Black Poison

Black Poison
22. About 6 Days



Amat sedih rasanya ketika kehilangan seseorang lagi dalam hidup.


Kini, Surti kehilangan satu temannya.


Yang membantunya saat kesulitan, menemaninya ketika sepi dan menghiburnya kala sedih. Surti merasa dunianya gelap sekarang.


Ia menunduk di atas lipatan kaki yang direngkuh oleh tangannya sendiri. Menangis, tanpa suara.


Bertahun-tahun dirinya menjadi pembunuh bayaran, sejak kali pertama ia memperkenalkan diri pada sebuah perusahaan swasta yang menginginkan pesaing hancur. Semua itu berlanjut, sebab Surti senang karena mendapat balasan yang amat besar.


Semua imbalan atas kerja kerasnya itu diberikan pada ibu panti asuhan yang amat berjasa untuknya, juga biasa pemeliharaan pemakaman kedua orang tuanya. Sisanya, Surti investasi ke dalam bentuk emas yang ia simpan di tempat yang hanya dirinya saja yang tahu di dunia ini.


Hidupnya terus berjalan seperti itu. Dibalik ceria dan polos wajahnya, terkubur satu wajah haus darah yang amat kejam.


Sampai kini ia mendapat sebuah tawaran untuk menghilangkan Sultan, anak dari orang penting di Yogyakarta dan mendapatkan imbalan tertinggi dari pesuruh-pesuruh sebelumnya.


Tentu, Surti tergiur.


Namun, satu hal remeh sempat membuatnya ragu.


Hatinya.


Padahal, lima belas tahun terakhir Surti yakin hatinya telah berubah menjadi batu semenjak dirinya mengenal nama Black Poison. Semuanya hilang. Tak ada Edelweis yang manja, tak ada Edelweis yang cengeng dan lemah. Yang ada adalah Black Poison yang tegas, kuat dan mandiri.


Surti sendiri adalah karakter yang dibuatnya untuk menyamar. Untuk menjebak Sultan dengan sikap polos dan cerianya.


Surti mengerang, menjambak rambut sepinggangnya yang selalu terikat itu. Menyumpahi dalam hati untuk dirinya yang semakin ragu untuk menghabisi Sultan satu minggu ke depan.


Belum lagi Bayu yang sudah tahu identitas aslinya.


Semuanya membuat Surti stres. Sungguh. Namun, bukan berarti dirinya tak punya solusi. Perempuan berumur dua puluh tahun itu segera mengambil gunting dan mengambil napas panjang-panjang untuk setelahnya memotong rambut hingga sedemikian rupa dengan tekad penuh.


Ini menandakan bahwa Surti benar-benar yakin sebagai Black Poison. Surti yang lugu dan polos itu tidak pernah ada lagi.


Yang ada hanya satu. Black Poison. Perempuan berdarah dingin yang tak pernah meragu.


***


"Cari identitas asli Black Poison dan awasi gerak-geriknya."


"Siap."


Seorang pemuda menutup panggilan di ponselnya untuk setelahnya kembali bercanda bersama teman-temannya.


***


"Ha... rambut kamu... kenapa?"


Sultan tampak sangat terkejut melihat penampilan terbaru pacarnya siang ini di taman belakang kampus. Ia mengajak Surti untuk ke sini dan makan bersama seperti pasangan muda lainnya yang sedang piknik.


Semua ini ide Gerald. Memang gila, tapi Sultan melakukannya. Ya, semua tentang diri Sultan menjadi bodoh dan gila ketika dihadapkan pada seseorang bernama Surti, cintanya.


Rambut yang biasanya diikat menjadi satu menjadi ekor kuda yang lucu itu berubah menjadi rambut sebahu yang membingkai wajahnya menjadi bulat.


Surti tersenyum malu-malu. Memainkan rambutnya pendeknya dengan gerakan patah-patah. "Jelek, ya?"


"Eh, nggak," sangkal Sultan langsung. Ia berdeham dan berpikir sejenak untuk mengeluarkan kata-kata yang tak melukai pacarnya. "Masih cantik, sih. Tapi cantikan waktu panjang dan diikat."


Surti hanya mengulas senyum tipis. Kemudian duduk di sebelah Sultan. "Oke, deh. Udah terlanjur dipotong, sih. Susah ngurus kalau panjang, banyak pakai shampoo juga. Boros. Lebih nyaman pendek."


"Iya," balas Sultan kalem. "Aku dukung dan suka kamu kalau kamu sendiri merasa nyaman."


"Serius?" tanya Surti merasa perlu memastikan.


Sultan mengangguk, kemudian menusuk satu potong apel dan memakannya. "Kapan aku nggak serius ke kamu."


