Black Poison

Black Poison
14. Diawangsa



Pagi di hari Minggu telah menjadi kebiasaan para pejabat di kerajaan Pasultan untuk melakukan senam aerobik di sebuah ruangan luas yang bernuansa cokelat kayu. Senam tersebut diikuti dengan baik, tak banyak suara, hanya gerakan menyehatkan dengan instrumen yang menenangkan sebagai latarnya.


Setelah selesai mereka berupaya menyehatkan badan, para pejabat tinggi kerajaan tersebut melakukan makan bersama di meja makan panjang nan mewah yang terletak di pusat rumah yang sering di sebut ruang strategi ini. Mereka berbincang, apapun topiknya, ditemani banyak makanan yang lezat.


Bersama Raja Adiwangsa, mereka membicarakan sesuatu yang sedang hangat-hangatnya.


"Kerajaan Prasetyo semakin mengetatkan keamanannya, yang terhormat Pak Adiwangsa," lapor Perdana Menteri Alfatah dengan wajah agak sebal. "Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"


"Anak buahku ada yang menjadi korban kebakaran dapur waktu itu," tambah Pak Asep, pejabat bidang ketahanan kerajaan. "Kasihan sekali keluarganya. Sekarang wajahnya tak lagi terlihat sama meski pada akhirnya dia bisa sembuh dan hidup seperti biasanya. Dia punya satu anak perempuan, dan anak itu menangis satu Minggu karena ayahnya."


"Sialnya, anak buahnya itu mundur dari tugasnya dan membuat anak buahku terdorong untuk melakukan hal yang sama," tukas pejabat bidang politik dan hukum, Pak Azel. "Kita terus menerus kehilangan orang, Pak Adiwangsa. Aku khawatir pada akhirnya kerajaan kita ini akan hancur seperti kerajaan Hasan."


Kerajaan Hasan yang dimaksud adalah sebuah kerajaan yang berdiri hanya untuk memusuhi kerajaan Pasultan karena sebuah dendam pribadi. Mereka menyerang tanpa berpikir, hingga pada akhirnya kini pengikut dan keturunan kerajaan tersebut habis tak bersisa akibat hukuman sebagai penghianatan dan pemberontakan.


Pak Adiwangsa berpikir. Matanya menatap lurus, tajam dan tegas. "Kerajaan Prasetyo terlalu besar dan kuat. Kita harus punya sesuatu untuk meruntuhkannya, mencari titik hitam."


"Bukannya kita sudah menyewa seorang pembunuh bayaran?" tanya Pak Asep dengan raut wajah ragu. "Jika kita telah melakukannya, maka kita tak perlu berusaha untuk meruntuhkan kerajaan itu. Kita hanya perlu menunggu anaknya raja itu mati, bukan?"


Kepala Pak Adiwangsa menggeleng. "Kita harus juga menyingkirkan ayahnya. Tidak, kita harus bantai semua keluarga itu habis-habisan."


"Kalau begitu, kita sewa lagi pembunuh bayaran," cetus Pak Azel. "Kita tak perlu mengotori tangan sendiri, bukan? Itu terlalu hina."


"Tidak." Pak Adiwangsa lagi-lagi berbeda pendapat dengan dua rekan kerjanya itu. "Tidak ada lagi pembunuh bayaran yang dilibatkan. Terakhir kali kita melakukannya, mereka semua mati mengenaskan. Cukup satu saja."


"Siapa namanya, aku lupa?" Pak Alfatih bertanya tiba-tiba. "Dia melakukan pembunuhan dengan racun, 'kan?"


"Black Poison," jawab Pak Adiwangsa seraya meneguk air minumnya dengan wajah tenang di sebuah cangkir berlapis emas dari Arab Saudi. "Dia punya racun hebat. Tak ada rasa, tak ada warna, tak ada jejak dan tak ada jeritan. Semuanya akan berjalan seolah orang yang meminumnya memang telah dicabut nyawa oleh Sang Pencipta."


