
Kalau aku terlahir kembali, tolong jadikan aku Sultan
-Surti
***
"Pak, di sini."
Sultan memberhentikan taksi yang ia tumpangi saat sampai di gerbang perumahan khusus untuk keluarga kerajaan. Ia turun ketika taksi berhenti dan langsung saja melanjutkan langkah, namun harus terhenti kembali saat sang sopir memanggilnya.
Sultan menoleh tanpa mendekat. "Kenapa, pak?"
"Bayar dulu, lah. Kok nggak ngerti sih, main cabut-cabut dan aja. Lu kira ini kuda, nggak ada yang gratis, lah. Ini bisa jalan karena ada bensinnya. Bensin dibeli paket uang, kampret. Bukan pake daun," omel pak sopir taksi itu dengan logat Jawa yang lucu, tapi ia memakai bahasa kekinian.
Namun, itu tak membuat Sultan tertawa. Jelas, Sultan termasuk orang yang bahkan jarang sekali tertawa pada lelucon selucu apapun atau tingkah laku seseorang yang konyol. Benar-benar jarang.
"Saya mau ambil dulu, pak. Tunggu, ya," balas Sultan.
Pak sopir itu langsung turun dari taksinya dan menghampiri Sultan seraya menghadang langkahnya. "Eits, tidak bisa, dong. Saya nggak akan tertipu lagi oleh bocah ingusan apalagi yang ganteng kayak situ. Bayar langsung, nggak pake acara ngambil dulu di rumah."
"Ya kalau sekarang saya nggak bawa uang, pak," balas Sultan memberi alasan.
"Ya kalau nggak bawa duit kenapa sok-sokan naik taksi?!" Pak sopir itu melotot emosi. Kemudian, ia mengacak pinggang dengan wajah lelah. "Jangan suka mainin orang tua, dong. Capek saya, lelah saya."
"Saya nggak niat begitu." Sultan menghela napas kecil. "Uang, dompet dan ponsel saya ketinggalan di mobil teman. Sekarang mau saya ambil dulu ke rumah uangnya."
"ALAH, ALESAN AJA KAMU, KUTU KUPRET!" teriak pak sopir taksi itu dengan kerasnya, marahnya, hingga beberapa tetes air liurnya menciprati wajah Sultan.
Sultan mengumpat tanpa suara. Ingin sekali membalas, namun melihat perawakan pak sopir taksi ini yang sudah kakek-kakek membuatnya langsung tak tega dan mengurungkan niat saat itu juga.
"Udah sering orang-orang yang bilang begitu. Saya nggak akan percaya lagi. Apa jaminannya kalau kamu itu jujur?" tanya pak sopir taksi itu dengan nada yang lumayan biasanya, mungkin emosinya agak mereda.
Sultan berpikir kritis.
Salahnya juga karena ceroboh meninggalkan tas berisi selalu benda penting di mobil Siti. Salahnya juga langsung menghentikan taksi tanpa mengecek apakah ia memiliki uang. Salahnya, sih.
Namun, jika ingin pak supir taksi ini mengijinkannya pergi ke rumah, Sultan harus memiliki jaminan.
"Sepatu saya, nih. Mahal, dari Dubai," kata Sultan akhirnya.
"Yang lain."
"Jam tangan. Ini mereknya Apple, mahal juga," kata Sultan lagi.
"Yang lain."
Sultan kehabisan akal. Tak habis pikir karena pak supir taksi ini menolak semua barang mahal yang ia punya. Ketika pikirannya buntu, ketika akalnya sudah dangkal, dan ketika ia hampir menyerah, sebuah suara menyadarkannya.
"Berapa, pak? Biar saya aja yang bayar."
Kepala Sultan bergerak pada kedatangan tiba-tiba seseorang. Dengan baju pink polos yang dipadukan dengan celana training kuning, Surti sukses membuat Sultan terpana. Bukan, bukan karena kecantikannya atau keanehannya, melainkan karena kedatangannya yang terlalu tiba-tiba.
"Empat puluh tiga ribu, neng," jawab pak sopir taksi itu seadanya.