"Jangan gitu, dong," kata Surti seraya menyikut pinggang Sultan. "Malu."


Sultan meringis kecil. "Udah. Nih, ayo makan. Ada apel, pir, anggur sama stroberi. Kamu suka yang mana?"


Surti meneliti buah-buahan yang ada di kotak makan yang dipegang Sultan, lama sekali. Hingga pada akhirnya, perempuan itu mengalihkan pandangannya pada Sultan dan menatapnya dengan mata yang disipitkan karena teriknya sinar matahari di balik kepala Sultan.


"Aku sukanya kamu. Gimana, dong?"


"Udah berani gombal," tukas Sultan dengan senyum lebar. "Belajar dari mana?"


Entah kenapa, Surti kini melingkarkan tangannya pada perut Sultan begitu saja. Perempuan itu memeluk dengan erat, mengendus dalam-dalam wangi khas Sultan yang membuatnya nyaman.


"Nggak tahu. Aku tiba-tiba bisa gitu ke kamu," balas Surti dengan pandangan lurus ke depan. "Aku takut kamu pergi, makanya aku peluk. Nggak apa-apa, ya?"


"Hm." Sultan hanya berdeham dan diam ketika Surti memeluknya. Ia takut ada apa-apa dan merasa ada yang tak beres dengan Surti, karenanya ia membalas pelukan Surti dengan merengkuh pundak pacarnya. "Nggak apa-apa. Aku selalu di sini. Kamu tenang aja."


Keduanya sama-sama menikmati nyaman dan waktu. Semilir angin dan sepi suasana membuat keduanya nyaman.


Entah bagaimana reaksi Sultan nanti, namun Surti harus menyiapkan panggung terbaik untuk aksinya nanti. Semoga segalanya berjalan lancar.


"Ah, ya," kata Sultan memecah keheningan. "Enam hari lagi aku ulang tahun."


Surti tersenyum, menatap Sultan dengan tak suka setelah melepas pelukannya di perut Sultan. "Ini kode bahwa aku harus memberikan kado, ya. Aku peringkat saja, ya, kamu mau aku apa?"


"Woah, aku diundang?" tanya Surti gembira. Ah, sebenarnya hanya pura-pura. Ia sendiri tak begitu suka dengan suasana pesta yang hingar-bingar dan sesak.


"Tentu saja. Kamu pacarku."


Namun, melihat wajah penuh harap Sultan, sesuatu dalam hati Surti kembali goyah. Ia menggeleng kepalanya, mencoba untuk tetap pada pendiriannya di awal.


"Hah, kamu nggak mau datang?" tanya Sultan ketika Surti menggeleng wajahnya.


"Ah?" Surti membulatkan matanya dengan terkejut. "Erm, maksud aku, aku nggak percaya bisa diundang ke pesta mewah anak raja. Dulu aku cuma tukang jualan kue basah dan tukang bersih-bersih rumah tetangga. Nggak nyangka sekarang bisa ke pesta, hehe."


Sultan tersenyum teduh. Membawa Surti dalam pelukan nyaman yang hangat. Surti selalu suka bagian di mana Sultan mengelus puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu sekarang pacarku. Tak perlu khawatir apa-apa. Berbahagialah."


Sungguh, Sultan seperti seorang yang khusus dikirim oleh Tuhan untuk membuat Surti bahagia. Namun, teringat pada tugas aslinya sebagai Black Poison, Surti tak tahu harus memasang ekspresi apa ketika membalas pelukan Sultan sama eratnya.


***


"Lo nahan marah, ya?"


Siti mengembuskan napas panjang ketika Alfin bertanya dengan nada mengejek di sambung telepon yang diatur loudspeaker. Ia mengecat kuku tangannya dengan hena sebagai tanda menyibukkan diri dari sesuatu bernama cinta bertepuk sebelah tangan.


Selama ini Siti melihat, menyaksikan dan mengetahui bagaimana Sultan bermain di belakangnya. Bagaimana laki-laki itu berani menyepelekan hatinya untuk seseorang yang tak pernah Siti tahu berada di dunia sampai Surti mengacaukan kisah cintanya.


Namun, Siti memilih untuk diam dan berharap Tuhan membalas segala sakit yang dia rasakan selama ini. Cinta Siti bukan main-main, tentu harus ada bayarannya.


"Enam hari lagi." Siti berkata penuh penekanan, matanya menatap tajam pada pantulan dirinya di cermin kamarnya. "Gue cuma harus nunggu enam hari lagi. Liat aja."


Enam hari lagi adalah hari ulang tahun Sultan sekaligus pertunangan antara dirinya dengan Sultan. Betapa bahagianya Siti, merasa penantian panjang yang telah ia lalui akan segera terbalaskan.


