Black Poison

Black Poison
25. His Broken



Mereka tak bersuara batang sepatah pun sampai akhirnya mobil disupiri itu berhenti di tujuannya. Di sebuah restoran tempat biasa mereka kencan. Tempat di mana Siti bertemu dengan Surti dan menyebabkan kekacauan.


Siti tak ingin bertemu perempuan itu dan berharap Surti tak bekerja di sana lagi.


"Ayo," ajak Siti pada Sultan yang sepertinya akan terus bergeming jika ia tak mengajaknya.


Restoran yang mereka masukki lumayan padat karena sekarang jadwalnya makan siang. Siti dan Sultan duduk di meja paling dalam yang dekat dengan sebuah air mancur yang menenangkan.


"Mau makan, nggak?" tanya Siti pada Sultan, seraya mengangkat tangannya, memanggil seorang pelayan untuk melayaninya.


Sultan mengangguk. "Samain aja."


"Oke." Siti menanggapi singkat, lalu kepalanya celingukan mencari seorang pelayan untuk membantunya. "Permisi, mbak! Permisi!"


Suara seruannya yang lumayan keras dan penuh tekad itu berhasil membuat seseorang menghampirinya. Seseorang yang membuat senyum Siti luntur karenanya sosok itu adalah yang tidak ia harapkan berada di sini.


Jelas, dia Surti.


Perempuan itu sama dengan Siti. Berubah drastis air mukanya saat saling bertatapan. Namun, Surti berubah bukan karena Siti, melainkan karena Sultan. Jantungnya langsung berdebar tak jelas. Entah karena masih menyimpan rasa atau karena hal yang lain.


"Mau pesan apa, mbak?" tanya Surti, berusaha untuk terdengar biasa saja dan bertindak senormalnya ketika menyodorkan buku menu pada meja Siti dan Sultan. "Silahkan dipilih."


Bodohnya, Surti sempat-sempatnya menatap Sultan ketika laki-laki itu mengambil menu dari tangannya. Sultan juga ikut menatapnya, namun tak ada reaksi dalam wajah dan matanya.


Hal yang membuat Surti merasa sangat sakit, namun di sisi lain dirinya juga lega.


Sultan benar-benar tak mengingatnya.


Surti menunggu Siti dan Sultan menyuarakan pesanannya dengan nampan di pelukan. Sesekali mencuri pandang pada Sultan yang nampak sangat tampan karena serius dalam melihat-lihat menu.


"Kamu mau apa, Sultan?" Siti bertanya dengan nada semanis madu dan senyuman lebar yang menawan.


Sultan balas tersenyum. "Aku juga bingung. Samakan saja denganmu."


Surti dibuat terkejut dengan perubahan Sultan yang sangat signifikan. Rasanya, momen-momen menghangatkan hati dan merasakan ada kupu-kupu terbang di perutnya saat dengan Sultan, kini sudah menjadi kembaran usang yang tak berarti sama sekali.


Sulit bagi Surti menerimanya, namun mau bagaimana lagi? Ini takdirnya. Takdir yang harus dihadapi dan dijalani oleh dirinya sendiri.


Siti mengangguk anggun pada permintaan Sultan. "Oke."


Saat sempat Siti melirik Surti dan Sultan yang tampak berbeda dari biasanya. Padahal, Siti tahu mereka berdua memiliki hubungan yang lebih dekat dari dirinya dan Sultan sendiri. Namun, kini, keduanya seperti tak saling mengenal.


Ah, tidak. Sultan seperti yang melupakan Surti, sementara Surti seperti mengharapkan Sultan untuk menyapa atau menyadari kehadiran yang lebih dari sekedar pelayan restoran ini.


Siti tersenyum miring pada keadaan yang membuatnya lega ini. Kini, ia semakin yakin bahwa kesabaran akan mendatangkan kebahagiaan yang hakiki.


"Aku pesan ini, ini, sama ini. Sultan juga sama. Oke?" Siti menatap Surti dengan senyum manis.


Surti balas tersenyum, mengambil buku menu dari Siti dan mengangguk. "Iya, mbak."


