
"Terimakasih, Surti." Sultan berkata luar biasa tulus. Senyumnya terulas lebar. "Hanya kamu yang kumiliki sekarang. Yang mengerti diriku. Aku senang."
Surti balas tersenyum, ia menyentuh tangan Sultan dan menggenggam dengan erat. Menenangkan laki-laki itu. "Aku akan selalu di sini, Sultan."
"Aku jadi rindu Awija," kata Sultan dengan mata sendu. "Sangat rindu."
"Aku juga rindu," balas Surti dengan nada melemah. "Kedua orang tuaku."
Kening Sultan mengerut bingung. "Memangnya mereka ke mana?"
"Surga," balas Surti. "Semoga."
Wajah Sultan menunjukkan keterkejutan yang nyata. Matanya membulat dan dengan refleks ia membawa Surti dalam sebuah dekap erat. Sultan mengendus puncak kepala Sultan dan menepuk-nepuk punggung rapuh perempuannya itu dengan pelan.
"Maaf, aku egois," lirih Sultan menyesal. "Aku tak tahu kamu juga memiliki luka hati. Maaf."
Surti tertawa, namun entah mengapa air matanya perlahan mengalir dan dadanya mulai terasa sesak. Ribuan rasa bercampur. Sedih, bahagia, kesal, marah, menyesal, terharu, bersyukur dan dendam. Pada masa lalunya, Surti teringat kembali.
"Sultan... bajumu basah," kata Surti dalam dekap itu. Suaranya serak dan amat pelan. "Aku nangis."
Tangan besar dan hangat Sultan membelai kepala Surti dengan sayang. Sultan menempelkan dagunya pada puncak kepala pacarnya. "Tak apa. Menangislah. Tak apa membuat bajuku basah. Kalau kamu mau, aku membolehkan dirimu untuk mengelap ingus di bajuku."
Surti segera melepas pelukan itu dan menampakkan wajahnya yang telah basah karena air mata. Sultan menatapnya dengan lembut seraya menggenggam tangan Surti yang awalnya menggenggam tangannya. Genggaman itu erat, hangat dan menguatkan.
"Sekarang, giliran kamu yang cerita," pinta Sultan amat lembut. Membuat Surti merasa sedang berada di lautan benang wol. "Apa? Siapa? Bagaimana? Mengapa? Kapan... dan di mana?"
Sultan menirukan bagaimana Surti meminta Sultan untuk bercerita, membuat Surti tertawa sekilas dan merasa terhibur. "Kamu jago sekali melakukan plagiasi."
"Kalau pada pacar, itu legal," bela Sultan untuk dirinya sendiri. Matanya menatap serius pada mata hitam Surti. "Jadi, bagaimana tentang dirimu? Masa lalumu seperti apa? Selama kita pacaran, aku baru sadar bahwa aku tak tahu apa-apa tentang dirimu."
Surti mengulas senyum tipis. "Dulunya aku punya keluarga yang harmonis, bahagia dan amat hangat. Aku merasa amat beruntung dapat lahir sebagai diriku."
Surti memiliki keluarga sederhana yang walaupun harta mereka hanya sekarung beras, mereka bahagia dan masih dapat tertawa. Bertiga menjalani hidup, bersyukur dan lagi-lagi, merasa amat bahagia, merasa amat cukup.
Waktu itu Surti masih berumur sepuluh tahun dan memaksa untukbolos sekolah karena tak ingin orang tuanya kesulitan sebab keduanya tak memiliki bekal yang cukup. Jadilah, ketiganya memiliki untuk keluar rumah, berjalan-jalan dan tertawa-tawa bahagia.
"Nanti kamu sekolah di sini, ya," kata ibu ketika mereka bertiga sedang berjalan mendekati sebuah SMA favorit di kota. "Sekolahnya bagus, anak-anaknya pintar. Ibu pengen kamu jadi kayak gitu."
"Nggak, aku mau sama ayah dan ibu aja. Nggak apa-apa aku nggak sekolah di sini. Nggak apa-apa aku nggak melanjutkan sekolah." Surti memeluk tubuh ibunya dengan manja. "Sekolah itu sulit. Pelajarannya pada susah-susah. Aku nggak suka."
"Kamu nanti besar mau jadi apa?" tanya ayahnya dengan wajah khawatir. "Kamu harus sekolah, ya. Belajar yang benar, jadi anak sukses yang dapat memperbaiki kehidupan keluarga kita."
"Nggak mau!" Surti berseru dengan agak kesal. "Pokoknya aku mau sama ayah dan ibu. Selamanya."
"Kamu harus paham bahwa ayah dan ibu nggak mungkin hidup selamanya," balas ibu dengan sabar. "Kamu juga harus siap jika suatu waktu akan kehilangan kami. Kamu harus dapat bertahan hidup dan membanggakan."
Surti cemberut dengan wajah sedih. "Ibu kok bilang gitu? Nggak! Ibu dan ayah nggak boleh mati!"
Kemudian, karena kekesalan yang sudah membuncah hingga ke ubun-ubun, Surti berlari menyeberangi jalan yang beruntungnya tak ada kendaraan yang lewat sampai Surti sampai di jalanan seberang. Ayah dan ibu jelas terkejut, namun dapat mengela napas lega ketika anaknya satu-satunya mereka masih hidup.
Ayah dan ibu kemudian menyeberang.
Bugh!
