
Masih terjadi saat dirinya masih SMA, Edelweis mencari tahu segalanya tentang kedua orang tuanya. Pada saat menemukan titik terang, Edelweis langsung bergerak. Membawa dua botol racun racikannya, ia menempuh jarak menuju tempat ayah dan ibunya.
Racun racikannya ini telah diuji kepala tikus dan Bayu, temannya yang tergila-gila untuk menjadi dokter, sudah memeriksa bahwa tikus tersebut seperti mati tiba-tiba, seolah benar-benar dicabut oleh Sang Pencipta.
Jelas, Edelweis sangat bangga dengan dirinya dan ciptaannya ini.
Ayahnya masih bekerja sebagai kepala bagian di perusahaan asuransi bernama Rayaraksa. Masih sering marah-marah dan kadang mabuk, namun Edelweis sangat tersanjung mengetahui ayahnya masih berstatus sebagai duda.
Mereka berdua bertemu di sebuah warung kopi sederhana di sebelah kantor tempat ayah bekerja. Tentu Edelweis langsung menampakkan dirinya, menyebutkan identitasnya. Namun, tak menyangka jika reaksi ayah akan seperti ini.
Air mata beliau menggenang, dengan senyum khas laki-laki tua yang sebenarnya membuat hati Edelweis menghangat. Wajahnya lelahnya menggambarkan betapa sulit dan lelahnya hidup selama ini.
"Kabarmu... baik, nak?" tanya ayah dengan suara serak karena menahan tangis haru. "Maafkan ayah, nak. Selama ini ayah sangat-sangat salah. Ayah baru sadar bahwa kamu sangat berharga."
Edelweis membuat hatinya seperti batu. Ia tersenyum miring. "Aku sudah SMA. Sudah sepuluh tahun berlalu, yah."
Ayah tersenyum lebar. "Sekolahmu menyenangkan?"
"Tentu saja. Aku memiliki teman dan keluarga baru yang sangat menyayangiku," balas Edelweis, jelas dimaksudkan untuk mengeritik ayahnya. Dilihat dari diamnya ayah, Edelweis merasa sangat puas. "Tidak seperti ayah dan ibu."
Ayah terbatuk-batuk, membuat Edelweis refleks memberikan air minum dalam gelas yang sudah ia siapkan di awal. "Ayah kenapa? Ini, minum dulu."
"Ah, iya," balas ayah. Langsung meminum air itu tanpa curiga saat Edelweis menatapnya dengan mata terpancar semangat.
Sebenarnya ayah telah berubah. Telah sadar dan memperbaiki diri, namun Edelweis tak merasa dirinya puas dengan itu. Ia ingin ayah hilang.
Selamanya.
Dengan begitu, semua penderitaannya akan terbalaskan.
Ketika ayah tertidur karena pengaruh racun itu, Edelweis mengulas sebuah senyum miring. "Selamat tinggal, ayah. Terimakasih telah melahirkanku ke dunia. Sekarang, aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk membuatku senang."
***
"Ibu," kata Edelweis pada seorang perempuan yang sedang melayaninya di sebuah warteg pinggir jalan yang lumayan ramai. Edelweis membuka topi hitamnya dan menatap ibunya dengan datar. "Ini aku, Edelweis."
Ibu mematung lama sekali. Matanya membulat tak percaya, namun ada binar rindu di dalamnya yang membuat kupu-kupu berterbangan di perut Edelweis.
"Ya ampun, Edelweis! Ibu kangen," kata ibu langsung memeluk anaknya dengan erat. Dengan sebuah pelukan hangat dan sangat Edelweis rindukan. "Kamu sudah besar, ya. Ibu bangga, nak."
Mata Edelweis menghangat. Wajah dingin dan datarnya luntur, tergantikan oleh wajah anak yang sangat takut pada dunia. Tangisannya pecah, langsung memeluk ibunya lebih erat.
"Ibu ..."
"Iya, ibu di sini, nak," tenang ibu sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Tangannya menepuk-nepuk punggung rapuh Edelweis dengan bangga. "Kita ngobrol lebih panjang nanti ya. Setelah ini selesaikan pekerjaan malam ini."
Edelweis mengangguk. Membiarkan ibunya melangkah menjauhinya, bekerja keras meski sudah berumur hampir setengah abad.
Setelah pergi dari tempat ayah, Edelweis langsung pergi ke sini. Dirinya perlu cepat-cepat menyelesaikan semua ini untuk besok ujian. Namun, Edelweis kurang yakin pada dirinya sendiri setelah melihat ibunya.
Yang masih bekerja keras. Yang masih tersenyum hangat. Yang masih berusia pelukan erat. Semua itu melemahkan hati Edelweis yang telah menjadi batu sejak sepuluh tahun yang lalu.
Edelweis tak berpikir apa-apa hingga pada saatnya ia ada waktu ngobrol panjang dengan ibunya di sebuah meja yang agak jauh dari keramaian. Ibu tersenyum padanya, amat lebar.