Ketika Surti mengambil menu dari Sultan, rasanya segalanya mendapat efek slow motion. Saat Sultan tersenyum seulas padanya. Wajahnya seperti matahari bagi Surti, menyilaukan dan mencerahkan dunianya.


Namun sayang, kejadian itu hanya berlangsung satu detik untuk setelahnya semuanya kembali gelap dan hampa.


***


"Kamu aneh banget lho, hari ini."


"Itu tadi temen kamu. Ah, mungkin lebih dari temen. Kamu nggak ingat?"


"Kemarin malam kamu ngapain, sih? Apa salah minum obat?"


Sultan merasa kepalanya jadi sangat sakit ketika kata-kata Siti terus terngiang di kepalanya. Bahkan ketika malam telah menjemput, rasanya kepala Sultan dipaksa untuk terus bekerja dan mengingat sesuatu yang ia lupakan.


Jelas, sepertinya ia mengalami hilang ingatan.


Sultan memejamkan matanya, mencoba untuk mengingat. Apa yang dia lakukan kemarin? Bersama siapa?


Awalnya hanya bayangan hitam, namun perlahan tergambar sebuah sketsa perempuan di benaknya. Entah keajaiban dari mana, tapi Sultan mengingat sesuatu.


Dengan gerakan cepat, ia membuka lemari kayu yang berada di pojok. Lemari itu bukan lemari biasa yang isinya pakaian atau pernak-perniknya, melainkan berisi kebutuhan Sultan untuk melukis.


Sejak kecil, Sultan selalu suka melukis.


Namun, kini tak banyak yang tahu kebiasaan melukisnya masih berlangsung karena Sultan selalu diam-diam melakukannya, jelas, sejak Awija meninggalkannya, banyak perubahan yang terjadi. Termasuk tentang kebiasaannya untuk membunuh waktu.


Ketika dirinya tak bisa tidur, ketika sepi menyelimuti dan gelap malam menyertai. Sultan selalu melukis di bawah cahaya remang bulan. Saat matahari menyapa, Sultan sibuk menangis dan menyesali kepergian Awija, sehingga terlalu sedih dan berat untuk melakukan hal yang membuatnya senang.


Memang, seburuk itu dampak perginya Awija terhadap Sultan. Karenanya, ia tak mau lagi punya orang yang sangat ia sayang lagi karena takut kehilangannya.


Di sana, dalam lemari itu, sudah banyak kanvas-kanvas yang terisi berbagai gambar. Mulai dari buah-buahan, pemandangan, langit sampai manusia. Dan yang baru-baru ini, yang tersusun paling atas adalah lukisan seorang perempuan yang cocok sempurna dengan yang tadi muncul di benaknya.


Perempuan yang tadi ia temui di restoran.


Kepala Sultan rasanya sakit. Kenapa dia menggambarnya? Bagaimana bisa ia mengenalnya?


Sultan terus terdiam. Lama sekali. Mungkin satu jam berlalu dan dia masih berdiri seraya menatap lukisan-lukisan berisi gambar perempuan itu dengan mata yang perlahan berubah merah. Napasnya mulai berat, terengah-engah, marah.


Pada akhirnya, Sultan menggeram keras. Mengambil satu persatu kanvas yang berisi lukisan perempuan itu dan membantingnya keras hingga bingkai kayunya rusak berkeping-keping. Sultan seperti kesetanan, melempar, membanting dan merusak dengan sekuat tenaga.


Suara yang dihasilkan dari bingkai kanvas itu membuat beberapa pelayan langsung beringsut mengetuk pintu kamarnya.


"Tuan Sultan? Apa ada masalah yang bisa saya bantu?"


"Nggak! Jangan pedulikan saya!" seru Sultan marah.


Setelah sepuluh bingkai lukisan itu sudah hancur tak berbentuk lagi. Memang, lukisannya tak rusak sedikit pun, namun karena bercampur dengan kayu yang patah, lukisannya menjadi sangat berantakan. Patah, buruk dan kusut.


Tepat seperti hati Sultan.


**


Black Poison akan menyapa setiap satu Minggu sekali, ya