Lihat saja, nanti Siti akan menjadi wanita terbahagia hari itu. Senyum Siti mengembang lebar, membayangkan hari bahagia itu.


"Yang sabar, ya," kata Alfin mencoba menenangkan dan menghibur.


Siti tersenyum kecut. Moodnya mendadak jelek karena Alfin terus menganggap dirinya sedang galau.


"Berisik. Gue tutup. Mau tidur."


***


Malam yang gelap menyelimuti kamar sepi yang sempit milik Surti. Ia mengela napas kecil, mengambil satu sachet kopi hitam pahit kegemarannya. Tangan kanannya mengambil mug putih satu-satunya dan menyeduh kopi tersebut di dalamnya.


Surti sangat menyukai bagaimana pahit itu mencekik tenggorokannya, membuat keningnya mengernyit dan memberi rasa ngeri di lidahnya. Kopi ini sangat menggambarkan dirinya.


Sembari menikmati cairan hitam itu, Surti membuka laptopnya dan mengirim sesuatu pada supplier untuk bahan-bahan racunnya. Sisanya, Surti mengecek e-mail, apakah ada permintaan baru atau tidak.


Ketika apa yang dicarinya itu tidak ada, Surti menutup laptopnya dan mulai merebahkan dirinya. Kopi hitam pahit itu sudah habis dan rasa kantuk Surti mulai menghilang.


"Ah, nyamannya," kata Surti seraya memejamkan matanya. Angin dan udara malam membuatnya rileks.


Tok!


Suara ketukan di pintu kamar mungilnya membuat Surti mengernyit. Pasalnya, ia tak mengundang siapapun untuk datang. Dengan terus menerka, membuka pintu kamarnya dan menatap bingung pada sang pengunjung.


"Alfin?"


Mendengar sapaan polos yang membuatnya geli, membuat Alfin tersenyum miring seraya menahan tawa. "Selamat malam, Black Poison."


Mata Surti membulat, membuatnya terlihat benar-benar seperti apa yang dikatakan Alfin. Berkatnya, kini Alfin yakin seratus persen tentang identitas Surti.


"Penyamaran lo sangat bagus, Surti. Sangat rapi." Alfin memuji dengan senyuman lebar. "Gue ngeri."


Surti menatapnya dengan datar. "Jangan nuduh sembarangan. Atas dasar apa kamu bilang seperti itu?"


"Oh, ayolah. Jangan bermain-main dengan gue." Alfin mendekat dalam balutan serba hitamnya, menyentuh pipi Surti dengan senyuman miring. "Gue tau siapa lo. Jangan pura-pura. Jijik."


Melihat wajah tegang Surti, Alfin tertawa dan akhirnya melangkah satu kali ke belakang untuk memberikan spasi pada perempuan itu untuk bernapas normal.


"Lucu banget lo. Gue kira lo pembunuh yang sangat senior, tapi rupanya cuma bocah penakut yang nggak bisa bohong. Gue tarik kembali kata-kata gue." Alfin menatap lurus-lurus wajah Surti yang mulai mengeras. "Lo noob."


Surti mengepalkan tangannya kuat-kuat, membuat Alfin tertawa lagi karena merasa lucu.


"Ck." Surti berdecak dengan wajah yang berubah marah dan serius. Tak ada lagi wajah terkejut dan tegang seperti sebelumnya. "Daripada kamu tertawa tak jelas, lebih baik kamu mati."


Kaki Surti langsung terangkat ke udara, memutar, mengarah pada kepala Alfin. Mungkin kini Alfin sudah tersungkur jika dirinya tak langsung merunduk dan tersenyum miring dengan perasaan kaget.


"Lo bikin gue kaget, sialan."


Alfin membalas dengan mengayunkan kakinya ke arah kaki Surti, berharap perempuan itu menjadi terjatuh. Namun, dengan sigap Surti melompat dan langsung memberi kuncian pada kepala Alfin.


"Argh," kesal Alfin, langsung mengambil tangan Surti sekuat tenaga dan membalikkan keadaan. Kini, ia mengunci lengan Surti di punggung perempuan itu sendiri. Senyum miringnya tercipta. "Mau apa lo, sekarang?"


Surti tertawa singkat, kemudian menggerakkan kakinya untuk menendang ke arah **** Alfin. Laki-laki sontak meringis dan melepas kuncinya pada tangan Surti. Rasa sakit ini sangat menyiksa.


"Curang lo, argh," ringis Alfin. Ia mundur langkah demi langkah dan Surti langsung menerjangnya habis-habisan.


***