Surti membayarnya dengan uang biru. "Kembaliannya buat makan sore bapak aja. Sama-sama, hehe."
"Uwah, makasih, neng. Bae' banget, dah. Nggak kayak si ono noh," katanya seraya menunjuk Sultan dengan bibirnya yang dimajukan.
Surti tertawa. "Iya, pak."
Kemudian, setelah pak sopir taksi itu pergi, Surti hendak berbalik pergi saat pertanyaan Sultan mengudara mendadak.
"Lo ngikutin gue, ya?"
Sukses membuat langkah Surti terhenti dan berbalik dengan wajah tak suka karena dituduh sembarangan. "Big no."
"Terus kenapa tiba-tiba ada di sini?" tanya Sultan lagi.
"Aku beres ngasih baju kotor buat dilaundry. Kamu liat tuh, laundry," katanya sambil menunjuk sebuah bangunan tempat laundry. "Kebetulan aja aku denger bapak-bapak teriak waktu keluar. Aku nyamperin karena penasaran, terus liat kamu. Lalu aku bantuin, deh. Selesai."
"Kalau gitu gue langsung balas, ayo ikut."
"Hah? Ke mana?"
"Ke rumah gue."
"Eh?" Surti agak takut. "Itu kan kawasan sakral. Mana bisa orang rendahan kayak aku masuk. Pasti penjaganya serem-serem."
Kening Sultan mengerut. Ia berdecam, kemudian segera menarik tangan Surti tanpa ijin dan membawanya ke perumahan khusus keluarga kerajaan. Surti dibuat melongo karena ukiran-ukiran dan bentuk mewah dua rumah besar utama yang ia lewati untuk sampai ke satu rumah besar serta mewah lagi.
Mimpi apa dirinya semalam hingga bisa melihat dan menginjakkan kaki di tanah perumahan khusus keluarga kerajaan ini?
Air mancur, pepohonan cantik, taman bunga, pagar rumput, hiasan rumput, gantungan rumah, ornamen halaman, desain rumah, dengan latar langit sore yang cantik tak habis-habisnya membuat Surti kagum. Setiap langkah yang ia lakukan, pasti mulutnya akan berseru otomatis, "wah!"
Sampai Sultan mendelik jengah dibuatnya. Ketika akhirnya sampai di depan rumahnya, Sultan membuka pintu besar, yang bahkan ukirannya membuat Surti lagi-lagi berdecak kagum, rumah yang satu itu.
Bertapa terkejutnya Surti ketika dihadapkan pada ruangan luas dengan para pelayan yang berbaris rapi. Ternyata, Surti masih harus mendapat kejutan yang lebih mewah lagi dibandingkan dengan berjalan untuk mengagumi mewahnya liar perumahan.
Mereka, pelayan-pelayan itu, menunduk, menyambut kedatangan Sultan dengan sopan.
"Selamat datang, Tuan Sultan Teuku Prasetyo." Pelayan-pelayan itu menyambut dengan kompak, menandakan bahwa langkah Sultan akan dimulai untuk masuk.
Surti hanya mampu tergagap, agak kaku ketika melangkah melewati jajaran para pelayan itu, mengikuti Sultan yang berjalan angkuh menuju ke dalam rumah berarsitektur Timur yang dominan dengan kaligrafi.
"Wah," kagum Surti seolah tak habis-habisnya. Rumah mewah ini berisi banyak barang-barang mengkilat seperti guci, gelas-gelas, teko dan artefak berseni lainnya yang disatukan dalam lemari-lemari berjejer sepanjang kaki melangkah.
"Siapkan satu porsi makan hari ini, secepatnya," perintah Sultan dingin ketika mereka telah melewati ruang depan yang berisi pajangan-pajangan bernilai untuk tamu, menuju ruangan lain yang lebih santai dan klasik yang terdapat meja luar biasa panjang untuk makan di dalamnya.
Meja makan keluarga.
"Tapi, Tuan, waktu--"
"Mau dipecat?" Sultan langsung mengancam seorang pelayan yang akan menolak permintaannya.