Pak Alfatih mengangguk-angguk. Selama ia bekerja menjadi perdana menteri di Kerajaan Pasultan ini, tak pernah sekalipun bisa menebak dari mana Pak Adiwangsa mendapatkan orang hebat seperti itu.


Pak Adiwangsa masih tak membuka diri untuk bekerjasama. Dia cenderung melakukan semuanya sendiri dan tak ingin orang-orang tahu bahwa dirinya berencana membunuh seseorang. 


"Aku jadi ingin berguru padanya," kata Pak Alfatih dengan senyum tipis.


"Dia misterius. Tak mau dijumpai barang satu detik pun," kata Pak Adiwangsa memberitahu. "Lokasinya sulit dilacak dan ia memakai e-mail aneh yang tak bisa dibobol. Dia bukan orang sembarangan, karenanya aku berani membayar banyak untuknya."


Pak Asep mengernyitkan keningnya dengan wajah penasaran. "Berapa yang kau bayar, Pak Adiwangsa?"


"Menurutmu?"


"100 juta?" tebak Pak Asep.


Pak Adiwangsa menggeleng pelan sambil memejamkan matanya dengan tenang.


"500 juta?" tebal Pak Azel, ikut-ikutan.


Lagi, Pak Adiwangsa memberi jawaban yang sama seperti sebelumnya. Pak Asep dan Pak Azel saling pandang dengan wajah berpikir keras.


"Itu imbalan yang paling besar yang bisa aku serahkan, Pak Adiwangsa," kata Pak Azel tak habis pikir. "Seberapa besar upah yang kau berikan?"


"Jangan-jangan satu miliar?" tebak Pak Asep, takut sendiri mendengar Pak Adiwangsa yang menghabiskan banyak uang hanya untuk memberi benefit pada seorang pembunuh.


"2 M." Pak Alfatih menjawab dengan santai.


Hal ini membuat Pak Asep dan Pak Azel hampir mengeluarkan bola matanya dari kelopaknya. Dua pejabat itu kemudian menoleh pada Pak Adiwangsa dengan raut wajah khawatir.


"Benar begitu, Pak?" tanya Pak Asep, mewakili Pak Azel.


Sebuah senyum penuh arti yang diberikan Pak Adiwangsa pada keduanya sudah memberikan jawaban pasti yang tak bisa diubah lagi.


Betapa terkejutnya keduanya.


***


Dalam kamar yang isinya serba putih dan bersih, duduk seorang putri dengan rambut panjang terurai rapi sedang membelakanginya, menghadap jendela besar yang terbuka lebar.


Sakit sekali melihat putri semata wayangnya yang selalu menyendiri dan menutup diri selama lima tahun ini.


"Dia," panggil Pak Adiwangsa, menyebut panggilan putrinya dengan lembut. "Keluar, yuk. Kita cari pemandangan yang baru."


Istrinya telah meninggal beberapa bulan yang lalu akibat sebuah penyakit yang dirahasiakan. Pak Adiwangsa tak berniat untuk menikah lagi dan ia memutuskan dengan bulat untuk hidup bahagia dengan putrinya.


Yang sayangnya, putrinya itu kini sedang sakit mental. Perempuan malang itu terluka sebab sebuah kesombongan anak dari raja Prasetyo yang menolak kasih sayang dari Putri Diawangsa.


Suatu hari, lima tahun yang lalu, Kerajaan Pasultan datang untuk mendatangi Sultan di kerajaan Prasetyo. Mereka ingin membuat kesepakatan untuk saling menikahkan keturunan.


Namun, sayang, Pak Teuku Abdiwijaya Prasetyo menolak kesepakatan itu. Bahan tak membiarkan Putri Diawangsa untuk bertemu Sultan. Betapa jahatnya mereka pada seorang gadis yang sudah mendambakan laki-lakinya sejak kecil.


