Black Poison

Black Poison
16. In My Heart



Jangan pernah lupa.


Aku di sini, di sisimu, di sampingmu, di depanmu, di belakangmu


Selalu. Selamanya.


***


Sore itu, pertama kalinya Sultan melihat seseorang terlihat begitu menghangatkan hatinya.


Air matanya hampir saja meleleh, namun ia tahan sekuat tenaga. Pada pacar yang amat ia cintai, tak boleh ia terlihat lemah. Harus tegas. Harus tegar. Harus kuat. Harus gagah. Harus tangguh.


"Sultan, jawab," pinta Surti lembut. "Kamu sedang susah, ya? Ayo cerita."


Sultan terharu pada bagaimana jelinya mata Surti untuk menangkapnya yang kini sedang kesulitan untuk menahan rasa sedih dan putus asanya. "Kamu ... kenapa bisa tahu?"


"Karena aku bukan tempe."


Jika tak ingat Surti adalah pacarnya, adalah wanita yang kini bersemayam di hatinya, sudah pasti Sultan akan mencekiknya sampai kehabisan napas. Namun, karena dia adalah Surti, adalah orang yang ia cintai, Sultan hanya dapat tertawa pada candaan yang sebenarnya sangat hambar itu.


"Kamu jago sekali membuat lawakan," balas Sultan, masih tertawa. "Ah, sudah lama sekali rasanya aku tak tertawa."


"Eh, iya!" seru Surti ingat sesuatu. "Kita kan mau ke suatu tempat. Aduh, aku lupa! Ayo!"


Sultan langsung dibawa Surti setelah mereka agak ribut karena Surti tersandung meja. Sultan berdecak, kemudian berjongkok untuk membenarkan tali sepatu Surti. Surti terdiam, tersanjung sekaligus tertegun atas perlakuan Sultan yang mirip film-film Korea.


Setelah selesai diikatnya tali sepatu itu, Sultan mengambil tangan Surti untuk ia genggam dan dibawa melangkah. Ketika keluar, Sultan berhenti melangkah dan menatap Surti.


"Kita mau ke mana?"


***


Sultan tak paham dengan arah berpikir Surti sampai kini.


Mengapa perempuan itu membawanya ke sebuah taman aspirasi di tengah jalan yang kebetulan dekat dengan pabrik cuka hingga membuat sekelilingnya bau asem. Sultan jelas tak suka, namun melihat Surti yang tak pernah melenyapkan senyumannya, membuat Sultan setidaknya bisa berdiam di sini lebih lama.


"Nah, sekarang, cerita deh," kata Surti ceria. "Kenapa? Ada apa? Bagaimana? Kapan? Di mana? Siapa? Dan ... em... kenapa?"


Sultan mengudarakan tawanya sepenuh rasa. Entah kenapa, rasanya lucu sekali melihat dan mendengar Surti yang kini berlaga seperti seorang psikiater. Ditertawakan seperti itu, membuat Surti cemberut dan merasa tak dihargai.


"Yaudah, kita pulang aja deh," cetus Surti seraya bangkit dengan lagak marah.


Ketika hendak melangkah pergi, Sultan menahan lengannya. Dengan wajah yang perlahan berubah serius dan suara berat, ia berkata, "aku takut, Surti. Kumohon, jangan pergi."


Tubuh Surti menegang mendengarnya. Ia segera berbalik untuk setelahnya membawa Sultan dalam sebuah pelukan hangat yang erat. Air mata Sultan tak dapat dibendung lagi, rasanya membuncah, keluar.


Kemudian, ia menceritakan segalanya.


Tiga tahun yang lalu...


Malam yang seharusnya menjadi malam biasa yang damai, berubah amat kacau ketika bulan purnama menyapa bulan Maret. Ketika semua keluarga kerajaan setelah makan, sebuah keributan terjadi di luar kediaman kerajaan. Suara pedang yang beradu, gaduh petarung dan jeritan sakit beradu menyayat hati.


Sultan jelas terkejut. Ayah dan ibunya segera membawa ia dan saudaranya, Awija, ke dalam sebuah kamar. Ayah dan ibu memesan pada kedua anaknya untuk tetap tinggal sementara mereka keluar untuk memeriksa keadaan.


Sultan yang tak pernah belajar bela diri ataupun bertarung, bingung dan takut karena tiba-tiba dihadapkan pada situasi seperti ini. Namun, berbeda dengan Sultan, Awija nampak tenang dan bahkan berpikir untuk menyelesaikan masalah.


"Pasti ada yang ingin merebut kekuasaan kerajaan kita," kata Awija setelah menganalisis para petarung lewat jendela. "Mereka memakai bendera merah di kepala, pasti dari Kerajaan Hasan. Mereka ingin menguasai pertambangan, namun tidak diijinkan ayah karena mereka mengganggu masyarakat sekitar. Aku pernah mendengarnya di ruangan ayah."


