepertinya ada yang salah pada dirinya hari ini, ia hanya mengikuti kemana hatinya melangkah.


"Sebenarnya gue ditipu sama temen gue," kata Sultan tiba-tiba, membuat Surti segera menoleh padanya dengan wajah bingung. "Gue dijebak."


Surti yang mengerti apa maksud Sultan, langsung berdeham. "Kalau kamu nggak mau jalan sama aku, kamu bisa pulang aja. Aku nggak keberatan."


"Ah, jadi lo kerjasama juga sama temen gue?" tanya Sultan, sebenarnya sudah mengira sejak awal.


Dengan rona merah yang perlahan mewarnai pipinya, Surti mengangguk. "Mereka yang nawarin duluan, kok. Aku mana bisa nolak. Nggak enak, niat mereka baik."


Sultan menahan tawa. Cara bicara Surti seolah menggambarkan ia malu karena bekerjasama dengan Arka, Alfin dan Gerald. Padahal Sultan tahu perempuan itu pasti memaksa tiga temannya untuk membantunya.


"Jangan jaim. Gue nggak suka," kata Sultan tajam.


Mata bulat Surti mengerjap polos. "Ja-jaim? Emangnya aku kelihatan jaim, ya?"


"Banget."


Surti meringis kecil. "Ya abis gimana lagi. Aku gugup banget. Kamu sih."


"Gue?"


"Iya, kamu." Surti menggigit bibirnya karena amat gugup saat bersuara. "Kamu yang bikin aku sampai rasanya nggak bisa bernapas dengan normal. Pake pelet apa, sih?"


Sultan tersenyum miring. "Lo sebegitunya tergila-gila sama gue?"


"Ish." Surti mengalihkan pandangannya dengan wajah super merah. Ia cemberut, sesekali mengepalkan tangannya yang ada di atas pahanya untuk menahan rasa malu dan gugup yang menyiksa ini.


Memerhatikan Surti yang salah tingkah seperti itu membuat Sultan mengulas senyum tipis.


Bagaimana bisa perempuan berumur dua puluh tahun bisa bersikap seperti remaja labil enam belas tahun saat sedang jatuh cinta?


"Gue suka bianglala," kata Sultan lagi-lagi mendadak. "Waktu kecil hampir tiap hari gue naik ini."


Surti menoleh lagi, kini wajahnya agak mendingan dan ia mulai tersenyum lebar seperti dirinya yang biasanya. "Kalau aku baru satu kali ini aja. Ini pertama kalinya."


Harusnya Sultan tak perlu terkejut, namun ia merasa amat kasihan pada Surti. "Jadi, selama hidup ini lo ngapain aja?"


"Hm... kerja, makan, tidur." Surti tertawa kecil. "Aku nggak punya waktu buat main."


Sultan tak menanggapi lagi. Ia lebih memilih untuk melihat ke samping, pada jendela bianglala yang menunjukkan keindahan kota Yogyakarta di posisi paling atas bianglala. Ini adalah yang paling ia suka.


Pemandangan indah.


Sementara itu, Surti tersihir atas betapa tampannya Sultan jika dilihat dari pinggir dengan wajah yang tak datar seperti biasanya. Laki-laki itu tampak bahagia, matanya berbinar dan senyumnya tercipta tanpa canggung.


Tak pernah Surti bayangkan Sultan punya kepribadian seperti itu. Dia seperti anak kecil yang bahagia di sini.


Mungkin, ini, taman bermain ini adalah tempat favoritnya.


***


Surti hanya dapat mengikuti langkah Sultan untuk mengeksplor taman bermain ini. Surti sama sekali tak memiliki pengetahuan di sini.


Diajak menaiki ini, diajak memakan ini, diajak memainkan ini, diajak meminum ini, di ajak memakai ini dan banyak hal lainnya yang ia lakukan dengan Sultan. Surti tak keberatan kini ia pusing, ia tak keberatan kini merasa mual, ia tak keberatan lelah jika semuanya dilakukan bersama seorang Sultan.