"Kamu sehat, kan?" tanya ibu langsung. Menyentuh pipi Edelweis dengan senyuman penuh haru. "Cantik sekali kamu."
Senyum Edelweis tercipta. "Ibu sendiri gimana? Udah nikah lagi?"
"Ibu mana bisa menikah, nak. Setelah cerai, ibu sibuk mencari uang. Ibu nggak berani unjuk muka karena uang ibu kayaknya nggak bikin kamu bahagia--"
Air mata ibu langsung menetes. Ia menunduk, menghapus air matanya yang luruh itu untuk setelahnya tersenyum lagi. Ini sangat menyayat hati Edelweis. Sungguh.
"Ibu suka transfer ke rekening suaminya Bi Aira. Kamu cukup nggak?"
"Bi Aira udah meninggal. Ibu ditipu saudara sendiri." Edelweis menukas tanpa ekspresi. Penuturannya membuat ibu mematung dengan wajah amat terkejut. "Aku sekarang tinggal di panti asuhan."
"Me-meninggal?" tanya ibu heran. "Kok ibu nggak tahu?"
"Suami Bi Aira pasti menyembunyikannya karena ingin uang ibu," jelas Edelweis benar adanya. Ia telah memastikannya dan membiarkannya sebagai kompensasi karena dirinya telah membunuh Bi Aira. "Memang, Pak Aldi itu sangat gila uang. Aku juga ngeri melihatnya."
"Akan ibu tuntut dia," geram ibu dendam.
"Jangan." Edelweis melarang.
"Kenapa?"
"Aku tak mau ada perselisihan. Ibu ikhlaskan saja. Aku juga tak mempermasalahkannya. Lebih baik kita damai."
"Hm. Baiklah." Ibu mengangguk menyanggupi. "Kalau rumah kita bagaimana?"
"Sama Pak Aldi."
Ibu mengela napas panjang, berusaha sabar. "Oke. Kita buka lembaran baru saja. Lupakan semua, ikhlaskan semua dan maafkan semua."
Edelweis memaksakan senyum. "Aku bisa memaafkan ibu yang meninggalkanku dahulu, tapi aku tak mau aku dan ibu menjadi kita."
Mata ibu membulat. "A-apa?"
"Aku tak mau hidup bersama lagi. Aku mau buka lembaran baru." Edelweis mengangguk, memantapkan niat. "Melupakan ibu, mengikhlaskan ibu dan memaafkan ibu."
"Maksudmu apa, Edelweis? Aku ini ibumu, mengandung dan merawatmu. Kamu tidak boleh seperti ini," kecam ibu geram. "Jangan berpisah lagi. Ibu tak kuat."
"Aku lebih nyaman bersama keluarga dan temanku yang baru. Mereka lebih menyayangiku dari ayah dan ibu. Bahkan tak pernah sekalipun aku mendengar bahwa aku ini penyebab kesedihan mereka."
"Memangnya kapan ibu bilang kamu ini penyebab kesedihan?"
"Setiap malam, aku selalu mendengar." Edelweis tersenyum pahit, setiap kali hendak tidur, ibunya pasti menggumam sambil memainkan rambutnya, "andai kamu tak pernah hadir, ibu mungkin akan lebih bahagia, nak."
Mata ibu hampir tak sanggup mengerjap. "Itu salah paham. Kamu salah paham, Edelweis."
"Tidak. Aku tidak pernah salah paham. Ibu memang tak menyayangi diriku," tegas Edelweis dengan tangan mengepal.
"Maksud ibu, jika kamu tak ada, ibu akan lebih mudah cerai dengan ayah. Namun, karena ada kamu, ibu merasa punya tanggung jawab berat dan rasanya sulit sekali untuk cerai. Sampai satu hari, nenekmu meninggal dan ibu sudah tak punya lagi dorongan untuk mempertahankan keluarga dengan ayah. Semuanya sulit bagi ibu, namun dengan begini ibu merasa lebih bahagia. Kami cerai untuk hidup lebih bahagia," jelas ibu seraya tertawa. Membuat Edelweis sangat menyesal karena dirinya salah sangka. "Tuh, kan. Kamu salah paham, aduh. Dasar."
Kalian bahagia, aku tidak, geram Edelweis dalam hati.
"Ah, haus sekali," cetus ibu seraya mengambil gelas berisi air yang telah disiapkan oleh Edelweis. Ibunya langsung tertidur di atas meja, membuat Edelweis menitikkan satu air mata di mata kanannya.
Sakit, perih dan sulit melihatnya, namun ia dapat bangkit berdiri dengan dada yang terasa lapang.
"Terimakasih karena telah melahirkanku, terimakasih karena telah meninggalkanku dan terimakasih karena telah berjuang untukku," kata Edelweis sebelum akhirnya berbalik dan memejamkan matanya yang berlinang air mata. "Rest in peace."
Dengan begitu, semua pengganggu hidupnya lenyap sudah.
***