Sultan berdecak tak suka melihat kembarannya yang bahkan tak terlihat gemetar saat melongok ke luar jendela. "Bisakah kamu diam? Nanti kita ketahuan. Diam dan sembunyilah."


"Aku justru menunggu hari ini tiba. Aku ingin menunjukkan hasil latihanku selama tujuh belas tahun!" balas Awija semangat.


"Awija! Diam! Nanti mereka membunuhmu!" seru Sultan panik. Dengan kekuatan dan keberanian penuh, ia menarik tangan Awija dan mengajaknya untuk bersembunyi di antara lemari dan meja rias.


Awija berdecak. "Kamu penakut sekali, Sultan." Kemudian Awija bangkit lagi, keluar dari persembunyiannya bersama Sultan. "Anak raja itu harusnya kuat, berani, tangguh dan... tak sepertimu."


Sultan merasa sangat tertusuk kata-kata Awija. Biasanya ia akan mencekik Awija habis-habisan karena tak seperti dirinya yang malas, Awija sering sekali latihan di halaman belakang rumah. Mulai dari berkuda, panahan, kungfu, silat, pedang sampai berenang. Wajar Awija selalu meledeknya yang lembek, namun di situasi seperti ini, tak seharusnya Awija bermain-main dengan para petarung handal di luar sana.


"Kamu tak ingat Pak Dawil?" tanya Sultan dengan wajah khawatir yang amat kentara. "Dia jago sekali menggunakan pedang, pisau dan senjata lainnya, tapi ia terbunuh dengan sebuah bendera merah terlingkar di pergelangan tangannya. Apalagi dirimu, bodoh."


Awija mencibir. Dengan sinar rembulan yang amat terang di belakangnya, ia menatap Sultan dengan penuh keyakinan. "Aku punya nyawa sembilan, Sultan."


"Kamu bukan kucing," balas Sultan takut, sebab ia semakin jelas mendengar keributan pertarungan di bawah sana. "Awija, kumohon, jangan melakukan hal bodoh."


Senyum Awija terbit lebar. Mereka memang serupa, namun kepribadiannya amat bertolak belakang. Jika diibaratkan, mungkin Awija seperti cokelat hangat di musim dingin dan Sultan seperti air es di musim hujan.


"I love you, brother," kaya Awija tiba-tiba. Namun, setelah ia merasa ngeri sendiri. "Meski kamu sering menyebalkan, tapi kamu tetap satu-satunya kembaranku yang manja."


"Awija," peringat Sultan sudah merasa takut sendiri. Ia langsung bangkit dan berlari untuk menghalangi pintu saat Awija mulai berjalan ke arah pintu keluar. Matanya menatap tajam pada Awija, memeringati. "Don't. You. Dare."


Awija berdecak kesal seraya memutar bola matanya. "Kita tak akan tahu situasinya jika terus berada di sini, kembaran."


"Kamu lupa apa pesan ayah dan ibu tadi?" tanya Sultan geram. "Jangan keras kepala, Awija."


Helaan napas Awija terdengar jelas saking lelahnya ia berhadapan dengan Sultan. Sejak kecil, Sultan memang agak manja dan sangat patuh pada aturan ayah dan ibu. Sultan seperti katak dalam tempurung, sementara Awija bagai kayak dalam tempurung yang ingin menjadi seekor burung. Mereka sangat bertolak belakang, namun saling menyayangi, peduli dan berbagi.


Tak pernah sekalipun Sultan pergi tanpa memberitahu Awija dan Awija pun sama. Keduanya selalu bersama-sama, mungkin tidak untuk malam ini. Sebab sorot mata keduanya amat bertolak belakang.


"Jika kamu keluar, kamu akan mati. Ingat itu. Jangan pernah keluar dari kamar ini." Sultan tak lelahnya memeringati Awija untuk menghentikan rencana gila kembarannya. "Jangan keluar, Awija. Kumohon."


"Aku tak akan mati, Sultan," balas Awija lebih santai. "Aku sudah banyak berlatih bersama Pak Abdullah. Aku sudah hebat sekarang. Setidaknya, aku ingin melindungi para penjaga, para pelayan kerajaan kita. Aku ingin membalas jasa mereka selama ini."


Memang, sejak kecil Awija tampak tak nyaman dengan pelayanan super mewahnya. Awija lebih sering berada di kebun, membantu tukang kebun. Awija lebih sering berada di dapur, setidaknya ia membantu mencuci piring tanpa sepengetahuan para pelayan dan orang tuanya. Awija bahkan pernah bekerja di sebuah pabrik tanpa memberitahu siapa-siapa kecuali Sultan.