Tak ada yang berani membalas lagi. Dan tak ada lagi perdebatan. Semuanya menuruti keinginan Sultan meski tahu ini salah.
Sampai tak sadar bahwa dirinya sedari tadi hanya berdiri dengan tangan yang saling menaut di depan perutnya.
"Ngapain lo? Sini duduk," kata Sultan, memecah kecengoan Surti dan membuat perempuan itu luar biasa salah tingkah. Pipinya mulai merona ketika melangkah mendekat pada Sultan yang telah duduk di kursi bagian tengah meja.
"Beneran ini aku boleh duduk?" tanya Surti ragu. Pasalnya ia melihat kayu mengkilat dengan ukiran berseni tinggi, bukan kursi reot di depan rumahnya yang bisa sembarangan di duduki.
"Ya terus lo mau duduk di mana?" Sultan membalas agak sewot.
Surti menggaruk kepalanya yang tak gatal, dengan kikuk ia duduk dan tertawa kecil. "Ah, iya. Aku duduk di sini aja."
Kursi yang empuk dan nyaman membuat Surti lagi-lagi bertingkah konyol. Seperti anak kecil, ia bermain-main dengan tempat duduknya seolah kursi itu adalah trampolin.
Sultan menghela napas kecil. Memerhatikan Surti yang duduk di seberangnya, yang masih sibuk bermain-main dengan kursi dan memerhatikan rumah mewahnya dengan wajah super udik itu.
Perlahan, senyum Sultan tercipta dengan sendirinya tanpa disadari.
"Ini Tuan, makanannya."
Sultan hampir tertawa meledeknya, namun pelayan lebih dulu datang dengan sebuah nampan di kedua tangannya membuat Sultan kembali pada sadarnya, pada tempatnya.
"Ini Tuan, menu hari ini tumis udang, cumi, gurita, kerang dan abalon. Juga lobster--"
"Tumisnya aja." Sultan mengambil mangkuk berisi makanan beragam seafood yang telah ditumis itu dan mendorongnya ke hadapan Surti. Jelas, mendapat perlakuan ini Surti dibuat melongo. "Buat ganti uang lo."
Kening Surti mengerut. "Kok?"
"Gue nggak suka ada utang."
"Padahal santai aja, sih." Surti mengalihkan pandangannya sesaat, kemudian melihat pada mangkuk di depannya. "Tapi kalau boleh, aku mulai makan, ya. Nggak ada racunnya, kan?"
Sultan tertawa, namun amat kecil hingga Surti saja tak menyadarinya. "Ngapain juga ngasih racun?"
"Cuma nanya doang, kok. Canda, elah, serius amat," balas Surti sambil tertawa geli. Kemudian mulai menyendokkan udah ke dalam mulutnya. "Emmmm.... enak banget, ya ampun. Sultan, makasih, ya. Aku tidak baru dua kali makan udang."
"Dua kali?" tanya Sultan tak percaya.
Surti mengangguk cepat. "Satu kali saat ini," jelasnya tanpa diminta. Namun, bukannya melanjutkan, ia justru menyuap lagi dan menampilkan wajah kegirangan yang lucu saking enaknya memakan masakan itu.
"Satu lagi kapan?" tanya Sultan entah kenapa merasa penasaran.
Surti tersenyum lebar yang kesannya terpaksa lebih dulu sebelum menjawab dengan datar, "di mimpi."
Mata Sultan mengerjap berkali-kali, tak habis pikir dengan jawaban dari perempuan yang sudah ajaib sejak hari pertama mereka bertemu. Sultan mengira itu lelucon, karenanya ia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan tawa tanpa suaranya yang mati-matian ia tahan.
"Lo tu aneh, ya," simpul Sultan dengan nada lembut yang baru Surti dengar. "Anaknya siapa, sih?"
"Aku tu emang miskin, sih, makan aja harus mie instan mulu setiap hari," cerita Surti tiba-tiba, mendadak membuat Sultan merasa kasihan padanya. "Jadi kalau makan yang kayak gini, aku jatohnya udik banget. Maaf, ya, tapi makasih sih."