Diawangsa pertama kalinya bertemu dengan Sultan di acara penobatannya sebagai pangeran kerajaan Prasetyo, di umurnya yang ke sepuluh.


Mereka bertemu dan Diawangsa tertarik pada Sultan. Cinta murni anak kecil itu terus berlanjut sampai kini.


Namun, hanya Diawangsa yang merasakannya. Sultan tidak. Laki-laki itu seperti tak peduli pada apapun, bahkan pada Diawangsa yang saat itu memoles diri sedemikian rupa agar dapat menarik hatinya.


Saat itu, dimulailah hari-hari sepi dan kelam Diawangsa di kamarnya. Perempuan itu tak mau keluar rumah, tak mau sekolah dan tak mau berpindah. Entah itu berpindah tempat duduk, berpindah baju apalagi berpindah hati.


Selalu seperti itu selama lima tahun.


Masih memakai gaun putih pengantin, menatap pemandangan di jendela besar yang terbuka dan terus berharap pada yang di sana, Sultan.


Pak Adiwangsa juga sakit, melihat cinta bertepuk sebelah tangan yang dialami Diawangsa. Banyak sekali upaya yang telah ia lakukan untuk membuat Diawangsa kembali normal.


Mulai dari mendatang psikiater handal, anak-anak ceria, pesulap, gitaris, pianis, penulis, guru, dan dokter.


Namun, tak ada berhasil.


Pada akhirnya sebuah keinginan untuk membalas dendam tumbuh di hatinya. Pak Adiwangsa akan menghancurkan kerajaan Prasetyo dan menggantinya dengan Kerajaan Pasultan.


"Ah, ayah," suara lembut yang rapuh itu membuat mata Pak Adiwangsa berair begitu saja. Melihat putrinya kini berbalik, menatapnya dengan tatapan polos di wajah pucat yang tanpa olesan make-up apapun itu. " Aku ingin di sini saja. Nyaman. Indah. Cukup bagiku. Kalau ayah ingin pergi, silahkan. Aku jaga rumah saja."


Perih sekali rasanya. Pak Adiwangsa merasa gagal menjadi seorang ayah yang harusnya menjaga agar air mata anaknya tak keluar.


Senyum Diawangsa terbit, namun perlahan, air matanya luruh, saling mengejar dan pada akhirnya ia menangis hebat.


"Ayah, aku ingin Sultan," lirihnya dengan hati perih, sakit dan tak berdaya. "Ayah, aku hanya ingin Sultan. Bawakan dia padaku."


Pak Adiwangsa berjalan mendekat dengan langkah yang tak kuasa. Wajah yang telah berumur setengah abad lebih itu kemudian menangis sejadinya, memeluk anaknya dengan erat dan mengusap-usap panggung yang terbalut gaun putih untuk pengantin yang selalu dipakainya selama lima tahun ini.


"Sabar, nak. Ayah akan balaskan semua derita dan sakit yang kamu terima," kata Pak Adiwangsa dengan suara tegas, meski air matanya terus bercucuran. "Ayah janji, Diawangsa. Tegarlah. Hari ini kamu sedih, esok pasti akan bahagia."


Diawangsa menangis sesenggukan di pelukan ayahnya. "Ayah selalu bilang begitu. Kemarin-kemarin juga. Buktinya, mana, ya? Dia masih seperti ini, masih menjadi pengantin solo. Bahagia milik Dia tak kunjung datang."


"Tenang, Dia. Tenang. Ayah berjanji, dua bulan lagi bahagiamu akan datang," kata Pak Adiwangsa memberikan ketenangan pada jiwa Diawangsa.


"Ayah akan bawa Sultan?" tanya Diawangsa, melepas pelukannya dan mendongak untuk melihat mata ayahnya yang berair itu. "Ayah nggak bohong, kan?"


Senyum Pak Adiwangsa terbit. Kemudian memeluk lagi anaknya dengan erat.


"Ayah janji akan bikin kamu bahagia."


***