Laki-laki itu seolah tak mau hidup sebagai Awija Teuku Prasetyo, anak dari Teuku Abdiwijaya Prasetyo, sang Raja dari Kerajaan Prasetyo yang memerintah satu daerah, yakni DIY.


Berbeda dengan Sultan yang nyaman-nyaman saja dengan takdirnya sebagai anak raja. Bahkan Sultan menjadi sangat malas dan tak mau bergaul. Laki-laki hanya memiliki beberapa teman, berbeda dengan Awija yang mungkin kini sudah memiliki kenalan di luar pulau sana.


Karena pernah satu hari, Awija pergi sendirian ke Sulawesi untuk mencari kucing yang ada di mimpinya.


Satu-satunya yang tak pernah bisa digantikan.


"Aku pergi, ya," pamit Awija masih kukuh pendirian. "Kamu geser sedikit, dong. Aku mau buka pintu."


Sultan menunduk, namun tak menggeserkan tubuhnya sama sekali. Ia tak bersuara selama beberapa saat, bahkan setelah Awija berusaha menatap matanya.


"Sultan."


"Hei, kembaran."


"Hei, tayo."


"Brother!"


"Ya sudah, sana pergi!" seru Sultan pada akhirnya, mendongak dan menatap Awija dengan mata berair. "Jika itu maumu, aku bisa apa."


Awija tersenyum lega, menenangkan hati Sultan yang awalnya terasa janggal, matanya berubah sendu dan tiba-tiba memeluk Sultan dengan erat. Sultan tak membalas pelukan itu, jelas, karena ia sendiri tak senang jika Awija akan pergi.


"Jangan mati, Awija." Sultan berpesan. "Jika kamu mati, aku tak akan pernah memaafkanmu."


"Iya, iya, kembaran," balas Awija sambil tertawa kecil, kemudian melepas pelukan itu dan menatap Sultan dengan seulas senyum penuh kemenangan. Awija menepuk kedua pundak Sultan dan dengan begitu Sultan bergeser untuk mempersilahkan Awija pergi. "Aku pergi dulu, ya."


Awija membuka pintu. Ketika ia berbalik untuk menatap Sultan, Sultan menatapnya dengan air mata berlinang.


"Hati-hati!" seru Sultan ketika Awija menutup pintu kamar itu lagi dengan senyuman tipis.


Ditinggal sendiri di sebuah kamar sepi yang luas dengan penerangan dari jendela jala, Sultan akhirnya berjongkok dan mulai menangis. Tangisan tanpa suara, namun air matanya terus mengalir.


Takut. Khawatir. Marah. Semuanya bercampur, menyesakkan dada, menyayat hati dan meresahkan pikiran. Sultan tak tahu apa yang harus ia lakukan selain diam, menunggu seseorang menolongnya.


Jika ia berteriak, kemungkinan musuh akan menemukannya dan menikamnya tanpa kata-kata. Jadilah, Sultan hanya diam, sesekali melongok melalui jendela, melihat para pengawal kerajaan yang saling bertarung dengan musuh.


Pengetahuan Sultan tentang musuh adalah kosong. Ia tak tahu apa motif mereka, ia tak tahu apa tujuan mereka dan ia tak tahu siapapun mereka. Awija telah memberitahunya tadi, namun ia lupa karena terlalu larut memikirkan keselamatan Awija.


Suara sirine polisi tiba-tiba terdengar membuat Sultan langsung melongok ke jendela. Para musuh berbaju hitam dengan bendera merah di kepala seperti kata Awija langsung berlarian dan membuat para penjaga kerajaan yang telah bertempur langsung ambruk karena kelelahan. Para polisi pun segera mengangkat pistol dan mengamankan segala apapun yang ada di bawah sana.


Sultan paham bahwa ini adalah tanda keadaan telah mereda, mulai kembali seperti semula. Dengan kekuatan dan keberanian yang ia kerahkan sebisa mungkin, Sultan membuka pintu kamar. Kepalanya melongok pada koridor sepi rumah.


Langkahnya bertambah satu, melihat ruangan makan keluarga kerajaan yang masih rapi. Lalu berlanjut ke ruang tamu. Di sana ada beberapa penjaga kerajaan yang tewas, berbau darah dan amis. Sekilas membuat Sultan merinding dan ingin muntah.


Bahkan kini kepalanya sedikit pening setelah melihat keluar rumah. Pada halaman yang sudah menjadi lautan darah dan bangkai manusia, para penjaga. Napas Sultan mulai memburu, matanya terus menyisir segala penjuru, mencari sosok kembarannya yang keras kepala itu.


"Oi, kembaran!"


Suara itu membuat Sultan menoleh ke asal suara, pada sebuah pohon apel yang di bawahnya, tersandarlah Awija. Wajahnya berseri ketika Sultan mendekatinya dengan wajah khawatir.