Sultan hanya berdeham, mengembalikan wajah datarnya dan memerhatikan cara makan Surti. Dari lima menit yang ia lalui, menurutnya Surti terlalu lucu.
Bagaimana bisa seseorang yang sudah berumur dewasa bisa menyisakan titik-titik makanan di sekitar bibirnya begitu?
Ketika pada akhirnya Surti menyadari dirinya diperhatikan sedemikian oleh Sultan, ia mengerutkan keningnya. Sambil mengusap mulutnya karena selesai makan, ia bertanya pada Sultan, "kenapa liatin aku kayak gitu?"
Ditanya mendadak saat sedang memerhatikan seperti itu membuat Sultan agak gegalapan dan langsung menggeleng. "Kata siapa gue liatin lo?"
"Idih, itu buktinya lagi liatin," balas Surti tak paham. "Kok ngelak, sih? Malu, ya? Ih, lucu."
"Ngapain gue malu," bela Sultan untuk dirinya. Tak lagi kaku atau datar untuk berkomunikasi.
"Terus kenapa salting?"
"Mata lo katarak, ya? Mana bisa gue salting," balas Sultan lagi-lagi.
Surti menatapnya sambil menyipitkan mata. Senyum lebar Surti tercipta, membuat Sultan mengerjap bingung dibuatnya. "Cue, salting, cue. Cueeeee."
Sultan membuang napasnya dengan wajah tak percaya. Berani sekali Surti mengejeknya seperti itu. "Kalau udah selesai buruan pulang."
Surti langsung mendelik. "Coba kalau juteknya kamu tu dikurangi dikit, pasti enak kelihatannya. Kamu tu udah ada baiknya, tinggal dikurang-kurangi dikit deh sifat jeleknya. Tadi aja bisa ngomong santai, nggak jutek kayak kemarin-kemarin."
"Bacot."
"Dih, kok dikasih saran malah gitu, sih," kata Surti kecewa. Ia mendesah puas sambil mendorong mangkuk yang telah kosong isinya. "Bagaimanapun, makasih, ya, Sultan, kamu baik banget hari ini. Entah apa yang merasukimu."
Sultan tersenyum paksa. "Sama-sama."
Tanpa perlu diberi perintah, seorang pelayan mengambil mangkuk kosong bekas Surti dan karena perlakuan itu, Surti dibuat melongo yang lucu dimata Sultan. Surti terus memerhatikan pelayan yang baru saja melayaninya itu.
"Berasa Sultan beneran, deh," kata perempuan berbaju kuning itu seadanya. Ia memejamkan matanya sambil menyenderkan badan pada senderan kursi.
"Ah, andai selamanya aku kayak gini. Senangnya... ah, amat senangnya..."
Sultan beranjak dari duduknya tanpa basa-basi, meski hatinya terasa berat sekali untuk memulangkan Surti yang tampak amat senang saat ini. Namun, tetap saja peraturan adalah peraturan. Sultan tak boleh mengajaknya lama-lama, ataupun terlalu sering.
"Buruan pulang. Utang gue udah lunas." Suara dinginnya kembali keluar.
Dengan wajah kecewa, Surti menghela napas. Tubuhnya terasa berat untuk sekedar berdiri dari kursi yang mewah nan nyaman ini.
"Kamu beruntung banget jadi Sultan," kata Surti iri, pada Sultan yang langsung menolehkan kepalanya dengan senyum miring sudah tercetak di wajahnya.
"Lo nggak tau yang sebenarnya," balas Sultan kecil. Sarat akan kesedihan dan kenelangsaan.
Surti hanya menipiskan bibir, tak bisa mengeluh hanya karena dirinya tak dilahirkan sebagai Sultan. Begini saja sudah membuatnya bahagia, Surti amat bersyukur.
Kemudian, saat ia akan benar-benar melangkah, dua orang yang ia duga sebagai orang tua Sultan muncul di ambang pintu masuk.
Wajah keduanya amat terkejut dan menatap hina pada Surti.
"Sultan, siapa dia?"
***