Segalanya jadi terasa menyenangkan dan ia tak punya kata-kata yang cukup untuk menyuarakan kebahagiaan yang ia rasakan.


Surti luar biasa speechless atas semua yang terjadi hari ini. Sultan sangat ekspresif saat menaiki kora-kora, tertawa keras dan berseru semangat ketika menaiki wana ekstrim lainnya.


Sultan seperti orang berbeda hari ini.


Tak terasa waktu telah beranjak ke pengujung sore, langit sudah hampir gelap dan Surti serta Sultan kini sedang duduk bersampingan dengan eskrim cone di masing-masing tangan.


Tentu Sultan yang membelikan. Surti bahkan tak yakin uang yang ia bawa sekarang akan cukup untuk perjalanan pulang.


"Sultan," kata Surti hingga membuat Sultan menoleh padanya dengan wajah bingung. "Makasih, ya untuk hari ini. Kamu kelihatan seneng banget, tapi aku nggak tau harus gimana karena ini pengalaman pertamaku."


Sultan hendak bersuara, namun jari telunjuk Surti yang tiba-tiba mengusap sudut bibirnya yang rupanya terdapat setitik eskrim membuat Sultan membeku. Surti tersenyum setelah menjauhkan jarinya.


"Ada eskrim. Kamu kayak anak kecil, deh," katanya sambil tertawa kecil.


Sultan mendengus. Ada apa dengannya? Kenapa perlakuan Surti membuat darahnya berdesir hangat?


"Gue cuma mau hiburan." Sultan menjawab tanpa menatap Surti. "Tapi nggak mau sendirian."


Surti mengangguk-angguk mengerti. Kemudian, tiba-tiba sebuah kembang api diluncurkan ke langit. Menjadi awal pertunjukan kembang api yang indah seperti di festival-festival besar.


"Wah," kagum Surti, tak sadar kini mulutnya sudah terbuka dan itu diperhatikan terus menerus oleh Sultan.


Sultan mulai menduga ini pertama kalinya Surti melihat kembang api. Dalam gaduhnya suara serta gemerlap cahaya yang diakibatkan kembang api, Sultan melihat pada perempuan itu dengan serius.


Kasihan sekali dia. Itu adalah pandangan Sultan selama bermain bersama Surti hari ini. Pada wajah yang selalu kagum pada sesuatu yang selalu dilakukan orang-orang biasa, Sultan menaruh rasa perihatin yang kuat.


"Surti." Nama itu bahkan seperti sudah melekat lama di hatinya.


"Iya, kenapa?"


"Lo... mau jadi pacar gue?" tanya Sultan langsung.


Wajah Surti langsung melongo tanpa bisa berpikir lebih lanjut. Terlalu tiba-tiba Sultan bertanya seperti itu, baginya. "Ha..?"


"Kalau nggak mau nggak usah." Sultan berkata dingin seraya bangkit. "Gue mau pulang."


"Eh..." Surti menghentikan langkah Sultan dengan merentangkan tangannya di hadapan laki-laki itu. Wajahnya merona dan itu sedikit menggelitik Sultan. "Jangan dulu pulang! Aku mau! A-aku mau jadi pacar kamu."


Sultan menyunggingkan senyum. "Yaudah. Gue anterin lo pulang sekarang."


Surti ikut tersenyum dengan amat lebar, bahagia sekali. "Kuy!"


***


Gimana perkembangannya, Black Poison?


Di depan layar monitor yang menyala, seseorang menyunggingkan senyum dan mengetik balasan.


Amunisi telah selesai dibuat. Tinggal beraksi.


Begitu terkirim, ia menunggu balasan seraya meneguk kopi pahit favoritnya dengan wajah lega. Malam dengan secangkir kopi pahit memang sangat pas untuknya.


Bagus.


Ia mendapat balasan, kemudian langsung menutup laptopnya setelah mematikannya. Orang itu kemudian memejamkan matanya setelah berbaring di lantai yang dingin.


Menunggu saat itu tiba.


***