Keringat membanjiri wajah tampan Awija yang serupa dengan Sultan, dadanya naik-turun dengan cepat, seolah bekerja keras. Sultan segera menyentuh pundak kembarannya dengan air mata berlinang. Sultan meneliti badan Awija. 


"Syukurlah. Aku tak melihat luka apapun," katanya dengan hati amat lapang.


Awija hanya tersenyum.


Sultan menangis lagi. Air matanya tak dapat dibendung. Betapa senangnya ia, bahwa Awija masih dapat membuka matanya. "Aku benci kamu, Awija. Keras kepala sekali dirimu."


Awija batuk secara tiba-tiba, membuat Sultan membulatkan matanya dengan jantung yang terasa hendak berhenti berdetak. Jelas, batuk Awija mengeluarkan darah kental yang membuat Sultan ingin muntah.


"Seru sekali bisa ikut bertarung," cerita Awija masih sempat-sempatnya. "Aku membunuh tiga orang. Ah, dosaku mungkin akan banyak. Maafkan aku, brother. Tapi, seseorang menusuk dadaku. Uhk!"


Batu darah lagi.


Sebuah batu besar seperti menimpa dada Sultan. Rasanya sesak dan sakit. Awija merentangkan tangannya dengan sisa tenaga, kemudian tersenyum lebar.


"Last hug?"


Mata Sultan yang berair itu bahkan tak dapat mengerjap, saking telah terkurasnya seluruh tenaganya sebab melihat kembarannya kini. Terbaring, terluka dan masih dapat tersenyum padanya.


Belum sempat Sultan berhasil memeluk Awija, tubuh kembarannya itu telah lebih dulu luruh ke tanah. Ketika Sultan, dengan air matanya yang mengalir deras, berusaha mengangkat tubuh Awija, tubuh itu lepas dari tangannya. Sudah ditinggal nyawa.


Bibir Sultan terasa kaku, tangannya gemetar dan matanya amat buram melihat jasad Awija di depannya. Belum sempat Sultan memeluk tubuh itu, para medis telah lebih dulu membawa tubuh kembarannya, menjauhinya.


Sultan masih mematung. Semuanya terasa seperti mimpi. Dan pada akhirnya, kegelapan melahapnya tak lama kemudian.


"Tiga tahun lalu sekelompok musuh menyerang kerajaan karena ingin menyingkirkan kekuatan yang dimiliki kerajaan Prasetyo," simpul Sultan akhirnya. "Sekarang, ada lagi yang seperti itu. Aku diancam akan dibunuh."


Surti mengelap air matanya yang tiba-tiba turun. Sebab ia paham bagaimana rasanya kehilangan, ia menjadi terbawa suasana oleh cerita Sultan.


"Setelah Awija meninggal, aku tak punya tenaga lagi untuk hidup. Aku hanya diam di kamar, merenungkan kesalahanku, meratapi kebodohanku. Lama sekali aku seperti itu. Karena aku, Awija tak ada lagi di sini. Jika saja aku menahan lebih keras, pasti dia masih ada sekarang." Sultan berkata lagi, menahan air matanya sebab teringat masa-masa indah bersama Awija. "Namun, dari sana, aku mulai belajar bela diri. Aku ingin dapat bertahan hidup jika musuh menyerang lagi, bukan dengan bersembunyi, tapi dengan melawan segenap hati. Aku tahu masa lalu tak dapat diperbaharui lagi. Aku akan melangkah, membalaskan perlakuan yang diterima Awija."


Surti mengangguk-angguk. Yang diperlukan Sultan kali ini adalah didengarkan, Surti paham itu.


"Namun, pada kenyataannya, sekarang aku takut." Sultan menunduk, merasa amat buruk pada Awija dan Surti. "Rasanya aku ingin bersembunyi saja, di sebuah ruangan aman yang tak akan terjamah oleh siapapun."


Sebuah tangan menepuk-nepuk pelan punggungnya, membuat Sultan merasa aman dan nyaman.


"Tenang, saja, ada aku di sini. Aku punya tempat persembunyian aman yang kamu inginkan," kata Surti menenangkan. Ketika Sultan kembali mendongak, Surti tersenyum lebar.


"Di mana?" tanya Sultan.


"Di hatiku."


Hening yang lama tercipta ketika mata mereka bertemu dalam satu orbit. Sultan tak tahu apa yang harus ia tunjukkan sebagai tanggapan dari gombalan Surti, namun perempuan itu langsung membawanya dalam dekap itu lagi.


"Ada aku. Jangan khawatir. Kamu akan aman dalam hatiku."


Dirinya tak pernah membayangkan bahwa dengan recehan kata itu, Sultan menjadi jauh lebih tenang.


***