Awalnya, Surti tak memikirkan apa-apa, hanya menunggu kedua orang tuanya sampai kembali di sisinya, namun sebuah truk besar tiba-tiba melintas dengan kecepatan tinggi hingga membuat matanya membulat sempurna.
Bahkan tak bisa berkedip saking terkejutnya ia merasa. Ayah dan ibunya terpental, bersimbah darah kemudian, berada di sisi jalanan yang jauh dari tempat Surti berdiri.
Surti yang hanya anak kecil berusia sepuluh tahun itu hanya menangis di jalanan. Tangisannya keras, menyayat hati dan telinga. Tak ada siapapun di jalanan itu, namun Surti berusaha untuk berteriak minta tolong.
Sampai pada akhirnya, sebuah mobil melihat kedua tubuh orang tuanya yang tak sadarkan diri. Mereka menghampiri Surti dan memberi tumpangan untuk keluarga itu. Membawanya ke rumah sakit untuk diobati.
"Namamu siapa, nak?"
"Ayah dan ibumu kenapa?"
"Kamu mau ke mana?"
"Rumahmu di mana?"
"Nama orangtuamu siapa?"
Surti tak menghiraukannya. Ia terlalu sedih dan terkejut atas kejadian yang menimpa keluarganya. Sampai di rumah sakit, Surti mengikuti sebuah blangkar roda di mana ayah dan ibunya terbaring. Ia menangis, meringis ketika melihat darah yang terus mengalir dari kepala dan perut keduanya.
"Ibu..."
"Ayah..."
Seorang ibu yang membantunya segera menghampiri seorang dokter yang tampak sangat sibuk. Ia menghentikan langkah dokter itu.
"Dok, ini ada korban tabrak lari yang harus segera ditangani. Kata resepsionis, semua kamar sudah penuh. Apa dokter bisa langsung melakukan operasi?"
"Maaf, Bu. Saya ada jadwal operasi juga sekarang. Tolong dengan sabar menunggu."
"Tapi mereka kemungkinan akan mati karena kehabisan darah."
"Tolong jangan ganggu saya. Saya akan melakukan operasi penting."
Surti langsung menghampirinya, memohon dengan tangisan yang tak mereda sedikitpun. "Dokter, tolong selamatkan orang tua saya."
"Maaf, saya harus segera pergi."
Ibu asing yang menolongnya segera memeluk Surti, berusaha menenangkannya. Kemudian ia mencari-cari dokter yang sedang senggang. Ayah dan ibu Surti telah ditangani para suster, namun perlu segera dioperasi untuk hidup kembali.
Sayangnya, sampai lima jam berlalu, tak ada dokter senggang yang menangani malangnya kedua orang tua Surti. Sehingga pada lima menit selanjutnya, dua orang tersayang Surti itu telah tak bernyawa lagi. Telah pergi dari dunia ini. Telah dibawa ke atas langit, bertabur bersama bintang.
Betapa menyesalnya Surti ketika harus menjadi nakal dengan berlari. Betapa menyesalnya Surti ketika harus membiarkan ayah dan ibunya terkubur di sebuah pemakaman kumuh yang tak terurus.
Sepi. Hampa. Tangis. Menjadi makanan sehari-hari Surti yang terpaksa tinggal berpindah-pindah sebab tak punya rumah. Beruntung pada genap satu bulan ia menjadi tuna wisma, seorang ibu pengurus panti asuhan menemukannya. Merawatnya, membesarkannya, menyekolahkannya dan mendidiknya.
Pada tahun-tahun berat yang harus Surti lewati, ia akhirnya mengetahui. Bahwa uang adalah kuncinya. Orang tuanya tak langsung ditangani karena tak memiliki uang.
Iya, Surti dan keluarganya yang miskin itu harus tersiksa oleh kejamnya perbedaan harta.
Kemudian, Surti berjanji untuk menjadi seorang dokter yang tak akan pernah melihat sebelah mata pada orang-orang yang tak punya harta di luar sana.
"Aku bahkan belum pernah membanggakan kedua orang tuaku," keluh Surti penuh penyesalan. "Malang sekali mereka. Memiliki anak tak berguna seperti diriku. Yang nakal, yang bodoh, yang malas sekolah, yang--"
"Sssttt," potong Sultan, tak tahan dengan Surti yang terus menyalahkan diri. "Tenang, Surti. Itu hanya masa lalu. Itu bukan sesuatu yang harus selalu kamu sesali sekarang. Biarlah semuanya berlalu, biarlah semuanya hanya ingatan, jangan sampai memengaruhi kehidupanmu yang sekarang."
Sultan mengelus rambut ekor kuda Surti, menenangkannya yang terus menangis tersedu-sedu. Hatinya ikut tersayat ketika melihat pacarnya berlinang air mata.
"Kamu yang sekarang telah membuat bangga, Surti," kata Sultan berusaha menyemangati. "Kamu akan jadi dokter yang hebat. Aku yakin itu."
Surti membalasnya dengan isakan. Haru dan senang bercampur menjadi satu. Ia memeluk Sultan lebih erat, seolah tak ingin melepaskan barang sedetikpun. Sultan tak menyia-nyiakan waktu, ia segera menarik tubuh rapuh Surti untuk dibawa dalam eratnya dekap yang ia suguhkan sepenuh hati.
"Kamu akan aman, Surti." Sultan mencium puncak kepala Surti lama sekali. "Ada aku. Yang akan melindungimu. Selamanya."
***